Kabar Terkini

Tari-tarian: Tekstur dan Intensitas


Symphony 7 ASJ JSOBertabur ornamen dan sonoritas, demikianlah suara yang melantun dari irama tarian yang didendangkan lewat permainan harsichord Suite in A minor dari Jean-Phillipe Rameau, seorang komponis di zaman barok asal Prancis. Duduk di depan papan nada, Billy Kristanto yang juga bertindak sebagai konduktor dalam konser di malam Sabtu ini.

Sebagai seorang harpsichordis dan musikolog yang mendalami musik era barok, Billy membuka karya ini dengan sedikit memperkenalkan musik yang dibawakan malam itu. Billy sendiri dari sisi permainan mampu membina tekstur yang nyata lewat permainan yang lincah dan mendalam. Menarik, bahwa kekayaan tekstur ini mencerminkan keahlian Rameau sebagai salah satu tonggak orkestrasi musik Barok yang cermat. Cukup menyenangkan melihat Billy mampu membawa kedalaman dalam suita yang tersusun atas 7 bagian ini lewat permainannya yang mencoba mendekati nilai otentisitas dari permainan keyboard zaman barok. Ritme tarian tetap terasa, namun tetap mengandalkan ekspresivitas di dalamnya.

Nyatanya memang irama tarian menjadi benang merah pada konser malam ini. Jakarta Simfonia Orchestra kemudian mengambil tempat di atas panggung. 52 orang anggota JSO yang kali ini dipimpin oleh concertmaster Hery Sunarta, biasa orkes ini disebut, kemudian duduk untuk menyambut Billy Kristanto yang kini berdiri di atas rostrum untuk memimpin dari musik insidentil komponis Norwegia Edward Grieg yang ditulis untuk drama dengan judul yang sama karangan penulis Norwegia Henrik Ibsen.

Sebagai seorang Norwegia yang terdidik di Leipzig Jerman, Grieg menjadi salah satu ikon musik romantik Norwegia lewat ekspresivitas musik ciptaannya. Peer Gynt Suite Op.46 sebagai salah satu karya simfoniknya yang paling populer dibawakan dengan kekuatan interpretasi yang matang di bawah arahan Billy Kristanto. Tanpa banyak dituntut, orkestra bernyanyi dengan bebas dan atmosfer yang kaya.

Melodi yang menyanyi di bagian pertama “Morning Mood” yang membuai dibalas dengan intensitas kedukaan dalam bagian kedua “The Death of Ase”. Sedang tari-tarian tergambar lincah dari bagian ketiga “Anitra’s Dance”. “In the Hall of Mountain King” dari bagian empat dimainkan dengan berkarakter dan rapi meskipun bisa tergarap dengan dorongan urgensi yang lebih kuat dan mencekam.

Setelah istirahat, giliran Artistic Director dan Principal Conductor Stephen Tong yang berdiri memimpin orkestra. Para pemain tampak menyiapkan diri untuk bermain dengan kewaspadaan yang tinggi untuk memainkan Leonore Overture no.3 Op.72b. Sarat dengan perubahan tempo yang memerlukan dukungan kepemimpinan, para pemain mengambil banyak inisiatif untuk memastikan musik mengalir. Namun demikian permainan tim terdengar cukup padu dan ringkas dalam melibas karya pembuka dari opera satu-satunya dari sang komponis, Fidelio aka Leonore.

Hal yang sama juga terjadi dalam Symphony no.7 Op.92 karya Ludwig van Beethoven yang menjadi sajian utama dalam konser malam ini. Kembali dalam tema tarian yang dibina lewat perkembangan motif rangkaian nada pendek, penonton kembali dibawa kepada keceriaan dan kualitas tari-tarian yang menghiasi babak pertama.

Didaulat oleh Stephen Tong sebagai karya yang maskulin, simfoni ini malah memancarkan warna keriangan yang tersendiri, sebuah warna yang jarang ditemui dalam karya-karya simfoni Beethoven yang lain. Sekalipun permainan terkesan berhati-hati dan cenderung berat, namun permainannya memiliki intensitas yang menggelora dari setiap pemainnya. Pun kemampuan seluruh orkestra dalam bermain layaknya bermain dalam musik kamar teruji dan para pemain berhasil dengan baik, bukti bahwa masing-masing mereka adalah musisi yang dewasa dan paham akan arah musik ini.

Meskipun demikian, keindahan Beethoven yang berpangkal pada kepiawaian dalam mengolah motif yang menjadi modal dasar komposisi Beethoven, malam kemarin sepertinya kurang terpancar. Perhatian nampaknya lebih tertuju pada bangun besar karya tanpa banyak mengolah intrikasi detail di dalamnya yang mutlak diperlukan. Alhasil, setiap musisi terdengar mengambil keputusan masing-masing untuk menginterpretasikan karya dalam bangun besar itu yang menyebabkan karya ini sedikit kurang gegap dalam menyampaikan wacana tetarian yang disampaikan semula.

Walaupun sesekali terdengar horn dan trompet yang kurang presisi malam ini, tiup kayu dan gesek tampak rancak dalam bermain. Nyatanya konser pertama di bulan Syawal ini menyajikan pertunjukan yang menarik. Musik memang lekat dengan tetarian, dan malam ini musik pun ditarikan di Aula Simfonia Jakarta dan Jakarta Simfonia Orchestra.

~terimakasih Andika Candra untuk tiketnya

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: