Kabar Terkini

Berandai Kalau Sudah Dapat Subsidi?


Datangnya subsidi pemerintah di bidang seni bisa jadi merupakan kerinduan banyak pelaku seni di tanah air. Bilamana tidak, saat ini banyak usaha seni harus bertumpu pada kebaikan hati sektor swasta yang berminat menjadi sponsor ataupun donatur. Kehadiran pemerintah dalam bentuk kucuran dana dan subsidi didapuk sebagai hujan di tengah tanah tandus yang akan menjadi pendorong semakin suburnya berkesenian.

Nyatanya mendapat subsidi adalah sebuah pekerjaan berat tersendiri baik sebelum maupun sesudah mendapatkannya. Apa sajakah itu?

Proposal Pamungkas

Mari berasumsi bahwa sudah ada pos dana yang telah disediakan pemerintah untuk kepentingan berbagai komunitas dan dialokasikan langsung pada kelompok-kelompok seni. Bagaimana cara mendapatkan subsidi dari pos tersebut?

Setiap organisasi yang ingin menikmati subsidi haruslah menyusun sebuah proposal yang menarik akan seluk beluk organisasi, rencana kegiatan, pelaksanaan dan bahkan dampak organisasi secara umum kepada masyarakat.  Belum lagi harus disusunnya proposal rangkaian kegiatan yang akan dijalankan yang sedianya diterima, akan didukung oleh pemerintah. Pemerintah sebagai sebuah institusi pastinya ingin agar pencapaian dan target yang ia terima haruslah quantifiable sehingga memudahkan evaluasi akan keberhasilan pendanaan yang akan dialokasikan tersebut. Bagaikan proposal pengadaan berupa kontrak payung dalam pemerintahan, demikian juga organisasi seni harus mampu membuat rancangan minimal satu tahun kedepan beserta anggaran dan target-target untuk diserahkan untuk dievaluasi oleh pemerintah.

Pemerintah pun setelah menerima proposal tersebut seharusnya mampu menganalisa dan menentukan proposal mana yang patut untuk didukung. Jenis kegiatan apa yang menjadi fokus dan pemerintah harus mampu melihat apakah layak organisasi tersebut mendapatkan dukungan tertentu tersebut. Dalam hal ini, pemerintah harus memiliki pandangan pakar di bidang seni yang akan menilai proposal tersebut apakah feasibel dan dibuat dengan bertanggung jawab.

Sebenarnya di sinilah peran sentral Dewan Kesenian Daerah dalam menilai dan menentukan proposal tersebut layak didukung atau tidak, pun kalau didukung, didukung seberapa besar. Model ini yang diterapkan salah satunya oleh British Arts Council. Alhasil memang tidak seniman saja yang masuk dalam Dewan Kesenian ini tapi juga birokrat dan administratur yang berkepentingan. Tidak jarang ada pula pertimbangan politik yang harus dijelajahi di sini.

Patut diingat bahwa subsidi ini hadir lewat uang pajak yang dibayarkan masyarakat sehingga harus sungguh diberikan pada yang berhak. Banyak proposal yang akan diterima, banyak pula yang akan ditolak. Badan-badan seni yang sudah lebih mapan tentunya akan lebih mudah mendapatkan dukungan subsidi dibandingkan badan-badan kecil menengah yang baru merintis dikarenakan brand yang sudah mereka tanam sejak bertahun-tahun. Resiko pun bisa jadi lebih kecil apabila subsidi ditanamkan di badan seni yang sudah terpercaya dibandingkan di sebuah kelompok seni baru yang walaupun mungkin kebutuhan dananya kecil, tidak tentu lebih terpercaya dan terjamin kualitas dan konsistensinya dibandingkan yang besar.

Report dan Evaluasi

Setelah implementasi perencanaan usai, kini peer kembali hadir di tangan para penggerak organisasi seni. Mereka harus membuat laporan dan evaluasi akan kegiatan yang sudah diadakan sekaligus juga dengan kuantifikasi metrik yang telah disampaikan sebelumnya dalam penyampaian proposal.

Di banyak negara, evaluasi kuatitatif menjadi salah satu primadona dalam evaluasi dikarenakan evaluasi normatif sudah tidak lagi sesuai dan jelas. Misalnya sebuah organisasi seni rupa mengklaim bahwa kegiatan melukis ke sekolah-sekolah yang kebetulan disetujui untuk disubsidi oleh pemerintah setahun sebelumnya mampu meningkatkan kebahagiaan dan juga kecerdasan para siswa. Dalam evaluasi normatif, hanya tinggal “centang” dan tulis “done“, siswa lebih bahagia dan cerdas sudah tercapai. Saya yakin pembaca sebagai pribadi yang kritis kemudian akan bertanya, “Berhasil lebih bahagia dan cerdas bisa diketahui lewat apa?”. Demikian juga dengan pemerintah yang memberikan subsidi. Administratur subsidi tentunya akan bertanya, bagaimana Anda menjustifikasi klaim Anda. Akhirnya memang klaim tersebut harus diukur dengan metrik yang jelas, misalnya test IQ dan indeks kebahagiaan misalnya, agar tercantum dalam laporan.

Lagi-lagi ini menjadi polemik di banyak negara maju seperti Inggris, seperti dilansir oleh Mirza Munira, dalam artikel ini, dikarenakan metrik ini seringkali rumit dan tidak tentu berkorelasi dengan tepat. Belum lagi studi ini juga bukan studi yang tergolong murah apabila harus dilakukan oleh seluruh organisasi penerima subsidi.

Dalam pemerintahan apalagi berkenaan dengan membangun masyarakat lewat anggaran belanja negara maupun daerah, administratur dalam seni sekalipun akhirnya memilih untuk mencari opsi yang lebih aman. Statistik dan angka akan memberikan gambaran yang lebih meyakinkan dan terlihat baik. Klaim pun terlihat lebih jelas dengan evaluasi kesuksesan program tersubsidi pun dapat dibaca dan disimpulkan dengan lebih mudah. Organisasi yang melaporkan dengan jelas dan terperinci tentunya akan mendapat nilai plus untuk mendapatkan subsidi di periode berikutnya. Akhirnya banyak organisasi berlomba-lomba menghadirkan studi kuantitatif yang meyakinkan yang akhirnya malah menghabiskan banyak sumberdaya dibanding kegiatan utama mereka di bidang seni. Sebuah permasalahan yang tetap harus dijawab oleh administratur maupun organisasi seni masyarakat.

Belum lagi dalam seni, ada permasalahan nilai estetika yang masuk dalam penilaian. Seakan mudah cara kuantitatif apabila disebutkan target sebuah organisasi seni pertunjukan sendratari menyelenggarakan 10 buah pertunjukan sendratari. Nah, pertanyaan berikutnya yang muncul adalah kualitas macam apa saja dari 10 buah pertunjukan yang ditampilkan ini? Kualitas 10 pertunjukan seadanya dan disubsidi 4 miliar rupiah misalnya, bisa jadi bisa digunakan organisasi lain untuk menyelenggarakan 10 pertunjukan yang lebih berkualitas dengan subsidi juga 4 miliar. Lalu pertunjukan kualitas macam apa yang berhak mendapatkan subsidi 6 miliar rupiah?

Semua keputusan harus diambil secara bijak oleh pemangku keputusan di pemerintah. Melihat justifikasi yang diambil oleh organisasi, pun menilai dampak yang dilakukan apakah sesuai dengan klaim dan ekspekstasi pemerintah dan organsasi juga? Belum itu selesai, pemerintah sudah harus menentukan budget subsidi pengembangan seni dan budaya untuk tahun anggaran berikutnya, menilai daya beli masyarakat, menilai trend seni dan budaya, melihat pergeseran makna dan efektivitas karya seni, penyerapan anggaran dan lain-lain. Belum lagi kalau nanti sudah bersentuhan dengan ranah audit. Akan lebih heboh lagi, dan membutuhkan studi lagi yang lebih mendalam.

Maka dari itu menjadi relevanlah administrasi seni apalagi ketika sudah menggunakan uang pajak rakyat. Butuh kematangan berbagai disiplin keilmuan untuk menilai efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran dalam kegiatan seni. Dan penulis terpekur sembari berpikir, subsidi ada itu adalah baik, tapi berarti juga bertambahnya pekerjaan rumah dari para administratur seni dan juga organisasi-organisasi seni. Beruntung apabila sponsor kita sekarang lebih sebagai donatur yang memberi dengan ikhlas hati dan bukan sebagai investasi. Bisa jadi pemerintah dan rakyat umum lebih bermental investor daripada banyak sponsor Anda saat ini.

~berdecak kagum membaca material pra-perkuliahan Arts Administration and Cultural Policy yang disampaikan kampus

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: