Kabar Terkini

Semakin Banyak yang Masuk itu Baik, Tapi?


Beberapa tahun terakhir, kita bisa melihat dengan sangat jelas adanya kecenderungan yang semakin lekat terjadi di dunia pertunjukan dan pendidikan musik di Indonesia. Hal yang membahagiakan adalah semakin banyak workshop dan masterclass yang hadir di banyak tempat di kota-kota besar di Indonesia, terutama musik klasik. Jakarta, Bandung, Jogja, dan Surabaya seakan tidak berhenti kedatangan musisi-musisi mumpuni dari dunia barat untuk berbagi ilmu dengan banyak musisi muda dan pelajar Indonesia.

Selain itu juga semakin banyak musisi-musisi muda Indonesia yang perlahan rajin pulang ke Indonesia untuk mengadakan konser, resital, workshop maupun masterclass. Juga tidak kalah ramai adalah para senior-senior mereka yang perlahan memilih kembali ke Indonesia untuk membagikan pengalaman dan mulai berkarya di tanah air. Suatu hal yang amat dibanggakan karena banyak dari mereka yang melihat kembali potensi Indonesia sebagai gudang seni dan inspirasi juga sebagai ladang opportunity berkarier bagi mereka.

Ekonomi Indonesia

Apabila kita cermati, dapat terlihat bagaimana pertumbuhan ekonomi Indonesia yang meskipun melambat hampir satu tahun terakhir ini, masih mampu menjadi daya tarik bagi banyak musisi luar negeri untuk datang ke Indonesia. Indonesia sendiri sekarang telah mengalami pertumbuhan yang signifikan secara ekonomi dalam 5 tahun terakhir. Daya beli juga tumbuh signifikan sebelum akhirnya melambat karena dipengaruhi nilai mata uang dan kondisi pasar uang dunia di pertengahan tahun lalu.

Dari segi artistik, Indonesia memiliki tradisi berkesenian yang kuat dan unik dan mulai munculnya arahan untuk lebih mengembangkan sektor ekonomi kreatif. Di bidang musik klasik, Indonesia masih terlihat sebagai negara yang memiliki eksposur yang tidak terlampau luas untuk musik klasik bahkan juga termasuk bidang keilmuan musik dan riset.

Gelas setengah terisi atau setengah kosong, banyak di seniman di luar sana melihat Indonesia sebagai hutan perawan yang belum tersentuh.  Peningkatan daya beli memungkinkan mereka untuk muali mengkonsumsi produk-produk seni dan budaya lebih luas lagi. Demikian juga dengan akses pendidikan. Peningkatan yang signifikan itu dapat terlihat dari derajat pendapatan per kapita Indonesia yang terus berkembang sejak tahun 2001.

Itulah sebabnya tidak sedikit seniman yang kini membanjir ke Indonesia dan membuat konser, pameran, masterclass, workshop, penelitian dan banyak lainnya dengan harapan akan terbentuknya golongan penikmat baru bagi mereka.

Kondisi Eropa

Di benua Eropa sejak tahun 2010, Eropa masih terkena dampak dari krisis Eropa dan sejak tahun 2011 belum pulih dari anjloknya perekonomian Uni Eropa yang didorong oleh nyaris pailitnya Yunani dan Spanyol yang masih menyisakan tanda tanya hingga sekarang. Jerman dan Prancis sebagai motor utama mata uang Euro terus menerus menggelontorkan uang untuk kedua negara ini untuk menjamin mereka tidak ikut terperosok bersama Yunani dan Spanyol karena mata uang yang sama.

Akibatnya zona Euro secara makro juga mengalami perlambatan. Jerman, Prancis, Belanda, dan negara-negara Skandinavia yang masuk dalam zona Euro pertama mencukur pengeluaran untuk memastikan kesehatan dari perekonomian dalam negeri mereka untuk mampu menyokong zona Euro secara umum. Pergerakan pun terlihat, namun memang belum terlalu signifikan dikarenakan kebijakan makro memang ditujukan utnuk menyelamatkan ekonomi Yunani. Untuk lengkapnya bisa dilihat dari publikasi Komite Ekonomi Uni Eropa ini.Euro GDP

Pertolongan pertama dalam mengurangi pengeluaran adalah memastikan subsidi tepat sasaran, pengurangan di satu sisi lalu dialihkan ke bidang lain adalah hal yang harus dilakukan. Hal lain yang mungkin perlu dilakukan dan sedikit lebih frontal adalah mengurangi subsidi.

Seni & budaya sendiri sebagai bidang yang yang mendapat subsidi dari pemerintah negara-negara Eropa memang mendapat fokus penting dalam penyelenggaraan namun bukan berarti sebagai bidang terpenting dalam situasi darurat seperti masa-masa ini. Pengalihan subsidi adalah hal pasti akan dihadapi, entah pengurangan subsidi di satu pihak untuk dialihkan untuk organisasi lain yang dianggap lebih memberikan dampak, ataupun pemotongan dana sama sekali hingga kini banyak kelompok seniman dan organisasi kecil menengah yang gulung tikar karena sudah tidak menerima sokongan subsidi untuk kegiatan mereka. Tingkat pengangguran secara umum di Eropa pun juga meningkat dengan kondisi ekonomi ini.Euro unemployment

Pergerakan Seniman Barat

Menurut komponis Belanda berdarah Indonesia Sinta Wullur yang ditemui A Musical Promenade di Salihara 6 Agustus lalu, pemotongan subsidi ini sudah masuk dalam taraf yang mengkhawatirkan. Museum-museum kecil yang menarik di Belanda mulai ditutup karena tidak mampu mendukung kegiatan operasionalnya, dan banyak kelompok-kelompok musik pun berhenti berkegiatan, terutama yang termasuk dalam golongan kelompok kecil, termasuk ensembel gamelan miliknya. Ketertarikan orang muda Eropa akan budaya mereka sendiri perlahan-lahan juga mulai terkikis sehingga juga tidak banyak minat bagi mereka untuk belajar musik klasik.

Bagi para seniman yang cukup jeli, mereka akan melihat bahwa dengan mengeringnya banyak kesempatan kerja dan berpenghidupan di Eropa, adalah baik bila memulai untuk membuka kanal baru dengan mengeksplorasi dunia Timur. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian menggunakan kanal subsidi pemerintah untuk mengadakan workshop, masterclass dan konser musik klasik. Beberapa program seperti konser dan workshop Lehrbaumer yang disokong Goethe Institut juga dengan masterclass yang aktif bekerja sama dengan Sekolah Musik Amadeus, Velazquez yang ke Bandung didukung IFI dan Erasmus dengan duo Toeac di akhir tahun lalu dan kedatangan Doris Hochscheid dan Franz van Roth. Beberapa seniman lain aktif menggalang akses lewat jalur pribadi dengan pelaku-pelaku Indonesia. Beberapa sekolah musik lantas semakin aktif dalam menyelenggarakan masterclass oleh seniman asing untuk murid-murid dalam negeri. Jakarta Conservatory adalah salah satu yang mencoba menggunakan kesempatan yang ditawarkan banyak musisi dunia untuk juga meningkatkan kualitasnya sebagai institusi pendidikan musik.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Banyak dari acara ini berkualitas dan juga membuka pandangan baik para pemuda yang ingin menimba ilmu musik lebih mendalam lagi. Tidak sedikit penampil lokal tersentuh lewat kolaborasi yang apik antara seniman barat ini dengan seniman Indonesia yang memang didorong oleh penyelenggara. Tidak sedikit yang menggadang kompetisi bahkan seperti Ensemble Modern yang kemarin mengadakan sayembara untuk para komponis Indonesia sekaligus mengadakan workshop dengan mereka dan bahkan dengan kerja sama mengirimkan para komponis finalis ke Jerman untuk tampil bersama mereka.

Natur Musik Klasik

Indonesia sebenarnya diuntungkan oleh natur musik klasik yang selama pembentukannya baik di Indonesia maupun di Eropa dan Amerika selalu lekat dengan dunia pendidikan dan pemberdayaan lokal. Karenanya hingga saat ini kegiatan mereka lekat dengan mengadakan workshop dan masterclass bagi para pelajar musik Indonesia untuk melengkapi sesi pertunjukan mereka. Dalam hal ini terjadi transfer budaya dan ilmu antara para pelajar, pengamat dan juga pemusik barat ini sendiri. Kita pun dapat memberi pujian khusus bagi upaya kolaboratif yang dibangun selama ini di bidang musik klasik yang menguntungkan kedua belah pihak.

Musik klasik di Indonesia pun juga memiliki akar yang cukup kuat dengan ketergantungan pada pemain dalam negeri yang besar. Tidak ada kelompok musik klasik di Indonesia yang kemudian menjadi besar hanya karena mengandalkan mayoritas pemain asing bahkan pemain Eropa dan Amerika, seperti halnya terjadi di Malaysian Philharmonic Orchestra yang digadang sebagai orkestra kebanggaan lokal tapi sempat bermasalah ketenagakerjaan 3 tahun terakhir ini. Nusantara Symphony Orchestra adalah salah satu orkestra yang 5-6 tahun lalu banyak didukung pemusik Thailand, namun jumlahnya tidak terlalu signifikan dibanding musisi lokal kala itu.

Malaysian Philharmonic

Hal ini agaknya berbeda dengan musik industri yang belum tentu banyak melibatkan sumberdaya lokal untuk kegiatan mereka. Dari sisi bisnis dan aset pertunjukan, misalnya tata lampu dan sound system dan tenaga pendukung pertunjukan memang banyak tenaga kita dilibatkan. Namun tidak halnya dalam hal knowledge transfer. Alangkah pun demikian bukan kecil kemungkinan dengan semakin terbukanya dunia dan juga mungkin sejalan dengan perkembangan ekonomi Indonesia, kita akan perlahan bergerak menjadi pasar yang semakin menggiurkan dan bukan tidak mungkin akan menjadi target utama komersialisasi musik dari luar negeri.

Artikel ini bukanlah menantang fenomena globalisasi dan komersialisasi pada musik, namun pada kecakapan kita melihat fenomena seni yang terjadi. Singapura sebagai salah satu negara yang mempunyai program advokasi kuat untuk seni di Asia Tenggara pun saat ini kekurangan suplai seniman untuk menggerakkan roda seni mereka. Alhasil mereka pun banyak mengimpor seniman maupun kegiatan dari luar Singapura dan mengadakannya di sana. Salah satu contohnya: Singapore Symphony Orchestra yang saat ini banyak didukung musisi-musisi Tiongkok untuk menjadi bagian dari pemain tetap mereka. Mereka pun kini dengan rutin mengimpor berbagai pertunjukan drama musikal Amerika untuk menyemarakkan kegiatan berkesenian mereka. Seni pertunjukan Indonesia seperti I la Galigo, Matah Ati pun juga menyicip panggung Singapura. Dan dengan strategi yang tepat, Singapura sebagai negara pendatang mampu memantapkan diri sebagai sentra hiburan dan budaya di regio Asia Tenggara. Bahkan banyak yang merujuk bahwa untuk belajar seni pertunjukan adalah baik bisa belajar di Singapura.

Globalisasi memang tidak lagi dapat dipungkiri. Pertanyaan yang tepat bagi kita saat ini adalah bagaimana menyikapi globalisasi tersebut, mengambil pelajaran darinya dan kemudian mengembangkan diri dengan jati diri ke-Indonesia-an yang kuat. Bukan berarti ke-Indonesia-an harus menggadang-gadang seni tradisi Indonesia, namun bagaimana membentuk sebuah strategi budaya yang berpihak bagi perkebangan seni dan budaya lokal dan juga stakeholdernya dalam hal ini masyarakat. Apabila memang organisasi tersebut dapat memberikan sumbangsih yang nyata lewat kebijakan ketenagakerjaannya untuk perkembangan lokal, bukan hal yang mustahil organisasi ini bisa membawa dampak positif bagi perkembangan seni di mana ia hidup.

Di banyak industri lain, tampak memang bagaimana adanya regulasi untuk pemberdayaan lokal. Di dunia teknologi misalnya pengembangan sumberdaya manusia lokal didorong secara positif lewat Memorandum of Understanding tentang bagaimana knowledge transfer dan kuota ratio pekerja asing berbanding pekerja lokal. Banyak yang bahkan sudah dilakukan dan dibakukan. Di dunia perbankan, adalah wajib presiden direktur perusahaan perbankan tersebut mampu berbahasa Indonesia, dan secara statuta ia haruslah seorang warga negara Indonesia. Demikian juga dengan tenaga kerja. Beruntung di banyak bidang, tenaga kerja Indonesia masih dapat bersaing baik secara kualitas maupun secara harga dibandingkan dengan pekerja-pekerja asing sehingga penggunaan tenaga kerja asing bukanlah sebagai opsi yang umum diambil sebuah perusahaan bahkan penanaman modal asing. Regulasi lain dalam transaksi juga demikian. Di dunia IT, bahkan dalam jual beli haruslah ada keikutsertaan perusahaan lokal sebagai penyuplai perangkat untuk pembelian di Indonesia. Pemerintahan pun hanya akan bermitra dengan perusahaan lokal untuk melakukan bisnis dan kegiatan.

Kesimpulan

Pada dasarnya yang seharusnya menjadi perhatian adalah bagaimana tetap mempertahankan iklim berkesenian yang menekankan pada aspek kolaboratif dan pembelajaran bagi kedua pihak dalam kerjasama seni yang semakin mengglobal ini. Berbagai kegiatan musik klasik sebagai sentral di sini sebenarnya sudah dimulai dengan sangat baik dan kini menunjukkan perkembangan yang semakin kuat. Dalam bulan-bulan seperti saat ini adalah saat yang terbaik menilik kerja sama tersebut, dikarenakan bulan-bulan ini adalah bulan-bulan musim panas yang biasanya lebih leluasa untuk banyak seniman-seniman di belahan bumi utara.

Pertukaran pemikiran dan ilmu dalam dunia akademis hingga praktis seni pertunjukan haruslah juga menjadi sentral dalam pengembangan kemampuan musisi lokal selain juga dibarengi dengan knowledge transfer dan berbagi praktik dan penguasaan teknologi. Sedapat mungkin setiap penampilan musisi luar negeri diikuti dengan kesempatan untuk berkolaborasi dan menjadi sarana pertukaran budaya. Tidak lagi membahas musik klasik hanyalah punya orang Barat dan menekankan pada salah dan benar, namun juga kekayaan macam apa yang menjadi nilai tambah yang bisa diberikan oleh penggerak seni musik lokal untuk musik klasik itu. Katakanlah, bagaimana seorang pemusik Indonesia secara bertanggung jawab menginterpretasi karya komponis Barat 100 tahun yang lalu dengan tetap mempertahankan ke-Indonesia-annya.

Sejalan dengan itu juga harus semakin dipikirkan apakah perlu pemerintah Indonesia juga memperluas cakupan regulasi ketenagakerjaan kita untuk masuk ke ranah industri kreatif dalam negeri sehingga memastikan bahwa ketenagakerjaan kita terutama dari pelaku seni pertunjukan dapat terlindungi baik dari segi jumlah maupun juga dalam segi kualitas. Adalah sebuah omong kosong belaka apabila hanya mampu membanggakan sebuah ensembel yang dicap sebagai ikon seni pertunjukan nasional, namun sebenarnya didominasi pekerja seni asing dibandingkan dalam negeri.

Selain regulasi adalah baik juga bagi banyak seniman untuk mempertahankan sikap cameraderie yang saat ini sudah mulai tumbuh secara kuat dalam lingkaran musisi klasik Indonesia. Selain itu juga adalah penting bagi setiap musisi untuk terus mengembangkan diri apabila tidak ingin terlindas oleh datangnya tenaga kerja internasional yang suka atau tidak suka akan hadir di Indonesia. Sikap kompetitif sehat juga perlu dibangun secara sistematis agar juga muncul semangat pengembangan diri baik secara organisasi dengan mempromosikan human resource development sebagai salah satu fokus utama bagi para staf operasional maupun administrasi. Juga diberikan perhatian yang cukup bagi pengembangan tenaga pendidik kita. Masih banyak sekolah musik yang belum mengutamakan pengembangan diri tenaga pendidiknya sebagai indikator perkembangan sekolah. Dengan menjadikan ini sebagai KPI sekolah, pengembangan diri pun juga kemudian menjadi tanggung jawab manajemen dan personal dari staf pendidik.

Keunggulan bisa saja berbalik menjadi beban apabila tidak dapat disikapi secara bijaksana. Apa yang terbina baik pun harus tetap dihidupi dan dilihat kembali untuk tetap dapat mempertahankan nilai tambahnya. Tanpa itu, Indonesia yang baru berusia 70 tahun ini akan dengan mudahnya terlindas zaman.

Yang masuk banyak? Dengan pendekatan yang tepat kita tidak perlu khawatir.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: