Kabar Terkini

Titik Lepas Landas: Cantate Domino 3 Dekade


Usia 30 tahun dan terus meningkatkan prestasi dan kualitas memang bukan hal yang biasa untuk sebuah paduan suara yang dibentuk pertama sebagai wadah bernyanyi orang muda gereja. Malam ini Cantate Domino Choir merayakan tiga dekadenya dengan konser bertemakan “Journey of Faith” sebagai sebuah refleksi atas karya mereka berpaduan suara selama ini.

Cantate Domino Choir malam Minggu kemarin menampilkan 15 buah karya paduan suara yang dibagi dalam dua bagian besar. Di babak pertama konser, paduan suara ini menggali kekayaan karya-karya paduan suara sacra, yang menjadi satu kepakaran utama mereka sebagai sebuah paduan suara yang melayani di Gereja St. Stefanus, Cilandak, Jakarta. Di babak kedua giliran Cando, demikian paduan suara ini akrab disebut, menghangatkan panggung Usmar Ismail Hall dengan membawakan karya-karya profana.

Dipimpin oleh Edward John dan Sonia Nadya Simanjuntak, paduan suara ini menunjukkan ranahnya yang kuat dalam menginterpretasi karya-karya musik gerejawi. Dibuka dengan karya Eric Whitacre “I Thank You God for Most this Amazing Day”, “Ave Virgo Sanctissima” oleh David Azurza Aramburu, lalu dilanjutkan dengan karya “Geitlisches Lied Op.20” dari Johannes Brahms, “Hear My Prayer WoO 15” dari Felix Mendelssohn, “O Nata Lux” karya Guy Forbes dan kemudian ditutup dengan “O Salutaris Hostia” dari Eriks Esenvalds.IMG_1517

Cemerlang di karya-karya berbahasa Latin, Cantate Domino mampu menunjukkan kualitasnya sebagai paduan suara yang dewasa dan padat. Dengan proyeksi yang kuat dan padu, paduan suara ini mampu menunjukkan kematangannya baik dari segi teknik dan interpretasi. Sopran terdengar solid, sedang tenor terdengar cerah namun berkarakter yang berbalas dengan barisan bas yang cukup berisi. Alto sendiri meskipun sedikit ringan tetap mampu memberi warna yang cukup untuk paduan suara ini. Choral sound pun terbentuk dengan kepejalan namun tetap membuka ruang untuk ekpresi yang mampu dieksplorasi oleh paduan suara ini dengan baik.

Mungkin sedikit yang perlu diperhatikan adalah ketelitian intonasi untuk karya-karya penuh kromatis seperti karya Eric Whitacre yang membuka konser semalam dan karya-karya dari komponis romantik Jerman yang membutuhkan kontrol diksi yang luar biasa sembari dibarengi kemampuan membaca struktur dari bangun karya sehingga bentuk menjadi lebih jelas menjejak, terutama untuk karya-karya Brahms dan Mendelssohn. Akan tetapi, cukup mengejutkan bagaimana paduan suara ini mampu menguasai akustik auditorium Usmar Ismail yang tergolong kering dan telanjang tanpa banyak gaung yang mampu mempermanis suara.

Didukung oleh pianis Hazim Suhadi, Nesca Alma dan organis Antonius Arya Aditya lewat permainan kolaboratif mereka dalam beberapa karya, konser ini juga menampilkan soprano Indonesia yang kini berkarier di Belanda, Bernadeta Astari, yang semalam tampil dengan luar biasa indah dan mampu mengutarakan maksud dan arti lewat suara merdunya yang memenuhi ruang konser semalam. Pemenang dari Dutch Classical Talent Competition 2012 ini dengan penguasaan penuh pada instrumen vokalnya, menjadi bintang dalam pergelaran semalam lewat interpretasinya yang hidup untuk karya “Hear My Prayer” karya Mendelssohn yang mampu menyejukkan telinga dan menyentuh hati pendengarnya.IMG_1521

Babak kedua kemudian dibuka dengan dua karya dari guru dan murid, Charles Hubert Hastings Parry – sang guru – dengan karyanya “There Rolls the Deep” yang diambil dari puisi karya Lord Alfred Tennyson dan sang murid, Gustav Holst, dengan karya berjudul “I Love My Love” yang terinspirasi dari lagu rakyat Skotlandia. “Wedding Qawwali” dengan musik dari A.R. Rahman dan diaransemen oleh Ehtna Sperry, paduan suara pria yang solid mengambil tempat bersama perkusionis Tobias Ringga dan Janet untuk menyanyikan serta menarikan karya sufi India yang meriah ini dan diadaptasi untuk masik ke dalam musikal “Bombay Dreams”. Dibalut koreografi, percobaan Cando semalam tergolong sukses walaupun belum seluruhnya menguasai, namun mereka tampil dengan percaya diri dan menghibur.

IMG_1525Paduan suara wanita kemudian mengambil tempat dengan “Ode À la Musique” karya Emmanuel Chabrier, yang juga didukung solis Bernadeta Astari yang meskipun tidak dalam kondisi vokal yang prima tetap mampu menyajikan musik yang indah bersama. Tenor Rey Prodjomiseno kemudian tampil membawakan karya Lennon dan McCartney “Here, There and Everywhere”. Bernadeta Astari kemudian kembali tampil ke panggung dengan karya Guruh Soekarno Putra “Melati Suci” yang diaransemen oleh Fero Aldiansya. “Ritmo” karya Dan Davison kemudian menjadikan suasana hidup lewat permainan piano empat tangan Nesca dan Hazim dan keriuhan tepuk tangan berirama oleh anggota paduan suara.

Kepemimpinan dua orang konduktor yang berbagi repertoar semalam, Edward John dan Sonia Nadya Simanjuntak juga menandakan dua buah pendekatan yang berbeda dalam pengabaan. Sonia dengan pengabaan yang terlihat minimalis namun lentur, mampu mengundang para penyanyi untuk bernyanyi dengan lepas dan fleksibel, sedangkan John mampu mengembangkan keluwesan tutur lewat gerakannya yang menyapu seluruh paduan suara dan gerakan yang deskriptif pada paduan suara. Penggarapan acara juga lumayan tertata dengan pujian secara khusus diberikan untuk penyusunan buku acara yang sangat lengkap dan informatif yang layak menjadi buah tangan pulang dari konser, sebuah kerja balik layar yang mendetail yang seringkali terabaikan dalam penyelenggaraan konser di Jakarta.

Sebelum ditutup dengan dua buah encore akibat antusiasme penonton, konser pun akhirnya dirampungkan lewat karya Ronny Loppies “Jangan Undur-ee” yang juga menjadi harapan Cantate Domino terus berkarya dan lebih maju lagi. Tiga dekade tidak pernah merupakan perjalanan yang pendek, namun sesuatu yang dimahfumi oleh paduan suara ini bahwa perjalanan panjang untuk pencapaian artistik yang semakin baik masih menanti.

“Panggayo maju, lawang galombang, Toma, jangan undur-ee… “ Ayo kita maju, lawan gelombang, Ayo jangan mundurIMG_1526

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Titik Lepas Landas: Cantate Domino 3 Dekade

  1. sukses untuk cantate domine. “Jangan Undur ee”

  2. Terima kasih kembali, bung! Terima kasih pula karena lagu yang sangat hidup dan indah. Salam damai!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: