Kabar Terkini

Theremin, Alat Musik Misterius Memesona

Moog Theremin yang muncul di pasaran

Pada malam acara resital musik kamar yang diselenggarakan oleh sekolah tempat saya kuliah, saya bersama rekan-rekan saya memainkan akor terakhir dari Piano Quartet karya Bohuslav Martinů (1890-1959). Penonton bertepuk tangan dengan riuh dan kami membungkuk dengan senyum lega dan penuh kepuasan hati. Malam tersebut adalah malam pertama saya memainkan karya Martinů, komponis asli Bohemia (sekarang negara Ceko) yang terkenal dengan gaya neoklasik dan obsesi pada penempatan ketukan aksen yang sering kali bergeser sehingga musik sulit ditebak namun memberikan efek yang menggairahkan.

Sepulangnya dari konser dan dengan adrenalin yang masih terus mengalir dalam tubuh, iseng sendiri saya menelusuri Spotify, layanan musik berbasis web, untuk mencari karya-karya musik kamar Martinů lainnya. Dengan rasa penasaran yang mendalam, tertemukan satu lagu berjudul Fantasia untuk alat musik theremin, oboe, kuartet gesek dan piano. Awalnya saya heran dengan nama “theremin” itu. Dikiranya alat musik tradisional Eropa Tengah sejenis cimbalom atau mungkin instrumen keyboard yang kurang dikenal. Alangkah salahnya saya! Pada menit yang pertama, saya mendengar dengungan tinggi yang mirip suara manusia, tetapi lebih kalis, seperti logam yang baru dipoles, seolah berasal dari dunia yang lain.

Apa sebenarnya theremin itu?

Theremin adalah alat musik elektronik yang ditemukan pada tahun 1920an oleh seorang ilmuwan asal Rusia bernama Lev Sergeyevich Termen (1896-1993), juga dikenal di dunia barat sebagai Léon Theremin. Prinsip pengoperasian theremin sangat menarik. Alat musik tersebut dimainkan tanpa kontak fisik sama sekali dan bergantung pada manipulasi medan magnet yang dipancarkan oleh dua antena yang terhubung dengan alat. Masing-masing antena mengontrol tinggi rendahnya nada dan volume suara atau amplitudo, dan keduanya dapat dimanipulasi dengan menggerakkan tangan mendekati atau menjauhi antena. Gerakan tangan tersebut menginterupsi medan magnet yang kemudian ditangkap oleh sirkuit-sirkuit pada theremin dan hasilnya sinyal elektronik tersebut diubah menjadi sinyal suara yang disalurkan ke speaker.

Theremin generasi pertama dengan Léon Theremin

Theremin generasi pertama bersama Léon Theremin

Semua orang bisa bermain theremin, tetapi untuk menguasai teknik bermain theremin membutuhkan waktu yang tidak singkat. Saya sendiri belum ada kesempatan untuk bermain alat musik misterius memesona itu, tetapi setelah menonton banyak video permainan theremin, saya tidak bisa membayangkan betapa sulitnya memainkan tangga nada tanpa adanya umpan balik secara fisik seperti tuts pada piano atau fingerboard pada biola. Sepertinya adalah suatu keharusan bagi pemain theremin untuk memiliki perfect pitch atau kemampuan untuk mengetahui nada tanpa alat bantu apapun. Atau paling kurang memiliki relative pitch, kemampuan untuk mengetahui interval antar nada, yang sangat kuat.

Dan untuk belajar theremin dan mencari guru yang mau mengajar tidaklah mudah. Hingga sekarang hanya ada satu buku metode yang berisikan latihan penjarian dan etude khusus untuk themerin yang baru terpublikasi. Dan sayangnya, jumlah guru theremin yang berkompeten juga tidak banyak. Pemain theremin yang merekam Fantasia yang saya dengar pada malam itu kebetulan adalah seorang pedagog ternama dan paling dicari bernama Lydia Kavina. Ia sendiri diajar oleh Léon Theremin dan menghasilkan pemain-pemain theremin sudah meraih banyak penghargaan dan berkolaborasi dengan orkes-orkes besar di berbagai penjuru dunia. Untuk berguru pada pemain-pemain tersebut, siapkan banyak uang karena biaya les berkisar antara 50€ hingga 100€ persekali pertemuan, dan banyak antara mereka bermukim di Eropa.

Repertoire musik klasik untuk theremin sayangnya tidak begitu banyak. Setelah Martinů menulis Fantasia, dia berkeinginan untuk berkolaborasi bersama Léon Theremin untuk membuat karya-karya baru dan untuk memperbarui alat musik thereminnya. Namun Theremin lenyap dari rumahnya di New York, Amerika Serikat, pada tahun 1938, dan kabarnya dia diculik oleh agen-agen Soviet ke Rusia dan dimasukkan ke dalam penjara dengan hukuman kerja paksa. Kita tidak tahu dengan pasti kebenaran dari berita tersebut, tetapi selama ia di Uni Soviet, banyak penggemar theremin yang merakit dan mengembangkan alat musik sehingga bisa diproduksi secara massal dan murah. Salah satu di antara para penggemar tersebut bernama Robert Moog (1934-2005) yang kemudian mendirikan perusahaan alat musik elektronik dengan nama Moog Music yang sekarang menjual produk theremin dalam segala model dan bentuk.

Moog Theremin yang muncul di pasaran

Moog Theremin yang muncul di pasaran

Selain Fantasia, lagu-lagu untuk theremin yang saya rekomendasikan aransemen lagu “The Swan” dari Le carnaval des animaux karya Camille Saint-Saëns yang dimainkan oleh Clara Rockmore; “Spellbound” Concerto karya komponis asal Hongaria Miklós Rózsa, Mesopotamia Symphony karya komponis asal Turki Fazıl Say, Sonata untuk Theremin dan Piano karya Christopher Tarnow. Semua karya yang saya sebutkan bisa dinikmati lewat playlist di bawah ini:

Di Indonesia sudah ada beberapa orang yang memiliki dan bermain theremin sebagai hobi. Untuk membeli perangkat theremin yang bisa dirakit sendiri dengan harga yang cukup terjangkau. Model dasar Moog Music Etherwave Theremin bisa dibeli dengan harga kurang lebih $400 di pasaran, belum termasuk amplifier untuk produksi suara. Dan sebenarnya saya memang ada keinginan untuk komponis-komponis muda Indonesia untuk memanfaatkan alat-alat musik berbasis elektronik karena suara yang dihasilkan sangat beragam dan sekaligus memberikan warna yang unik dan menarik. Dan kalau memang tidak ada keinginan untuk mendalami ilmu theremin dan hanya mau iseng saja, mungkin theremin bisa digunakan untuk menakuti anak tetangga atau mengusir kucing liar yang suka bising di plafon.

About Hazim Suhadi (12 Articles)
I'm a classical pianist, but in my spare time I'd like to do things that musicians don't normally do, like rock climbing in the highlands of Dieng or eating at kaki-lima by the dusty streets saturated with commuters. I enjoy a drink or two with good company. So hit me up!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: