Kabar Terkini

Soal Persepsi Identitas Bangsa Indonesia di Kalangan Muda


~ditulis oleh Muhammad Ginastera “Boo-boo” Sianturi

Melalui pembicaraan saya dengan fellow Canisians saat saya pulang ke Jakarta awal Juli kemarin, membantu membuka pikiran saya mengenai persepsi masyarakat kota terhadap identitas kita sebagai bangsa Indonesia.

Analisa singkat yang bisa saya ambil adalah sikap kritik terhadap bangsa sendiri masih belum bisa diterima lapang dada sebagai sarana pembelajaran dan refleksi baik individu maupun komunitas, malah sikap kritik ini masih dilihat sebagai ejekan terhadap individu dan komunitas bangsa sendiri.

Saya mulai dengan statement yg mungkin tidak lazim didengar oleh kaum mayoritas di Indonesia sebagai tantangan: “Tidak ada satupun keilmuan di universitas kita di Indonesia yang lahir atau rooted di Indonesia, tetapi ketika kita lulus dari Universitas sebagai sarjana, diharapkannya oleh orangtua dan kerabat untuk menjadi orang Indonesia…”

“Negara kita diapit oleh 3 ‘tectonic plate’ dan mempunyai gunung berapi terbanyak di dunia, tetapi ironisnya belajar ilmu geologi dan vulkanik dari barat? Sebagai negara kelautan atau maritim terbesar di dunia, belajar maritime law dari barat?” Dan seterusnya hampir di semua bidang keilmuwan. Sunyi.

Lalu seorang kawan mengatakan: “Kalau sastra Jawa gimana?” Sastra Jawa juga berangkat dari Sanskrit dan penggabungan melayu sebagai keilmuan yang belum bisa berdiri sebagai fakultas tetapi hanya sebagai kajian. Hampir semua buku-buku dan hasil penelitian yang dipelajari ditulis oleh siapa? Barat juga. Mau belajar gamelan saja harus membaca buku yang ditulis oleh Michael Tenzer sebagai acuan. Hampir tidak pernah kita mau melihat bangsa ini dari kacamata sendiri, jadi memang rumput tetangga lebih hijau ya?

Tetapi realitanya kita sangat bangga sekali dengan beragam pernyataan yang sering disampaikan oleh pemimpin dan masyarakat kita, contoh: Indonesia adalah negara Islam terbesar di dunia dalam jumlah kependudukan, fakta yang benar, tapi pertanyaan saya: “Apakah ada sumbangan pemikiran Islam kita untuk dunia sejauh ini?” (Sunyi). “Indonesia adalah negara maritim terbesar didunia, tapi apakah ada sumbangan pemikiran kelautan kita terhadap dunia?” (Sunyi)

Melihat Indonesia melalui kacamata barat dan timur, bukanlah pernyataan ini hanyalah kemunafikan? Bukankah ini sebuah Krisis Identitas bangsa yang ditutupi oleh beragam pernyataan yg tidak didukung oleh Living Realities? Krisis Identitas ini sepertinya tidak dialami oleh generasi muda kota karena mungkin dilabui oleh awan gelap yg diakibatkan oleh asap kendaraan bermotor? atau dikelabui oleh pengaruh tulisan-tulisan oleh media kita yang tidak punya landasan konteks dan konten yang valid?

Sikap kritis terhadap bangsa sendiri ini ternyata masih dianggap sebagai ketidakstabilan individu (Insecurity), bukan dilihat sebagai sarana pembelajaran dan pembaharuan pemikiran. Padahal kalau ditanya, apa sumbangan pemikiran Indonesia terhadap dunia? Tidak bisa jawab, tetapi begitu bangsa ini dilihat mengalami Krisis Identitas di dunia, responnya masih dalam status In denial atau tidak bisa menerimanya dengan lapang dada. Jadi relevankah insecurity ini?

Persepsi negatif ini tidak hanya mengelabui kaum awam tetapi bahayanya juga beredar di kalangan akademisi atau cendekiawan. Sikap kritis ini masih mayoritas dilihat secara subjektif tetapi tidak dilihat secara objektif. Jelas bukan individunya yang dikritik tapi keilmuwanya, cukup adil? Belajarnya keilmuan barat, tetapi fair criticism (kritik berimbang) tidak menjadi bagian dari essensi utama dalam menjalankan statusnya sebagai akademisi, jadi belajar apa dari barat?

Perkembangan ilmu pengetahuan and pendidikan di Indonesia harus mampu untuk mengimbangi antara perkembangan ilmu pengetahuan dunia dengan ilmu pengetahuan lokal. Kita punya segala-galanya; laut yang luas, tanah yang subur, bio-diversity, bangunan tahan gempa, hutan hujan tropis terbesar, dan seterusnya. Saya yakin dengan sumberdaya dan modal kita yang kaya ini, kita bisa melahirkan keilmuwan dan juga memperbaiki atau melengkapi yang sudah ada.

Mari belajar dan berjuang bersama untuk mencari dan menggali akar bangsa ini yang sudah larut dalam peradaban.

“Pessimism of the intellect, Optimism of the will” ~Antonio Gramsci.

~Ginastera atau Boo-boo adalah seorang musisi dan pemerhati seni budaya yang kini bermukim di London, Inggris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: