Kabar Terkini

Memahami Proses Bermusik dan Dampak, Meja Bundar Musik Hari Kedua


Setelah diskusi hari pertama kemarin, Jumat ini Dewan Kesenian Jakarta bersama Program Studi Jurusan Etnomusikologi Institut Kesenian Jakarta kembali menggali kekayaan musik tradisi lewat Meja Bundar Musik dengan tajuk “Musik Tradisi: Merawat, Mengembangkan, Mengilhami” yang memasuki hari kedua.

Sore itu giliran komponis senior Trisutji Djuliaty Kamal yang duduk bersama Rence Alfons, komponis suling bambu Ambon, duduk mengisi kursi narasumber yang berhadapan langsung dengan meja bundar di tengah Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta. Duduk sebagai moderator Nyak “Ubiet” Ina Raseuki dan Jabatin Bangun yang keduanya dikenal sebagai etnomusikolog di Indonesia.

Acara yang menurut Anusyirwan, anggota Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta sebagai acara yang memperkenalkan dan menyegarkan kembali musik tradisi Indonesia pada generasi muda ini dibuka dengan menggali kekayaan musik Ambon yang menjadi bagian kekaryaan Rence Alfons, menggali budaya musik Ambon lewat suling bambu horizontalnya yang tumbuh di masyarakat Kristen Ambon dan juga suling bambu vertikal yang hidup di komunitas Muslim Ambon.

Mejabundar6

kiri-kanan: Trisutji Kamal, Jabatin Bangun (membelakangi kamera), Rence Alfons dan Nyak Ina Raseuki

Rence yang mengenyam pendidikan seni musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan mayor gitar klasik kemudian memberi sentuhan yang berbeda lewat pengembangannya atas musik suling bambu yang perlahan sudah ditinggalkan oleh generasi muda yang mulai bersentuhan dengan musik populer. Di mata mereka musik suling bambu ini bernada fals dan bergerak dalam harmoni yang tak beraturan karena gerak paralel sehingga sama sekali tidak menarik. Revitalisasi yang dilakukan Rence pada instrumen ini bukan hanya pada bentuk dan metode pembuatan instrumen yang mempengaruhi kualitas bunyi dan musik dan penggarapan aransemen lagu, tapi juga pengemasan dan produksi pertunjukan yang lebih menarik. Di sini lewat kerja sepuluh tahun, perlahan musik suling hidup dan kini menunjukkan geliat yang luar biasa.

Trisutji Kamal juga perlahan menggali pengaruh yang hidup dalam dirinya lewat refleksinya sebagai seorang Jawa yang dididik sebagai seorang Jawa namun hidup di Sumatera dan kemudian memperoleh pengaruh Barat yang ia dapatkan lewat pendidikan musiknya di Eropa, Prancis dan Italia di medio tahun 1950an hingga 1960an. Di sini disiplin dalam proses kreatif menjadi melekat dengan seorang Trisutji yang semasa pendidikannya merasa dipaksa untuk menirukan Mozart dan Beethoven oleh dosen komposisinya, tapi ia memilih jalur impresionis yang dirasanya lebih dekat dengan seorang Indonesia. Ia pun bercerita bagaimana persentuhannya yang lebih mendalam dengan ke-Islam-an lewat komitmen dan disiplinnya untuk memahami agama dengan belajar 9 jam agama terus menerus selama satu tahun sebagaimana ia belajar bermusik. Pada saat ini, ia meninggalkan musik dan fokus pada keimanannya.

Keterbukaan juga menjadi pelajaran yang dapat ditarik dalam diskusi kedua tokoh ini. Trisutji Kamal yang digerakkan oleh nafas Islam dalam berbagai karyanya juga tidak menutup diri dari pengaruh tradisi dan kekayaan budaya Eropa serta Kristianitas dan Hindu Bali dalam musik-musiknya. Rence pun juga lewat adaptasi suling bambu dalam teknik pembuatan suling dan pemilihan musik serta orkestrasinya yang dibawakan mampu menghadirkan nuansa yang lain dan bahkan tidak takut untuk bersentuhan dengan musik populer untuk memperkaya musik suling bambu. Contoh pun dikemukakan, karya Trisutji Kamal “Dialogue for 2 pianos, Balinese Percussion” dengan 3 bagian yang berdasarkan ilham surat Al-Fatehah, Tasbih dan Shalawat Nabi. Sedang Rence berhasil mengadaptasi St. Elmo’s Fire karya David Foster dengan musik suling bambu horizontal yang dimainkan Molucca Bamboowind Orchestra yang dibentuknya dan beranggotakan lebih dari 50 orang dari beragam latar belakang usia 11 tahun hingga 73 tahun.

Pendekatan personal yang diangkat dalam diskusi di hari pertama juga kembali disinggung oleh Rence yang menjadi modalnya untuk meningkatkan minat dan kepedulian remaja dan masyarakat akan suling bambu dan signifikansinya bagi masyarakat Ambon yang perlahan lupa akan keberadaan musik ini. Sesi minum tuak bersama disertai diskusi menjadi salah satu Rence perlahan membuka kepedulian warga dengan latar sosial dan tingkat melek musik yang beragam. Karena ini pula, Rence dibantu oleh pelaku-pelaku musik terdidik yang kerja keras mengajar kelompok suling bambu dari 0 untuk bisa tampil di konser yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Maluku. Kini dampak sosial orkes ini nyata dirasakan . Dua kampung bertetangga yang sebelumnya bertikai akhirnya malah kini berdamai karena keduanya terlibat secara aktif dalam orkes suling bambu ini.

Trisutji sendiri menggali bagaimana akar seorang seniman dapat berpengaruh pada kekayaan interpretasi pada musik-musiknya. Global namun tidak bisa tidak berakar pada budaya asal, karena interpretasi haruslah didasari dengan pemahaman yang cukup. Di sini mencari solusi adalah krusial untuk mampu menghasilkan karya yang sekalipun merupakan kreasi namun juga tetap setia pada otentisitas. Ia pun sebagai komponis sepuh kini membuka diri bagi pengaruh musik techno modern dan musik jazz untuk semakin memperkaya khasanah musikalnya. Namun baginya musik dalam ranahnya sering menjadi berbeda apabila ditempatkan dalam situasi yang berbeda pula, sebagaimana dirangkum oleh moderator Ubiet sebagai “konteks” musik.

Lewat pertanyaan yang disampaikan via Twitter oleh audiens, Rence pun menyampaikan bahwa musik berkembang sebagaimana manusianya juga berkembang. Sehingga pengaruh yang berbeda pun harus dirangkul. Ia pun menyikapi pertanyaan dengan jawaban tidak harus seorang musisi tradisi belajar musik barat, namun belajar musik barat dapat menjadi alat yang mendukung, sebagaimana seorang anak belajar keahlian dan dalam penyampaian moderator Jabatin sebagai keahlian berbahasa. Dengan belajar keduanya diharapkan seorang musisi menjadi lebih kaya lewat saling silang budaya dan kemungkinan yang dilahirkannya. Selain itu jangan pula terperangkap dikotomi seni mana yang menguasai seni yang mana.

Rence pun juga mengritisi bagaimana seni budaya di pemerintahan daerahnya tidak dibangun oleh seorang yang mengakar pada kesenian asalnya. Sok tahu padahal tidak mengerti bisa jadi malah menyesatkan perkembangan seni yang sesungguhnya potensi, sedang seniman akhirnya dipaksa untuk berpikir sendirian dan kesulitan mendapatkan teman berdiskusi sebagaimana yang sempat ia alami. Baginya penting seorang administratur pemerintah juga memiliki akar budaya dan seni yang kuat untuk membentuk masyarakat yang juga berbudaya.Mejabundar7

Diskusi sore tadi dari pukul dua hingga lima sore menutup diskusi Meja Bundar Musik tahun ini dengan mencermati bagaimana pengaruh tradisi dan keterbukaan budaya mampu mewujud dalam perkawinan kekayaan musik. Dan bagaimana kegiatan musik dan inovasi bukan hanya mampu mewujud dalam perkembangan dan geliat kesenian itu sendiri namun juga berdampak bagi kehidupan sosial secara lebih luas.

Bagi publik Jakarta, diskusi yang mendidik seperti ini adalah sebuah mutiara yang harus terus dijaga kemilaunya. Dan untuk itu,  Meja Bundar Musik berikutnya layak untuk dinantikan dan diharapkan menjadi salah satu penyokong intelektualitas musik Indonesia.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Pendaftaran untuk Pekan Komponis Indonesia 2016 Dibuka – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: