Kabar Terkini

Salam Orkestra dari Pemain Musik Kamar


Erasmus Huis, Jumat, 14 Agustus ini menjadi saksi pergelaran kedua dari Jakarta Sinfonietta setelah penampilan mereka yang pertama Januari lalu menuai banyak pujian baik dari media maupun profesional musik di Jakarta.

Sebagai sebuah orkes kamar dengan jumlah pemain di bawah duapuluh orang, orkes yang dipimpin oleh direktur musik sekaligus pendiri, Iswargia R. Sudarno ini, tampil dengan berporos pada tema Salzburg-Prague, dua kota yang menjadi tempat kelahiran tiga orang komponis yang karyanya diketengahkan malam ini.

Di babak pertama, Jakarta Sinfonietta kali ini kedatangan dua orang tamu pemain gesek asal Indonesia yang kini berkarier di Eropa, violinis Ken Lila Ashanti dan violis Satryo Aryobimo Yudomartono. Keduanya bersama orkestra yang baru berusia setengah tahun ini namun beranggotakan para pemain profesional dari muda sampai kawakan dipimpin oleh Iswargia sebagai konduktor membawakan karya Bohuslav Martinu Serenade No.4 for Violin, Viola and Chamber Orchestra H.215 yang ditulis tahun 1932.

Sebagai sebuah karya yang ditulis oleh komponis abad modern asal Ceko, karya ini sedikit banyak terpengaruh oleh gaya neo-klasik Stravinsky yang mengandalkan banyak permainan ritmis yang terlihat dalam bagian pertama Serenade ini. Pengaruh ini tentunya kental bagi seorang Martinu yang kemudian bermigrasi ke Prancis, tempat di mana kedua orang solois malam ini, Lila dan Bimo, menerima pendidikan musiknya. Hadirnya bagian piano dalam karya untuk orkes kamar ini tentunya bukan sesuatu yang lazim kala itu, tapi secara khas Martinu mengawinkan keduanya untuk memberikan warna lain kepada seluruh orkestra lewat dentingnya yang khas dan menderu.

IMG_1504Bagian pertama ini dikarenakan kompleksitas dan pemain yang belum sepenuhnya fokus, sempat agak kehilangan pijak dan arah. Baru kemudian di bagian kedua yang mengalun lembut dalam tempo Andante Moderato kemudian ditingkahi dengan kelincahan Allegretto di bagian ketiga. Karya ini tergolong karya yang cukup pendek dengan durasi tak lebih dari 15 menit.

Konser sendiri kemudian dilanjutkan dengan Sinfonia Concertante in E-flat Major KV364 yang banyak menjadi sarapan wajib bagi duo violin dan viola dengan kolaborasi orkestra. Dibagi menjadi tiga bagian, Allegro maestoso, Andante dan Presto, karya ini kembali mengetengahkan tingkah polah violin, viola dan orkestra namun dalam era klasik yang lebih terkesan simetrikal. Ditulis tahun 1779, karya ini mengetengahkan keanggunan sekaligus kecermatan sang komponis Wolfgang Amadeus Mozart dalam membina benang melodi galant sembari mengeksplorasi efek kejut Sturm und Drang yang mampu membagi musik dalam fase-fase yang mengejutkan namun menarik.

Satryo Aryobimo semalam pada viola tampil dengan sangat meyakinkan dan menjadi sandaran yang kuat dan ekspresif bagi permainan seluruh ensembel. Viola yang bersuara lebih rendah dari violin miliknya pun mungkin lebih identik dengan viola da spalla yang berukuran besar memungkinkan suara yang bulat penuh di seluruh register. Keterampilannya dalam menggarap arah kalimat terdengar cermat dan musikal. Instrumen yang tergolong besar untuk ukuran sebuah viola ini sungguh telah menjadi miliknya dan memampukannya mengeluarkan kalimat apapun dari instrumen ini yang menjadikan permainannya sedap untuk dinikmati.

Ken Lila sebagai solois violin kemarin sesekali memunculkan kecemerlangannya dalam memberi warna pada permainan, sayangnya ia tidak konsisten dalam ekspresivitas permainannya. Presisi permainan dan ekspresi seringkali menjadi korban. Lila pun terlihat kurang nyaman dan aman di atas panggung, beberapa kali ia mengecek intonasi violinnya, walaupun tidak serta merta itu menjadi sumber masalah. Dalam karya-karya di babak pertama ini, banyak kalimat sangat membutuhkan dorongan tenaga dari permainan violin untuk membimbing arah kalimat untuk dapat berinteraksi dengan orkestra sebagai pengiring. Namun semalam seakan terjadi diskoneksi antara Lila dan orkes sehingga orkes pun tidak leluasa dalam berekspresi maupun menjalankan peran pendukung.

Malam pun berlanjut dengan permainan orkestra dengan karya Antonin Dvorak Serenade in E Major for String Orchestra Op.22. Sebagai karya romantik akhir, karya ini memiliki karakter yang beragam yang disampaikan lewat 5 bagian komposisi ini. Moderato dengan melodi yang menawan, Tempo di Valse yang menekankan aspek tarian yang lincah, Scherzo yang jenaka dan pontang-panting, diselingi bagian lambat Larghetto dan Allegro vivace sebagai penutup yang penuh daya hidup. Karya yang lekat dengan irama Ceko ini telah menjadi salah satu karya Dvorak yang paling populer dan hidup.

Sebagai orkes kamar, Jakarta Sinfonietta tampil dengan baik, pun terasa bahwa Iswargia mengarahkan permainan musik mereka dengan lumayan mendetail. Namun dari segi eksekusi memang dibebaskan kepada para pemain. Orkes ini sendiri pun secara menarik tersusun atas para pemain yang juga aktif sebagai pemain musik kamar yang sebenarnya menjadi nilai tambah dalam mengolah musikalitas dan permainan kolektif.

IMG_1508Di banyak tempat orkes seakan bernyanyi dengan indah dan tampil dengan semarak. Namun memang seringkali keragu-raguan menjadi momok yang perlu diperhatikan lebih jauh, terutama dari segi fokus dan keberanian eksekusi. Wen Wen Bong sendiri sebagai concertmaster telah menjalankan fungsinya dengan mampu menjadi mercusuar bagi kelompok gesek. Pembagian suara dari tiap instrumen memang menjadi tantangan tersendiri untuk karya Dvorak dengan kemandirian yang sepenuhnya dari pemain. Memang teknis yang menjadi keterbatasan, terlebih dengan jumlah pemain yang tidak lebih dari 17 orang, 12 di antaranya di seksi gesek, semua permainan terdengar transparan sehingga membutuhkan kerja dalam hal balans dan intonasi yang lebih lagi. Hanya latihan seksional yang rutin yang mampu mengupas persoalan ini. Namun demikian hampir seluruh dialog musik yang tidak kunjung putus antara seksi mampu terbina dengan mulus dan penuh ekspresi sehingga musik pun menjadi mudah dipahami.

Konser hari ini sebenarnya sangat layak untuk disaksikan oleh lebih banyak penonton, sayangnya hanya sekitar 1/4 dari kapasitas Erasmus Huis yang terisi di Jumat malam ini. Beruntung malam ini, konser ini menjadi ajang silaturahmi para musisi klasik ibukota. Namun demikian, besar harapan Iswargia Sudarno yang juga adalah direktur Jakarta Conservatory of Music tidak patah semangat dalam menggarap kelompok ini secara rutin agar mampu meraih pencapaian artistik yang lebih lagi. Sebuah kepuasan untuk menyaksikan sebuah orkestra dari para aktivis musik kamar profesional di Jakarta. Salam!IMG_1509

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: