Kabar Terkini

Memandang 100 Tahun Musik Pop Indonesia


Denny Sakrie 100 Tahun Musik Indonesia

Cover buku 100 Tahun Musik Indonesia

Sebelum mangkat, kritikus musik Indonesia Denny Sakrie menyelesaikan karyanya dalam sebuah buku “100 Tahun Musik Indonesia”. Dan pada awal bulan Maret lalu, buku karyanya ini diterbitkan secara posthumous, berselang 2 bulan dari wafatnya. Memang buku ini adalah salah satu fokus pengamat yang besar di Makassar ini.

Menggali 100 tahun musik Indonesia, Denny Sakrie membedah seluk beluk musik Indonesia dari kacamata musik populer dari setiap periode, dimulai dari awal abad ke-20 di zaman kolonial hingga separuh dekade pertama milenium baru ini. Baginya musik Indonesia bermula dari berkembangnya perusahaan rekaman dan label Hindia Belanda dan mengupasnya secara kronologis peran-peran label awalan Indonesia dalam membangun industri musik lokal.

Berkaca pada masa sebelum kemerdekaan, penulis, penyiar radio, pengamat dan penulis naskah TV ini juga sempat mengupas fenomena musik pra kemerdekaan sebagai alat dari perjuangan dan hingga akhir Orde Lama di mana musik menjadi salah satu poin pembentuk budaya bangsa, sebagaimana didengungkan oleh Sukarno.

Dengan alur maju, dan kemudian disertai dengan fokus pada fenomena musik dan peristiwa penting musik seperti lahirnya musik lenso di akhir Demokrasi terpimpin hingga Lomba Cipta Lagu Remaja, pembaca diajak pula untuk berfokus dan menyaksikan perkembangan dan bahkan keruntuhan sebuah fenomena.Seperti dunia keroncong, dunia musik jazz dan bahkan musik religi pun diangkat oleh kritikus yang menjadi kontributor banyak media massa musik populer ini.

Tidak lupa tokoh-tokohnya difokuskan secara terpisah. Bersama fenomena dangdut dikisahkan juga peran Rhoma Irama, Idris Sardi untuk musik film dan pergerakan kritik sosial lewat musik Iwan Fals. Kelompok seperti Slank dengan basis penonton serta kekhasan Chrisye juga mendapat tempat. Semuanya seakan ditulis terpisah satu dengan yang lain namun terangkai dengan jelas dalam kerangka pikir sang penulis.

Dengan konsetrasinya pada musik hiburan, demikian musik ini disebut di medio 1960-an, penuturan Denny banyak terfokus pada perkembangan industri musik di kota-kota besar di Indonesia. Apalagi dengan jangkauan label bermarkas di ibukota yang menggurita di dekade1980-an hingga merebaknya jalur indie dan internet yang sempat ia singgung sebagai titik tolak abad 21.

Penulisan almarhum yang lugas namun disertai kepedulian akan musik tanah air terasa membangun pengetahuan pembacanya. Hal-hal trivial pun dibagikan dengan seksama sembari terus memikat pembaca dengan fakta-fakta historis dan bahkan pengaruh musik populer Indonesia dengan fenomena musik di luar negeri. Referensinya yang luas tentunya semakin mendukung warna tulisannya ditangkap dalam koridor konteks yang sesuai.

Denny Sakrie bahkan dalam setiap bab yang dibaginya berdasarkan dekade juga menuliskan 10 Lagu Top dekade tersebut, sebuah penilaian yang tentunya subyektif namun dapat dimaklumi untuk kepentingan referensi suara dari pembaca.

Ditulis dalam kerangka musikologi historis dan sosial, penulisan buku setebal 165 halaman ini memang berfokus pada fakta-fakta historis tanpa banyak masuk ke pendekatan analitis musik yang dijadikan acuan. Buku yang diterbitkan oleh Gagas Media ini dapat dikatakan berisi banyak hipotesa dan dalil yang dapat dikembangkan sebagai kajian akademis tersendiri yang lengkap. Pendekatan komparatif juga bisa jadi dibedah lebih jauh. Kiprah Benyamin Sueb misalnya sebagai hasil pengembangan identitas kebetawiannya dalam kancah musik folk belum dikomparasi dengan fenomena ST12 lewat “musik pop (bercengkok) Melayu” yang di satu sisi sama-sama mengembangkan dari kearifan lokal.

165 halaman adalah angka yang kecil untuk 100 tahun musik Indonesia. Pun juga masih terlalu pendek untuk berkisah tentang warna-warni perkembangan musik Pop Indonesia. Dari setiap tulisan di buku ini berpotensi untuk memunculkan diskursus terpisah seperti apakah memang definisi musik Indonesia adalah musik pop Indonesia, entah menyoal fakta dan fenomena maupun kajian sosio historis yang dapat digali lebih jauh.

Namun demikian, Denny Sakrie hingga akhir hayatnya telah memberikan sebuah landasan bagi perkembangan studi musik populer di Indonesia. Dan bagi para pecinta musik Indonesia, tulisan ini adalah sebuah khasanah ilmu yang mencerahkan dan dapat diakses masyarakat umum. Apalagi literasi musik dalam bangsa kita, baik dalam musik tertulis maupun buku kajian masih sangat rendah.

Buku ini adalah buah tangan manis seorang pengamat musik untuk ranah musik populer/hiburan yang ia senangi dan untuk ilmu dan akses yang diberikannya ini, patutlah ucapan terimakasih dihaturkan kepada penulis yang tidak memetik manisnya hasil tulisan ini bagi perkembangan keilmuan musik, Almarhum Denny Sakrie.

~jujur saja agak telat saya ketemu buku ini. Tapi ini adalah pembuka jalan yang pas seperti yg telah saya pernah tuangkan tentang jalan masuk musikologi di sini.

Iklan
About mikebm (1265 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: