Kabar Terkini

Memandang Rekaman Orkestra & Kegelisahan


Jelang sore hari itu, panas sudah terasa agak berkurang. Nampaknya pun jalan masih cukup lengang, mungkin belum semua kembali berkegiatan di ibukota. “Mau di mana Bro? Enakan yang bisa ngerokok…” Langkah kakipun bergegas menuju kafe yang dituju di Mal Central Park di kawasan Jakarta Barat. Di sana tampaknya komponis, arranger dan konduktor berbakat Andreas Arianto Yanuar telah menunggu untuk ngobrol-ngobrol sore. “Pesen aja dulu, gue uda pesen tadi….” begitu selorohnya.

Setelah memesan minum, perbincangan pun dimulai pada kisahnya berangkat ke Hungaria untuk menggarap album solo harpis Indonesia, Rama Widi. Dalam penggarapan album ini, Andreas berperan sebagai produser dan arranger, dan baru saja menuntaskan proses rekaman di Budapest, Hungaria. Sebelumnya Andreas juga sempat menggarap rekaman album harpis muda Mesty Ariotedjo di Beijing tahun lalu. Berikut cuplikan percakapannya:

 

M: Gimana rasanya, Bro, Budapest?
A: Asyik, kotanya rapi dan bersih. Semuanya serba teratur. Musisinya asyik-asyik juga di sana. Sayangnya gue gak lama di sana, cuma buat kerja lalu lanjut jalan ke Roma, Praha dan Wina. Roma kumuh men, yang bagus cuma Vatikannya aja. Ya, Italia memang lagi kena imbas krismon juga sih. Manajer gue, Boy Marpaung, malah sempet nyaris dicopet. Untungnya dia tahu dan jago nepisnya juga, haha! Tapi memang kota Praha mantep! Pengamennya keren-keren. Bahkan ada duo akordeon dan gue dengerin mereka main Bach dan Vivaldi. Beruntung banget pas nyampe sana lagi ada konser Carmina Burana. Yang main Czech National Philharmonic Orchestra. Orkes yang gue ajak kerja di Budapest aja uda powerful, ternyata yang ini lebih powerful 3 kali lipat lagi! Wina pun ternyata lebih bagus lagi kotanya daripada 3 kota lainnya yang gue kunjungi ini. Langsung masuk akal buat gue kenapa musik klasik bisa segitu berkembangnya di Eropa, karena memang soul dan lifestyle mereka memang sejalan banget dengan musiknya, udah jadi bagian dari kehidupannya sehari-hari banget! Lihat aja arsitektur, sarana transportasi dan tata kotanya, semua teratur dan jelas banget petunjuk-petunjuknya.

M: Wah jadi lo kerja di Budapest bareng orkestra?
A: Iya, gue sekarang lagi ngerjain album solonya Rama Widi sebagai arranger dan produser, juga nulis beberapa karya baru gue sendiri untuk album itu di luar beberapa cover version lagu pop dan klasik. Jadi orkestranya direkam di sana, sedangkan untuk solo harpa dan penyanyi-penyanyi tamunya nanti direkam di sini, mixing dan mastering juga di Indonesia.

11703530_10153201903103800_2880681860244569859_o

M: Proses rekamannya bagaimana di sana?
A: Gue kontekan dengan seorang orchestra manager lewat surel. Gila juga jauh-jauh manajernya di Los Angeles, orkestra dan studionya di Budapest. Tapi memang ternyata di AS itu permintaan untuk rekaman musik film dengan orkestra lumayan besar, terutama untuk rekaman musik film-film pendek di Hollywood yang gak ber-budget setinggi film-film box office tapi tetep pengen kualitas rekaman musik orkestra live yang bagus dan bukan MIDI. Dari ngobrol dengan mereka, ternyata mereka bisa ngerjain 8-10 proyek rekaman begini dalam sebulan. Asumsi gue sih musisi orkesnya dikontrak dan digaji tetap oleh manajemen, mungkin dikasi bonus kalau gig-nya berlebih dalam bulan itu.
Jadi begitu gue masuk ke studio yang lapang dan oke banget peralatannya, gue langsung siap berdiri di podium konduktor dan mimpin mereka main. Semuanya sightread dan langsung direkam tanpa harus mereka latih dulu sebelum gue dateng! Di control room ada assistant producer yang sambil baca partitur sambil bantu ngarahin kalau ada rekaman yang kurang oke dan perlu di-take ulang. Dalam satu shift 4 jam rampung lah rekaman semua lagu itu. Gila, cepet banget kan, efisiensi tingkat tinggi!

M: Menurut lo, Dre, berdasarkan pengalaman di Beijing, Budapest dan Indonesia, apa yang membuat pilihan untuk rekaman di luar itu menarik?
A: Musik orkestra kan memang udah jadi makanan mereka sehari-hari yah. Jadi selain orkestra di Eropa Tengah ini secara tarif murah dan bagus, kerjanya pun cepat dan efektif karena mereka sudah terbiasa banget dengan idiom-idiom musik orkestra. Ensembleship-nya juga udah solid banget. Disiplin mereka soal waktu juga mantap!
Waktu di Beijing juga begitu, gue dibantu sound engineer yang juga baca partitur gue supaya bisa lebih detail dalam ngarahin. “Yuk main, dari bar segini sampai bar segini…” Main bentar, lalu, “Berhenti, ulang dari bar segini sampai segini…” Semua berhenti, ngeremnya pakem untuk kemudian langsung mulai rekaman lagi dari bar yang diminta gak pake lama. Mereka fokus banget kalo lagi kerja dan malah akan bete kalo kitanya yang lamban.

Kalo di Indonesia kebiasaannya kan gak gitu. Kalo gue bilang, “OK, berhenti…”, masih ada yang main, lalu gue kasi instruksi “mulai dari bar 21, rekam mulai dari bar 23…” Eh, uda mau rekaman masih ada yang bilang, “Eh tunggu-tunggu, kita mulai dari mana tadi?” Nah jadi kalo dalam hal efiensi waktu secara makro, rekaman di sini bisa abis total lebih dari 30 menit dalam satu sesi, cuma untuk instruksi jalan atau mulai dari mana. Belum lagi kalo kita bahas soal disiplin secara mikro dalam arti musikal, mereka yang di luar itu lebih presisi lagi baca ritmik dan nada dalam partiturnya. Jadi rekamannya bisa selesai dalam 4 jam, dibandingkan dengan waktu dan uang yang harus disiapkan untuk ngerekam jumlah lagu yang sama selama berhari-hari di sini.

11822438_10153202316848800_5659084889231229977_nM: Jadi mereka menurut lo, Dre, karena secara permainan lebih presisi dan juga terkesan sudah well-paid dan well-managed, jadi mereka bisa bermain lebih bagus?
A: Well-paid itu sangat relatif karena biaya yang dikeluarkan untuk membayar musisi aja bisa lebih sedikit karena hanya perlu 1 sesi rekaman untuk sekian banyak lagu. Mungkin jadi well-paid karena mereka jadi bisa mengerjakan lebih banyak proyek setiap minggunya dengan tingkat efisiensi mereka itu ya. Tapi yang lebih penting menurut gue adalah bahwa karakteristik orang itu sangat dibentuk oleh lingkungan di sekitarnya, termasuk kondisi infrastruktur di mana mereka tinggal: sarana transportasi di sana sangat teratur, semua-semua teratur sehingga kesadaran mereka soal waktu pun juga sudah terbentuk lebih strict daripada kita. Sedangkan kita di sini mau nunggu bus aja gak ada jadwal yang jelas, gak ada sanksi yang jelas juga kalo kita buang sampah sembarangan dan sebagainya, sehingga ga se-strict itu juga dalam hidupnya sehari-hari.
Nah, menurut gue kalau untuk mainin jenis-jenis musik yang mengandalkan feel, musisi Indonesia banyak sekali yang luar biasa bagus dan sangat kompeten! Tapi kita masih sangat ketinggalan kalo mau mainin musik yang sangat butuh ketepatan waktu dan pitch, baik secara ensembel maupun individual.

M: Jadi menurut Andreas, PR kita ada di mana?
A: Jadi ini bukan PRnya musisi doang. Musisinya paling banter cuma bisa memperbaiki diri lewat berkarya dan lewat etos kerja yang oke. Misalnya nggak ngubah-ubah jadwal kerja sembarangan. Memang masih ada yang seenaknya, tapi di sini secara etika udah ada sanksi sosial yang berlaku antar musisinya sendiri untuk mereka yang begini-begini, haha. Langsung sepi job deh yang kayak gitu, gak ada yang mau ajakin lagi.
Memang ini jadi PRnya para pengambil kebijakan juga. Gimana kita mau efisien kalau mau berangkat kerja aja uda kena macet? Karena kalo waktunya efisien, konsekuensi logisnya ya harga-harga barang dan jasa harusnya bisa lebih efisien lagi juga. Secara ekonomi kalau infrastuktur tidak mendukung efisiensi waktu, yang ada malah pemborosan. Kalau infrastruktur suatu negara dibenerin, akan lebih efektif dan efisien pula kehidupan ekonomi masyarakatnya, termasuk dalam pekerjaan-pekerjaan di bidang seni.

Rokok pun mengepul di sore hari itu dan perlahan tapi pasti secangkir espresso dan segelas es teh tawar sedikit demi sedikit berpindah dari wadahnya ke mulut masing-masing.

11391515_10153095433318800_9072121995030337887_nM: Menurut lo bagaimana peran pendidikan untuk menangani permasalahan seperti ini?
A: Wah, gue udah lama gak berkecimpung di bidang itu lagi sebenernya. Tapi di UPH (Universitas Pelita Harapan) di mana gue pernah ngajar, perkembangannya uda mulai kelihatan setidaknya di dunia musik kontemporer jazz dan pop. Di bidang klasik maaf sekali gue gak banyak kenal anak-anak yang sekarang, jadi gak bisa kasi opini. Gue melihat sudah banyak alumni yang gue kenal main di berbagai grup dan event besar seperti Java Jazz. Secara etos kerja pun mereka juga sudah naik kelas. Misalnya aja, Kevin Yosua (pemain kontrabas) waktu itu gue tanyain, “Lo main di berapa panggung selama Java Jazz ini?”, “Wah gue main di 8 panggung…” Berarti kan, kalau tanpa etos kerja dan disiplin waktu yang bagus, dia gak akan bisa main sebanyak itu untuk grup yang berbeda-beda kan? Lalu Rachman Noor, cellis, juga eksis banget main di mana-mana untuk musik yang macem-macem juga jenisnya, klasik, pop, jazz, kontemporer. Gue nobatkan dia sebagai ‘cellis ibukota’! Dia memilih instrumen yang pas dan jarang pemainnya di sini.
Dulu sebelum studinya ke Austria, Rachman ngaku bahwa dia lebih ngegampangin waktu. Tapi sekarang dia bener-bener respek dan disiplin soal waktu, tapi orangnya juga tetep asik banget. Makanya lingkungan tempat kita belajar itu ngaruh banget, bener-bener bisa membentuk kita dalam bersikap. Dia pun sekarang kemana-mana selalu pake jas, haha!

M: Hahaha… Jadi soal pakaian itu pengaruh juga?
A: Iya. Jadi dulu waktu gue mulai ngajar di UPH, gue ketemu dengan manajer gue yang sampai sekarang juga masih kerja bareng, Boy Marpaung. Ketika itu gue lagi nyiapin tim orkestra untuk main bareng Slank ke 6 kota. Nah, sejak tahun 2008 itu dia banyak kasi input ke gue untuk beresin diri gue sendiri. Dia percaya bahwa sebelum seseorang bisa jadi seniman hebat, dia harus mampu beresin dirinya sendiri dulu secara internal, baru dia bisa bikin karya yang juga signifikan. Untungnya Mas Boy ini punya kepercayaan yang tinggi sekali terhadap gue, sangat sabar untuk pelan-pelan selama bertahun-tahun ngingetin hal ini ke gue. Sehingga dari gue yang dulu gondrong acak-acakan dengan stye yang cuek dan gak bisa dikasih tahu, bisa makin lama jadi lebih terbuka terhadap kritik untuk bisa lebih rapi dan lebih presentable sebagai komposer dan arranger. Dengan begitu pun gue juga bisa lebih dipercaya oleh klien. Ternyata hal ini pun merembet ke hal-hal lain seperti kedisiplinan waktu dan cara berpikir yang lebih teratur.

M: Seberapa banyak yang sadar, Bro, soal diri itu?
A: Ternyata masih banyak seniman yang gak ngeh akan hal ini dan susah untuk dikasih tau. Gue bisa bilang gini karena gue ngalamin sendiri. Gue belum bisa bilang bahwa gue 100% disiplin soal waktu, tapi ya gue jadi bisa belajar untuk lebih bertanggung jawab dalam pekerjaan, juga lebih aware dan responsif terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar gue. Dari kesempatan-kesempatan yang gue dapatkan untuk bisa bepergian ke bermacam tempat, ternyata secara sadar maupun tidak sadar gue bisa lebih mudah menuangkan apapun yang gue pelajari dan rasakan ke dalam karya gue. Baik pengalaman pahit maupun manis, semuanya bisa dituangkan lebih lancar.

Ini penting buat teman-teman yang lain karena musisi itu bukan cuma butuh merhatiin aspek teknikal ini-itu. Hal-hal teknis itu penting sebagai alat, sebagai sarana untuk mengekspresikan apa yang kita alami secara internal. Tapi yang juga penting adalah bagaimana jalan pikiran kita bisa memproses dan merespon hal-hal di sekitar untuk kemudian bisa memutuskan mau bertindak bagaimana.  Juga yang penting adalah bagaimana kita memandang diri sendiri sebagai pribadi di tengah masyarakat.

M: Lalu bagaimana Andreas mengambil sikap dalam berkarya?
A: Ya, menurut gue dalam berkarya jangan hanya berpikir untuk menyambung hidup, tapi juga untuk meninggalkan legacy. Dari segi manajemen pun juga harus ada arahan yang jelas. Itu sebabnya mengapa Pemda DKI sekarang sangat serius membenahi Kota Tua. Dengan melakukan itu berarti kita sedang mempersiapkan diri menghadapi persaingan pariwisata secara global, kan?
Temen-temen musisi sudah cukup banyak yang punya pemikiran untuk meninggalkan legacy ini, misalnya dengan membuat rekaman album musiknya sendiri. Di dunia musik pop dan jazz, walaupun si empunya album ini berniat membagikan gratis kepada teman-temannya, ternyata teman-temannya yang sesama musisi itu lebih memilih untuk membeli albumnya sebagai bentuk dukungan dan apresiasi kepada si empunya album. Sayangnya di dunia musik klasik pemikiran untuk membuat rekaman album belum menjadi kebiasaan, jadi mungkin mereka memang harus memikirkan bagaimana strategi manajemen dalam menancapkan benderanya sebagai musisi dengan cara yang berbeda yah.

Nah, kembali ke soal menyambung hidup. Gue sendiri pernah menjadi guru. Tapi sayangnya – sama sekali bukan untuk mendiskreditkan posisi guru – seringkali banyak musisi yang udah sangat nyaman menjadi guru sampai jadi lupa berkarya. Bahkan hidupnya pun banyak yang sudah sangat nyaman, sehingga temanya bukan lagi sekadar menyambung hidup. Sekali lagi gue sama sekali gak ada pandangan buruk terhadap guru karena gak sedikit pula teman-teman musisi yang berkarya lewat menjadi guru yang benar-benar mikirin perkembangan musikal dirinya sendiri dan murid-muridnya, bukan hanya untuk nyari nafkah dalam menjalani profesinya itu. Dan gue sangat respek terhadap mereka.

M: Wah kalau begitu kita menyadari hal yang serupa di tempat kita berkarya nih…. Ada juga guru di suatu sekolah musik yang sudah ditawarkan untuk ikut masterclass di luar negeri tapi memilih untuk menolak, padahal sudah akan dibayarkan oleh sekolah musiknya.
A: Gue punya teman seorang penari balet, yang walaupun usianya sudah di atas 30 dan hidupnya sudah lumayan nyaman dengan pekerjaannya, selalu menyisihkan sedikit penghasilannya untuk ikut masterclass dan workshop di Amerika secara rutin. Sekarang dia malah diterima audisi untuk bekerja di sebuah ballet company di Filipina. Dia punya kegelisahan untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Memang gak banyak orang yang terus punya kegelisahan itu dalam dirinya.
Menurut pengamatan gue, yang lebih terdorong seperti ini adalah mereka yang suka membaca. Sayangnya budaya membaca di masyarakat kita tidak se-membudaya di luar karena dalam sejarah perkembangan bangsa kita memang tingkat literasi dan durasi fase membaca kita sangat rendah dulunya, untuk kemudian sudah keburu dihujani produk-produk elektronik seperti radio dan televisi. Akibatnya yang terbentuk adalah budaya menerima informasi secara pasif. Padahal banyak sekali sastrawan kita yang canggih dari jaman sebelum kitab Sutasoma hingga sekarang kan? Dengan membaca, orang jadi terbentuk untuk lebih aktif berpikir dan kemudian jadi mempertanyakan eksistensinya di dalam dunia. Banyak orang yang karena jarang mempertanyakan dirinya sendiri, akhirnya menjalani hidupnya begitu aja. Ga ada yang salah, tapi ya jelas ada yang kurang.

M: Menurut lo apakah dengan dididik di dunia musik, orang jadi lebih tertantang untuk lebih banyak berpikir?
A: Tergantung gurunya dan tergantung muridnya masing-masing. Guru komposisi pertama gue, Bernd Asmus dari Jerman, mendorong kami 10 muridnya selain untuk suka membaca tapi juga untuk ngikutin perkembangan di bidang seni lainnya. Dia mendorong kami untuk kepo dan nyari tahu tentang pelukis, penari, penulis, dan sebagainya.
Jadi hasilnya banyak dari angkatan ini yang jadi suka membaca dan terus ngembangin diri dengan membaca, menulis dan berpikir. Pun dalam berkarya akhirnya mereka yang suka membaca itu secara konseptual musiknya lebih kritis dibandingkan yang kurang suka membaca.
Dengan membaca, secara aktif kita akan jadi lebih banyak mempertanyakan apa yang kita baca, soal apa yang terjadi di sekitar kita, untuk kemudian bisa lebih objektif mengkritik diri sendiri, termasuk terus mencari unsur kebaruan dalam berkarya. Mencari unsur “kebaruan” inilah yang akan mendorong kita untuk tidak kembali lagi ke fase kita yang sebelumnya supaya bisa terus berkembang. Gue memang sekarang lebih banyak berkecimpung di musik populer, tapi gue pun sebisa mungkin tetap terus mencari hal yang berbeda dari yang pernah gue dan orang lain lakukan sebelumnya.

Obrolan malam itu pun berlanjut dengan obrolan mengenai teknologi, pengembangan infrastruktur, musik-musik baru, pengamen, dan kota Praha. Kehadiran teman kami bersama, pemerhati media dan musisi, Roy Thaniago dan trumpetis Indah Wulandari membawa diskusi masuk ke ranah sosial politik, pendidikan dan media massa sampai ke soal kunci F dan forte hingga larut malam.

 

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Halo Effect Bersinar | A Musical Promenade
  2. Murahnya Waktu Seniman Kita | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: