Kabar Terkini

Apa Respon Anda?

3d human with a red question mark

*Kisah nyata*

Apabila ada seorang musisi muda Indonesia yang baru menyelesaikan S2 piano performance di salah satu metropolitan dunia sedang pulang ke Indonesia lalu kemudian menyatakan:

“There is nothing here in Indonesia in terms of classical music, different from those in US. The standard here is also lower, it is not even equal to Japan.

Classical music in Indo is full of cr*p…”

Apa respon Anda?

Silakan isi kolom komentar untuk berbagi.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

10 Comments on Apa Respon Anda?

  1. Jujur gw sih ketika itu agak terusik dan sedikit tersinggung. Lalu mengatakan bahwa kondisi Indonesia berbeda dengan AS ataupun Eropa dan membandingkannya langsung satu dengan yang lain adalah kurang bijak. Gw yakin banyak penggerak musik di sini, termasuk saya, telah bekerja keras untuk memperbaiki dunia musik kita, terlepas bahwa ada juga segelintir oknum yang kontribusinya memang dipertanyakan.
    Tapi gw sendiri tetap membuka pintu blog A Musical Promenade yang independen untuknya mengelaborasi pernyataannya dalam tulisan agar argumennya dapat lebih jelas tersampaikan. Semoga ga salah ya jawaban gw.

  2. andreasarianto // 31 Agustus 2015 pukul 1:56 am //

    Hahaha, gramatika bahasa inggrisnya aja ngaco, gimana opininya bisa gue anggap sahih juga 😋

    Gue lumayan yakin semua orang yg pernah belajar di luar negeri dan kembali ke sini (dalam bidang apapun) akan punya pemikiran serupa walau gue lebih yakin lagi bahwa lebih banyak dari mereka ini akan mau beropini serupa. Kalau memang standarnya masih belum setaraf dengan negara lain, lantas kenapa? Beropini seperti itu ngga memberikan pemikiran baru bagi yang baca. Itu hampir menunjukan sama gak bergunanya orang yang berpendapat demikian susah-payah studi S2 (mau di negeri sendiri maupun di luar negeri) karena seyogyanya tujuan bikin tesis adalah mempertajam pemikiran analitis dalam mencari solusi bagi suatu masalah.

    Yah, tapi setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan kan, terutama biasanya di usia belianya. Jadi anulir saja opini2 semacam itu dan terus bekerja sebaiknya 😄

  3. andreasarianto // 31 Agustus 2015 pukul 1:58 am //

    Ralat paragraf 2:

    Gue lumayan yakin semua orang yg pernah belajar di luar negeri dan kembali ke sini (dalam bidang apapun) akan punya pemikiran serupa, walau gue lebih yakin lagi bahwa lebih banyak dari mereka ini gak akan mau beropini serupa

  4. Saya cukup prihatin bahwa pernyataan tersebut keluar dari mulut seorang anak bangsa.
    Saya hanya bisa berharap semoga musisi muda ini dapat memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini nantinya agar – yang menurut ybs – “full of cr*p” dapat berganti menjadi “full of …. (apa saja yang positif)”

    Sekian

  5. sedang pulang lalu menetap, atau sedang pulang sementara?

    sebenarnya kalau ada kasus begini kita diberi pilihan untuk tidak terlalu menanggapinya sih. soalnya banyak banget aspek yang bisa dibahas dari segi nasionalis, kepekaan sosial, kontekstual, dan filosofis.

    dan gue yakin setiap orang yang pernah studi di negara dunia pertama lalu tiba-tiba harus pulang ke negara dunia ketiga lagi (ya, persetan memang dengan klasifikasi itu), ya pasti akan banyak “mengeluh” di awal-awal karena memang fakta, apa yang bisa kita kerjakan secara cepat biasanya akan menjadi lamban saat kita aplikasikan di negeri tercinta kita ini. terutama di bidang perkembangan IT dan kesiapan mental terhadap efek globalisasi teknologi.

    btw, gue udah kelihatan pintar blom nulis panjang begini?

  6. Uda kok bong! Hehehe

  7. Kendala sih sebenarnya buat mereka ini, sebenarnya perlu ngliat wah di sini kayak gini, gw bisa buat apa ya di sini biar seperti di sana.. Mustinya melihat dengan kacamata melihat opportunity…

  8. Hi Mike,

    Pernyataan anak muda tersebut di atas sangat wajar, tapi mungkin cara menyampaikannya kurang bijak.

    Basis interest musik Indonesia berbeda dengan barat. Classical music bagi Indonesia masih barang ‘asing’ dan mungkin ‘mewah’ sehingga peminatnya juga masih kalangan tertentu dan relatif sedikit jumlahnya.

    Dan sentimen kontranya mungkin seperti: Untuk apa jauh-jauh ke US hanya untuk bisa memainkan karya Chopin atau Listz? trus, kalau udah bisa, so what?🙂 misalnya..

    Setuju dengan menciptakan opportunity, but don’t forget all the obstacles; seperti dana dan terutama membangun komunitas audiens.

    Salah satu kesempatan yang bisa dibuat untuk musik klasik (barat) di Indonesia adalah memberikan apa yang tidak ada di barat (Europe & US) dengan musik klasik.

    Kita tahu dilema musik klasik di Eropa, misal UK. Para musisi bekerja keras untuk memainkan komposisi lama (dari baroque sampai romantic) yang sudah seringkali dimainkan musisi lain bertahun-tahun, sampai berbagai kalangan audiens merasa bosan, bahkan dengan musik yang sudah diaransir berulang-ulang. Sementara audiens (dan para musisi) ‘agak’ menolak untuk mendengar musik baru, dengan genre Classical (seperti Contemporary Classical).

    Mungkin orang Indonesia lebih suka mendengar karya dari komposer dalam negeri, dan dengan begitu mungkin mereka akan perlahan menetapkan pilihannya pada musik klasik. Kalau beruntung, orang Eropa mungkin mau ke sini mendengar musik-musik klasik baru dari kita.

    Mereka sudah memulai dengan menampilkan karya Mozart dengan warna Jazz, ada juga musisi luar yang memainkan instrumen orkestra dengan iringan Gamelan, yang lebih dulu lagi ada “concerto for Piano and Javanese gamelan” dari Lou Harrison. Sekarang, kita bisa buat komposisi-komposisi baru, new music.

    Memikirkan hal-hal seperti ini lebih bijak ketimbang mengeluh, karena di indonesia.. kita tidak bisa berhenti mengeluh🙂

  9. Harimada Kusuma // 31 Agustus 2015 pukul 10:06 pm //

    Omong kosong! Saya sudah membuktikan bahwa standar musik (dan musisi) disini tidak kalah dengan Eropa, bahkan dalam beberapa aspek lebih baik! Dimana-mana pasti ada plus dan min nya… Tugas kita lah untuk membangun negri dengan pengalaman yang didapat di luar negri. Selama 12 tahun tinggal di Belanda tak pernah sekalipun saya punya pikiran seperti yang diungkapkan di atas ini..

  10. M Irvan Ginandjar // 1 September 2015 pukul 10:55 am //

    Terlepas semua jawaban2 bijak yang mungkin keluar dari mulut, yang muncul di benak saya pertama kali, “Manja bener sih ni anak”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: