Kabar Terkini

Debut Jakarta setelah Valencia


Musik kamar bisa jadi baru saja menjadi sedikit bergeliat beberapa tahun terakhir ini. Memang musik kamar bisa jadi diajarkan sebagai mata pelajaran di kampus musik, namun beberapa waktu lalu menjadi aspek yang sering terlupakan dalam khasanah pertunjukan musik klasik Indonesia. Kebangkitannya akhir-akhir ini memang menunjukkan semakin meluasnya spektrum pertunjukan musik klasik Tanah Air.

Sore ini di Goethe Haus, publik Jakarta menyaksikan debut pertama grup piano trio, Cascade Trio, satu-satunya piano trio aktif yang berdiri saat ini dengan mantap di Indonesia. Sebagai sebuah grup musik kamar yang tetap dan rutin berlatih, trio yang digawangi violinis Danny Ceri, cellis Ade Sinata dan pianis Airin Efferin ini berkomitmen untuk menggali khasanah musik piano trio dan setelah mendekati hari jadinya yang kedua akhirnya kelompok ini menginjakkan kaki di panggung Jakarta.

Cascade Trio memulai konser ini secara kronologis dengan mengetengahkan Piano Trio No.1 dalam Bes mayor D.898 karya Franz Schubert yang mengisi babak pertama konser mereka. Berdurasi sekitar 40 menit karya ini memang berdimensi besar untuk sebuah karya musik kamar di awal abad ke-19, juga untuk seorang Schubert. IMG_1468

Sebagai sebuah karya yang ditulis oleh seorang komponis pakar lieder/tembang puitik, Schubert menghiasi karyanya yang ditulis tahun 1827 ini dengan tema-tema melodius yang menawan hati. Biola, cello dan piano diajaknya bernyanyi bergantian yang dijawab dengan merdu oleh Cascade Trio. Dengan empat bagian, karya ini membentuk sebuah simfoni mini yang mengandalkan dialog musikal dan semangat.

Di tangan Cascade Trio, karya ini terjalin dengan indah dengan kontrol intonasi yang bersih dan tergarap. Kejernihan peran antar suara juga terjaga dengan baik. Di sisi lain, Cascade menawarkan pendekatan karya sang Schubert yang introvert dan diwarnai kelembutan. Di bagian kedua, nyanyian yang dibentuk komponis yang berkarya di Wina di bagian pertama, kemudian lepas bebas dalam berekspresi. Scherzo di bagian ketiga pun tetap mewarisi corak tarian Minuet dalam birama 3/4 yang kuat yang menjadi kebiasaan forma simfonik yang ditetapkan Haydn dalam banyak simfoninya setengah abad sebelumnya. Bagian keempat pun dimainkan dengan cukup bertenaga.

Namun demikian ada kalanya terasa Cascade memainkan karya ini sedikit terlalu sopan dan santai. Walaupun intensitas dan musikalitas terbangun di hampir seluruh kalimat yang disampaikan dengan penuh kejutan, namun nafas dan energi membara ketika nampaknya tidak dijadikan sebagai landasan utama Cascade dalam karya ini. Alhasil, musik yang ditulis Schubert menjelang wafatnya pun tergambar sebagai karya yang cantik dan cerdik namun sedikit pucat. Mungkin dengan alasan menghemat tenaga di babak pertama, Cascade tidak memilih untuk all out.

Babak kedua konser lantas dilanjutkan dengan dua karya trio piano. Harapan bahwa Trio yang lahir di Yogyakarta ini untuk tampil lebih lepas, sungguh terjawab malam itu. Dengan karya Felix Mendelssohn Bartholdy, Piano Trio No.2 Op.66 dalam C minor yang ditulis 1845 setelah Mozart. Juga dalam empat bagian, Cascade tampil lebih lepas. Airin tampil dengan kelincahan jari yang bertenaga, sedang Danny pun bermain dengan gegap dan jernih. Ade pun piawai dalam berdeklamasi dengan cellonya. Dua cantus berbalas satu dengan yang lain sedang piano bermain di latar. Kelantangan bagian satu dan buaian di bagian dua diikuti dengan permainan karakter di bagian ketiga. Karya pun ditutup dengan chorale yang megah dengan suara yang mantap membahana.

Karya Dmitri Shostakovich adalah yang berikutnya. Piano Trio No.1 Op.8 ditulis Shostakovich ketika masih remaja ketika ia masih berstatus mahasiswa berusia 17 tahun (1923) di Petrograd Conservatory atau kini dikenal St. Petersburg Conservatory. Hanya terdiri dari satu bagian, piano trio dikembangkan dengan pendekatan rhapsodik yang lebih bebas.IMG_1464

Tema pertama yang penuh kromatis/nada miring mencerminkan eksplorasi komponis Uni Soviet ini akan pendekatan Wagner akan konsep melodi di akhir masa romantik yang berbalas antara cello, biola dan piano. Rentetan  Iringan piano khas impresionis Prancis menjadi bagian pula dalam karya ini, selain melodi yang menyanyi indah di cello yang dibalas dengan permainan piano khas komponis Uni Soviet pendahulu Shostakovich, macam Rachmaninov. Memang karya ini bagaikan bunga rampai yang disusun Shostakovich yang kala itu, sebagai remaja, mencari jadi diri ruang ekspresi sebagai komponis.

Permainan Cascade semalam memang dapat dibanggakan, pun mereka adalah satu-satunya kelompok piano trio Indonesia yang mengikuti lokakarya bersama Trio Arbos, kebanggaan Spanyol, beberapa hari yang lalu di Valencia.  Kefasihan permainan, kejernihan eksekusi serta untaian melodi yang musikal patut dicontoh oleh banyak kelompok musik kamar lain. Aspek yang perlu diperhatikan adalah nafas mereka yang belum sepenuhnya menyatu sebagai sebuah grup, terutama di banyak pembuka kalimat walaupun penyampaian musik setelah itu patut dicontoh. Attacca pun dapat terdengar lebih baik apabila dibina secara rapat.

Namun demikian hal ini dimaklumi. Cascade Trio baru akan berulang tahun ke-2 di bulan September ini. Mungkin itulah sebabnya masing-masing komponis yang dipilih menulis dan menerbitkan 2 buah piano trio. Bagi banyak organisasi seni, Cascade masihlah tergolong muda dibandingkan dengan seniornya di dunia musik klasik yang telah 20-30 tahun bermain bersama. Prestasi Cascade Trio patut dinantikan seiring dengan kematangan mereka sebagai sebuah kelompok piano trio yang sangat langka.

Dan karena itulah, penonton meminta mereka memainkan satu buah encore. Karya Budi Ngurah, “Variasi Pelog – variasi no. 1, 7, 9” akhirnya sungguh menutup perjumpaan kemarin ini.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: