Kabar Terkini

Duo Schoko, Buah Tangan dari Jerman


Kemacetan yang kerap terjadi tiap Jumat di Jakarta tidak menyurutkan semangat pecinta musik klasik untuk menembus bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jumat, 21 Agustus 2015, Balai Resital Kertanegara cukup ramai dihadiri penonton yang penasaran akan musik yang disajikan Duo Schoko. Sepertinya publik memang jarang menyaksikan duet biola dan gitar klasik di atas panggung, dan faktor rasa penasaran tersebut cukup ampuh menyedot massa.

Pukul tujuh malam, penonton sudah cukup ramai di dalam auditorium dengan desain yang artistik itu. Warna putih gading memberikan kesan sederhana namun elegan. Dua piano diletakkan di ujung-ujung panggung. Panggung masih kosong. Sejurus kemudian, dua pemuda kalem usia dua puluhan memasuki panggung. Dan, BAM..! Musik rancak khas tarian Spanyol seketika menghentak seisi ruangan! Diambil dari opera La Vida Breve karya Manuel De Falla, Spanish Dance No. 1 menjadi nomor pembuka malam itu. Empat menit penuh atraksi, terutama bagian violin yang diaransemen Kreisler, membuat seisi auditorium terkagum-kagum. Sang gitaris pun tak kalah bersinar. Sebagai penjaga ritme, ia mampu mengikuti sekaligus mengarahkan rekan panggungnya. Sekadar catatan, ia sendiri yang memindahkan seluruh orkestrasi opera tersebut ke dalam sebuah instrumen tunggal miliknya. Kekompakan keduanya pun luar biasa, dan mereka tampil dengan bahasa yang sama, nafas yang sama, gairah yang sama. Ganjarannya sangat setimpal: tepuk tangan penonton yang membahana!

PicsArt (5)

Adalah Giovani Biga dan Theduoardo Prasetyo, dua mahasiswa musik Indonesia yang sedang menempuh studi di Hochscule fur Musik Detmold, Jerman, yang membentuk Duo Schoko ini. Meskipun konser ini baru merupakan konser kedua mereka, publik sudah tidak terlalu asing lagi dengan kedua nama tersebut. Biga dan Thedo sama-sama sudah cukup dikenal melalui aktivitas mereka di Twilite Youth Orchestra, dengan Biga memainkan violin dan Thedo memainkan cello. Kedua sahabat ini kemudian sama-sama meneruskan pendidikan musik di tempat yang sama, bahkan berbagi kamar yang sama juga di sana! Banyaknya simpul-simpul ikatan seperti itu tentu menguntungkan mereka dalam berkolaborasi, karena terkadang apa yang tak terucap oleh mulut tetap dapat terasa oleh hati. Dan itu jelas terlihat dari penampilan mereka.

Setelah menaikkan adrenalin penonton, duo ini kembali ke khitahnya dengan memainkan karya para virtuoso violin, Niccolo Paganini dan Antonio Vivaldi. Saat memainkan Sonata Concertata untuk violin dan gitar karya Paganini, terlihat mereka berdua saling mengisi satu sama lain. Gitar pun mendapat porsi yang sama besar, mengingat Paganini juga sebenarnya seorang gitaris. Tanya-jawab dan pembagian peran terdengar jelas, meskipun terkadang proyeksi suara gitar sedikit tertutup violin. Beberapa kali suara trill gitar juga tidak sampai ke telinga penonton barisan belakang. Mikrofon yang diletakkan di depan gitar rupanya masih kurang maksimal menyeimbangkan suara yang dihasilkan kedua instrumen ini. Meskipun demikian, mereka tetap berusaha menghadirkan suasana berbeda di ketiga bagiannya – ceria dan semangat, ekspresif, serta jenaka.

Babak pertama ditutup dengan Violin Sonata Opus 2 No. 2 dari Vivaldi. Di sini violin menjadi sorotan utama, sementara gitar lebih berfungsi sebagai pengiring menggantikan peran harpsichord. Tantangan teknik dapat dijawab dengan sangat baik oleh duo ini. Semua passage sulit – terutama pada bagian ketiga – dapat dimainkan dengan mudah dan indah.

Babak kedua terasa lebih menyenangkan. Biga dan Thedo tampil lebih lepas, sangat menikmati penampilan mereka sendiri, sehingga penonton pun menjadi ikut terbawa suasana. Repertoire modern menjadi pilihan mereka. Sebagai kaum muda, tentu karya-karya abad 20 lebih dekat dengan jiwa duo ini. Memang menjadi tantangan tersendiri bagi para musisi klasik, bagaimana dapat melestarikan musik karya para empu tanpa tercerabut dari akar generasinya sendiri sehingga tidak kehilangan relevansi terhadap masa ia hidup.

Karya Maximo Diego Pujol, Suite Buenos Aires, dipilih menjadi pembuka babak kedua. Karya ini kental dengan nuansa tango Argentina dan cukup terasa pengaruh dari Piazzolla. Terbagi dalam empat bagian yang merujuk pada kota-kota di Argentina – Pompeya, Palermo, Santelmo, Microcentro – duo ini seakan mengajak kita bertualang menyinggahi masing-masing kota dengan segala keunikannya. Thedo tampil trengginas, begitu juga Biga.

Di karya berikutnya, Thedo sekali lagi menunjukkan bakatnya sebagai aransir muda masa depan Indonesia. Sebuah nomor standar jazz, untuk dimainkan dalam format standar band jazz, diaransemen olehnya untuk gitar dan violin. Blue Rondo Ala Turk karya Dave Bruebeck menjadi ajang unjuk kebolehan duo ini. Ritme rumit yang berubah-ubah dan asimetris tidak menjadi kesulitan bagi mereka.

Duo Schoko menutup konser malam itu dengan memainkan 3 dari 4 bagian Histoire Du Tango Astor Piazzolla, cukup mampu membuat penonton mengetahui sejarah perkembangan tango dari waktu ke waktu. Meskipun telah sering sekali kita dengar dalam berbagai macam versi, tetap saja selalu menyenangkan mendengarkan karya ini dibawakan. Senyum langsung tersungging saat Biga memainkan intro Bordello 1900 dengan genit. Sementara itu, Cafe 1930 sepertinya menjadi perlambang nostalgia masing-masing penonton yang hadir malam itu. Thedo mengawali dengan petikan gitar yang berwibawa, seakan sedang menuturkan kegetiran hidupnya kepada khalayak. Dan begitu Biga menggesek not e pertama, meneteslah air yang sudah di pelupuk mata. Gesekan yang sangat menyayat hati, dan duo ini bisa mengaduk-aduk emosi penonton, terutama berkat nafas musikalnya. Diakhiri dengan Nightclub 1960 yang lebih dinamis dan mulai ada pengaruh bossanova dari Brazil, duo ini tampil sangat maksimal. Penonton tak rela melepas mereka ke belakang panggung, sehingga mereka kembali memainkan Blue Rondo Ala Turk sebagai tambahan. Ibarat diberi hati minta jantung, Duo Schoko kembali didaulat untuk memberi encore. Akhirnya, mereka memainkan sebuah lagu aransemen Thedo yang tentu sudah akrab di telinga semua penonton, Indonesia Pusaka. Lengkaplah sudah keharuan malam itu, dua pemuda Indonesia yang belajar musik barat di negara barat tetap tidak melupakan kampung halamannya sendiri tempat akhir mereka menutup mata. Semoga.

IMG_1041

Konser malam itu tergolong sukses; selain karena penampilan mereka yang prima juga karena pemilihan dan penyusunan program yang berorientasi kepada penonton. Mereka juga memberi penjelasan singkat tentang karya yang akan mereka mainkan berikutnya. Thedo berperan sangat baik sebagai juru bicara duo ini. Sementara itu, Biga bisa lebih mengembangkan lagi kemampuannya berbicara di depan umum. Gesture tubuh saat tidak bermain pun dapat lebih dimatangkan lagi. Terlepas dari catatan-catatan kecil tersebut, duo ini memiliki masa depan yang sangat cerah. Sesuai namanya, Schoko, yang berarti Cokelat, mereka memang memiliki faktor ketersukaan yang cukup tinggi, sama seperti cokelat yang juga disenangi banyak orang. Dan semoga rasa manis itu dapat membawa suka cita bagi bangsa ini suatu hari nanti. (tim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: