Kabar Terkini

Indonesia dan Musik?


~sebuah surat terbuka dari tenor muda Indonesia Pharel J. Silaban

Bila muncul pertanyaan sebagai berikut;

“Seberapa signifikan Industri Musik terhadap masyarakat Indonesia?”

Jawaban apa yang paling tepat untuk hal ini?
Saya ingin menghantarkan beberapa data yang menjelaskan di mana posisi industri musik yang mungkin teman-teman tergabung di dalamnya. Data ini dikeluarkan oleh KEMENPAREKRAF saat menyusun rancangan pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025.BPS1-pharel

Terlebih dahulu, sebagai pelaku seni musik, perlu untuk tahu di dalam perputaran ekonomi yang mana kita berada. Ya, kita adalah bagian dari 7.05% penyumbang nilai tambah terhadap perekonomian Indonesia per tahun 2013/14 yang lalu. Nilai tambah yang dihasilkan oleh industri kreatif hampir senilai dengan Industri Pengangkutan & Komunikasi, dan Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan. Apakah ini baik? Tentu saja cukup baik, ditambah lagi laju pertumbuhan industri kreatif berada di atas rata-rata laju pertumbuhan PDB Nasional.BPS2-pharel

Lalu, bagaimana yang terjadi di dalam industri kreatif sendiri?
Kita bisa lihat, bahwa sumbangsih subsektor musik hanya 0.82% terhadap keseluruhan industri kreatif yang dikuasai oleh subsektor kuliner, mode, kerajinan, dan penerbitan & percetakan.

Ya, musik belum begitu signifikan terhadap keberlangsungan peradaban di Indonesia. Walaupun kita sering mengalami fenomena di mana masyarakat mengidolakan beberapa penyanyi, hit single, dan lain-lain. Tampaknya menjadi tidak begitu signifikan terhadap nilai tambah ekonomi secara nasional. Kalau begitu, apa yang sebenarnya terjadi?

Ada banyak faktor yang menempatkan Musik berada pada situasi demikian. Dari pengamatan saya sendiri, bila kita aplikasikan alat bantu fishbone maka 3 isu besar yang dapat mewakili akar masalah subsektor musik saat ini.

Pendidikan

Pendidikan adalah salah satu variable dependen dan relevan terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Hal ini dibuktikan melalui uji ilmiah Martin Prosperity Institute tahun 2011. Mereka menjadikan salah satu output dari pendidikan, yaitu kreatifitas sumber daya manusianya, dinamakan dengan Global Creativity Index di mana menempatkan Indonesia pada peringkat 2 terakhir. Cukup mengejutkan bukan ? (Untuk dasar penilaian, teman-teman dapat langsung mengunjungi report mereka di laman web Martin Prosperity Institute.)BPS3-pharel

Lalu saya dengan iseng mencoba menggali kebenaran fakta dunia pendidikan dengan mengambil sampel disiplin ilmu musik. Saya mengambil data dari BAN-PT dan DIKTI dengan mendapati beberapa fakta sebagai berikut:

Pendidikan Musik lebih dikuasai oleh Perguruan Tinggi terakreditasi C dan belum ada satu pun Perguruan Tinggi terakreditas A untuk urusan musik. Kenapa kualitas pendidikan cukup material terhadap keberlangsungan ekonomi suatu negara? Perguruan Tinggi adalah awal dari biji kreatifitas yang terimplementasi di dunia professional melalui yang dikenal di Indonesia sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitan & Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat). Melalui implementasi matang dari ketiga isu ini, akan memungkinkan pengembangan dunia professional yang lebih berkelanjutan sehingga menghasilkan keberlangsungan perputaran ekonomi yang lebih baik pula. Inilah yang harusnya menjadi wujud cita-cita Tri Dharma Perguruan Tinggi baik itu pada disiplin ilmu musik maupun yang lain.

Selain itu, dunia pendidikan musik beberapa level di bawah perguruan tinggi masih hanya berperan sebagai pengisi kekosongan mata pelajaran yang berbau seni dan keterampilan. Kementerian Pendidikan sekalipun masih belum memahami dampak sehat dari pendidikan musik yang baik dan benar sejak pendidikan formal paling dini. Sehingga kita berpindah kepada isu utama kedua yaitu, Paradigma.

Paradigma

Ada apa dengan paradigma masyarakat Indonesia terhadap musik? Ada 1 tren yang bisa kita tangkap mengenai paradigma yaitu, keberlangsungan konsumsi rumah tangga nasional. Daya konsumsi musik masyarakat masih berada pada 0.08%. Nilai ini menempatkan kemungkinan hubungan masyarakat terhadap musik :

Masih hanya sekedar bagian konsumsi yang tidak selalu butuh dan tidak selalu diinginkan.

Sebagai pelaku seni musik, kita tidak dapat berbuat banyak kecuali menarik beberapa data terdahulu dari peradaban Indonesia. Pentingnya memformulakan tren untuk mengetahui apa dan seperti apa daya permintaan masyarakat Indonesia terhadap musik. Seperti kita ketahui, secara demografik, manusia Indonesia yang bekerja dan berpenghasilan lebih dari 50% dikuasai oleh lulusan SD. Sehingga kita bisa saksikan di media manapun, Indonesia saat ini lebih dikuasai oleh tren musik yang hanya ingin mendapat hiburan lebih mengarah kepada sensasi daripada konteks.

Apabila kita mengambil satu asumsi hipotesis, di mana musik seni hanya dapat masuk pada elemen masyarakat bekerja dan berpenghasilan lulusan perguruan tinggi, maka kita akan berinteraksi dengan 6% dari populasi Indonesia. Namun, seperti Ken Watanabe pernah katakan dalam ‘Problem Solving 101’, untuk membangun sesuatu berinteraksilah kepada yang pertama kali peduli terhadap apa yang kamu bangun. Cari pola dan tren-nya, kemudian kembangkan modelnya.

Sekedar hiburan yang dinilai bagian dari hobi atau non-commercial venture

Masih banyak elemen-elemen dari masyarakat yang berinteraksi terhadap musik dengan tidak ideal di mata pelaku seni musik. Baik gereja, pemerintahan, ataupun organisasi independen lainnya. Ketika berbicara musik sebagai bagian dari industri kreatif, idealnya pelaku seni itu sendiri adalah commercial asset yang butuh perlakuan seperti pendanaan untuk pengelolan dan pengembangan jasa lebih baik menuju sustainability. Inilah paradigma yang perlu untuk diubah, dan kerja keras ini haruslah bermula dari titik paling awal manusia mengenal interaksi sosial dan ekonomi, salah satunya yaitu sejak pendidikan dasar. Setiap pelaku seni harus memutar kembali ide dan kreatifitas untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap pelaku seni musik sehingga menjadikan setiap pelaku seni sebagai commercial asset subsektor musik.

Pelaku

Semenjak maraknya ajang pencarian bakat dan media sosial yang lebih mempercepat jarak pelaku seni dengan calon-calon pemerhatinya, banyak yang menjadikan pelaku seni musik meniadakan proses-proses yang seharusnya. Saat ini pelaku seni berlomba menjadi terkenal di dunia hiburan dengan harapan memberinya kesempatan masuk di lingkaran artis hiburan. Hal ini memang tidak untuk dilarang, akan tetapi akan memperbesar kemungkinan mendegradasi nilai tambah disiplin seni yang dibawakannya pada ajang-ajang yang disaksikan lebih dari ratus ribuan bahkan jutaan masyarakat Indonesia.

Sebagai pelaku seni, kita harus bertanggung jawab terhadap seni itu sendiri, terlebih musik seni. Saya sendiri dalam kurun waktu kurang dari 6 tahun berpendidikan non-formal untuk vokal klasik meyakini hanya ada satu visi yang harus dicapai yaitu kesempurnaan musik itu sendiri melalui proses terbaik yang paling mungkin kita jalani. Sangat gampang menamakan diri diva dan divo, bahkan sangat gampang menyandang maestro atau maestra oleh karena di-blow up oleh media-media yang bahkan tidak mengerti bagaimana proses semestinya gelar tersebut untuk disandang.

Kita sebagai pelaku musik seni perlu memahami situasi, bahwa peran kita belum signifikan dan material terhadap pengembangan negara Indonesia menuju negara maju. Akan tetapi kita harus bertanggung jawab mengedepankan ilmu pengetahuan paling murni dan jujur.

Pelaku seni saat ini harus menjadi teladan sebagai elemen penciptaan musik dengan konteks kualitas dan nilai tambah edukasi di antara komunitas dan masyarakat. Perlu untuk memikirkan kembali apa kontribusi 10 sampai 15 tahun ke depan secara organisasi/pribadi, apa yang menjadi core values organisasi/pribadi, apa yang menjadi misi riil organisasi/pribadi sehingga pelaku musik seni dapat berkelanjutan dan melakukan regenerasi sehingga sustainable dan mencapai visi yang dicita-citakan.

Peran musik seni masih sangat kecil, bahkan dapat puluhan kali lebih kecil dari 1% sumbangsih subsektor musik itu sendiri. Musik seni secara global sendiri masih dalam proses mendefinisikan model bisnis yang paling sesuai terhadap tren demand masyarakat secara global saat ini. Untuk itu, sembari proses itu berjalan, sebagai pelaku musik seni yang seharusnya dilakukan tidak lebih dari berupaya keras menjadi lebih baik di setiap kesempatan dan tidak membatasi diri untuk berkarir secara domestik. Ini adalah salah satu lapangan pekerjaan yang memberi kesempatan dan peluang besar bagi pelakunya untuk memperluas karir menjadi lebih berdaya saing global. Hal ini tentu memperbesar benefit dan lebih positif.

Mari berjuang bersama menjadi yang terbaik dan saling mendukung satu sama lain.

“Mari hilangkan budaya nyinyir; kalau untuk kepentingan bersama kenapa tidak untuk kita bisa maju sama-sama?”

Salam,
Pharel Jonathan Silaban

~Pharel adalah Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia, Tenor – Anggota Triad Scholars dan September ini melanjutkan studi vokal di Royal College of Music London.

Besok Sabtu, tanggal 5 September, Triad Scholars akan mengadakan resital perdana mereka di Balai Kertanegara pk.19:30. Triad Scholars beranggotakan Pharel Silaban, Yasashi-i Pangaribuan dan Nesca Alma.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: