Kabar Terkini

Secangkir Kopi: Seniman Indonesia


~oleh Matius Shan Boone

Tulisan ini saya tujukan sebagai usaha menjawab sebuah pertanyaan yang saya dapat dari beberapa orang atas pertanyaan yang saya tanyakan kepada diri sendiri. Sebuah pertanyaan yang terus beranak cucu semenjak lama mengenai posisi seniman dalam sebuah konteks kebangsaan. Mengutip dari status Facebook saya pada tanggal 6 Agustus 2015:

Heran dengan musisi-musisi yang sekarang ini mem”propaganda”kan kegiatan musiknya untuk kemajuan bangsa. Pertanyaanya, apakah aktivitas Anda membawa manfaat bagi masyarakat bangsamu, siapa yg menyuruh Anda mewakili kami? Kalau hendak melakukan sesuatu yang besar, lakukan tanpa pamrih. Jika memang itu hal yg besar, bangsa kita juga bukan bangsa yang tuli-tuli amat.
Saya melihat ini hanya cara untuk mencapai popularitas pribadi dengan membawa nama kelompok..“

Mungkin sebuah status yang keras, namun pertanyaan ini timbul karena suatu kejenuhan dalam diri saya melihat situasi permusikan di Indonesia yang cenderung ganjil menurut saya. Tidak jarang saya melihat „posting“ dalam berbagai media sosial mengenai kesuksesan si A, si B, atau si Anu dalam meraih juara ini itu, ikut festival sana-sini, dan berbagai macam bentuk yang lain. Atau di lain sisi juga meminta dukungan atas nama „demi kemajuan permusikan Indonesia“. Kesuksesan ini sendiri boleh menjadi sesuatu yang dibanggakan. Namun ketika kemudian juga muncul slogan-slogan, bahkan semacam rengekan yang mengatasnamakan bangsa, hal ini yang menjadikan kejanggalan buat saya. Buat saya hal ini tidak ada bedanya ketika saya belajar untuk membuat nasi bungkus kemudian memberikannya ke orang-orang asing, lalu kemudian saya membagikan lewat sosial media bahwa saya berhasil membawa nama Indonesia melalui makanan Indonesia.

Bisa jadi sekarang Anda tertawa, tetapi inilah yang menurut saya terjadi. Lalu apa yang membedakan antara seniman dengan pembuat nasi bungkus. Bisa saja si pembuat nasi bungkus berbangga, tetapi sejauh manakah keperluan untuk membawa nama bangsa.

Dari sudut pandang ini kemudian saya sendiri bertanya „Apakah perlunya sebuah pencapaian dikaitkan dengan identitas bangsa?“.

Mengutip kata kunci dari saudara Michael Budiman, selaku aktifis seniman yang mengundang saya untuk menulis topik ini, yaitu „keterwakilan seniman dan seni“, saya berusaha untuk memaparkan pandangan saya secara singkat yang mungkin tidaklah ilmiah tetapi mengandung pemikiran-pemikiran yang bisa dipertimbangkan.

Problematika „keterwakilan“:

Ketika Anda berusaha mengatasnamakan kemajuan musik Indonesia, ada beberapa hal yang harus dipertanyakan:

Ketika kita berusaha membawa nama Indonesia, berarti kita harus membahas yang namanya seni musik Indonesia. Lalu muncul pertanyaan dasar apakah seni musik Indonesia? Sejujurnya hal ini sukar dijawab karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang secara geografis terbagi-bagi dan masing-masing memiliki kebudayaannya sendiri. Beberapa kita kenal, beberapa lagi mungkin bersifat endemik atau lokal. Dan beberapa dari seni kebudayaan ini begitu kental dan menjadi asosiatif atau acuan bagi orang lain untuk melihat seni musik Indonesia secara global. Ambil kata musik karawatan gamelan, yang mana semua orang musik selalu mengacukan istilah ini sebagai musik tradisional Indonesia. Padahal gamelan sendiri juga masih terbagi berbagai macam jenis. Dari hal ini sendiri sudah tentu ketika Anda memiliki aktifitas musik tertentu, Anda mengerjakan sebagian kecil dari seni yang disebut seni Indonesia. Sehingga buat saya orang yang beralasan demi kemajuan bangsa atau membawa nama bangsa seringkali bersifat abstrak atau tidak jelas juntrungannya.

Beberapa orang membawa nama Indonesia sebagai sebuah bukti kebanggaan atas kemampuan atau prestasi yang dicapai, dengan harapan juga mampu membangkitkan semangat yang sama bagi publik. Hal ini semacam kontingen Olimpiade ketika mereka pulang dari pertarungan mereka.

Lalu apa yang mendasari semangat „nasionalisme“ ala Olimpiade ini?

Saya merasa peran sejarah Indonesia sendiri memegang peran penting, dimana cukup berbeda dengan negara-negara lain. Seni musik di Indonesia dilihat dari sejarahnya sendiri terus mengalami perkembangan di dalam perjalanannya. Dalam awal perkembangannya muncul semacam spirit atau semangat untuk mempersatukan berbagai macam suku bangsa dengan masing-masing budayanya ke dalam satu payung bernama Indonesia, yang terus makin kental di masa Orde Baru, yang kemudian muncul adanya kebudayaan nasional dan daerah (lebih jelasnya bisa membaca buku dari Dieter Mack mengenai sejarah musik kontemporer di Indonesia). Semenjak reformasi, muncul kebebasan dalam berseni di mana sebelumnya kebebasan tersebut cenderung dikekang. Pendidikan seni musik bertumbuh kencang ditandai dengan menjamurnya sekolah-sekolah musik (yang sayang tidak dibarengi dengan pertumbuhan institusi sekolah tingginya). Iklim kompetisi musik pun mulai bermunculan, namun semangat nasionalisme yang diusung di Orde Baru nampaknya masih cukup kuat hingga saat ini. Mungkin hal ini tidak terlalu dirasakan oleh generasi yang bertumbuh pada masa reformasi, namun cukup dirasakan bagi mereka yang tumbuh melalui dua periode sejarah ini. Sehingga muncul beberapa orang yang berusaha mengkaitkan keberhasilan seseorang dengan keberhasilan bangsa. Hal ini juga diperkuat dengan jarangnya orang-orang Indonesia yang berhasil di kancah musik internasional. Meskipun ada beberapa tetapi sangat jauh kuantitasnya dibandingkan negara-negara lain.

Secara tidak sadar tertanamlah semangat ini di dalam diri masing-masing pribadi, termasuk seniman yang juga sebagai bagian dalam masyarakat. Namun saya pribadi percaya seniman yang kritis juga tidak terjebak di dalam nasionalisme naif semacam ini. Justru seniman-seniman terkemuka yang sering saya jumpai jarang sekali mewadahi aktivitas-aktivitasnya atas nama bangsa, karena kesadaran mereka akan apakah sebenarnya arti „bangsa“ yang mereka bawa.

Seniman sejati seharusnya memiliki sebuah karakter pribadi yang tumbuh dari pengalamannya dengan lingkungannya. Membawa embel-embel bangsa saya lihat sebagai kedok untuk menutupi kelemahan mereka pribadi, dengan harapan bahwa melalui alasan „nasionalisme“ tersebut, orang-orang pun bisa menaruh simpati yang tentu pula naif. Yang saya maksud naif disini dalam arti simpati yang bukan ditujukan pada arti dari seni itu sendiri. Melainkan orang-orang pendukung tersebut hanya mendukung jubah atau apa yang cuma nampak dari musik tersebut. Mereka senang bisa melihat banyak alat-alat musik Indonesia yang kemudian digunakan dalam konser di luar negeri, atau melihat anak-anak dalam negeri membawakan lagu-lagu daerah (menggunakan baju daerah lebih menambah nilai lagi!) tetapi justru melupakan bahwa esensi berseni bukan hanya sebuah pameran perangkat-perangkat dari negara kita.

Jika kita membandingkan dengan negara-negara lain, hal ini jarang saya temui. Saya saat ini belum pernah menemui komponis yang mengaku-ngakui musiknya sebagai bagian dari nasionalisme sebuah bangsa, sebagai contoh bahwa musiknya merupakan gambaran dari musik Amerika atau gambaran dari musik Eropa. Mungkin sebagai sebuah sumber inspirasi ya ada benarnya, akan tetapi seniman sejati bekerja menurut apa yang menjadi intuisinya dan bukan terdikte.

Ketika seniman mampu didikte untuk berkarya berdasarkan hal-hal di luar seni itu sendiri, buat saya ia sendiri telah menanggalkan motivasinya yang tulus. Hal inilah yang menurut saya cukup problematis di Indonesia. Tidak jarang saya menemukan kompetisi bertajuk „tema musik daerah“, akan tetapi kemudian sang peserta diwajibkan untuk memancarkan sisi kedaerahan tersebut. Dan demi memenangkan kompetisi tersebut, mereka lantas mengikuti pesan-pesan sponsor dari penyelenggara. Menanamkan nilai kebangsaan yang sifatnya di permukaan seperti ini justru membawa efek yang terbalik, dimana ketika orang mampu meraih kesuksesan singkat dengan memanfaatkan nilai kedaerahan sebagai pancaran budaya bangsa, maka mereka akan terus memanfaatkannya sebagai alat meraih kesuksesan tanpa memperhatikan nilai-nilai budaya yang mereka bawa.

Hal yang lebih parah lagi juga ketika atribut nasionalisme ini dijadikan sebagai komoditi atau aset, dalam arti untuk memanfaatkan dan memanipulasi simpati masyarakat sehingga mampu menciptakan pasar. Lewat artikel ini saya bukan mau menentang mereka, karena mau tidak mau tentu seniman harus menciptakan komunitas. Namun saya melihat seringkali dalam pelaksanaannya justru yang dijadikan tokoh panutan seringkali tidak membuka jalan, bahkan menutup orang-orang yang berpotensi memajukan dunia seni di Indonesia.

Di sini saya melihat 2 hal, bahwa seniman berpotensi ini sendiri pun tentu harus berjuang untuk mengaktualisasi dirinya dengan cara yang sehat, tetapi juga satu hal yang seharusnya dapat dilakukan seniman-seniman lain adalah dengan mewadahi seniman-seniman berpotensi ini. Tetapi tentu untuk melakukan hal ini harus disertai dengan jiwa besar dan tulus bahwa mengangkat seniman-seniman lain ditujukan untuk memperkaya seni musik di Indonesia. Saya masih mengalami kesulitan untuk melihat seniman dengan jiwa besar di Indonesia. Justru sebaliknya saya sering mendengar cerita dimana yang memiliki kesempatan untuk memajukan musik di Indonesia justru menjadi cukup arogan dan kurang memberi kesempatan bagi seniman lain untuk bertumbuh.

Saya merasa ini adalah tugas terbesar kita di Indonesia. Di negara lain, mereka memiliki banyak musisi yang handal. Di Korea Selatan terdapat lebih dari 20 perguruan tinggi musik dan setiap tahunnya terdapat puluhan hingga ratusan lulusan komponis, apalagi bidang-bidang seperti instrumen piano dan lain-lainnya. Di Jerman pun terdapat 24 perguruan tinggi negeri musik dan beberapa sekolah tinggi lainnya di masing-masing „negara propinsi“ (Bundesland). Di Indonesia iklim pendidikan musik dapat dikatakan belum cukup berkembang. Bandingkan Jerman di tahun 1945 pasca perang Dunia yang hingga kini mampu memiliki institusi-institusi yang bermutu dengan Indonesia yang dari tahun yang sama hingga kini tidak memiliki sekolah tinggi musik yang berimbang. Hal ini menyebabkan pelaku-pelaku seni musik ini sendiri masih terbatas.

Saya sendiri melihat adanya kecenderungan para musisi kemudian mencari studi di luar negeri, meskipun adapula yang studi di dalam negeri, meski secara kualitas tentu sangat berbeda. Intinya, para seniman disini tidak mampu mengandalkan negara dalam memajukan kebudayaannya sendiri. Dalam hal ini memang negara dapat disalahkan. Tidak jarang seniman merasa dikecewakan oleh negaranya sendiri, bahwa mereka tidak mendapat dukungan yang penuh dari negara mereka sendiri. Penulis juga merasakan hal yang sama dalam menjalani aktifitas musik selama ini. Akibatnya kemudian muncul situasi yang sukar bagi seniman. Seniman menjadi kalah bersaing dengan pelaku-pelaku musik industri. Sehingga alasan kebangsaan ini sering dipakai sebagai alat menarik simpati publik, bahwa seniman ini membutuhkan perhatian dari negara. Saya menggambarkan hal ini seperti seorang anak yang berhasil meraih nilai bagus lalu kemudian meminta kepada sang Ibu apa yang seharusnya mereka dapatkan darinya, entah perhatian atau uang saku. Mungkin memang negara ini sekarang seakan seperti ibu yang jahat dan tidak peduli, tetapi bukan alasan bagi saya untuk melabeli diri kita sebagai perwakilan bangsa. Lalu muncul pertanyaan terakhir, bagaimana hal yang pantas bagi kita untuk mewakili bangsa ini? Untuk menyatakan kebesaran nama Indonesia di mata internasional? Untuk membangkitkan antusiasme orang Indonesia dalam memajukan seni musik Indonesia?

Buat saya istilah „mewakili“ sendiri tidak boleh dijadikan sebagai tujuan utama dalam berkesenian. Ketika seniman melakoni sebuah festival atau kompetisi, atau bentuk kesenian apa pun, nilai-nilai kebangsaan ini akan muncul dengan sendirinya sebagai bagian dari apa yang membentuk kehidupan seniman tersebut. Jadi nilai kebangsaan bukanlah sebuah aset untuk dipertontonkan, melainkan sebuah nilai intrinsik yang dimiliki seniman. Lain halnya dengan pameran seni, nilai-nilai kebangsaan yang secara artifisial ditonjolkan sebagai nilai seni menjadi sesuatu yang berlebihan atau norak, dan seringkali tidak relevan. Apa nilai-nilai Indonesia yang hendak ditonjolkan ketika suatu kelompok musik memainkan karya dari Mozart? Jika mereka hendak menonjolkan kemampuan mereka dalam membawakan Mozart, hal ini kembali lagi seperti sebuah atlet mampu membangun otot-otot mereka, dan otot-otot ini datang dari Indonesia. Saya rasa nilai seni lebih daripada menonjolkan kemampuan semata. Di dalamnya terdapat kepuasan dan penghargaan terhadap nilai-nilai artistik itu sendiri.

Akhiran

Sebagai penutup, saya mau menegaskan bahwa untuk mewakili nama Indonesia bukanlah sebagai sesuatu yang negatif. Dalam aspek tertentu hal ini juga sangat bermanfaat dalam mengangkat aktivitas musik di Indonesia. Saya juga mampu merasakan antusiasme ketika melihat kesuksesan kawan-kawan seniman baik di dalam maupun luar negeri. Yang perlu dipikirkan adalah bahwa pengakuan ini haruslah datang bukan sebagai upaya memproklamirkan diri, melainkan sebuah apresiasi. Dan sebuah apresiasi selalu datang dari orang yang melihat kita, bukan dari kita sebagai pelaku. Ketika mewakili Indonesia dijadikan sebuah tujuan tanpa merefleksi nilai-nilai artistik yang mampu diberikan bagi orang lain, ini menjadi racun bagi orang-orang yang berusaha mengapresiasi seni musik di Indonesia. Dan saya percaya mereka yang membaca artikel ini adalah mereka-mereka yang berusaha untuk menanamkan nilai-nilai positif untuk apresiasi musik di Indonesia (atau mungkin di sisi sebaliknya Anda menutup artikel ini dari komputer Anda).

Melalui tulisan ini saya tidak ingin menghakimi motivasi diri dalam masing-masing seniman. Saya pun turut senang melihat beberapa pencapaian oleh beberapa orkes dan koor di Indonesia yang tentu secara otomatis membawa nama Indonesia. Namun diperlukan pemikiran dan refleksi diri yang kritis. Apakah kita sudah cukup jujur dan rendah hati menumbuhkan semangat dan antusiasme yang benar untuk orang lain? Apakah justru kita melakukan tindakan charlatan di balik pencapaian-pencapaian yang ada, yang kemudian justru menimbulkan pertanyaan balik atas kesuksesan itu sendiri, „Apakah sungguh tujuan dari kesuksesan itu untuk menikmati dan memajukan seni sebagaimana adanya?“ Atau jangan-jangan sebaliknya hanya menjadi media atau sarana untuk suatu tujuan tersembunyi lainnya?

-Biarkan seni berbicara lewat dirinya sendiri-

Matius Shanboone,
Lübeck, 7. August 2015
Penulis merupakan komponis muda yang pernah mengajar di beberapa perguruan tinggi musik dan kini sedang melanjutkan studi master di Jerman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: