Kabar Terkini

80 Tahun Slamet Abdul Sjukur: Wasiat Sang Maestro


~ Oleh kontributor Teodore Ignatius Minaroy

Flutis Andika Chandra, horn Irianto Suwondo, cellis Ade Sinata, pianis Yuty Lauda, dan soprano Ika Sri Wahyuningsih, dengan Budi Utomo Prabowo sebagai pengaba

Manusia tentu tak mampu ramalkan usia. Namun untuk menerkanya, mungkin hanya seorang Slamet Abdul Sjukur yang bisa. Sang Pendekar Bunyi yang sempat menggagas gerakan antibising ini pernah berseloroh bahwa ia tidak akan mencapai angka 80. Maka, para sahabat merayakan ulang tahunnya yang ke-79 dengan mengadakan rangkaian konser Sluman Slumun Slamet di tiga kota pada tahun 2014 yang lalu.

Kini, Dewan Kesenian Jakarta menggelar perayaan hari jadi beliau yang ke-80 dalam rangka — mengutip sambutan Irawan Karseno selaku ketua DKJ — mengenang sekaligus menjalankan amanat artistik terakhir almarhum untuk terus menciptakan karya-karya baru dalam memperkaya ranah musik kontemporer Indonesia. Memang, menjelang kepergiannya mendiang pernah berpesan kepada komponis-komponis pilihannya untuk membuat karya baru yang bertumpu pada gong dan piano. Karya-karya tersebutlah yang ditampilkan pada malam pertunjukan 80 Tahun Slamet Abdul Sjukur, selain tentunya karya-karya mendiang sendiri.

Jumat malam, 3 Juli 2015, Teater Kecil di Taman Ismail Marzuki dipadati sekitar 200 pengunjung. Semuanya terlihat antusias, dan menariknya sebagian besar pengunjung adalah kaum muda. Taufik Abdullah sebagai ketua Akademi Jakarta yang didaulat memberi kata sambutan pertama bahkan sempat bergurau, kalau ia tahu yang datang kebanyakan anak muda tentu ia akan mempersiapkan isi sambutan yang lain. Suasana haru mulai muncul saat pemutaran video tentang Kursus Kilat Komposisi yang dulu sudah pernah diputar pada acara Sluman Slumun Slamet. Tidak diduga, video berikutnya adalah video bootleg kata sambutan dari Slamet Abdul Sjukur sendiri. Rupanya video tersebut pernah direkam dalam rangka konser tahun lalu, tapi belum pernah diputarkan sebelumnya. Dalam video tersebut, beliau menyatakan optimismenya akan masa depan musik kontemporer Indonesia yang saat ini dimotori para kaum muda, sangat klop dengan tema pertunjukan malam itu.

Setelah pemutaran video, hadirin diminta untuk mengheningkan cipta sejenak. Lampu kembali digelapkan. Tiba-tiba dari arah bangku depan penonton terdengar bunyi suling bambu yang dimainkan Anusirwan, salah seorang pakar musik tradisi Indonesia. Sambil berjalan perlahan ke atas panggung dan kemudian duduk di tangga panggung, ia menyuarakan ratapannya melalui tiupan suling; kadang bernada, kadang hanya hembusan angin penuh makna.

Setelah serangkaian acara pembuka, tibalah saatnya pertunjukan musik. Erie Setiawan memberi sedikit kata sambutan mengenai pertunjukan malam itu. Ia juga berlaku sebagai narator yang memberi penjelasan singkat setiap sebelum sebuah karya ditampilkan. Erie menjalankan perannya dengan sangat baik, menyampaikan informasi yang relevan secara padat dan jelas dalam waktu singkat tanpa mencuri perhatian panggung.

Tidak seperti layaknya sebuah perayaan ulang tahun, pertunjukan musik malam itu masih berbalut suasana berkabung. Perayaan dalam elegi. Semua penampil dan yang terlibat langsung dalam jalannya acara memakai busana bernuansa hitam. Diawali dengan Cucukucu, karya gitar solo Slamet Abdul Sjukur, yang dibawakan dengan baik sekali oleh Hery Budiawan. Permainannya tenang, sama sekali tidak tampak ketegangan harus tampil sebagai pembuka acara tersebut. Karya ini ditulis tahun 1990, didedikasikan kepada Gema, cucu pertama Slamet Abdul Sjukur.

Berikutnya Suroboyo, karya musik kamar Slamet Abdul Sjukur untuk instrumen flute (Andika Chandra), horn (Irianto Suwondo), cello (Ade Sinata), piano (Yuty Lauda), dan soprano (Ika Sri Wahyuningsih), dengan Budi Utomo Prabowo sebagai pengaba. Karya tersebut merupakan interpretasi Slamet Abdul Sjukur atas sajak esoterik Ranggawarsita (1802-1873). Keempat pemain plus sang pengaba telah siap di posisi masing-masing dan menyisakan sebuah kursi kosong bagi Irianto, pemain horn. Karya diawali dengan tema melankolis oleh horn yang dibunyikan dari belakang panggung. Setelah horn menyelesaikan tema itu, barulah Irianto berjalan dari belakang panggung menuju kursi kosong tersebut, sambil rekan-rekannya melanjutkan tema yang ia mainkan. Karya ini membutuhkan stamina dan konsentrasi tinggi dari pemainnya, mengingat banyak sekali interval sulit yang harus dimainkan. Terlihat Ika sampai harus beberapa kali mengetukkan garpu tala supaya tidak kehilangan pijakan. Instrumen piano pun kembali digunakan semaksimal mungkin, bukan hanya tutsnya saja yang ditekan melainkan badan piano dan senar juga ikut berperan dalam menghasilkan bunyi. Suasana melankolis berubah menjadi sebuah kekacauan yang indah ketika tiba-tiba para pemain mengucapkan kata “geger” dan serentetan kata lain bersahut-sahutan. Di bagian ini, kontrol Budi Utomo Prabowo sebagai pengaba sangat prima.

IMG_1227Setelah dua karya Slamet Abdul Sjukur, tanpa rehat antarsesi acara dilanjutkan dengan komposisi karya baru untuk – utamanya – gong dan piano. Dibuka dengan karya Aksan Sjuman berjudul Walking in the Clouds untuk instrumen gong, piano, dan vokal. Aksan sendiri yang memainkan gong, dengan Aisha Pletscher Sudiarso pada piano dan Ika Sri Wahyuningsih pada vokal. Awalnya didominasi piano dengan serangkaian progresi akor dan konfigurasi yang memberikan kesan mengambang di atas awan. Permainan gong juga sangat unik, tidak seperti permainan gong pada umumnya. Suasana mistis tersaji di akhir karya, saat Ika menepuk-nepukkan tangannya dengan pola ritme rata dan menggumamkan sebuah melodi yang sama berulang-ulang sambil berjalan perlahan mengitari piano dan gong, sementara Aksan mengetuk-ngetukkan pinggir gongnya dengan kuku, menghasilkan bunyi seakan perlambang arwah yang telah membumbung tinggi menuju surga. Jeniusnya, dari bangku penonton ada yang ikut menggumamkan melodi Ika tersebut. Suasana pun menjadi semakin mencekam.

Karya berikutnya adalah Infinity dari Gatot Danar Sulistiyanto untuk gong dan piano yang kembali dimainkan oleh Aksan dan Aisha. Pada nomor ini, kecemerlangan denting piano bermerek Sjuman Piano (yang memang dirancang oleh Aksan sendiri) benar-benar terbukti. Aisha pun menunjukkan kelasnya sebagai pianis papan atas di sini. Semua bagian tereksekusi dengan prima dan jernih, tentunya berkat dukungan instrumen yang baik pula. Komunikasi Aksan dan Aisha dalam karya ini juga sangat baik, keduanya saling mengisi satu sama lain.

Karya ketiga merupakan karya Gema Swaratyagita berjudul Tuwakatsa, sebuah permainan kata dari “waktu” dan “saat”. Karya untuk gong dan piano ini sepertinya menjadi semacam tribute untuk mendiang Slamet Abdul Sjukur, mengingat mendiang selalu mementingkan ketepatan saat. Karya ini pun bisa dibilang sangat Slametian – jika boleh diistilahkan seperti itu. Diawali dengan hening, tiba-tiba Gema pada piano menoleh ke arah penonton dan berbisik “ssst…!”. Piano juga dimainkan dengan berbagai kemungkinan, seperti memukul senar dan menggaruk senar. Di tengah karya, ada sahut-sahutan kata-kata antara Gema dengan Samsul Pilot yang memainkan gong. Benar-benar mengobati kerinduan akan karya-karya Slamet Abdul Sjukur.

Karya terakhir berjudul Aureola untuk instrumen gong, piano, kontrabas, dan sequencer. Karya Indra Perkasa ini memiliki konsep seperti air, dapat berubah bentuk tanpa kehilangan jati dirinya. Kembali Aksan dan Aisha memainkan gong dan piano, sementara Indra sendiri yang memainkan kontrabas dan sequencer. Karena menggunakan sequencer, lagi-lagi ketepatan saat sangatlah diperlukan, sehingga setiap pemain memakai earphone yang sepertinya menjadi metronom bagi mereka. Di tengah karya, diselipkan sampling karya Slamet Abdul Sjukur yang pada tahun 1975 mendapatkan penghargaan piringan emas dari Perancis, Tetabeuhan Sungut.

Pemuncak malam itu adalah Gatot Danar Sulistiyanto yang mementaskan Ular-Ular karyanya sendiri. Duduk di kursi di tengah panggung menghadap mikrofon, karya musik mulut ala Slamet Abdul Sjukur ini benar-benar menjelajahi semua kemungkinan bunyi yang bisa dihasilkan mulut. Puncak ketegangan terjadi saat Gatot mengeluarkan suara seperti leher tercekik dan kemudian mulai meracau, berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tangan meneror kuping setiap pendengar, dengan bahasa antah berantah layaknya sebuah mantra. Setelah itu hening, sambil ia tetap mengacung-acungkan tangannya tanpa suara, kemudian membisikkan kalimat dalam bahasa jawa yang – sayangnya – kurang jelas terdengar. Karya tersebut diakhiri dengan dua kalimat syahadat yang dirapalkan beberapa kali: Laa ilaaha illallah, Muhammadarrasuulullah. Benar-benar sebuah karya yang luar biasa, yang pantas menjadi penutup acara.

Malam itu benar-benar malam yang sangat spesial. Terbukti Slamet Abdul Sjukur tidak salah menitipkan “wasiatnya” kepada para komponis dan musisi yang terlibat dalam pertunjukan itu. Mas Slamet, selamat beristirahat dengan tenang. (tim)

IMG_1229

Ralat: Berdasarkan pembicaraan dengan Ibu Ariani dan Ibu Aisha, Bapak Anusirwan malam itu memainkan instrumen pralon jepang rakitannya sendiri, bukan suling bambu. Mohon maaf atas kesalahan ini.

~ Teodore Ignatius Minaroy adalah pianis, pendidik serta pengajar piano serta teori musik di Sekolah Musik YPM Jakarta.

1 Comment on 80 Tahun Slamet Abdul Sjukur: Wasiat Sang Maestro

  1. This in turn ensures that your business is treated differently.

    The Canadian market is witnessing huge turnover online and competition is ‘cutthroat’ to say the least.
    The author is a master in sophisticated article marketing strategy
    which plays a pivotal role today, as every SEO Company is on a look out for a
    unique technique to promote his website and bring in more traffic than the others.

    Due to the advance in technology, there are many websites of varied businesses available
    online.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Tentang Pemikiran Slamet Abdul Sjukur | A Musical Promenade
  2. Introducing Teo Minaroy | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: