Kabar Terkini

Memahami Intuisi dan Titik Balik Musikologi


Memandang musik dan praktiknya di Indonesia dalam kerangka ilmu pengetahuan maupun intuisi adalah mungkin kegelisahan tersendiri bagi musikolog Erie Setiawan yang ia tuangkan dalam tulisannya di dalam bukunya yang terbaru berjudul “Serba-serbi Intuisi Musikal dan yang Alamiah dari Peristiwa Musik” dan diterbitkan oleh Art Music Today yang bermarkas di Yogyakarta.

Erie Setiawan sebagai seorang dari segelintir pemikir musik di Indonesia merunut kembali pilihan hidup maupun bidang yang ia geluti lewat buku 115 halaman yang diterbitkan Mei 2015 yang lalu. Sebagai yang ketiga dari seri Short Music Service yang ia canangkan, tulisannya kali ini sedikit berbeda dari bukunya yang kedua yang merupakan kumpulan atas pemikiran-pemikirannya. Tulisannya kali ini seakan merunut kembali awal pemikirannya yang akan fenomena musik yang seakan intuitif yang banyak merasuk dalam dunia kreatif musik Indonesia. Mungkin ini juga yang menjadi sebab-musabab mengapa musik Indonesia masih agak jauh dari jalur-jalur keilmuan.

Erie yang kini adalah direktur Art Music Today dan juga aktif sebagai pemain dan pengelola kelompok kroncong Agawe Santosa merunut kembali pemaknaan intuisi dan relasinya dengan berbagai pembahasan dari aspek psikologis. Pernyataan psikolog dan pemikir Jung, Myers dan Kant adalah sedikit dari sejumlah teori yang dikemukakan Erie tentang intuisi, emosi, dan bahkan relasinya dengan kreativitas dan imajinasi. Intuisi kemudian dalam essaynya merupakan perpaduan emosi, pengalaman dan pengetahuan sebelumnya yang dapat ditarik dengan cepat dan berpaut dalam langkah-langkah pemikiran intuitif seperti yang ditulis Graham Wallas.

Dikarenakan intuisi pada umumnya tidak mampu dijelaskan secara logis dan rasional, Erie kemudian beralih untuk mengupas subjektivitas dan keunikan yang kemudian mampu menelurkan sebuah terobosan. Erie juga kemudian mengkritisi intuisi bukanlah sebagai sebuah hal yang mengalir begitu saja melainkan dibina lewat penguasaan teknis dan kemudian dibalut oleh daya rasa dan ilham. Ia juga berargumen bahwa terobosan bisa terlahir dari intuisi dan alamiah. Penuturannya pun berputar pada kenyataan alam bawah sadar yang banyak mempengaruhi intuisi kemudian menghadang pemahaman konsepsi, sebuah kritik atas dunia apresiasi musik kita kini.

Baginya, mencermati hal-hal yang alamiah dan intuitif kemudian menjadi celah dalam melihat pentingnya membina keseimbangan antara rasio dan irrasio dan kemudian merumuskannya dalam nota keistimewaan sebuah proses berkarya lewat apa yang tercatat dalam sejarah. Peran komunitas sebagai penjaga pintu keseimbangan juga sedikit banyak dikupas dalam persinggungannya dalam proses kreatif yang seringkali monodimensional dalam prakteknya. Perlahan Erie membongkar bahwa musik bukan hanya sekedar bertumpu pada feeling, wahyu, firasat dan intuitif, tapi juga dengan konsepsi dan teknis yang lebih matang, sebuah kritik halus namun sungguh mengena di semarak dunia musik kita.

Sebagai seorang musikolog, ia kemudian menutup keseluruhan buku dengan sebuah renungan akan peluang yang mungkin terbentuk dan bagaimana keilmuan macam musikologi mengambil peranan dalam situasi macam ini. Sebuah ilmu macam musikologi memang harus diakui seakan tertinggal jauh di Indonesia dari praktek musik intuitif dan terkesan natural, tertinggal dan mungkin terlupakan. Baginya ini adalah sebuah pernyataan pribadi bahwa di Indonesia dengan pluralitasnya, ia harus mengubur “pengertian konvensional dari musikologi sebagai sebuah sikap, dengan harapan mampu menyesuaikan ilmu tersebut dengan kebutuhan masyarakat”. Baginya ilmu musikologi di Indonesia dewasa ini adalah perencanaan menuju upaya konkrit atas relevansinya bagi masyarakat.

Akan tetapi dengan gaya bahasa yang lancar dan selalu menarik untuk disimak, Erie yang menurut pengakuannya menyelesaikan buku ini kurang dari satu minggu seakan mengibarkan bendera putih ranah musikologi konvensional di Indonesia. Mungkin ini adalah sebuah pernyataan kekalahan bahwa musikologi harus sedikit beradaptasi untuk mendukung aspek praktis yang masih terlalu lekat di dunia musik kita. Meskipun demikian, Erie Setiawan dalam esainya ini mampu menggunakan ilmu musikologinya untuk mengupas peran intuisi dalam proses praktek kreatif yang seringkali dikontradiksikan dengan keilmuan di bidang musik. Mungkin kini dengan memahami posisinya, kita bisa perlahan melihat titik balik musikologi di Indonesia. Skor 1-0 untuk Erie lewat buku barunya ini.serba serbi intuisi musikal

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Memahami Intuisi dan Titik Balik Musikologi

  1. Buku ini apa udh rilis di masyarakat umum ya? Tks

  2. Sudah mas… Tapi kebetulan buku ini terbit secara indie dan mgkn ga masuk toko buku macam gramedia, tapi bisa dicari di webpage Artmusictoday.com atau di group FB Art Music Today….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: