Kabar Terkini

Melihat Timur dari Timur


Timur dan barat bagaikan dua insan yang baru bertemu pandang. Belum ada yang bisa diramal, bagaimana perkembangan hubungan mereka nantinya. Akan saling tertarikkah mereka? Atau sebaliknya, apakah keduanya bakal ingin menguasai satu sama lain? Antara saling tertarik dan saling menguasai, terkadang sangat sulit untuk dapat dibedakan.

— Slamet Abdul Sjukur, 1988

Berabad yang lalu, dunia timur sering dianggap sebagai sebuah dunia rahasia penuh eksotisme oleh barat. Saat barat mulai jenuh dengan dirinya sendiri, terutama setelah Perang Dunia I dan II, mereka semakin melihat ke timur. Mereka mencari sesuatu yang “lain” dari yang biasa mereka hadapi. Konsekuensinya jelas: terjadi banyak persilangan antara barat dan timur, termasuk dalam musik. Salah satu pelaku akulturasi tersebut adalah Sinta Wullur, komponis Indonesia yang bermukim dan berkarya di Belanda. Bermigrasi ke Belanda sejak usia sepuluh tahun tidak membuatnya kehilangan identitas nasional. Layaknya Chopin yang keluar dari Polandia tapi tidak pernah lupa akan akar musiknya, Sinta pun demikian. Perkenalannya dengan musik tradisi Indonesia memang tidak dimulai dari tanah asalnya, melainkan di Sweelinck Conservatory, Belanda. Ketertarikannya berujung pada perjalanannya pulang ke Indonesia untuk mendalami musik gamelan. Sekembalinya ke Belanda, ia semakin giat mempromosikan musik timur dan memadukannya dengan musik barat. Bahkan ia sampai memiliki gamelan kromatik, sebuah gamelan yang sudah disesuaikan dengan penalaan barat.

Jumat, 7 Agustus 2015, merupakan hari ketiga Forum World Music Salihara 2015. Kali ini giliran karya-karya Sinta Wullur yang dipentaskan. Karya-karya komposisi Sinta berusaha mengintegrasikan musik barat dan timur. Pertemuan kedua anasir ini terjadi tanpa saling mendominasi. Sinta juga mencoba memadukan timur dengan timur itu sendiri, khususnya gamelan Jawa dan Bali, dan musik India. Sejak 1983, ia mulai menekuni musik India, dan sampai tinggal di India untuk benar-benar hidup dan menyerap segala aspek keindiaan. Mendengarkan konser malam itu bagaikan melihat timur dari kacamata timur yang lain, meskipun semua instrumen yang dipakai merupakan instrumen barat. Penonton pun mendapat banyak sekali informasi berharga mengenai latar belakang karya-karya yang dimainkan, karena Sinta memberikan pengantar sebelum setiap karya dipentaskan.

PicsArt (1)

Pertunjukan dibuka dengan Bali in Blue, sebuah karya piano solo tahun 1999 yang dimainkan pianis Aisha Ariadna Pletscher. Dari judulnya sudah tergambar bahwa ini adalah perpaduan musik blues dan musik Bali, dengan unsur Bali yang lebih dominan. Dimulai dengan blues, tanpa dinyana muncul nuansa gamelan Bali, terutama iramanya. Seakan lewatlah sekumpulan orang Bali berjalan melintas untuk kemudian menghilang dan kembali menjadi blues. Aisha menunjukkan kepiawaian sekaligus ketenangan dalam memainkan karya ini. Di tangannya, suara piano dapat terbagi menjadi beberapa layer orkes gamelan Bali. Gong, kenong, reyong, ceng-ceng, semua terdengar jelas, berdiri sendiri namun tetap menyatu dalam harmoni yang penuh. Kontrol akan masing-masing peran bunyi begitu sempurna, sehingga jika kita menutup mata mungkin kita akan mengira ada tiga tangan yang bermain di sana.

FullSizeRender (3)

Selanjutnya, flutis Andika Candra memainkan Promenade, sebuah karya flute solo tahun 1999 yang mengambil unsur-unsur musik India. Diberi judul Promenade karena pada saat karya itu dibuat ada tiga sculpture di panggung dan sang flutis berjalan dari satu sculpture ke sculpture lainnya sambil memainkan flute. Sayang aksi panggung tersebut tidak dilakukan di Salihara.

Dibuka dengan nada f yang menjadi “sa” dalam sargam, suara India langsung terasa. Nada-nada meluncur tak terduga bak improvisasi. Tensi mulai meningkat ketika Andika memainkan nada-nada repetisi disisipi aksen-aksen pada nada tinggi. Sinta juga memasukkan rangkaian nada-nada harmonic series, yang tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Andika untuk memainkan nada-nada tinggi dengan lirih namun harus tetap terdengar. Durasi yang cukup panjang – 11 menit – juga tidak menjadi masalah bagi Andika. Staminanya tetap terjaga hingga akhir karya, bahkan semakin lama ia semakin menjadi-jadi, mungkin karena telah memiliki cukup waktu untuk beradaptasi dengan atmosfer panggung.

Karya berikutnya tidak secara eksplisit mengandung unsur timur seperti dua karya sebelumnya yang mengusung gamelan Bali dan musik India, tapi tetap terasa ketimurannya. Aqua Piano, karya piano solo tahun 2007, menggambarkan berbagai bentuk air. Bisa tenang, jernih, bisa juga keruh. Ada saat-saat hening, seakan kita melihat danau yang tenang tanpa desir angin dan kita bisa melihat jauh ke dasar danau. Ada juga imaji ombak laut yang kuat bak tsunami. Dan kesemuanya itu benar-benar terwujud di atas panggung berkat mantra seorang Aisha. Entah bagaimana, pianis lulusan Manhattan School of Music itu dapat menyihir penonton, mulai dari denting pertama yang keluar. Tetesan air dan riak yang ditimbulkannya pun nyata, terutama akibat ritme-ritme tidak berpola di beberapa bagian tertentu. Kita tidak dapat lagi menghitung biramanya, karena memang kita tidak perlu. Kita merasakan. Dan itu efeknya ajaib: musik menjadi bernyawa. Bagian tsunami pun dieksekusi Aisha dengan sangat baik. Ia mampu memaksimalkan potensi piano Kawai yang dipakainya malam itu sampai ke batas kulminasi sang instrumen. Bayangkan bagaimana jika karya tersebut dimainkan menggunakan piano yang lebih suportif.

FullSizeRender (4)

Harpa sebagai instrumen para dewa pun mendapat tempat di panggung malam itu. Adalah komposisi pesanan Erasmus Huis Jakarta dalam rangka memperingati empat puluh tahunnya pada tahun 2010 yang dimainkan oleh Maya Hasan, harpis kenamaan Indonesia, bersama Aisha pada piano. Aslinya karya ini diciptakan untuk harpa dan kuartet saksofon, tetapi karena pertimbangan langkanya grup kuartet saksofon maka Sinta mengaransir juga untuk format harpa dan piano. Dalam karya ini, selain unsur gamelan Bali dapat terdengar juga petikan kecapi yang diwakili oleh harpa. Sinta juga memakai sistem nada pelog yang berubah-ubah, serta merangkai akor-akor bernuansa pentatonik. Pentakord, begitu ia namakan. Jalinan antara harpa dan piano juga cukup kuat, saling bersahutan bergantian. Harpa menjadi instrumen pusat di sini, dan saat memainkan bagian solo Maya mampu mengeluarkan kejernihan instrumennya. Ketepatan ritme saat bermain bersama menjadi tantangan tersendiri dalam karya ini, terutama ritme-ritme sinkop.

PicsArt (2)

Puncak keindiaan Sinta malam itu boleh dibilang terwujud saat ia turut tampil sebagai penyanyi — dengan style India, bukan seriosa barat — menyanyikan lagu-lagu Tagore. Ya, Rabindranath Tagore, pujangga besar India, juga menggubah banyak sekali lagu yang dikenal sebagai rabindrasangit. Di India, Sinta sempat belajar beberapa lagu Tagore, dan kemudian pada tahun 2014, Sinta membuat iringan piano untuk lagu-lagu tersebut, dikumpulkan dalam siklus 6 Tagore Songs, 3 di antaranya ditampilkan malam itu. Dalam lagu pertama, Sinta memakai modus dorian untuk iringan pianonya, dengan rangkaian akor-akor a la Ravel. Sebuah hal yang sangat menarik, melodi Tagore yang jelas-jelas India dikawinkan dengan Ravel yang Perancis. Aisha sebagai pianis pengiring melakukan perannya dengan sangat baik, memberikan lampu sorot sepenuhnya kepada Sinta. Barulah saat lagu kedua, perhatian sedikit tercuri oleh denting merdu intro Aisha yang seketika melelehkan air mata penonton. Sama seperti sebelumnya, lagunya berbahasa Bengali, tapi kali ini ada terjemahannya dalam Bahasa Inggris, If You Did Not Give Me Love, dan Sinta membawa terjemahan tersebut ke dalam melodi Tagore. Lagu ketiga membawa kita ke sisi mistik India. Hukum ruang-waktu seakan tidak berlaku saat itu. Raga kita serta-merta dipindahkan ke suatu sudut di India, dengan Sinta sebagai magnetnya.

PicsArt (3)

Setelah menampilkan tiga lagu Tagore, Aisha memainkan karya Sinta berjudul Samudera. Masih melanjutkan benang merah sebelumnya, Sinta turut mendampingi dengan membaca puisi Tagore. Diambil dari buku Song Offerings nomor 42, Sinta tidak hanya berdeklamasi, melainkan juga membuat suara-suara yang menggambarkan lirik puisi tersebut, seperti suara burung dan sebagainya. Dari belakang panggung, Andika turut serta membangun suasana lagu melalui improvisasi flute, sesuai dengan sajaknya. Perlahan ia berjalan memasuki panggung dari sisi kanan. Dalam improvisasinya, ia beberapa kali memasukkan unsur seruling Sunda dan juga suara-suara menyerupai kicauan burung. Kesemuanya itu menyatu menjadi sebuah pengalaman seni yang penuh. Sebagai catatan, karya Tagore tersebut diganjar hadiah nobel untuk literatur pada tahun 1913, membuatnya menjadi penerima nobel non-eropa pertama untuk kategori literatur.

PicsArt (4)

Meskipun penonton telah sangat puas dengan apa yang baru saja disajikan, ternyata pertunjukan belumlah tuntas. Karya berjudul Suwali — akronim dari Sunda, Jawa, dan Bali — dipilih untuk menutup malam itu. Ditulis tahun 2005 untuk instrumen flute dan piano, kali ini Andika ditemani pianis Angelica Liviana. Ketiga bagian ditampilkan dengan kolaborasi yang sangat kokoh, dengan napas dan kalimat musik yang benar-benar sama. Bagian satu tentu mengimitasi musik Sunda dengan kecapi dan serulingnya. Bagian kedua bernuansa Jawa dengan suara-suara burung perkutut yang dibuat oleh Andika. Kemahirannya menirukan suara burung menjadi atraksi tersendiri malam itu. Sementara itu, Livi membangun atmosfer hutan yang kelam dan misterius dengan bunyi gamelan yang samar-samar terdengar. Bagian ketiga, Bali, menggambarkan kemeriahan kebyar Bali, sangat pantas untuk mengakhiri sebuah pertunjukan.

Sebagai penutup, marilah mengutip puisi Tagore yang dibacakan Sinta saat Samudera:

In that shoreless ocean, at the silently listening smile my songs would swell in melodies, free as waves, free from all bondage of words.

Is the time not come yet? Are these works still to do?

Sinta, tentu belum saatnya Anda berhenti. Dan jangan pernah berhenti. Sumbangsih Anda terhadap musik dunia akan selalu kami nanti. (tim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: