Kabar Terkini

Pernyataan Cello, Pernyataan Seorang Kodaly


IMG_1220Malam ini sedikit beda di Pertemuan Musik Jakarta di Institut Française Indonesie di bilangan Jl. M.H. Thamrin. Dengan setting sebuah resital mini, Pertemuan Musik Jakarta yang digagas oleh beberapa kawan musisi didukung oleh almarhum Slamet Abdul Sjukur – komponis terpandang Indonesia, mengetengahkan karya komponis Hungaria Zoltan Kodaly.

Dengan gesekan solo cello Alfian Emir Adytia, Indonesia diajak untuk mengenal sosok seorang komponis, paedagog, etnomusikolog, linguis yang berkarya untuk mengangkat derajat musik Hungaria di kancah musik Eropa di awal abad 20. Bersama Bela Bartok, Zoltan Kodaly berusaha mengumpulkan khasanah musik negara yang di Eropa Timur itu sebagai respon rasa nasionalisme yang menggelegak di akhir abad 19.

Kala itu Hungaria sungguh berada di bawah himpitan tradisi musik Austrogermanik lewat karya Richard Wagner, nasionalisme Rusia lewat karya Mili Balakirev dan kelompok Moguchkaya Kuchka-nya dan impresionisme di Prancis lewat Debussy dan Ravel. Hungaria sedang berusaha mencari jati dirinya terlepas dari tradisi Hungaria yang dibangun oleh komponis Hungaria berbahasa Jerman seperti Franz Liszt yang lebih mengarahkan musik Hungaria pada Austrogermanik daripada asli Hungaria. Kodaly pun mencari akar musik tanah air mereka lewat karya-karyanya.

Lewat karya Sonata untuk Cello tanpa Iringan Op.8, Kodaly berusaha untuk membangun kembali pamor instrumen cello sebagai instrumen solo sebagaimana telah diperkenalkan oleh komponis era barok J.S. Bach lewat enam buah suita cellonya. Memang selama 150 tahun kepergian Bach, cello lebih banyak disandingkan bersama piano dalam cello sonata ataupun dalam kuartet gesek dan orkestra, tapi jarang berdiri sendiri. Lewat ini Kodaly berusaha memperkaya khasanah musik untuk instrumen yang tergolong dalam keluarga alat musik gesek bersuara rendah ini.

Mengangkat genre sonata tanpa iringan piano, bagian pertama sonata ini mengejar bentuk sonata lewat permainan iringan dan melodi kesemuanya dimainkan dengan satu buah cello. Permainan kromatik dan pengembangan bentuk sonata disebut Alfian dalam diskusi berusaha untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa Kodaly adalah seorang komponis yang paham akan pakem komposisi klasik.

Demikian juga bagian kedua yang dihiasi oleh percakapan dua alur tema dalam tema lambat, masing-masing mewakili pria dan wanita lewat gesekan satu cello bertanya jawab dalam tempo Adagio con Gran Espressione.

IMG_1223Ditulis tahun 1915, karya ini menurut Alfian berpusat pada bagian ketiga Allegro Molto Vivace yang sungguh memberi kebebasan seorang komponis untuk diolah sebagaimana ia inginkan. Seorang Hungaria sejati, Kodaly mengangkat tema dan ritme musik asli Hungaria yang memancing derap tarian bersemangat lewat, triple stop dan nada tertahan/drone serta alur modus aeolian yang kental di musik Eropa Timur. Di sinilah ia menyatakan identitasnya sebagai seorang nasionalis.

Berhiaskan nada petik bahkan lewat tangan kanan dan kiri serta nyanyian lirih harmonik, Zoltan Kodaly berusaha menantang kembali repertoar cello. Ia pun juga meredefinisi bebunyian yang kaya lewat permainan busur gesek yang menghasilkan beragam bebunyian unik nan mistis dengan memainkannya dekat penyangga maupun dekat papan penjarian. Kodaly pun demi mendapatkan efek utuh dari musik juga dengan sengaja menurunkan 2 senar rendahnya agar masuk dengan nada dasar B minor yang dipilihnya.

Memang ini berakibat kerumitan tersendiri bagi pemainnya. Namun Alfian Adytia, cellis muda 23 tahun yang akan menamatkan pendidikan di Institut Seni Indonesia ini, karya ini adalah sebuah tantangan yang harus dilalui. Inisiatifnya melakukan Kodaly Keliling, dengan IFI Jakarta sebagai rangkaian penutup dari 9 pertunjukan di berbagai kota memang mengasahnya lebih jauh di hadapan penonton.

IMG_1219

Di balik kerumitan teknis dan intonasi, secara menarik, Alfian mampu meracik struktur yang kuat untuk karya yang sedikit banyak menantang bukan hanya untuk dimainkan, tapi juga didengar. Bangun dan nafasnya tampak telah menyatu dengan karya berdurasi 45 menit ini, sekalipun pergantian birama berbalas satu dari yang lain menjadikan karya ini lebih mudah untuk ditangkap dan dicerna.

Komandonya atas teknik permainan dan bentuk sungguh mengena dengan dorongan energi yang cukup. Karyapun dimainkan dengan optimal dan mampu memancing kekaguman para penonton yang datang ke tempat pertunjukan semalam. Sayangnya memang IFI bukanlah sebuah auditorium dengan akustik yang menyala bahkan cenderung kedap dan mematikan suara. Alhasil di beberapa tempat, permainan terasa sedikit kering kerontang tanpa respon yang cukup dari akustik gedung.

Selain daripada register tinggi di ujung finger board yang menantang secara teknis dan ketepatan intonasi, setiap nada yang keluar dari cellonya terdengar kokoh. Ia sungguh mengenal karya ini. Memang Alfian adalah seorang instrumentalis yang cakap dengan keterbukaan untuk berbagi musik.

Kodaly memang membuat pernyataan yang kuat lewat karya musik ini, baik untuk khasanah instrumen cello maupun pandangan kebangsaannya. Satu pertanyaan yang memang belum terjawab secara nyata malam itu yang ditanyakan oleh salah seorang penonton dalam diskusi kepada Alfian yang mungkin juga mengetuk rasa keingintahuan semua, “Pernyataan apakah yang ingin disampaikan Alfian lewat rangkaian Kodaly Keliling (Koling) dan Cello Sonata ini?”

Dan kami pun diajak menjawab dalam renungan dalam kekhusyukan Prelude dari Suita Cello dalam C mayor dari J.S. Bach yang menutup perjumpaan kami malam itu.

 

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: