Kabar Terkini

Memahami Dunia dan Tradisi, Hari Pertama Meja Bundar Musik


Siang ini di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta, sedikit berbeda. Sebuah meja besar terletak di tengah teater, diterangi lampu kekuningan dan dikelilingi kamera dan undak panggung yang seakan mengundang pengunjung untuk duduk mengamat meja bundar besar yang terselip 4 buah kursi itu.

Ini adalah tempat dimana terjadi perbincangan seru dan hidup dari tokoh-tokoh musik Indonesia yang hidup dan berkarya dari musik yang sering disebut musik tradisi Indonesia yang kemudian dengan kekayaannya kemudian disebut musik dunia. Tak terelakkan, acara yang diprakarsai oleh Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta dan Program Studi jurusan Etnomusikologi IKJ di hari Kamis dan Jumat, 3 dan 4 September ini diberi nama “Meja Bundar Musik” dengan tema “World Music — Musik Tradisi Nusantara: Merawat, Mengembangkan, Mengilhami”.

Di hari pertama, acara yang dimoderatori oleh pelaku musik dunia/tradisi sekaligus akademisi Nyak Ina Raseuki “Ubiet” dan Jabatin Bangun mencoba menggali kearifan dari dua orang tokoh musik tradisi yang telah berkarya baik di dalam dan luar negeri serta diakui kiprahnya yakni Rahayu Supanggah, seorang komponis dan tokoh karawitan Jawa yang telah bekerja dengan berbagai kelompok musik dunia dan I Wayan Balawan, seorang komponis dan pendiri Batuan Ethnic Fusion yang mengekplorasi musik tradisional Bali.MejaBundar4

Pergulatan musik tradisi Indonesia, dalam khasanah musik dunia adalah sebuah kisah yang unik dan selalu dapat digali secara mendalam, termasuk dari sisi bagaimana para pelaku seperti Rahayu Supanggah dan I Wayan Balawan menantang norma dan berusaha memberi warna berbeda dari musik tradisi yang menjadi akar di mana keduanya berangkat dan kemudian mengembangkan sayap mereka, walapun berasal dari latar yang berbeda. Panggah seorang anak keluarga dalang yang menolak mendalang lalu karena himpitan ekonomi memilih masuk konservatori dan menjadi seorang nayaga (pemusik gamelan), sedang Balawan berangkat dari seorang anak pemuka adat dan seni yang sedari kecil hidup dengan kesenian tradisi namun bercampur dengan gaya musik urban semasa remaja.

Panggah dan Balawan sama-sama pernah menyicip pendidikan di luar negeri, Panggah di Prancis dan Balawan di Australia yang kemudian mempengaruhi cara pandang mereka terhadap kekayaan musik Jawa dan Bali yang telah mendarah daging. Obrolan sore itu berkisar dari berbagi proses kreatif yang mereka lakukan dari tradisi lisan yang kemudian juga bersentuhan dengan musisi-musisi dan audiens dari mancanegara, bagaimana musik tradisi lisan yang diterapkan Rahayu Supanggah dan grup Balawan “Batuan Ethnic Fusion” berfokus pada relasi antar pribadi manusia di antara musisi kemudian memperkaya cara pandang banyak musisi dunia. “Nongkrong bareng” kata Balawan adalah bagaimana kooperasi itu dibangun di antara pemain kelompok, sedang Panggah menggarap musik lebih dari 2 tahun bersama musisi-musisi seperti Kronos Quartet untuk mampu mengenali pribadi per pribadi dan kemudian mengerjakan musik bersama dengan mereka. Ini menandai keistimewaan musik tradisi lisan dalam mengemas kreativitas dan kooperasi dalam kekaryaan.MejaBundar1

Balawan melihat bahwa percampuran elemen musik industri dengan musik Bali adalah yang tidak dapat dihindari, namun masyarakat di Bali cukup beruntung karena musik Bali masih memiliki nilai religius dan fungsi adat yang kuat yang mampu menjaga otentisitasnya. Panggah sendiri meyakini dalam bingkai musik Jawa, musik tradisi hanya dapat dihidupkan dengan melakukan pembaharuan (reformasi dan rekreasi) dan memberinya makna dalam konteks yang baru, baik dari sisi fungsi, bentuk dan struktur serta format. Namun demikian ia juga meyakini bahwa harus ada unsur yang tetap yang menjadi identitas musik tersebut. Pembicaraan inovasi juga kemudian menyinggung permasalahan inovasi dalam alat musik gamelan maupun bagaimana menarik perhatian generasi muda akan kesenian tradisi ini.

Diskusi juga masuk ke ranah pengalaman mereka berfestival di luar negeri dan bagaimana suasana yang dibangun menjadi ciri khas daerah tersebut bahkan dalam segala kesederhanaannya serta keikutsertaan pemerintah dalam kegiatan festival-festival ini serta kritik atas penyelenggaran yang ada. Diskusi kemudian bergerak pada ranah praktis penyelenggaraan dan bagaimana strategi Balawan dan Panggah menyiasati keuangan dan program mereka agar mereka mampu tetap aktif dalam dunia yang sering dilihat sebagai idealis ini.

Pentingnya berbahasa asing dan kemudian juga mampu menyeimbangkan idealisme dan sisi komersial yang dibagikan oleh Balawan, dibalas juga oleh Panggah yang lebih senior tentang pentingnya kemampuan menggarap proposal yang menarik bagi penyandang dana.  Keterlibatan pemerintah yang meskipun ada namun masih dirasa kurang optimal pada akhirnya memang mengajak Panggah dan Balawan untuk lebih tanggap terhadap kesempatan yang ada. Balawan pun sebagai yang lebih muda mencermati pentingnya jejaring di antara pariwisata dengan kesenian dan promosi yang tepat sasaran

Rahayu Supanggah yang juga komponis lakon I La Galigo juga mengritik tidak adanya koordinasi antara festival-festival yang ada di berbagai daerah di Indonesia yang tanpa kekhasan, sedang para seniman juga seringkali membuat proposal acara seakan hendak “merampok”, dengan banyak pembengkakan biaya. I Wayan Balawan yang adalah virtuoso gitar mencermati festival seperti Bali Art Festival yang tumplek di satu bulan tanpa memperhatikan kenyamanan acara secara keseluruhan.  Baginya dukungan dari maskapai penerbangan nasional untuk inisiatif seni dan budaya juga perlu ditingkatkan.

Beberapa pertanyaan kemudian diajukan kepada panelis setelah sebelumnya disisir melalui twitter oleh penyelenggara. Dan bagi kedua narasumber nampak bahwa perkembangan musik tradisi adalah sebuah hal yang harus dilakukan agar seni ini semakin menarik bagi masyarakat luas. MejaBundar2

Keduanya sepakat bahwa standar dan akar yang kuat adalah sangat penting bagi seniman yang ingin berpetualang dan menyegarkan musik tradisi, sebuah etimologi yang sebenarnya juga tidak disukai oleh Profesor Supanggah. Bagi mereka, kekayaan musik masing-masing saja sudah terlampau kaya untuk digali, sehingga mereka merasa bukan ranah mereka untuk menghidupkan musik tradisi di berbagai daerah yang sangat beragam dan kaya. Namun kehidupan seni itu adalah tanggung jawab setiap putra daerah yang benar-benar berakar dari kebudayaan tersebut agar pengembangan pun tidak salah cerap dan malah menghilangkan intisari dari budaya mereka. Fungsi peran yang lebih berpengalaman dan mungkin dari luar daerah adalah berbagi metode dan pengalaman agar putra daerah sendiri yang mampu mengembangkan potensinya.

Sore kemarin adalah tiga jam diskusi yang luar biasa, menyelam dan menghidupi kembali seniman dan pemikirannya, sebuah kesempatan yang luar biasa memperkaya pemirsa dan sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja.

~Di tempat yang sama, 4 September pk.14.00, diskusi Meja Bundar Musik dilanjutkan dengan narasumber komponis Rence Alfons dan Trisutji Kamal.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Memahami Dunia dan Tradisi, Hari Pertama Meja Bundar Musik

  1. Wah ternyata da meja bundar musik tah

  2. Sempat ada dan lebih kepada diskusi… Tapi sungguh menarik!

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Memahami Proses Bermusik dan Dampak, Meja Bundar Musik Hari Kedua | A Musical Promenade
  2. Pendaftaran untuk Pekan Komponis Indonesia 2016 Dibuka – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: