Kabar Terkini

2 Institusi Pendidikan Seni Merger, Mungkinkah?


~Dari membaca artikel di compusiciannews.com

Dengan berita ini di New York Times, lalu kemudian disusul oleh berita ini di Boston Globe, akan berita mergernya dua buah perguruan tinggi musik di kota Boston, Massachussets AS yang difinalisasi akhir Juni lalu, membuat saya berpikir. Mungkinkah hal ini terjadi di Indonesia?
Dalam kisah di kota Boston ini, Boston Conservatory didirikan pada tahun 1867 dan merupakan perguruan tinggi seni tertua di Amerika Serikat. Boston Conservatory saat ini memiliki program tari, teater dan musik yang berkualitas di Amerika dan mahasiswa berjumlah 730 orang dan dana abadi 15 juta dollar AS.Boston Conservatory sendiri dikenal lewat lulusannya di bidang drama musikal yang kuat di AS.

Sedangkan Berkelee College of Music adalah salah satu perguruan tinggi musik besar di Amerika Serikat dengan jumlah mahasiswa 4.000 orang dan dana abadi sebesar 321 juta dollar AS. Berkelee sendiri unggul dalam pendidikan musik kontemporer dan jalur populer seperti musik film, manajemen musik, dan musik jazz. Berkelee juga terkenal lewat program jarak jauhnya yang memperluas jaringan pendidikannya.

Tampak depan gedung utama Boston Conservatory

Boston Conservatory Main BuildingDengan MOU ini, Boston Conservatory berubah nama menjadi “Boston Conservatory at Berkelee” sedang Berkelee tetap dengan namanya semula. MOU ini memperluas kerja sama dua buah perguruan tinggi yang terletak berdekatan di daerah Fenway ini yang semula berupa berbagi fasilitas seperti ruang makan dan dosen-dosen yang mengajar di kedua institusi serta kegiatan konser gabungan mahasiswa, hingga menjadi program pendidikan yang terintegrasi.

Kedua institusi akan diuntungkan. Boston Conservatory akan mampu mengakses pendidikan kemajuan teknologi pendidikan Berkelee dan program baru seperti manajemen dan bisnis, sedang Berkelee akan memiliki akses untuk pendidikan musik kalsik, tari dan teater yang ada di Boston Conservatory. Sedang keduanya tetap memiliki spesialisasi yang akan dijaga di masa yang akan datang. Dengan ini, program pendidikan dan kesempatan untuk membangun kompetensi yang lebih luas dan fasilitas yang lebih lengkap bisa tercapai.

Dengan kerja sama ini, di tahun 2016 akan lahir program pendidikan seni pertunjukan yang lebih kaya dan menyeluruh untuk para mahasiswanya. Kini proses merger itu akan dilakukan untuk mengawinkan proses administrasi dan kepemimpinan di kedua buah institusi. Survei dan pertemuan sudah dirancang untuk proses integrasi ini, termasuk di lingkaran Dewan Pembina hingga ke tingkat mahasiswa.

Tidak Pernah Mudah

Sejalan dengan pengalaman pribadi penulis soal akuisisi di dunia bisnis, tidak pernah menjadi sebuah proses yang sederhana. Terlebih dengan ukuran kedua institusi yang berbeda, akan ada tarik menarik kepentingan yang terjadi dan proses bisa jadi rumit dan tidak mudah untuk diselesaikan. Perubahan paradigma Dewan pembina, senat dosen, staf administrasi dan bahkan mahasiswa haruslah terjadi apabila tujuan akhir mengenai pendidikan yang lebih terintegrasi terwujud.

Ruang makan milik Berkelee yang telah digunakan bersama Boston Conservatory

Fasilitas ruang makan yang telah digunakan bersama oleh kedua institusiNamun tujuan mereka adalah tujuan yang masuk akal. Di saat banyak institusi pendidikan membuka lebih banyak jurusan dan spesialisasi untuk mengejar minat masyarakat, seringkali tidak tentu diimbangi dengan pengembangan kepakaran. Program-program bodong bisa saja muncul tapi tidak tentu berhasil dan bermutu, belum lagi harus membangun reputasi.

Bisa dibayangkan apabila Boston Conservatory mendadak ingin membuka kelas musik Jazz ataupun Berkelee ingin membuka kelas tari lalu harus berjibaku menciptakan kurikulum dan persiapan fasilitas yang tidak murah dan sebentar. Cara merger ini adalah cara paling masuk akal dan jelas untuk mampu memperkaya program pendidikan sekaligus paling efisien.

Gedung utama Berkelee College of Music

Menjamur

Di Jakarta pun demikian. Kita bisa menyaksikan banyaknya studio dan sanggar yang didirikan semakin banyak. Alhasil, tidak sedikit dari mereka yang mengalami problema administrasi, program yang kurang berbobot, ataupun kekurangan murid. Belum lagi yang terang-terangan berkompetisi satu dengan yang lain, sedang persoalan fasilitas dan finansial bisa saja terus bergulir.

Namun sejalan dengan waktu, banyaknya sanggar-sanggar ini haruslah dibarengi dengan kekokohannya sebagai sebuah institusi pendidikan. Tidak sedikit sanggar dan institusi ini yang tidak akan bertahan lebih dari dua generasi. Permasalahan kepemimpinan dan kematangan organisasi bisa jadi menggerogoti perlahan hingga masing-masing organisasi ini mati lemas perlahan. Dan solusi merger sebenarnya bisa menjadi satu alternatif yang patut diperhitungkan.

Salah satu contoh kasus yang berhasil dilakukan adalah di Jogja lewat merger 3 akademi sekaligus: Akademi Seni Tari Indonesia, Akademi Seni Rupa Indonesia dan Akademi Musik Indonesia yang berlangsung di tahun 1984 yang melahirkan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dikabarkan bahwa Akademi Seni Rupa Indonesia pada saat itu adalah salah satu gugus terdepan dalam pendidikan seni yang memiliki

Masalah kepemilikan dan organisasi memang menjadi faktor utama kesulitan utama dalam merger. Dalam kasus di AS ini, dua organisasi adalah kepemilikan publik dan dikontrol oleh dewan yang berbeda sedang di Jogja ketiga akademi adalah milik negara sehingga sedikit banyak mengurangi potensi konflik. Namun bukan hanya kepemilikan atau organisasi saja juga perlu diperhitungkan mengawinkan dua budaya dan proses administrasi. Namun demi keberlangsungan organisasi, hal ini terbukti bisa dilakukan.

Sedikit catatan saja, ada baiknya jangan menunggu institusi yang kita bina krisis dahulu baru memikirkan merger. Berpikirlah ketika institusi masih kuat, punya spesialisasi yang diakui dan memiliki nilai tawar yang tinggi. Apabila sudah mati segan hidup tak mau, institusi manapun akan berpikir berulang kali untuk tidak memasukkan benalu ke dalam institusinya.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: