Kabar Terkini

Janji Berujung Ingkar, Lahirnya Toba


Legenda menjadi sarana bagi banyak masyarakat menghubungkan diri mereka dengan berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya. Kisah pun diangkat, diutarakan dan disampaikan turun-temurun, menjadi narasi peristiwa ataupun kenyataan. Fakta kemudian berbaur dalam opini dan beragam interpretasi yang bisa jadi mengaburkan namun seringkali malah memperkaya dan mengajar mereka yang bersentuhan dengannya.

Janji Toba adalah kisah watak manusia yang berbaur dalam sebuah naratif terbentuknya fenomena alam Danau Toba, danau yang terbesar di Asia Tenggara. Kisah yang terutama mengisahkan seluk-beluk hati manusia, pertentangan dan harga diri menjadi sebuah sarana yang merasuk di kehidupan masyarakat Batak Toba yang penghidupannya berputar di sekeliling penanda alam yang dikenal indah dan megah ini. Kisah kemanusiaan ini bukan hanya dibawakan oleh seniman yang berdarah Tapanuli tapi oleh seniman-seniman dari penjuru Indonesia, bukti bahwa kearifan lokal ini juga merupakan aset bangsa sebagaimana disampaikan Promotor Ella Meigita dari Banyuwening Production dan Indro Warkop yang menjadi pendukung acara ini.

IMG_1660Mengangkat kisah tragedi cinta di mana Toba yang diperankan oleh Anggiyatma Tobing jatuh cinta pada seorang gadis cantik Tiomasna yang ternyata berasal-usul seekor ikan. Sebuah janji diucapkan sebagai syarat dari Tiomasna yang diperankan oleh Cindy Carolina Sibarani untuk mau menikahi Toba, agar tidak pernah disampaikan ke khalayak termasuk anaknya sendiri bahwa ia adalah seekor ikan. Waktu pun berjalan, alih-alih dari mulut Toba sendiri akhirnya dalam keadaan marah terucap kepada anaknya, Samosir, yang sempat berbuat salah, “Dasar anak ikan!!”  yang kemudian menjungkirbalikkan dunia di mana mereka tinggal. Sang ibu, Tiomasna, beranjak meninggalkan Toba dan dari jejak kakinya lahirlah sumber mata air yang makin meluas menjadi Danau Toba yang kita kenal menelan penduduk desa, sedang Samosir terdampar di pulau di tengah danau, yang kini kita kenal sebagai Pulau Samosir.

Mimpi bahwa menyajikan kisah dalam lingkup tradisi secara menarik dan modern menjadi kenyataan. Digarap oleh sutradara Paulus Simangunsong dan didukung oleh direktur musik sekaligus komponis Viky Sianipar, drama musikal ini mengetengahkan permainan set yang cenderung tidak banyak bergerak. Lakon pun berkisar di satu tempat dan tidak banyak beranjak namun dibalut permainan warna tata cahaya menarik yang digarap oleh Gatot Rahmadi.

Pertunjukan yang juga didukung oleh Rony Dozer, Indro Warkop, Borris Thompson Manullang dan Gita Bhebhita yang memberi kesan jenaka dan spontan dalam lakon satu babak ini. Manahan tampil dengan begitu berkarakter dan memberi kesan mendalam lewat perannya sebagai Ompu Tongam. Sedang Cindy sebagai Tiomasna mampu mempesona penonton. Naomi Br. Lumban Gaol, Derry Oktami dan Imanuel Tobing mengambil peranan yang cukup signifikan sebagai Dameria, Moan dan Samosir sang anak.Janji Toba

Musik yang digarap langsung oleh Viky Sianipar di atas podium Teater Ciputra Artpreneur dengan menarik. Duabelas nomor lagu dimainkan dan dinyanyikan. Walaupun secara keseluruhan banyak mengandalkan sequencer dari sisi musik pengiring sembari didukung permainan ensembel gesek, seksi rhythm, perkusi dan keyboard live di pit, keseluruhan kast berusaha untuk membawakan musik secara kuat dengan nyanyian live. Walaupun musik yang digarap menarik dan memberi suasan secara mendetail pada setiap adegan, namun suara dari sequencer sepertinya mendominasi musik sehingga terasa tebal dan penuh, padahal pemain maupun instrumen yang dimainkan berjumlah sedikit. Bahkan juga bagian chorus yang dinyanyikan juga mengandalkan sequencer. Sungguh rindu sebenarnya menyaksikan sebuah produksi drama musikal Indonesia yang sungguh mengandalkan musik hidup. Sepertinya penulis memang harus menunggu lebih lama untuk dapat merasakannya di tanah air.

Janji Toba6Dibalut dengan koreografi dari Dede Syahputra dan kostum Febrizal Ridwan, para penari mampu menarikan nomor-nomor dengan mengandalkan gerakan jazz ballet yang kental dan memberi warna bagi penataan panggung drama musikal yang tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang Tapanuli tapi juga orang Indonesia secara umum ini. Gerakan manortor kemudian dipadu dengan keluwesan langkah kaki dan lengan penari-penari ballet yang imajinatif.

Mengangkat kisah tradisi untuk drama musikal nampaknya sudah agak lama dirindukan semenjak kisah Sang Kuriang yang diangkat di Teater Jakarta beberapa tahun lalu. Baru seminggu yang lalu kita dihadapkan pada peristiwa pembatalan mendadak sepihak drama musikal tradisi Batak juga yang sedianya diadakan di Teater Jakarta. Dan untuk usaha yang berjalan lancar kali ini, usaha Banyu Wening lewat Janji Toba – The Musical dan seluruh pendukung produksi ini layak diapresiasi dan disaksikan bersama.

Janji Toba – The Musical digelar tanggal 29 Agustus 2015 di:
Ciputra Artpreneur, Jalan Professor Doktor Satrio Kav. 3-5, Ciputra World 1 Lantai 11, Setiabudi, Jakarta
Pertunjukan I : 15:00
Pertunjukan II: 20:00

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Penulis menyaksikan media preview 28 Agustus 2015 malam.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

9 Comments on Janji Berujung Ingkar, Lahirnya Toba

  1. Nice review. Time management yg kurang sehingga proses GR dan media preview harus berlangsung hingga dini hari. Ditambah juga berbagai permasalahan teknis baik dalam awal perencanaan pergelaran ini. Mulai dari penggarap musik yang semestinya oleh Tjut Njak Deviana Daoedsjah dan akhirnya digarap Viky (bukan Vicky) Sianipar, pemeran Toba yg tadinya ditunjuk untuk Bams Samsons, sampai beberapa insiden soal teknis di venue.
    Publik juga mengenal drama musikal Lutung Kasarung garapan alm. Didi Petet di tahun 2012 yg saya lihat musiknya dimainkan secara live.
    Penggunaan sequencer atau pre-recorded musik di Janji Toba ini lebih kepada upaya untuk mengamankan keseluruhan adegan agar padu bersama musiknya. Yah kita lihat saja nanti😉

    Bowie Djati
    (berkolaborasi dengan Viky Sianipar sejak 2002)

  2. Bener kata mas, perkusinya mantep… Hehehe I also heard first hand of persoalan musik itu dan kerumitannya dari Ella… Tapi ga berniat bahas itu dulu, yang pasti sekarang bentukannya hasil akhirnya bagus…!

  3. Joseph Ongkowijoyo // 29 Agustus 2015 pukul 11:59 am //

    Pemeran Toba yaitu Anggiyatma Tobing, Produser Vicky Sianipar

  4. belum tepat Joseph…🙂

  5. Memang nama “Viky” itu kurang populer dibanding “Vicky” sehingga rawan di soal pengejaan.
    Satu lagi kalau boleh share sedikit soal perpaduan sequencer dan live music. Drama musikal ini membutuhkan presisi yg luar biasa dalam perpaduan antara musik dan adegan. Makanya setiap musisi dibekali ear-piece sebagai monitor antara instrumen (dan dialog), serta instruksi dari Viky selaku pengarah terutama untuk ‘special effects’ di beberapa bagian tertentu.
    Namun kendala terbesar – makanya kata dialog saya masukkan kedalam kurung- karena ketika di adegan terakhir tatkala Samosir sadar dia keturunan ikan dan terjadi dialog saling tumpang tindih disertai teriakan2 dsb, membuat click track menjadi kabur dan susah didengar, terutama aba2 conductor. Disitu saya sempat bingung mencari clue dimana musik ini berjalan.
    Lagi2 kita harus belajar teknologi yg semakin kesini semakin berkembang😉

  6. kalo special effects saya tidak masalah mas Bowie, tapi lebih kepada apakah memang musisi kita belum memiliki kualitas yang cukup sebagai pemusik live yang mampu mengiringi pertunjukan? ataukah bayarannya terlalu mahal untuk bisa dapat musik live yang berkualitas? Atau memang idelisme konsep musik sang komponis terlalu tinggi sehingga tidak tepat dieksekusi ensemble nyaris double string quartet seperti kemarin? Yang bisa jadi tidak tepat. Padahal kalau dilihat di Barat sana, opera diiringi oleh musik live, di Indonesia juga sama sendratari wayang orang diiringi dengan musik live, sebagaimana banyak seni pertunjukan tradisi yang mengawinkan seni tari, tarik suara dan musik semua live… mmmm… Laskar pelangi pun juga demikian seingat saya juga dengan sequencer…

    Teknologi berkembang ya bagus apabila bisa digunakan dengan tepat guna, tapi ya lama-lama apa bedanya drama musikal dengan karaokean bareng selain tempatnya lebih luas? Dan peran musisi mau dikemanakan?

    Bisa jadi ini semuanya sangat kompleks… Kemarin saya menahan diri untuk tidak berkomentar peran Viky sebagai konduktor yang memang tidak dapat dibaca arahannya sekalipun oleh musisi dari broadway sekalipun yang secara praktek kondukting selama ini saya lihat sangat precise dan bersih…

  7. Mike, pucuk dicinta ulam tiba. Below here is the actual words from the MD himself, Viky Sianipar. But beforehand, I’d like to comment about a thing or two😉
    Concern yg Anda paparkan di atas mengingatkan saya pada posting lain Anda mengenai keprihatinan seorang pianis yg baru pulang dari belajar diluar, mengenai standard everything about classical music is cr*p. In some point I have to agree wirh that, and it also stands in other area like for example, this musical.
    Soal conducting, saya ada cerita. Di 301 Studios Sydney dimana bbrp komponis kita sering melakukan sesi rekaman bersama musisi Australia, kita sudah mafhum betapa sangat well trained nya mereka dengan click track dalam recording. Menurut orchestra contractor sekaligus concert master di orkestra tsb, klien Indonesia mereka ( dia tdk menyebut nama) menggunakan style conducting yg baku padahal sudah ada clicktrack. Para musisi sebenarnya tidak menyukai ini karena akan membingungkan mereka. Saran mereka gunakanlah aba2 yg simpel saja serta tetap mengacu pada tempo yg sudah ada pada ear monitor mereka, jangan bikin tempo sendiri.

    Okay sekarang Viky mau bicara, silakan Lae😉
    ========

    Keren liputannya. Detail banget. Seneng gue bacanya.

    Mengenai Sequencer, ini memang solusi “sementara” para Komposer, bahkan sekelas EG sekalipun. At least utk sedekade ke depan. Alasannya banyak. Beberapa diantaranya:
    1. Budget meffeet😄😄. Tapi banyak maunya.
    2. Waktu Produksi yg meffeet pula. Sehingga tidak memungkinkan utk Pemain Orkes “kelas indonesia” (maaf kalo terlalu jujur) mengikuti kualitas yg diinginkan komposer dalam hanya 3x latihan. Paling gak musti sebulan penuh. (Biayanya? Skejul padat pemain orkesnya? Dan belum tentu smua mau latihan panjang gitu-sudah survey)
    3. Kelengkapan peralatan pendukung sound sebenarnya siap, namun butuh waktu panjang utk set up, nambah sewa gedung, biayanya?
    4. Ruang music pit yg di beberapa gedung tdk memungkinkan utk orkes skala diatas 50an.
    5. Beberapa alat tradisional agak “tricky” utk dimainkan live bareng orkes. Sprt Sordam yg volume suaranya sangat lebut. Rawan feedback dan bocor ke mic instrumen lain. Krn ini bukan konser musik, kita haris mikirin hal lain juga sprt kualitas suara headset aktor tetep 1st priority. maka musik ngalah.

    Dan masih bnyk alasan lain yg kalo di ceritain kurang etis haha. Ya kita harus tetap terima kenyataan kondisi industri seni teater musikal Indonesia belum sehebat bule. Selain dananya besar, SDM musisi orkes class A nya buanyak (bahkan bersaing) di bule sana sekali produksi bisa utk puluhan show, bahkan ada yg ratusan. Shg biaya produksi jadi terasa murah. Kalo di kita, plg utk beberapa hari aja. (Udah hebat tuh biasanya sehari sprt janji toba)

    Yah kita doakan saja ya spy para promotor ga kapok utk terus bikin pertunjukan lagi. Secara mrk bikin ini bukan krn cari duit, tp krn passion dan keperdulian pada seni pertunjukan indonesia. Jd udah pasti rugi. Kita patut hargai berapapun dana yg disiapkannya. Serba salah ya hahaha. Mudah2an industrinya terus berkembang sehingga musiknya ga perlu sequencer lagi. Impian kita semua.

  8. Wah, terimakasih Bang Viky dan Mas Bowie sudah sharing kisah dan komentar di sini… Memang saya paham kenyataan yang ada, pasti berhubungan sama mepetnya budget, orang yang sedikit dan juga waktu latihan yang terbatas.
    Saya pribadi merasa pemain orkestra “kelas Indonesia” cukup baik untuk bisa bermain dengan kualitas yang OK untuk produksi macam ini, tapi memang saya akui tidak banyak jumlahnya. Dan sekalipun mereka jadwalnya ada, belum tentu mau bermain dalam proyekan drama musikal karena mereka mungkin cukup puritan dan maunya main klasik saja.
    Saya hendak menjawab dalam sebuah tulisan penuh pernyataan Abang dan Mas Bowie, sepertinya patut dikupas lebih mendalam… Salam sukses terus ya buat semua!

  9. Bowie Djati // 2 September 2015 pukul 1:37 pm //

    Thanks Mike

    Mengutip budayawan Umar Kayam, seni pertunjukan itu harus selalu diperbincangkan, harus selalu dipergunjingkan, agar selalu hidup.
    Mari kita diskusikan terus dalam berbagai sudut agar perspektif lebih utuh

1 Trackback / Pingback

  1. Praktek Sequencer, Praktek Abu-abu | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: