Kabar Terkini

Memandang Layanan Streaming


Di Indonesia bisnis streaming musik memang belum menjadi satu bisnis yang terlihat menguntungkan. Namun dengan maraknya pembajakan dan menurunnya pamor media rekaman selama 15 tahun terakhir, ranah streaming bisa menjadi pilihan tersendiri yang cukup menarik.

Streaming adalah bahasa teknologi internet berbahasa Inggris yang berdasarkan data Wikipedia hingga kini belum terserap ataupun diciptakan padanannya dalam bahasa Indonesia. Secara tidak langsung memang menandakan streaming masih baru dalam konsep teknologi di Indonesia.

Aktivitas streaming sendiri digolongkan atas proses transfer data yang dilakukan, yaitu dengan proses pengaliran data tanpa didahului dengan proses penyimpanan menyeluruh dan menetap. Data media pun mengalir semampu disampaikan oleh jejaring dan ditangkap oleh pesawat di ujung untuk meningkatkan sifat waktu-nyata, oleh karenanya proses transfer datanya bersifat lossy, sedikit data bisa hilang di tengah jalan dalam proses transfer namun tidak mengganggu keseluruhan tayangan yang dinikmati pada saat itu juga.

Proses waktu-nyata (real-time) ini juga memotong proses pengecekan bit-bit data yang sebelumnya menjadi proses mendasar dalam protokol TCP (Transmission Control Protocol) ataupun FTP (File Transport Protocol), sehingga tidak ada lagi proses pengecekan data terkirim yang memastikan data yang dicek lengkap. Ini melahirkan protokol baru dengan nama Real-time Transport Protocol (RTP). Sedikit tambahan, protokol ini juga ditulis untuk mengakomodasi jalur internet yang terbatas.

Tapi sejalan dengan perkembangan pitalebar dan merebak penggunaannya di pasar, RTP memang banyak ditinggalkan dan banyak yang menggunakan HTTP Live Streaming sebagai opsi lain yang sebenarnya tidak sepadat dan seringkas RTP. Proses HTTP Live Streaming seperti yang digunakan Youtube, melakukan pengecekan data yang terkirim dan mengkonfirmasinya, apabila ada data kurang maka akan ada permintaan dikirimkan kembali data yang hilang tersebut secara otomaris, sehingga bisa memakan waktu. Namun dengan internet yang secepat sekarang proses tersebut mampu dilakukan dan tetap menghasilkan performa yang sesuai, terutama di negara dengan bandwidth besar.

Layanan streaming bisa jadi belum menjadi primadona di Indonesia. Hingga kini bisa dikatakan hanya perusahaan media saja yang kini mulai kerap menggunakan istilah ini. Radio streaming dan TV streaming lewat layanan internet adalah beberapa layanan yang ditawarkan di Indonesia dan masih tergolong mahal mengingat harga bandwidth di Indonesia termasuk salah satu yang paling mahal di ASEAN dan kecepatan akses yang juga tergolong rendah di sekitar rata-rata 700KB/detik. Berdasarkan data Oktober 2012 dari akaimai.net, Indonesia masih berada di bawah Vietnam, Kamboja dan Laos dari segi kecepatan akses. Pun menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia tahun 2012, dibandingkan dengan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 250 juta, jumlah pengguna internet di Indonesia memang masih 28 persen. Angka ini masih jauh dari harapan Millenium Development Goals (MDGs) sebanyak 50 persen pada 2015.

Karena kualitas yang rendah ini, strategi streaming nampaknya belum bisa menjadi pilihan pelaku industri musik sebagai alternatif bisnis. Cakram digital bajakan yang dijajakan di pinggir jalan masih lebih laku dibanding layanan gratis maupun berbayar. Padahal streaming selain menawarkan programmed service layaknya siaran radio, juga menawarkan on-demand service layaknya toko rental film yang marak, sekitar 15-20 tahun lalu di mana pelanggan bisa memilih apa yang ingin mereka tonton/dengar dan mengalirkannya secara real-time. Layanan youtube, soundcloud, itunes adalah sedikit contoh dari layanan on-demand ini.

Di dunia teknologi dan industri hiburan sendiri 5 tahun lalu sempat memprediksi lalu bahwa layanan on-demand streaming akan memakan programmed service karena memberikan kebebasan pada penikmat untuk memilih sendiri apa yang mereka ingin nikmati. Penonton memilih apa yang ingin mereka tonton, mencarinya sendiri dan bisa memutarnya kapanpun mereka mau via streaming online.

Tapi nampaknya pergerakannya tidaklah demikian. Kini pasar ternyata masih membutuhkan programmed service, dimana mereka disajikan acara-acara yang tidak perlu mereka pilih dan susun sendiri tapi sudah disusunkan bagi mereka. Indolence atau kemalasan memang jadi motivasi mendasar orang memilih programmed service, terutama untuk bidang hiburan di mana si penikmat dipersilakan untuk dihibur oleh acara tanpa banyak usaha untuk memilih satu demi satu hiburan apa yang ia inginkan. Apple pun sebagai salah satu raksasa on-demand akhirnya mengambil langkah untuk membentuk dinasti programmed service-nya sendiri.

For all these arguments against laziness, it is amazing we work so hard to achieve it. Even those hard-working Puritans were willing to break their backs every day in exchange for an eternity of lying around on a cloud and playing the harp. Every industry is trying to do its part to give its customers more leisure time. -Hal Cranmer

Streaming sesungguhnya bisa membuka banyak kemungkinan baru. Dan sebagaimana cakrawala kita lebih terbuka lewat kesiapan infrastruktur, saatnya juga streaming memegang peranan yang lebih sentral sebagai medium penyiaran alternatif bagi publik.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: