Kabar Terkini

Orkestra yang Bertumbuh di Indonesia Pra Kemerdekaan


~ Oleh Yasintha Pattiasina

Kata orkestra bukanlah sesuatu yang asing bagi kita, terutama apabila anda musisi. Orkestra merupakan salah satu hasil kebudayaan Eropa yang berkembang selama ratusan tahun. Meski berkembang di Eropa, jaman sekarang orkestra hadir di banyak negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hadirnya orkestra di Indonesia berawal dari jaman penjajahan Belanda di awal tahun 1900an. Belanda bertujuan untuk membangun Indonesia sebagai negara koloni (kala itu namanya Nederlansche Indie-Hindia Belanda). Untuk mencapai tujuannya, Belanda membangun Indonesia sesuai dengan citra Belanda dari berbagai macam aspek. Mulai dari arsitektur bangunan seperti Schouwburg (sekarang Gedung Kesenian Jakarta), Stadhuis (Balai Kota, sekarang Museum Fatahilah), sistem kanal, kereta listrik (trem), Engelse Brug (Jembatan Gantung Kota Intan) sampai ke sistem pemerintahan dan kebudayaan. Salah satu produk kebudayaan Belanda kala itu adalah orkestra. Seperti kita ketahui, orkestra merupakan sekelompok musisi yang memainkan berbagai alat musik di saat yang bersamaan dengan harmonis. Sama halnya dengan orkestra di Eropa, orkestra di Batavia kala itu merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang menjadi hiburan bagi masyarakat Belanda yang ada di Batavia. Berdasarkan catatan sejarah, orkestra tertua yang bisa dilacak di Batavia adalah Batavian Staff Orchestra.

Orkestra Pra Proklamasi

Batavian Staff Orchestra (BSO) merupakan orkestra yang dibentuk oleh seorang pengaba berkebangsaan Belanda bernama Nico Gerharz. Pada masa tugasnya di Batavia, Gerharz mengumpulkan musisi-musisi gesek sebanyak 20 orang dan beberapa pemain tiup kayu, lalu mendirikan orkestra ini pada tahun 1904. Sampai dengan tahun 1916, BSO merupakan orchestra yang cukup aktif tampil, bahkan mereka mengadakan tur untuk pertunjukan di beberapa daerah di pulau Jawa, seperti Bandung. Repertoire yang dibawakan oleh orkestra ini bervariasi, mulai dari Bach sampai dengan Brahms. Pada jaman itu biasanya pertunjukan orchestra diadakan di Schouwburg (sekarang Gedung Kesenian Jakarta). Formasi orkestra yang ditampilkan pun beragam, tergantung pada repertoar. Terkadang bisa berupa orkes simfoni dalam skala besar, terkadang bisa berupa orkes kamar, yang skalanya lebih kecil. Dalam penampilannya, BSO biasanya disiarkan langsung melalui radio oleh AFRIB (Allied Forces Radio in Batavia). Bayangkan, di masa itu belum ada televisi apalagi internet, sehingga pertunjukan orkestra yang disiarkan langsung di studio merupakan hiburan yang ditunggu oleh banyak orang. Pada jaman ini, peminat orkestra terbatas pada kalangan elite Belanda yang tergabung dalam klub Societeit Harmonie di Jakarta dan Societeit Concordia di Bandung.

Batavia Staff Orchestra

Batavia Staff Orchestra

Beberapa sumber menyebutkan bahwa BSO bukan merupakan satu-satunya orkestra pada jaman itu, melainkan ada beberapa kelompok musik lain. Salah satunya adalah Bataviasche Philharmonic Orchestra (BPO), yang didirikan pada tahun 1912. BPO merupakan orchestra amatir, di mana anggotanya merupakan campuran dari musisi profesional dan amatir, baik yang berasal dari Belanda maupun dari Batavia langsung. Sangat disayangkan bahwa tidak banyak catatan sejarah yang bercerita mengenai BPO.

Orkestra yang muncul setelah BSO dan BPO adalah orkestra NIROM. Sebelum kita membahasnya, ada baiknya kita membahas sedikit mengenai peran radio dalam perkembangan orkestra di Batavia. Sebagai satu-satunya media elektronik di jaman itu, radio memiliki fungsi sentral dalam menayangkan hiburan audio. Betul bahwa pementasan musik yang langsung juga tetap dilaksanakan di gedung konser maupun kediaman pribadi kaum elit Belanda di Batavia, tetapi radio tetap memegang fungsi utama dalam hal pemberitaan dan hiburan audio. Musik hiburan di radio kebanyakan ditampilkan secara langsung oleh orkestra. Repertoar yang dimainkan pun repertoar standar orkestra klasik, seperti karya-karya Bach, Mozart, Beethoven, Brahms, Grieg dan sebagainya. Sampai dengan tahun 1934, siaran radio di Batavia dilakukan oleh AFRIB. Keberadaan AFRIB kemudian diteruskan oleh NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij – Maskapai Penyiaran Radio Hindia Belanda), yang berdiri di tahun 1928 di Belanda, namun memulai siarannya di Batavia pada tahun 1934. Atas prakarsa seorang bernama Theo van der Bijl (kemungkinan besar adalah seorang musikolog) dan Pickler Trio, dibentuklah sebuah orkestra setelah BSO dan BPO, yang kemudian menjadi orkestra NIROM. NIROM orkestra ini aktif sampai tahun 1950, dan kemudian berevolusi menjadi Orkes Radio Jakarta dan Orkes Studio Jakarta.

Orkestra Pasca Proklamasi

Meskipun Proklamasi Kemerdekaan sudah dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945, Belanda masih tetap menduduki Indonesia. Kekuasaan Belanda secara de facto baru selesai pada tahun 1950, setelah Perjanjian Roem-Roijen ditandatangani dan Belanda menarik semua pasukannya dari Indonesia. Pada tahun 1947, pemerintah Belanda memutuskan untuk mengembangkan orkestra profesional di Jakarta. Pemerintah Belanda kemudian menunjuk Yvon Barspul untuk membantu rencana pengembangan orkestra ini. Pada saat itu NIROM Orchestra masih aktif, namun pemerintah Belanda merasa bahwa perlu untuk menambah pemain dalam orkestra tersebut agar bisa memainkan repertoire yang lebih banyak dan tidak terbatas kepada jumlah pemain. Pada tanggal 5 Juni 1948, 27 orang musisi yang terpilih dari Belanda diberangkatkan ke Jakarta. Mereka menandatangani kontrak kerja selama dua tahun, dan semua musisi yang berangkat adalah laki-laki.

Hal ini dikarenakan kurang amannya situasi di Hindia Belanda yang saat itu rawan perang karena baru saja merdeka, sehingga dianggap berbahaya jika membawa perempuan dan anak-anak. Beberapa minggu kemudian dikirim lagi 12 orang musisi dari Belanda ke Jakarta untuk menambah jumlah pemain dalam orkestra, dan satu tahun setelahnya istri dan anak-anak dari para musisi ini didatangkan ke Jakarta. Mereka semua tinggal di Hotel Chaulan (sekarang Jl. Hasyim Ashari). Orkestra ini diberi nama Radio Philharmonic Orchestra dan dipimpin oleh Yvon Barspul, dengan didampingi asistennya, seorang pemain biola bernama Herman van der Vegt.

Yvon Barspul

Yvon Barspul

Konser inaugurasi pertama Radio Philharmonic Orchestra diadakan pada tanggal 30 Agustus 1948, bertempat di Kebun Binatang Batavia (sekarang Taman Ismail Marzuki). Konser inaugurasi ini disaksikan oleh 1000 orang penonton.

Pada era yang sama, dibentuk juga orkes kamar (chamber orchestra) yang dipimpin oleh Fritz Hinze, dan Cosmopolitan Orchestra dibawah pimpinan Jos Cleber, yang membawakan repertoire yang lebih ringan. Beberapa gedung yang biasa dipakai sebagai tempat pertunjukan orkestra selain Schouwburg adalah Willemskerk (sekarang GPIB Immanuel, Gambir), Buitenkerk (sekarang GPIB Sion, Kota) dan Concordia (sekarang bagian sayap kiri gedung Departemen Keuangan, Lapangan Banteng). Orkestra ini hanya bertahan sampai tahun 1950, lalu sebagian besar musisi yang tergabung di dalamnya pulang ke Belanda. Sebagian dari musisi ini kemudian kembali lagi ke Jakarta dan membentuk Orkestra Radio Jakarta, dibawah pimpinan conductor Henk Te Strate, yang bertahan sampai tahun 1961.

Jos Cleber

Jos Cleber

Orkes Studio Djakarta – 1948-1960

Orkes Studio Djakarta (OSD) adalah salah satu orkestra yang pertama berdiri di Jakarta pasca kemerdekaan. Orkes ini dipimpin oleh Soetedjo, dan membawakan repertoire lagu-lagu Barat maupun Indonesia. Soetedjo memimpin orkestra ini dari tahun 1948-1950. Pada tahun 1950, setelah RRI Jakarta dikembalikan Belanda ke Indonesia, Jusuf Ronodipuro (pimpinan RRI kala itu) merombak susunan orkestra dan mengganti pimpinan orketra. OSD bergabung dengan Cosmopolitan Orchestra pimpinan Jos Cleber, lalu dibagi menjadi dua orkestra. Yang pertama adalah Orkes Radio Djakarta, yang dipimpin oleh Henk Te Strate, dengan repertoire lagu-lagu klasik. Yang kedua tetap bernama Orkes Studio Djakarta, yang dipimpin oleh Soetedjo sampai ia meninggal pada tahun 1953, lalu selama 3 bulan setelahnya OSD dipimpin oleh Ismail Marzuki, yang banyak belajar komposisi dan aransemen dari Jos Cleber. Ismail Marzuki kemudian meminta Syaiful Bachri untuk memimpin OSD, dan kepemimpinan Syaiful Bachri di OSD berlangsung sampai tahun 1960. Dalam perjalanannya, OSD cukup aktif dalam dunia musik saat itu, dan banyak mengiringi beberapa penyanyi terkenal saat itu seperti Bing Slamet, Sam Saimun dan Tuty Daulay.

Orkes Studio Jakarta

Orkes Studio Jakarta

Cosmopolitan Orchestra – 1948-1950

Cosmopolitan Orchestra adalah salah satu orkestra Belanda yang ada di Indonesia setelah jaman kemerdekaan. Orkes ini dipimpin oleh seorang komponis Belanda bernama Jos Cleber, dan membawakan berbagai macam repertoire. Didirikan pada tahun 1948, Cosmopolitan Orchestra terdiri dari musisi Belanda maupun musisi lokal Indonesia.

 (terj: Rekaman Penampilan Pertama lagu Indonesia Raya, dipimpin oleh pengaba Jos Cleber tahun 1950, Jakarta). Kanan: foto Jos Cleber.

(terj: Rekaman Penampilan Pertama lagu Indonesia Raya, dipimpin oleh pengaba Jos Cleber tahun 1950, Jakarta). Kanan: foto Jos Cleber.

Lagu Indonesia Raya digubah oleh Wage Rudolf Supratman dan dikumandangkan untuk pertama kalinya pada Kongres Pemuda II di Batavia, 28 Oktober 1928, lalu dipublikasikan partitur dan syairnya di koran Sinpo. Aslinya, Indonesia Raya terdiri dari tiga bait. Lagu Indonesia Raya menjadi tanda lahirnya pergerakan nasionalisme Indonesia, dan kelak ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, bait pertama dari Indonesia Raya dikumandangkan sebagai lagu kebangsaan. Menurut Jusuf Ronodipoero, direktur RRI kala itu, syair Indonesia Raya beberapa kali mengalami revisi karena alurnya dianggap kurang mengalir.

Pada tahun 1950, setelah RRI Jakarta dikembalikan ke Indonesia oleh Belanda, Jusuf Ronodipuro meminta Jos Cleber untuk mengorkestrasi lagu Indonesia Raya. Jos Cleber kemudian mengorkestrasi lagu Indonesia Raya, dan kemudian direkam oleh gabungan 3 orkestra saat itu, yaitu Cosmopolitan Orkestra, Orkes Studio Djakarta dan Radio Philharmonic Orchestra. Hasil rekaman Indonesia Raya diperdengarkan kepada Presiden Soekarno. Presiden Soekarno meminta agar aransemen tersebut direvisi, beliau meminta agar aransemen Indonesia Raya dibuat lebih megah dari Wilhelmus, lagu kebangsaan Belanda. Hasil revisi tersebut kemudian diperdengarkan kepada Presiden Soekarno yang menyetujui dan sangat menyukai orkestrasi tersebut. Kemudian lagu Indonesia Raya direkam ulang oleh ketiga orkestra tersebut. Sampai saat ini, orkestrasi Indonesia Raya yang dibuat oleh Jos Cleber menjadi orkestrasi resmi Indonesia Raya yang tidak boleh diganti.

Indonesia Raya di koran Sinpo 1928

Indonesia Raya di koran Sinpo 1928

Referensi
http://www.indischmuziekleven.com/index.php?lang=14&dept=63&article=112

~ Yasintha adalah seorang violinisi, pengajar dan arranger musik yang kini berkarya di beberapa orkestra di Indonesia dan kini aktif mengajar biola dan menjadi anggota Suzuki Music Association of Indonesia.

1 Comment on Orkestra yang Bertumbuh di Indonesia Pra Kemerdekaan

  1. Kalau lagu2 cinta pada tahun 45-59 yg didengar kaum menengah ke atas seperti apa ya, judulnya? Lagu2 Belanda, kah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: