Kabar Terkini

Persilangan Falsafah Lewat Trisutji Kamal


Memandang pagelaran kedua dari Forum World Music Salihara 2015, tidak salah apabila Komunitas Salihara memilih karya komponis senior Trisutji Kamal dalam mengetengahkan khasanah ke-Indonesia-an dan dunia dalam sajian bunyi.

Trisutji sendiri adalah seorang komponis wanita pertama dari Indonesia yang terjun sebagai komponis profesional kontemporer. Belajar piano di Indonesia dan di Belanda lalu kemudian mendalami komposisi musik di Ecole Normale du Musique, Paris dan Santa Caecilia Conservatory, Roma. Dan dalam komposisinya yang ditampilkan semalam di Teater Salihara, penonton diajak perlahan memahami latar Trisutji yang menggali khasanah komposisi Eropa, musik tradisi Indonesia dan Asia serta mengawinkannya dengan pemaknaan Islami.

Trisutji2

(ki-ka) Hazim Suhadi, Rachman Noor, Iswargia Sudarno, I Ketut Budiasa

Dibuka dengan Suita Idul Adha (1997), karya untuk dua piano ini mengetengahkan 3 bagian yang dimainkan dengan kompak oleh dua pianis dari dua generasi Iswargia Sudarno dan Hazim Suhadi. Trisutji mengambil tempo lambat dan kemudian dihiasi permainan malet kayu dan karet di atas senar piano untuk membuka karya dan membangun suasana fantasi dengan tempo menengah disikapi permainan rebana dan tamborin bergantian oleh dua pianis di bagian pertama “Impian Nabi Ibrahim”. Bagian kedua “Qurban” berjalan dengan lamban dan berat bagaikan sebuah roda pedati yang dibalas getar senar berbaur dengan gesekan ching, simbal mini berdiameter 10cm. Rebana lagi-lagi membingkai ritme sebelum akhirnya melepas bagian 3 “Kemenangan” dalam derap rebana dan irama tarian Turki dan liukan nada-nada bernuansa Arabia.

Trisutji1

Rachman Noor, I Ketut Budiasa dan Jro Mangku Tangkas Jimbarwana

Pergelaran pun dilanjutkan dengan pengetengahan premier Trilogi yang ditulis tahun 2015 ini. Cellis Rachman Noor berbagi panggung dengan perkusionis I Ketut Budiasa dan Jro Mangku Tangkas Jimbarwana sebagai vokalis. Trisutji dikenal sebagai komponis yang sering menulis sendiri teks karyanya yang seringkali secara implisit tetap terasa aroma Islami. Berbalut busana putih khas pandita, Jro mangku membawakan kedalaman nyanyian tradisi dan ritus Hindu Bali dalam teks yang bernafaskan spiritualitas berserah diri dalam “Ya Tuhan”, “Perjalanan”. I Ketut Budiasa duduk memberi tonggak ritmis dan kekayaan efek auksiler perkusi sembari terkadang melantun bersama Jro. Rachman pun berbalas dengan sayatan nada yang berbalas dengan Jro dan kemudian sempat terasa Ketut seakan bersenandung dalam permainan perkusinya dalam “Reinkarnasi” sebelum ditutup dengung gong paripurna.

Suasana panas yang menusuk, berjalan jauh di padang gurun menuju sebuah bukit sambil memandang sabar sambil berzikir, itulah yang dicecap indera lewat permainan kluster nada yang berdekatan yang membelai syahdu. Yang kemudian ditingkahi repetisi nada yang seakan tidak berhenti memandangi matahari gurun yang bersinar terik dan kemudian tenggelam di ufuk barat. Itulah yang ditampilkan Iswargia Sudarno dalam karya solo piano “Wuquf di Arafah” yang ditulis tahun 1991.

“Suasana Hati” yang ditulis tahun 1997, kembali menempatkan Rachman Noor dan I Ketut Budiasa berduet bersama. Jalinan melodi seakan bertaut paut antara cello dan suling dan berbalas di selanya sajian ritme yang episodik baik lewat rentetan kedang, kentong, ceng-ceng maupun petikan dari cello. Rindik pun kemudian menjadi dasar ritme dan harmoni bagi eksplorasi cello yang tetap sesekali menyanyi, baik dalam gesekan maupun suara tipis harmonik yang sensual berdesah sebelum pentatonik Tiongkok mengisi ruang yang setengah terisi itu dan mengawinkan Eropa dengan Timur Jauh.

Karya kelima “Malam Seribu Bulan” (1999) lewat permainan solo piano Hazim Suhadi tercermin dengan menawan. Walaupun bertemakan bulan penuh berkah Ramadhan, namun pendekatan komposisi maupun permainan Hazim berbaur indah dalam impresionisme awal abad 20 yang lalu. Nafas Prancis dari Hazim yang juga mendalami bahasa itu sungguh terasa dalam gemerincing bunyi piano, mengingatkan penonton akan khasanah musik Debussy yang menggambarkan satu ‘cahaya bulan’ dan Trisutji dengan cahaya ‘seribu bulan’.

Sebagai penutup, sajian “Takdir” yang ditulis tahun 1963-67, mengetengahkan seluruh penampil malam itu, Iswargia, I Ketut Budiasa, Jro Mangku, Rachman dan Hazim dalam karya yang diperuntukkan 2 piano, cello dan perkusi. Di karya terakhir ini, seluruh penonton dibawa kembali kepada paradigma musik Trisutji Kamal muda 50 tahun lalu. Melodi pentatonik menyanyi bergantian di piano dan cello dengan iringan piano dan ritme dari perkusi seperti kendang dan gong. Perkusi kemudian menampakkan diri sebagai pemberi warna dan gaya. I Ketut Budiasa dan Hazim masing-masing di kiri dan kanan berbalas kecak sangsih (sinkopasi) hingga masing-masing musisi seakan beradu satu dengan yang lain. Dan tutup dengan rancak dan meriah lewat kepaduan rasa ala musik kamar.

Sajian semalam memberi gambar bagaimana karya-karya Trisutji Kamal selain sering ditempatkan dalam dikotomi musik klasik, juga hadir sebagai musik khasanah budaya dunia. Hadir dengan amplifikasi dan dengung akustik artifisial, menawarkan relung yang lebih beresonansi dan terasa dekat dengan penonton. Lewat interaksi dan persilangan falsafah dan kekayaan bunyi antar bangsa dan antar benua malam itu, musik pun berbicara.

Trisutji4

Para penampil dengan Trisutji Kamal, sang komponis

Iklan
About mikebm (1262 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: