Kabar Terkini

Edith dalam Komparasi dan Asosiasi


Dimensi musik sangatlah luas dan seringkali mampu memberi pemaknaan tersendiri akan karya-karya musikal. Terlepas dari keterikatan pada teks, musik instrumental memiliki potensi jelajah yang jauh lebih luas. Karenanya pemaknaannya menjadi tidak terlepas dari pemadanan satu karya dari karya yang lain, juga tidak lepas pembandingan satu dari yang lainnya.

Resital malam ini oleh pianis Edith Widayani dalam rangkaian Cumlaude Concert Series XV ini memang menyasar sudut pandang tersendiri dari Edith yang kini sedang menyelesaikan studi doktoral musiknya di Eastman School of Music yang juga tidak terlepas dari proses komparasi dan asosiasi yang membentuk proses kognitif manusia dalam mencerna sebuah makna.

Dibuka dengan karya Mozart, Rondo dalam A minor KV.511, pianis pemenang Ananda Sukarlan Award for Best Indonesian Pianist 2010 ini menyandingkannya dengan Piano Sonata dalam C mayor karya Haydn. Walaupun ditulis dalam kurun waktu terpaut tujuh tahun, Mozart 1787 dan Haydn 1794, Edith mencoba memaknai dua karya ini dalam kontradiksi Rondo Mozart yang terdengar melankolis dengan karya Haydn yang menurut penampil jenaka. Mozart kini ditampilkan dalam kepedihan yang sangat, sebuah warna yang jarang ditampilkan Mozart di awal karirnya namun semakin gencar menjelang wafatnya di tahun 1791.

Namun entah mengapa, dari permainan Edith tetap tergambar drama dalam musik Haydn yang ternyata tidak melulu cerah ceria. Alterasi antara mayor dan minor mengingatkan akan pengembangan tematik periode klasik akhir dan menjadi penanda terbitnya romantisme dalam musik yang belakangan digadang oleh murid Haydn dan Mozart sendiri, Beethoven. Melodi panjang pada bagian kedua Adagio dibalas dengan gelitik frase yang tidak terselesaikan dalam bagian ketiga dalam tempo cepat yang sibuk berbalasan.

Karya komponis abad 20 Prancis Poulenc pun dibawakan semalam. Tiga buah Improvisasi: No.13, No.15 dan No.12 dimainkan secara berturutan. Walaupun bertema improvisasi, sebuah warna yang digadang oleh banyak pianis-komponis abad 19, karya komponis yang tersebut dalam gerombolan Les Six ini mengangkat ballada Prancis. No. 15 secara piawai dimainkan Edith dalam nafas dan pemenggalan ala Edith Piaf, yang menjadi tujuan dedikasi karya improvisasi ini. Walaupun dengan pendekatan ornamental yang cenderung pakem, Edith mampu menghadirkan sang penyanyi legendaris lewat denting pianonya. Sedang Schubert dalam no.12 kental dalam frase nyanyian yang berpadu dalam irama tarian waltz menjadi daya tarik tersendiri.

Edith pun menutup babak pertama dengan karya Debussy, L’isle Joyeuse yang menarik garis keterhubungan musik dalam tangganada laras penuh dan tangganada diatonis. Dalam imajinasinya Edith menjelaskan dalam pengantar sebelum memainkan karya ini, ia membayangkan suasana tropis yang nampaknya kental dengan nuansa percampuran dua laras yang menghantar nuansa misterius namun sensual dalam karya yang ditulis tahun 1904 ini.

Edith2Setelah istirahat, fokus kembali berpusat pada karya yang menjadi favorit pianis penampil, Frederic Chopin. Dua prelude dari 24 prelude yang familiar di telinga pendengar Op.28 no.4 dan 7 dipasangkan dengan karya Alexander Scriabin yang mengambil inspirasi dari prelude Chopin dan menyusun 24 prelude 56 tahun setelah Chopin dan diterbitkan dalam nomor opus 11, dengan nomor yang sama no.4 dan no.7. Disusun dalam tangga nada yang sama, dua perspektif pianistik dalam tangga nada yang sama dikupas bergantian satu dengan yang lain hingga jelas titik berangkat seorang Scriabin menjadi komponis Rusia berpengaruh lewat kekagumannya pada Sang Pujangga Piano.

Waltz dalam As mayor, Op.34 no.1 dipertunjukkan kemudian dalam permainan yang romantis merajut rangkaian denting melodi seorang Chopin yang memabukkan. Edith sendiri mampu memberi nuansa dan juga energi dalam permainannya, menjadikan waltz ini bersemangat namun tidak kehilangan sentuhan yang hangat membuai.

Edith kemudian mempersembahkan dua buah Nocturne Op.62 yang menjadi dua nocturne terakhir yang diterbitkan sebelum Chopin meninggal pada usia 39 tahun. Ditulis dalam tangga nada yang berelasi dalam 4 langkah, B mayor dan E mayor, karya ini di tangan Edith seakan menjadi kelanjutan satu dengan yang lain.

Dua karya ini menunjukkan kematangan seorang Chopin dalam meramu garis melodi dan menjadikan bentuk ini mencapai puncaknya di tangan seorang Chopin. Lantunan puitik dibalut dalam ekspresivitas yang dimainkan secara mendalam oleh Edith. Dan menarik melihat karya ini walaupun kini menghiasi panggung konser, sebenarnya sebagai sebuah karya musik yang diterbitkan untuk dimainkan di rumah-rumah oleh musisi amatir. Kesederhanaan tuturnya tidak tenggelam dalam balutan kompleksitas. Tidak heran, karya Chopin digemari sejak 150 tahun lalu.

Resital pun ditutup dengan karya Ananda Sukarlan Rapsodia Nusantara No,11 yang mengangkat tema lagu Maluku Bolelebo dan Anak Kambing Saya. Diperdanakan di Indonesia kali ini, setelah diperdanakan dunia di Argentina, karya ini dibuka dengan introduksi enigmatik yang terkesan atonal lalu kemudian dikejutkan dengan tema tonal Bolelebo dan Anak Kambing Saya dimainkan bergantian hingga akhrinya terjalin bertanya jawab.

Sebagaimana karya-karya Sukarlan yang terciri , Edith mengemas kontras-kontras dan rangkaian kejutan modulasi yang membawa karya ini berkembang dari iringan arpeggio karya populer hingga menjadi Listian dalam kecepatan teknik. Variasi klasik ala Mozart juga sempat muncul hingga akhirnya Rapsodia yang berarti kain perca ini ditutup dengan rangkaian permainan chordal dengan teknik tinggi dan megah.

Edith sendiri tampil dengan hangat, dengan kuasa yang penuh atas permainan papan nada. Musik pun mengalir dengan lepasnya hingga seharusnya mampu membahana di Auditorium Institut Francais Indonesie Thamrin Jakarta ini. Namun sayangnya akustik ruang ini kurang mendukung sehingga permainan pianis yang sempat belajar di masa remajanya di Beijing ini terkesan dua dimensional dan berjarak dari penonton. Edith dalam permainannya semakin menunjukkan kematangannya dari segi pemikiran maupun permainan, sesuatu yang menarik untuk disaksikan.

Edith1

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Romantisme Revy | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: