Kabar Terkini

Sentuhan Piano dan Violin dari Prancis


~oleh Celine Ayunda Meirani

Pada Jumat, 7 Agustus yang lalu, IFI menggelar konser Svara Duo yang beranggotakan Eugène Carmona (piano) dan Ken Lila Ashanti (violin). Eugène Carmona adalah seorang pianis didikan guru-guru terkenal seperti Claudio Chainquin dan Igor Lazko, Gabriel Tacchino (salah satu murid Francis Poulenc) dan Abdel Rahman El Bacha (pemenang Queen Elizabeth’s Competition, First prize). Eugène Carmona juga mendalami conducting di Conservatory of Chalonsur-Saone, Prancis, di bawah bimbingan Philippe Camberling, pemenang kompetisi conducting di Besançon. Saat ini Eugène Carmona mengajar dan direktur di Ecole de Musique du Mont-sur-Lausanne. Ia juga memprakarsai Sinfonia Orchestra di Lausanne, Swiss.

Ken Lila Ashanti, seorang violinis yang lahir dan besar di Jakarta, Indonesia. Semasa remaja ia aktif menjadi anggota orkestra sampai akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Prancis, tepatnya di Conservatoire du Val de Bièvre dan mendapatkan gelar masternya di La Haute Ecole de Musique de Lausanne, Swiss. Lila telah memenangkan banyak kompetisi seperti International Music Competition Leopold Bellan (Paris) dan International Music Competition Vittoria Caffa Rigetti (Italy) dan rutin berpartisipasi di berbagai festival musik.

 Akustik auditorium menjadi salah satu aspek yang penting pada acara kali ini. Gema suara hilang dengan cepat sehingga alunan musik terasa kering. Tidak diragukan bahwa teknik dan musikalitas kedua musisi sangat mumpuni sehingga dengan keterbatasan yang ada mereka dapat menyuguhkan sebuah pagelaran yang menyentuh.

Konser pada malam itu dibuka dengan Sonata Op. 78 No. 1 in G Major karya Brahms. Di movement kedua, kehangatan dan kelembutan sangat terpancar dari permainan kedua personil Svara Duo. Ada sedikit perasaan himne yang khusuk terasa dalam permainan mereka sehingga pendengar ikut hanyut dalam perasaan Brahms. Di movement ketiga, melodi pada violin cukup mengalun dengan indah. Lila terlihat berusaha untuk menjiwai permainan namun akan lebih menarik jika not 1/16 pada piano yang merepresentasikan hujan dapat terasa lebih jelas.

Ada sedikit perubahan posisi berdiri violinis (yang tadinya berdiri agak membelakangi pianis menjadi berdampingan) yang dirasa membuat permainan menjadi sangat mantap di sesi kedua. Setelah rehat selama 15 menit, konser kembali dibuka dengan karya Szymanowski, seorang komponis Polandia, Mythes Op. 30 No. 1 “La Fontaine d’Arethuse”. Sebelum memulai permainan, Eugène menceritakan sedikit latar belakang judul karya ini. Sebuah mitologi Yunani tentang Arethuse, petugas suci Dewi Artemis, yang melarikan diri dari Alpheus, dewa sungai, yang jatuh cinta kepadanya. Artemis membantu Arethuse melarikan diri dengan menjadikannya mata air. Dibuka dengan piano yang menggambarkan percikan air yang makin lama menimbulkan sebuah tanda tanya. Kemudian violin masuk dengan kalimat yang magis dan disusul dengan berbagai macam permainan teknik dan harmoni, membuat karya ini hidup, ekspresif dan penuh dengan warna. Karya ini dimainkan dengan sangat mantap dan menjadi sebuah perpaduan musik yang memabukkan namun liris membawa pendengar ke alam fantasi.

IMG_1449Karya terakhir pada program konser ini adalah Sonata in G Major dari Debussy. Tak lupa Eugène menjelaskan sedikit tentang karya ini termasuk salah satunya gamelan Jawa yang menjadi inspirasi karya Debussy di akhir tahun 1800-an. Sekali lagi Svara Duo menyuguhkan sebuah permainan yang mantap dan profesional. Kedua artis memiliki kalimat-kalimat independen yang bersinar, namun terdengar saling melengkapi. Terkadang suara violin agak tenggelam tetapi semangat melodinya masih terasa. Bagian kedua dari sonata ini dimainkan dengan lincah, membawa kita berpetualang di dunia yang penuh dengan kejutan dan indah.

Sebelum konser berakhir, karya dari Debussy kembali dimainkan sebagai encore, yaitu La Plus Que Lente. Terlihat Lila dan Eugène sangat nyaman memainkan karya komponis Prancis. Meskipun tempo rubato, semua nafas terdengar menyatu dengan melodi dan ritme waltz yang membawa kita ke masa lampau yang romantis. Tak diragukan resital selanjutnya dari Svara Duo akan ditunggu oleh penikmat musik klasik di Jakarta.

~Celine adalah pengajar piano dan teori musik di Sekolah Musik YPM dan aktif sebagai pianis kolaborator di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: