Kabar Terkini

Pernyataan Perdana Indonesian Youth Symphony Orchestra

Pertunjukan perdana IYSO tahun 2015 lalu

Permulaan sebuah orkestra selalu menarik untuk disimak. Selain karena lahirnya yang memang dinantikan oleh banyak pihak, terutama karena memang kebutuhan akan bentuk pertunjukan macam ini yang besar, peristiwa ini juga menjadi tumpuan harapan dan indikator pertumbuhan musikal maupun organisasional seni di mana orkestra ini tumbuh dan berkembang.

Malam ini di Taman Budaya Yogyakarta, Indonesian Youth Symphony Orchestra (IYSO) menandai keberadaan mereka untuk publik Jogja dan Indonesia lewat gala konser perdana mereka di hari Sabtu malam, 23 Agustus 2015 ini. Sudah setahun inisiatif orkestra pemuda Indonesia ini berkembang dan berbagai pertunjukan skala kecil menengah telah mereka lalui, tapi memang pertunjukan malam ini adalah pertunjukan besar pertama mereka yang didukung oleh berbagai musisi muda yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Setidaknya 4 kota terindentifikasi dari barisan pemainnya: Yogya, Jakarta, Bandung, dan Pontianak penulis temui.

Konser yang menjadi titik kulminasi IYSO Music Camp 2015 selama satu minggu kemarin ini dipimpin oleh direktur musik IYSO, Kanako Abe. Tampil dengan maskulin, konduktor wanita ini memimpin orkestra ini dengan penuh semangat yang direspon juga dengan semangat yang serupa dari orkestra yang digawangi musisi-musisi di bawah usia 27 tahun ini. Sungguh jiwa mudalah yang mewarnai permainan orkestra festival ini yang bergabung untuk belajar, bermusik dan berbagi bersama untuk pertunjukan kali ini.

Memainkan tiga karya di babak pertama, “Finlandia Op.26” karya Jean Sibelius didapuk menjadi karya pertama pembuka konser malam ini. Bertemakan nasionalisme, karya yang ditulis komponis asal Finlandia ini mengandalkan warna besar orkestra romantik dengan warna tiup logam yang berbobot dan gesek yang padu dan tambun yang secara menarik mampu diwujudkan oleh seksi gesek dan tiup malam itu. Diapit bagian yang cepat dan bertenaga terbitlah sebuah himne di bagian tengah karya ini yang memiliki garis melodi yang panjang dan khidmat yang sayangnya dieksekusi agak terburu-buru. Tetapi api cinta tanah air dari seorang Sibelius yang walau menulis karya dalam bingkai komposisi simfonik Austro-Jerman, tetap dihadirkan secara paripurna oleh orkestra ini.IMG_1581

Dua karya berikutnya adalah karya komposisi baru dari dua komponis muda Indonesia Migi Parahita dan Julius Catra Henakin. “Introduction & Fugatto Expressivo” karya Julius Catra Henakin dibentuk atas perkembangan motivik yang didahului dengan hiasan nada-nada melodi di register tinggi biola satu yang menyanyi indah namun membutuhkan ketepatan eksekusi yang tinggi sedang tiup logam seperti trompet dan french horn membahana yang kadang bergurau. Pengembangan motif dari Catra berawal dari tema layaknya tema sebuah chorale di horn dengan kemudian satu demi satu lapisan orkestra terbentuk membungkus keseluruhan musik. Menarik bagaimana orkestrasi yang digunakan oleh Catra dikembangkan berdasarkan konsep abad-19 akhir yang mengingatkan penulis akan orkestrasi Max Reger dan Erich Korngold dan sepintas bak komponis musik film John Williams yang gemar menggunakan brass dalam orkestrasinya yang berhasil ditampilkan megah oleh barisan tiup logam IYSO.

Hanya saja nampaknya keterburu-buruan juga menjadi persoalan dalam karya premier dunia ini yang seakan tidak sempat mengendap dalam nuansa yang tercipta, gurauan musikalnya pun semestinya mampu digarap secara lebih spontan yang mampu ditangkap penonton. Catra juga telah secara eksplisit menempatkan progresi harmoni yang bergerak secara periodik sebagai dorongan pergerakan karya hingga mencapai klimaksnya di bagian akhir.  Namun demikian, rasanya perubahan warna dan keajaiban progresi harmoni tersebut tidak sepenuhnya disadari oleh pemain sehingga permainan lebih tersentral pada pola bertanya jawab tema yang berpindah dari satu instrumen ke instrumen yang lain tanpa arahan musikal yang eksplisit.

Karya berikutnya oleh Migi Parahita “Mery dan Leak” yang merupakan premier karya ini dalam format simfonik setelah sebelumnya digubah dalam format musik kamar. Dibandingkan karyanya dalam format musik kamar, komposisi yang bercorak pentatonis ini selain semakin berkembang dalam hal format dan jumlah pemain, juga berkembang dari sisi warna.  Penulis sendiri terlibat sebagai konduktordalam premier dunia karya ini dalam formatnya yang asli, dan merasakan bahwa karya ini terasa semakin kaya dan menampakkan cirinya sebagai karya programatik yang kuat dan melodi yang berkesan dan semakin serupa dengan musik film yang mengundang imajinasi. Migi pun sedikit memberi sentuhan yang berbeda pada pengembangan bagian tengah karya ini sehingga secara struktur komposisi terasa lebih kokoh dengan tetap mempertahankan aspek keanggunan, keceriaan dan drama.

IYSO pun mampu membangun nuansa dengan sangat apik di awal karya ini dengan garis melodi yang membuai dan menyanyi indah. Namun sayangnya di bagian tengah, tampak bahwa pemain sedikit kehilangan arah interpretasi, ketika memasuki permainan pola-pola musik yang harus saling bertanya jawab dalam disonansi, padahal bagian inilah yang menjadi sentral karya ini. Alhasil nuansa indah Mery yang tergambar lewat tutur musik di awal seakan sirna tanpa jejak, kisah kedatangan Leak dan momen-momen menegangkan setelahnya seakan lenyap tak tersampaikan. Padahal karya ini merupakan karya yang cukup manis untuk dicerna dan dirasakan.

Bagian kedua konser, Kanako Abe kembali ke podium dengan membawakan karya Antonin Dvorak dengan karya simfoninya yang paling populer, Symphony No.9 Op.95 “From the New World” yang dirampungkan sang komponis Ceko dalam perjalanan karirnya ke Dunia Baru. Meski didapuk banyak orang sebagai karya bernafaskan musik Indian dan kaum Afrika Amerika, karya ini dalam warna musik, ritme dan melodi merupakan refleksi Dvorak akan kekayaan musikal negeri asalnya yang ia tinggalkan, memandangnya dengan kacamata seorang ekspatriat. Alhasil banyak elemen pentatonik, ritme tari-tarian Eropa Tengah dan melodi-melodi bernafas pastoral menghiasi hampir keseluruhan karya ini. Tidak heran karya ini menjadi favorit banyak pencinta musik klasik.Indonesia Youth Symphony Orchestra

Lagi-lagi semangat membahana bersama Kanako berbuah dalam permainan yang cepat dan bahkan cenderung berlarian. Tetarian yang kental dalam karya ini dilibas dengan cepat, sehingga irama tari-tarian dan keringkasan ritmis seringkali kehilangan tajinya yang sangat sentral untuk karya ini, terutama di bagian pertama, ketiga dan keempat. Namun demikian, bagian kedua yang berhiaskan melodi indah berhasil dipadu dengan baik. Permainan 63 musisi muda terasa spontan dan sigap, walaupun seharusnya semua bisa bermain lebih lepas dan tidak terengah-engah. Pemain pun sesungguhnya dapat lebih menyadari pentingnya nafas frase musik yang menjadi sentral karya-karya ini. Sehela nafas mampu menciptakan keajaiban dalam simfoni yang membaurkan tema-tema yang menyanyi indah, dan bahkan mengawinkan satu dengan yang lain dengan beragam suasana. Bobot pun dapat lebih diciptakan dalam karya ini untuk membangun kontras yang lebih kaya, selain presisi yang dapat lebih tergarap terutama di bagian-bagian akhir karya.

Kanako Abe sebagai konduktor asal Jepang yang kini berkarir di Prancis tampil dengan kepemimpinan yang luar biasa, lebih-lebih untuk menganyam orkes festival ini menjadi kesatuan utuh. Ayunan batonnya seakan bertenaga penuh dan memberi instruksi dalam ketepatan. Alangkahpun demikian, Kanako nampak tidak banyak menggali kekayaan warna dari orkes yang sebenarnya mampu mewujudkan warna-warna tersebut dalam keleluasaan frase musik. Akibatnya meskipun lumayan presisi, pemain terasa tidak sepenuhnya saling mendengarkan satu dengan yang lain dan merespon kalimat musik yang terlontar oleh kolega mereka masing-masing terutama di tiup kayu, pun tempo yang menuntut dan cenderun cepat malah menyebabkan musik tidak sepenuhnya bernafas dan memberi waktu bagi akustik ruangan Aula Konser Taman Budaya Yogyakarta ini merespon musik yang ditawarkan oleh para pemain.

Pagelaran ini adalah yang perdana bagi orkes pemuda Indonesia. Sudah sekian lama Indonesia kehilangan figur sebuah kelompok orkestra pemuda yang inklusif untuk musisi muda dari berbagai kelompok dan asal daerah dan yang berkomitmen mengembangkan diri lewat permainan musik orkestral karya-karya standar dan karya musik baru Indonesia. Indonesian Youth Symphony Orchestra yang walaupun baru temu bermusik bersama selama seminggu ini telah memulai perjalanannya ke depan dan kehadiran orkestra yang berani membawa nama kebangsaan secara berkualitas agaknya membawa angin segar di tengah-tengah dunia musik Indonesia saat ini. Konduktor senior Budi Utomo Prabowo mengatakan, “Yang penting, kan, prosesnya.” Dan sungguh, inti konser ini adalah sebuah pelaporan akan proses tersebut. IYSO telah berbuat, dan baiklah adanya.

 

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: