Kabar Terkini

Romantisme Revy


revy---edit-

Selasa malam lalu, Auditorium IFI Jakarta kembali dikunjungi para pecinta musik klasik. Setelah dibuai alunan merdu dari Edith Widayani dua hari sebelumnya (baca: Edith dalam Komparasi dan Asosiasi), kali ini penonton disuguhi permainan Revy Siswanto, pianis asal Surabaya yang sekarang sedang menimba ilmu di Konservatorium Utrecht, Belanda. Pertunjukan bertajuk Romansa dalam Labirin ini diselenggarakan oleh Pertemuan Musik Jakarta (PMJ), kembali dengan format resital dan diskusi.

Dalam resital kecil berdurasi sekitar 30 menit, Revy memilih karya-karya periode Romantik yang menurutnya paling bisa menyentuh hatinya; khususnya Chopin, Liszt, dan Godowsky. Tampil dengan busana kasual, penonton diajak Revy untuk berputar-putar mengenali satu per satu para pahlawan papan nada tersebut. Pemahaman Revy yang mendalam akan karya yang dimainkan ditunjang oleh kebiasaannya melakukan riset mengenai latar belakang riwayat para komponis, sebuah disiplin yang sangat berguna bagi para pianis interpreter. Dirinya cukup mampu menghadirkan karakter masing-masing komponis: Chopin yang introvert tapi sekaligus juga penuh gejolak kerinduan akan kampung halamannya, Liszt yang flamboyan pujaan wanita layaknya seorang bintang rock, dan Godowsky sang virtuoso yang sempat berkelana sampai tanah Jawa.

IMG_0603

Dibuka dengan Etude Opus 25 Nomor 1 dari Chopin, suasana intim langsung terasa di auditorium berkapasitas 180 orang itu. Memang, meskipun dikategorikan sebagai sebuah etude yang notabene bertujuan mengembangkan teknik jari, kumpulan etude Chopin juga menuntut kedalaman musikal seorang pianis, membuat karya ini acap kali ikut disertakan dalam program resital. Jalinan melodi yang dirangkai tangan kanan mampu menyanyi indah, walau ketenangan masih dapat ditingkatkan. Disusul Ballade Nomor 1 Opus 23, salah satu karya besar Chopin yang selanjutnya mempengaruhi Liszt dan Brahms untuk membuat ballade juga. Intro yang berat dan megah namun menyisakan tanya mampu diperdengarkan oleh Revy. Dua tema utama yang ada dikembangkan dengan sangat apik, memunculkan rasa sepi dan rindu yang menyelimuti Chopin. Meskipun kontrol dan konsentrasi pada awal bagian coda (Presto con fuoco) sempat sedikit menurun, secara keseluruhan Revy berhasil mengaduk-aduk emosi penonton di nomor tersebut.

Setelah mengambil rehat sejenak ke belakang panggung, Revy kembali ke atas panggung untuk menyuguhkan dua karya Liszt: Liebestraum Nomor 3 dan Hungarian Rhapsody Nomor 2. Di sini Revy terlihat sangat bebas berekspresi dan berkreasi, tentunya juga berkat arahan gurunya di Utrecht yang berasal dari Hungaria, Klara Wurtz. Semua kalimat digarap dengan baik, dengan kebebasan rubato yang menghanyutkan penonton ke alam mimpi akan cinta. Pada Hungarian Rhapsody, Revy memiliki pendekatan personal sendiri akan karya ini. Ia tidak terjebak dalam tuntutan bermain pada tempo tinggi, tanpa kehilangan sentuhan virtuos a la Liszt. Penonton pun bisa menikmati nomor yang paling populer dari kumpulan 19 Hungarian Rhapsody karya Liszt ini. Namun, lagi-lagi konsentrasi tampaknya menjadi hal yang penting untuk dibenahi.

Resital ditutup dengan sebuah karya Godowsky, The Bromo Volcano and the Sand Sea at Daybreak, nomor 6 dari 12 nomor kumpulan Java Suite. Di sini Revy tampak sangat matang, permainannya juga solid dari segala sisi. Dibuka dengan akor-akor megah yang menggambarkan keagungan Gunung Bromo, penonton tidak henti-hentinya dibuat menahan napas, untuk kemudian ditenangkan dengan suasana lanskap hamparan padang pasir layaknya lautan luas tak berujung.

IMG_0607

Setelah resital selesai, diskusi berjalan menarik dipandu oleh Michael Budiman Mulyadi. Terlihat Revy sangat menikmati sesi tersebut, membagi cerita dan wawasan musik yang dimilikinya. Michael sebagai moderator juga mampu menghidupkan suasana. Kehangatan malam itu ditutup oleh Revy dengan memberikan sebuah encore spesial: membawakan Widmung karya Schumann dengan bernyanyi sambil bermain piano sekaligus! Benar-benar malam yang istimewa berbalut romansa. (tim)

1 Trackback / Pingback

  1. Kontributor untuk Pergelaran yang Bergeliat | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: