Kabar Terkini

Rajin Masterclass Sama Dengan Mendidik?


Di musim liburan seperti saat ini, baik di sekolah tinggi maupun sanggar marak dengan masterclass yang diselenggarakan oleh dosen tamu ataupun artis tamu yang datang untuk memberikan masterclass. Dan kini dengan semakin menjamurnya pendidikan musik di tanah air, demikian juga dengan masterclass baik yang diberikan oleh guru dari dalam maupun luar negeri.

Tidak sedikit masterclass diadakan dan tidak sedikit seniman yang sibuk memberi masterclass dan getol dalam masterclass ini. Tapi apakah rajin memberi masterclass ekuivalen dengan mendidik seorang seniman?

Masterclass?

Masterclass sebagaimana namanya, diberikan oleh para ahli dari industri yang diakui kepakarannya untuk kepada kaum yang ingin belajar lebih lanjut. Masterclass dalam bidang musik pun sering dilakukan, tidak jarang para penampil yang sering maju dalam sirkuit dunia kemudian turun tangan untuk mengajar di berbagai institusi membagikan pengalaman mereka dan juga tips dalam hal teknis bermusik maupun menghadapi karir ke depan. Dan umumnya masterclass ini terselenggara dalam waktu yang terbatas, mungkin hanya beberapa hari hingga satu minggu dengan waktu yang maksimal 2 jam setiap peserta didik, atau bahkan kurang dari 40 menit dan hanya sekali bertemu.

Keterbatasan waktu dan kesibukan para pakar ini dalam bidang pekerjaan mereka tidak jarang sulit untuk menemukan waktu untuk berbagi kepakaran tersebut, sekalipun mereka ingin. Sehingga memang masterclass adalah sebuah media yang cocol bagi banyak pakar untuk membagikan ilmu. Dalam perkuliahan, sebutlah ini  masterclass ini identik dengan sebuah kelas seminar, dengan pemateri tamu/eksternal dan umumnya tidak terlibat dengan proses belajar-mengajar sehari-hari.

Tapi untuk disebut bahwa pemberi masterclass adalah pendidik, merupakan salah kaprah. Pemberi masterclass memang bisa jadi adalah pendidik dalam kapasitas profesionalnya, namun bukan berarti setiap pemberi masterclass otomatis menjadi pendidik. Namun apabila dikatakan, mereka memiliki keprihatinan khusus pada pendidikan, hingga titik ini penulis sepakat.

Pendidik haruslah terlibat secara dekat dalam proses pembentukan peserta didik dan bukan hanya sekedar pengajar ataupun pemateri. Dan kata ‘proses’ menjadi kata kunci di sini. Pendidik haruslah hadir dalam memfasilitasi maupun memberikan arah dalam perjalanan peserta didik dan terlibat dalam hubungan guru-murid yang cukup intens.

Masterclass sebagai Didaktika

Menurut Mark Smith, pendidik dan juga peneliti pedagogi (ilmu pendidikan), “Pedagogi haruslah dieksplorasi lewat pemikiran dan penerapan bagaimana pendidik mendampingi peserta didik, memperhatikan dan mengasihi mereka dan menghidupkan arti belajar.” Menurut Brühlmeier, “Pendidikan berakar pada manusia, menyoal pikiran, perbuatan dan hati.”

Adalah penting kita membedakan pedagogi dengan didaktika. Didaktika berasal dari kata Yunani didáskalos dan didaktika lebih bersentral pada ilmu pengajaran. Menurut Johann Frederich Herbart pakar pendidikan abad 19, pengajaran menjadi sentral dalam pendidikan. Masterclass sebagai bentuk pengajaran sebagai bentuk pendidikan yang primer melekat kuat dengan pandangan ini.

Namun terjadi pergerakan yang mendasar di abad 20 oleh Paulo Freire bahwa pedagogi memegang peranan yang lebih sentral, pendidikan lebih penting dari sekedar pengajaran. Johann Heinrich Pestalozzi yang pendidik sejaman dengan Herbart menunjuk bahwa pendidikan bukan hanya mencapai hasil pengajaran yang telah ditetapkan, tapi keseluruhan pribadi manusia tersebut fisik, mental dan psikologisnya.

Dari tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, pendidikan selain menjadi teladan, juga harus menjadi penopang dan pendorong peserta didik. Keberadaan masterclass sebagai sarana alternatif memegang peranan yang lebih periferal dibandingkan dengan pendidikan rutin yang diajarkan oleh pendidik reguler, dikarenakan lebih menjalankan fungsi “Ing ngarso sung tulodho (Di depan memberi teladan” dibandingkan dua fungsi lainnya “Ing madyo mangun karso (di tengah membangun pemikiran), tut wuri handayani (di belakang mendorong).

Bukan Pedagogi

Masterclass memang dapat menjadi katalis dalam proses belajar. Peran eksternal di luar guru reguler akan mampu menarik perhatian peserta didik karena memberikan nuansa yang sedikit berbeda dengan rutinitas. Masterclass selain memberikan ilmu yang sama sekali baru, juga dapat memberi warna cara pandang yang berbeda akan suatu dalil, sekalipun dalil yang diajarkan sama dengan guru reguler. Masterclass adalah pengayaan, bukan substansi dasar dalam pendidikan, termasuk pendidikan seni.

Absennya keterlibatan pemberi masterclass dalam mayoritas proses belajar menjadi sebab utama mengapa proses pendidikan tidak bisa sepenuhnya ditanggungkan pada masterclass. Jadi sangat tidak beralasan bagaimana beberapa seniman di Indonesia, dikarenakan sesekali memberikan masterclass, sudah menyebut diri sebagai pendidik, padahal tidak pernah terlibat dan mendampingi proses belajar murid secara reguler. Apalagi dalam bidang musik, umumnya kesibukan masterclass hanyalah memoles dan sedikit memberi pandangan berbeda dari musik yang dibawakan peserta didik berbakat yang sudah siap tersebut.

Peran pendidik berbeda dengan peran para master dalam masterclass. Mereka bisa saja adalah para pakar di bidangnya, tapi itu tidak membuat mereka lebih layak disebut pendidik dikarenakan rajin menjadi pembicara masterclass. Punya kepedulian pada pendidikan ya, ingin terlibat dalam pendidikan bisa jadi benar, tapi tidak otomatis menjadi pendidik dalam arti yang sebenarnya. Walaupun demikian, masterclass memiliki dampak tersendiri dalam salah satu faset dunia pendidikan seni.

Tidak segampang itu menjadi pendidik dan para master ini seringkali tidak tentu lebih baik dari para pendidik yang berjerih payah mendampingi peserta didik dalam belajar dan tentunya tidaklah lebih terhormat dari para pendidik ‘reguler’ si anak tersebut. Pada kenyataannya ‘reguler’ tidak pernah menjadi hal yang biasa saja, justru merekalah yang seharusnya lebih luar biasa.

Rajin memberi masterclass ≠ menjadi pendidik

Baca juga: http://infed.org/mobi/what-is-pedagogy/

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: