Kabar Terkini

Tuan Rumah: Jangan Musik Baru, Penonton Tidak Ngerti


Musik baru nampaknya menjadi tantangan bagi banyak pendukung musik. Mungkin tidak sedikit musisi yang berhadapan dengan pemodal ataupun pendukung yang sontak berubah rupa menjadi penolak kegiatan seni apabila kemudian dihadapkan pada penampilan Musik Baru, terlebih Musik Baru Indonesia.

Ini bahkan dialami oleh penulis sendiri dalam perjalanan penulis mendorong pementasan karya musik baru dalam ensembel yang penulis pimpin. “Musik itu kan ditulis untuk menghibur, apalagi pendengarnya bukan orang yang mengerti musik sekali…” adalah alasan klasik yang didorong oleh banyak pihak untuk memakzulkan pementasan karya musik baru, padahal dibanding keseluruhan durasi, musik tersebut tidak lebih dari 10% waktu total musik dalam pertunjukan.

Menggadang musik baru adalah sebuah keniscayaan untuk musisi Indonesia. Musik kita adalah musik baru yang mencerminkan persinggungan budaya Timur dan Barat, yang mencetuskan paradigma ke-Indonesia-an. Dan insiatif macam ini semakin penting di arena internasional, karena Indonesiana adalah kebaruan musik, dan musik simfonik yang menjadi bagian dari kekayaan musik dunia pun diadopsi oleh manusia Indonesia untuk kemudian mengambil bentuknya sendiri yang matang lewat komposisi musik baru ini. Dengan ini kita berbicara dengan instrumen Barat, dengan idiom musik Timur, paradigma modern dan falsafah ke-Indonesia-an.

Sayangnya hal ini malah ditolak di institusi yang kabarnya menggadang nilai ke-Indonesia-an dan membangun karakter kebangsaan.  Alasan yang mungkin lebih mencolok adalah karya tersebut silakan dibawakan di luar negeri, tapi di acara ini jangan karena penonton mungkin tidak bisa mengapresiasi.

Alasan bahwa penonton tidak bisa mengapresiasi adalah alasan yang menurut penulis agaknya merendahkan kapasitas intelektual penonton, seakan penonton divonis terlalu bodoh untuk mengerti. Dengan pernyataan ini pula, mungkin karya dianggap tidak layak untuk dikonsumsi publik. Namun sesuatu yang disayangkan apabila seni disensor sedari awal, karena dugaan ketidakmampuan penonton mengolah.

Memang harus dikatakan bahwa musik baru bukanlah resapan setiap orang. Bisa ada yang menyukainya, ada pula yang tidak. Ada yang menyukai musik baru dalam suatu gaya tertentu, ada yang melahap hampir keseluruhan musik baru. Sebagaimana makanan, selera menentukan kesukaan seseorang.

Namun juga sebagaimana makanan diracik bumbu dan diproses, karya kekhasan kuliner diturunkan lewat tradisi turun-menurun dan persinggungan berbagai budaya. Demikian juga musik ditulis dan dimainkan, disusun dan diciptakan kembali di atas panggung lewat tradisi yang menurun baik lisan maupun tulisan juga lewat persinggungan budaya.

Angus Steak Rendang

Kebetulan dalam sebuah pesta yang mengetengahkan nilai kuliner Padang di masa kini, tuan rumah berkata pada event organizer, “Walaupun kokinya orang Padang dan sempat belajar ilmu kuliner di Prancis, mungkin tidak cocok kreasi baru masakan rendang Padang ini disajikan dalam acara jamuan malam ini dikarenakan sebagian besar tamu yang datang malam ini adalah orang biasa, Pak. Saya sebagai tuan rumah memang tidak masalah, tapi besar kemungkinan masakan Anda rasanya tidak akan cocok dengan lidah orang lokal kita. Sebaiknya jangan disajikan. Besok saja ketika Anda sedang bertamu dalam acara kuliner internasional, tapi jangan disajikan di sini, rendang kreasi baru itu tidak cocok.”

Adalah baik bagi tamu mencicipi dahulu, berikan informasi yang jelas akan kreasi baru ini. Juga halnya dengan musik, kita berikan informasi dan edukasi yang cukup, lalu tetap hidangkan bagi para penonton. Dan biarkan mereka menentukan sendiri apakah mereka menyukainya atau tidak. Akan ada yang menolak dikarenakan tidak terbiasa dengan perbedaan, akan ada yang memikirkan secara kritis dan mengusulkan perbaikan, ada pula yang terkejut dan diam-diam menikmati, ada pula yang akan memuji kreasi baru seperti ini.

Yang pasti kisah Indonesia tidak hanya bisa berkaca pada apa yang berbau tradisional saja. Tapi pada keseluruhan spektrumnya saja, yang beragam, yang urban, yang rural, yang baru, yang lama, yang populer maupun terlupakan. Banyak yang mengatakan ini adalah nilai universalitas post-modern, bisa jadi. Tapi inilah wajah Indonesia kini yang patut diketahui dan dikemukakan, karena musik Indonesia bukan saja hanya didefinisikan pada kelampauan, tapi juga kekinian, bukan pada homogenitas kedaerahan, tapi pada kemajemukan nasional.

Menghapus hak penonton untuk tahu dan mencicipi persinggungan budaya Indonesia yang multifaset adalah hal yang patut untuk dipertanyakan, bukti bahwa hegemoni atas informasi masih kental. Kekuasaan masih mendefinisikan bahkan mereka yang memiliki peran besar dalam kemasyarakatan sebagai pribadi yang tunawisaksana.

Alasan bahwa suatu musik tidak cocok dikarenakan vonis keterbatasan intelektualitas penonton adalah sebuah penghinaan. Mungkin sudah saatnya tuan rumah berkaca dan biarkan penonton yang sudah lebih dewasa ini memilih mana yang mereka suka.

~Pentingnya musik baru dalam bingkai kebangsaan pernah ditulis di blog ini dan bisa dibaca di sini

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: