Kabar Terkini

Peran Cendekiawan dalam Musik dan Budaya


Setelah politik etis dijalankan di negeri ini, Indonesia mengalami mulai fenomena literasi musik. Banyak kaum ningratan kemudian memiliki ketertarikan pada musik dalam bentuk musik tertulis. Namun sayangnya literasi musik seringkali tidak tentu berbanding lurus dengan kecendekiaan di bidang seni musik.

Di akhir abad 19, di Yogyakarta kemudian munculah kampung Musikanan yang dibina oleh Kraton Yogyakarta Hadiningrat yang berisi generasi awal dari masyarakat Jawa awal yang menjadi musisi-musisi klasik Barat memainkan instrumen Barat. Kraton sendiri melihat bahwa musik Barat kala itu mampu membawa pamor tersendiri bagi keluarga kraton termasuk di mata pemerintah Hindia Belanda, baik sebagai kalangan terdidik maupun kaum yang ‘modern’.

Masuknya paham ini berlandaskan sama dengan bagaimana bangsawan Jawa memasukkan tradisi militer Barat ke dalam barisan prajurit. Kita melihat bagaimana pakaian militer di Jawa terlihat bercorak kebarat-baratan ataupun membeli kereta-kereta kuda mewah dari Eropa untuk acara kenegaraan Sultan yang kini dianggap keramat di wilayah Kraton dan masih bisa kita lihat hari ini.

Minat ini juga berkembang di kalangan kaum ningrat yang kebetulan juga menjadi generasi awal kaum terpelajar di Indonesia. Para bangsawan dan pejabat pemerintahan di bawah pemerintah Belanda kemudian memiliki akses yang lebih besar untuk literasi musik melalui pendidikan berciri Barat yang memperkenalkan musik sebagai salah satu mata ajar ataupun bidang minat di sana.

Di sisi lain, kaum pedagang yang terdiri dari saudagar Tionghoa, India dan Arab kemudian juga mendapat kesempatan untuk ikut masuk dalam lingkaran ini dikarenakan akses pendidikan Barat yang juga kemudian bisa mereka nikmati.

Namun sejak dimulainya pendidikan seni musik yang kemudian menciptakan literasi musik lebih bersumber pada bagaimana menjadi melek notasi musik dengan berbagai keterampilan ikutannya namun tidak bersinggungan dengan kecendekiaan berbudaya musikal.

Pada dasarnya keterampilan bermusik Barat yang memang sudah mengakar di Indonesia sejak lebih dari satu abad lalu memang hanya itulah yang diajarkan dalam sistem pendidikan kita. Dalam pendidikan kini pun memang lebih banyak menekankan pada kebisaan sebagai pemain musik daripada sebuah pemahaman akan budaya dan seni sebagai sebuah keilmuan dan aset nasional. Tidak jarang masyarakat ini menjadi sedikit fasih dalam menjalankan rutinitas bermusik tapi gagap dalam pemahaman budaya.

Literasi musik tidak dapat menggantikan literasi budaya yang didapat dari penggalian dan pengertian makna filosofis kegiatan budaya. Harus diakui bahwa literasi adalah pintu masuk, namun literasi hanyalah sebuah kemampuan yang tidak bermakna apabila tidak mampu membentuk pengertian/knowledge di belakangnya. Bukti mudah dapat dilihat langsung dalam menilik buku-buku musik yang banyak beredar kini, lebih banyak sibuk mengajarkan bagaimana memainkan musik dengan mudah daripada menyasar pemikiran dalam bermusik, sebuah gejala kegagapan yang sangat jelas. Padahal menurut pemerhati budaya Serrano Sianturi, pemusik dalam tradisi Eropa masuk dalam golongan intelektual. Tradisi nusantara pun menggolongkan musisi sebagai golongan terdidik dan bahkan juga ada yang menggolongkan mereka sebagai kelompok spiritual yang terpisah, terlebih karena fungsi musik secara tradisi pun lekat dengan ritual-ritual kepercayaan. Untuk tulisan khusus mengupas hal itu bisa dilihat di sini.

Sayangnya cendekiawan masa kini tidak bisa dicetak lewat membaca buku “24 Jam Mahir Instrumen X” ataupun sejenisnya. Seringkali tidak dapat pula digali hanya lewat menghabiskan waktu berjam-jam mengulik instrumen kebanggaan kita. Ia dicetak lewat keingintahuan dan kerja keras dalam mengamati, berdiskusi dan belajar tentang lingkungan sekitarnya, pemikiran orang lain, kemanusiaan dan fenomena-fenomena di sekelilingnya.

Di zaman ketika bangsa Indonesia seringkali harus diingatkan kembali akan kesadarannya sebagai bangsa yang berbudaya, peran cendekiawan musik menjadi sangat vital bagi perkembangan pemikiran kebudayaan dan bagaimana budaya perlahan mampu mengambil tempat yang layak dalam wawasan berkebangsaan kita.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dalam acara Institut Seni Budaya Indonesia, tanggal 6 Agustus lalu, pun menyebutkan bahwa pendidikan kesenian menjadi sentral dalam membangun karakter manusia Indonesia yang peka akan keindahan dan yang terdorong untuk menjadi kreatif. Ia pun mencatat bahwa pendidikan seni tidak bisa melulu dibangun lewat atmosfer kompetitif tapi juga interaktif kolaboratif. “Guru seni melatih anak untuk menjadi pemikir, bukan penghapal, memang pendidikan kesenian ini manfaatnya langsung,” kata Anies, seperti dikutip dari Tempo.com.

Pertanyaan sekarang adalah apakah guru-guru seni musik yang Anda kenal sudah menjadi katalis bagi lahirnya pemikir-pemikir seni budaya ataukah banyak yang masih terjerembab dalam praktek seni pertunjukan tanpa mengedepankan aspek kultur dan pendekatan keilmuan dan kritis?

Suka atau tidak, memang problem bagi banyak pendidikan dasar musik adalah prestasi seseorang guru ditilik dari banyaknya murid yang diajar, berapa banyak murid yang dicetak sebagai juara-juara kompetisi dengan teknik tinggi yang mencengangkan, bukan pemikirannya yang mendalam sebagai seorang pendidik dan budayawan dan bukan pula ditilik dari bagaimana kecakapan seseorang tersebut membentuk karakter pribadi-pribadi yang matang, kritis serta kreatif. Mencetak cendekiawan sayangnya tidak pernah mudah, tapi juga tidak pernah terlalu sulit. Hanya perlu dua modal,  kemauan dan dahaga untuk bertanya mencari jawaban dan kemampuan untuk menyampaikan dan mengamalkan pemikiran tersebut.

Berikut adalah tiga keterampilan berpikir yang haruslah dimiliki oleh seorang cendekia menurut Association of Scientific Affiliation:
– Creative Thinking
– Critical Thinking
– Problem-solving skills

Tanpa kemauan untuk berpikir tentang peran budaya bagi kebangsaan, seni akan tetap jadi elemen yang terlupakan dalam perkembangan Indonesia. Tanpa ada cendekiawan musik dan budaya, seni suara ini akan tetap berada di luar bingkai kebangsaan. Karenanya mencetak cendekiawan seni dan juga senimannya adalah keharusan dan seni pun lewat kerja dan pemikiran mereka akan menjadi advokat bagi dirinya sendiri. Pemikir dan bukan sekedar pembaca huruf; pemikir dan bukan sekedar pembaca notasi musik.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Peran Cendekiawan dalam Musik dan Budaya

  1. Balik lagi ke kebiasaan mempertanyakan eksistensi diri ya. Untuk apa aku ada di dunia, apa tujuanku hidup di antara orang2 di sekelilingku, bagaimana aku bisa membuat hidup lebih baik bagi diriku dan orang2 lain, dsb, memang belum banyak terbersit dalam benak kita2 ini sayangnya. Dan itu terjadi gak hanya di dunia musik.

    Kmrn sempet baca sekilas artikel ttg ada jutaan sarjana ngelamar jadi pengemudi Gojek. Bukan masalah menjadi supir Gojek yg dipersoalkan, tapi ada indikasi bahwa sudah menjadi sarjana pun tidak menjamin setiap individu bergelar itu menjadi pemikir. Topik yang sayangnya gak pernah usang di bumi pertiwi ini😦

  2. Jangan sampai musik jadi elemen yang terlupakan juga yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: