Kabar Terkini

Kebersamaan Harimada


Harimada kembali lagi..!

Harimada Kusuma adalah pianis kelahiran Surabaya yang menetap di Belanda. Harimada belajar di Sekolah Musik YPM Jakarta di bawah bimbingan Maria Fenty Alexander, Adelaide Simanjuntak, dan maestra Iravati M. Sudiarso; kemudian melanjutkan program bachelor dan master-nya di Rotterdams Conservatorium dan Conservatorium van Amsterdam di bawah bimbingan Mila Baslawskaja. Ketertarikannya akan musik kamar membuat dirinya menggagas sebuah festival musik kamar di Rotterdam, Kamermuziek in Kralingen. Kali ini, di Jakarta Harimada menggelar konser dengan format resital piano duo bersama Amelia Santoso. Amelia merupakan rekan kolaborasi Harimada sejak lama. Bertemu di Rotterdam saat sama-sama masih menjadi mahasiswa, mereka mulai menjalin hubungan dalam musik dan juga di luar musik. Keterikatan emosi tersebut tentu menjadi modal kuat dalam bermusik bersama. Amelia sendiri merupakan pianis yang telah malang-melintang di berbagai pentas internasional. Dara mungil asli Indonesia ini telah menjejakkan kakinya di berbagai panggung dunia: Malta, Swiss, Belgia, Korea Selatan, dan banyak kota di Belanda. Peraih nilai tertinggi dalam ujian program bachelor tahun 2009 di Rotterdams Conservatorium dan beasiswa penuh selama program master ini kini menjadi pengajar di Rotterdams Conservatorium, selain tetap rutin tampil sebagai pianis dalam format solo dan musik kamar.

Hari Minggu sore, 9 Agustus 2015, pasangan duo ini menggelar konser di Gedung Kesenian Jakarta dengan program yang sama seperti mereka mainkan bulan Juni lalu di festival Kamermuziek in Kralingen. Sebuah sonata tiga bagian untuk dua piano karya Mozart dipilih sebagai pembuka sore itu. Sonata K 448 dalam D Mayor merupakan satu-satunya sonata yang digubah Mozart untuk format dua piano, ditulis saat ia baru berusia 25 tahun. Sonata tersebut juga merupakan salah satu karya yang menjadi favorit pianis-pianis legendaris seperti Alicia de Larrocha, Martha Argerich, Daniel Barenboim, Murray Perahia, dan masih banyak lagi.

IMG_0722

Sonata ini diawali dengan akor D Mayor yang megah oleh kedua pianis secara bersamaan, seakan mengundang penonton dan meminta perhatiannya untuk fokus selama 20 menit ke depan. Kesinkronan menjadi sesuatu yang amat penting di dua bar pertama sonata ini. Selanjutnya, Harimada dan Amelia saling mengisi dan berbagi peran dengan sangat baik. Jalinan melodi yang ceria terus mengalir sepanjang bagian pertama, sesuatu yang membutuhkan konsentrasi tinggi mengingat tema melodi tersebut sebenarnya dimainkan bergantian antara kedua pianis. Dialog antara Harimada dan Amelia juga terasa intim, tidak ada yang lebih dominan daripada yang lain. Ciri khas Periode Klasik juga tersaji dengan baik, semua kalimat dieksekusi dengan cantik dan elegan. Kelincahan jari juga menjadi sebuah tuntutan yang dapat dipenuhi oleh kedua pianis. Seperti biasa, Harimada bermain dengan sangat efektif, dengan gerakan tubuh seperlunya saja. Amelia pun tampil solid, tidak disangka dari tubuh kecilnya bisa terproyeksi suara yang besar tapi tetap anggun.

Bagian kedua diawali dengan melodi yang dimainkan Harimada, dan kemudian bergantian sama halnya dengan bagian pertama. Dimainkan dalam tempo Andante, penonton dibuai dengan bunyi-bunyian manis yang seakan menghantarkan mereka ke alam mimpi. Bagian ketiga mengandung tema yang lebih jenaka tapi juga serius. Penalaan piano yang kurang sempurna tidak menjadi alasan untuk menurunkan standar pianistik mereka, meskipun secara sadar maupun tidak pasti kuping mereka sedikit terganggu dan berpengaruh terhadap permainan mereka.

 

Setelah jeda 20 menit untuk mempersiapkan tempat bagi orkes kamar, pasangan ini kembali ke atas panggung untuk mementaskan Le Carnaval des Animaux karya Saint-Saens, dibantu musisi-musisi: Michelle Siswanto, Amelia Tionanda, Wasita Adi, Dani Ramadhan, Ari Moeladi, Marini Widyastari, Nino Ario Wijaya, dan Thressia. Marini Widyastari yang juga merangkap sebagai panitia merupakan salah seorang musisi yang sudah beberapa kali berkolaborasi dengan Harimada. Memang, sejak tahun 2006 Harimada selalu menyempatkan diri untuk kembali ke Indonesia untuk bermain bersama sahabat-sahabatnya dalam musik, antara lain dalam konser-konser bertajuk Harimada and Friends.

FullSizeRender

Mendengarkan karya ini dibawakan dalam format aslinya, yaitu duo piano dengan orkes kamar, ditambah lagi jumlah penonton yang tidak terlalu banyak (karena hari itu setidaknya ada empat konser yang digelar bersamaan di Jakarta), membuat penonton seakan dibawa kembali ke suasana akhir abad ke-19 di Perancis, saat Saint-Saens mementaskan karya ini hanya untuk kalangan terbatas saja. Digubah tahun 1886, sang komponis sendiri sebenarnya sempat menyatakan bahwa ia tidak bermaksud mempublikasikan karya ini secara profesional dan hanya akan mempergelarkan karya ini pada acara-acara pribadi. Karya ini baru dipublikasikan secara terbuka setahun setelah Saint-Saens wafat, dan justru menjadi salah satu karyanya yang paling dikenal dunia. Ditulis dalam empat belas bagian, setiap bagian memperdengarkan karakter seekor satwa yang diwakili oleh sebuah instrumen musik.

Karya ini dibuka dengan tremolo halus piano, diikuti tema awal oleh seksi string. Melodi selanjutnya, yaitu tema “singa” yang diambil seksi string, memiliki tantangan tersendiri, karena harus memainkan bentuk unisono, sehingga jika intonasi berbeda sedikit saja akan terasa sekali di kuping para penonton.

Selanjutnya, setiap bagian dapat dibawakan dengan baik dan menarik. Setiap instrumen bertanggung jawab penuh akan suara yang dihasilkan. Harimada bertindak sebagai pianis sekaligus beberapa kali terlihat mengaba rekan-rekannya. Michelle Siswanto dan Amelia Tionanda sukses mengambil hati penonton pada bagian II (Poules et coqs) dan VIII (Personnages a longues oreilles). Harimada dan Amelia mendapat kesempatan “solo” pada bagian III dan VI. Pada bagian yang lain, mereka pun melebur bersama musisi lainnya, sehingga keseimbangan suara benar-benar terjaga. Bagian IV (Tortues) dan VII (Aquarium) merupakan contoh sempurna keseimbangan tersebut. Seksi string pada bagian IV tampil dengan sustain yang luar biasa, meskipun lagi-lagi intonasi dapat lebih terbina. Bagian V giliran double-bass Ari Moeladi unjuk gigi. Musisi senior Indonesia ini menginterpretasikan bagian “gajah” tersebut tidak dengan berat dan menyeret-nyeret; tetapi dengan jenaka, melangkah ringan tanpa beban layaknya seekor gajah kecil yang masih polos belum kenal pahitnya dunia. Bagian IX menggambarkan burung kukuk di tengah hutan yang ditirukan bunyi klarinet oleh Nino. Ia pun  memainkan klarinetnya dari balkon, sesuai arahan Saint-Saens yang meminta pemain klarinet memainkan instrumennya tidak dari atas panggung untuk bagian ini. Pada bagian X, dialog dan kerja sama antarpemain sangat terasa sekali, dengan Marini pada flute sebagai pusatnya. Melalui tiupan bibirnya, suara burung tercipta. Kelincahan dan artikulasi yang jelas menjadi andalannya, dan tidak pernah sedetik pun ia keluar dari tempo permainan. Kecepatan kepak sayap burung ditingkahi suara hutan yang diwakili seksi string benar-benar terasa.

Sebuah bagian yang menarik, bagian XI berjudul Pianistes, menggambarkan pianis pemula yang sedang berusaha keras berlatih tangganada. Seorang pianis menjadi bagian dari karnaval hewan? Memang, Saint-Saens tidak memaksudkan karya ini sebagai sebuah karya serius, sehingga terdapat banyak canda di sana-sini.

Pada bagian XII, xylophone mengambil peran penting untuk menirukan suara tulang-tulang para fosil hewan. Thressia berhasil melaksanakan perannya dengan amat baik sebagai punggawa perkusi sore itu. Bagian XIII merupakan bagian favorit semua orang: Le cygne. Harimada dan Amelia berhasil menggambarkan ketenangan air danau tanpa gejolak gelombang, sementara sang angsa berenang perlahan-lahan di atasnya. Dani sebagai cellist juga sudah berusaha untuk mengeluarkan karakter angsa, meskipun tone bisa sedikit lebih dipertebal. Saint-Saens memang sangat jenius: membuat sebuah kalimat musik yang sederhana dan indah, tapi untuk mengeksekusinya susahnya setengah mati.

Bagian terakhir benar-benar menjadi penutup sebuah festival yang meriah. Semua pemain unjuk kebolehan masing-masing, tapi tetap semuanya berkolaborasi menghadirkan musik yang kompak.

FullSizeRender (1)

Selamat kepada seluruh pemain yang telah mengusung semangat kebersamaan..! Harimada dan Amelia, ditunggu proyek-proyek kolaborasi berikutnya… (tim)

Iklan

1 Comment on Kebersamaan Harimada

  1. sukses terus untuk Harimada 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: