Kabar Terkini

Universitas Pancasila Merambah Gerak


Tahun ini Paduan Suara Universitas Pancasila (PSUP) yang terletak di selatan Jakarta berulang tahun ke-30 dan kali ini memperingati konser tahunan mereka yang ke-4, paduan suara ini menyelenggarakan konser dengan tema unik “Soul of Four”.

Dibuka dengan persembahan dari kelompok alumni PSUP yang membawakan 3 buah lagu, “O Nata Lux” dari Guy Forbes, “Jubilate” dari J.M. Michael,  dan “Lead Me Lord” karya Arnel de Pano. Sebagai pembuka, memang tampak bahwa barisan alumni ini tidak sepenuhnya panas dalam membawakan karya-karya yang menarik untuk didengar. Kepaduan dari para alumni ini kurang terasah dan terdengar memang seperti disampaikan master of ceremony bahwa paduan alumni ini sudah cukup lama meninggalkan dunia vokal dan mungkin minim berlaih bersama sehingga terdengar eksekusi semalam kurang didukung oleh teknik yang memadai.

IMG_1452

Alumni Paduan Suara Universitas Pancasila

Namun demikian, ketika PSUP mengambil tempat dan membuka dengan “Gaudete”, nampak bahwa paduan suara mahasiswa aktif terlihat lebih matang. Karya bernafaskan natal yang lekat dengan irama Provençal ini dinyanyikan dengan jumlah penyanyi terbatas namun cukup mengena. Ketelitian pengucapan bahasa Latin yang digunakan di karya ini kemudian mengetengahkan tantangan baru yang memang nampak di sepanjang babak pertama yang kental dengan karya klasik dengan berbagai bahasa di Eropa.

Berturut-turut “Tanzen und Springen” dari H.L. Hassler kemudian dilanjutkan dengan karya populer untuk paduan suara pria “Lay A Garland” dari Pearsall, “Die Nacht” dari F. Schubert dan “Calme des Nuit” dari Saint-Saëns dinyanyikan malam itu. Berani bermain dengan formasi yang selalu berubah di setiap karya untuk mencapai efek yang diinginkan, konduktor Brian Agung Hari Santosa mampu membawa paduan suara untuk bernyanyi dengan lebih rileks dan dinamika yang ekpresif. Kepaduan pun terjaga dengan mantap. Kemudian paduan suara wanita membawakan “Cantate Domino” karya Roueche dan karya paduan suara campur “Lacrimosa” dari Calixto Alvarez menutup babak pertama.

Tantangan bahasa memang menjadi jelas dalam karya-karya komponis Jerman dan Prancis, terutama Schubert dan Saint-Saëns. Hal ini semakin disorot dikarenakan kedua komponis tersebut adalah komponis yang menyusun ekspresi musikalnya berdasarkan karakteristik bahasa yang dinyanyikan. Kefasihan untuk membaca keterkaitan musik dengan pengucapan bahasa serta ketelitian eksekusi menjadi kunci kelekatan karya-karya ini.

Babak kedua giliran beberapa pilihan karya musik daerah yang diangkat. Dan karya yang diangkat PSUP adalah karya paduan suara yang sedang naik daun, musik daerah Bulgaria “Polegnala E Todora” dan Filipina “Ilay Gandangan”.  Kemudian berbalas karya spiritual Amerika “Shenandoah”. Lanjut setelah itu, karya Hammon dan Hazelwood “I am a Train” diaransemen untuk paduan suara dengan koreografi yang menarik. Lalu giliran karya-karya populer lain seperti “Some Nights”, “Turn the Beat Around” dinyanyikan oleh paduan suara ini yang memenangkan kompetisi di Pattaya (2012) dan Singapura (2014) lalu.IMG_1454

Aransemen sang konduktor Hari “Peri Cintaku” karya Yovie Widianto yang dipopulerkan Marcel untuk paduan suara pria, mampu mengangkat beberapa solis pria di dalam paduan suara yang memiliki suara yang mengikat. Konser pun ditutup dengan “Journey to Brazil”. Pianis Aloysius Cahyo Pradanto dan perkusionis Ade Asmitha Koestomo hadir mendukung pergelaran semalam.

Brian Agung Hari Santosa memimpin dengan kelapangan bagi paduan suara dan mendetail. Intonasi secara umum cukup padat dan ringkas, namun memang tenor perlu memberi perhatian lebih pada warna suara dan kestabilan. Dan secara umum, barisan wanita bisa mencontoh barisan pria dalam hal kekokohan suara agar intonasi lebih terjaga. PSUP membawakan karya-karya pop dan folklore dibawakan dengan koreografi yang menarik, namun akan jauh lebih hidup terutama di lagu pop apabila ada intensitas yang juga dibangun lewat dinamika yang lebih dieksplorasi.

Mendengar komentar dari penggiat paduan suara Benyamin F. Manumpil yang juga hadir semalam, “Paduan suara ini kini telah lebih berani untuk mengeksplorasi gerak dan panggung dibandingkan konser-konser lalu, adalah kemajuan yang baik untuk paduan suara ini.” Nampaknya setelah empat kali konser, ruang untuk berpaduan suara yang lebih baik akan terus terbuka untuk paduan suara ini. Dan di kancah perpaduan suara mahasiswa, Paduan Suara Universitas Pancasila patut dipantau terus sepak terjangnya.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: