Kabar Terkini

Ketika Hati Menjadi Penentu, Tutur Orkestra Film Babelsberg


Film dan musik sejak semula memiliki kedekatan satu dengan yang lainnya. Kedua bentuk seni ini saling terkait dan mengkomplemen satu dengan yang lainnya untuk menciptakan pengalaman yang menyeluruh bagi para pemirsa. Visual diramu bersama aural dalam kesatuan. Bila dahulu teknologi sinematografi belum memungkinkan perekaman suara yang sinkron dengan perekaman gambar, panggung pertunjukanlah yang mengambil peran aural, memainkan karya musik untuk mengiringi adegan-adegan bayang-bayang bisu.

Inilah yang direka ulang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki tanggal 5 September ini. Hadir sebagai pembuka Jerman Fest 2015 yang tahun ini diadakan besar-besaran, Filmorchester Babelsberg (Orkestra Film Babelsberg) didatangkan pemerintah Jerman dan pusat kebudayaan Jerman Goethe Institut untuk mengantar penonton dalam napak tilas dunia sinematografi Eropa, khususnya Jerman di tahun 1927. Orkes ini pun berdiri di kota satelit Berlin, Babelsberg yang pernah menjadi daerah yang bergeliat oleh karena industri filmnya.

Adalah film karya Fritz Lang “Metropolis” yang malam ini diiringi langsung oleh permainan musik orkestra yang malam itu dipimpin oleh konduktor Matt Dunkley. Metropolis sebagai sebuah karya monumental film Jerman, memang layak ditampilkan sebagai pembuka. Sebagai sebuah film ekspresionis dengan genre drama science-fiction yang mengangkat topik sosial kaum kapitalis dan buruh dalam latar futuristik, mahakarya yang ditulis oleh Thea von Arbou ini menjadi salah satu tonggak film Jerman era 1920 an dan kini didapuk sebagai Memory of the World Register UNESCO namun gagal di box office. Setelah hampir 80 tahun film ini mengalami pemotongan yang hebat karena berbagai sebab, akhirnya versi panjang asli film yang dibuat pada periode Weimar ini malah ditemukan di Buenos Aires dalam kondisi yang parah. Upaya pun dilakukan untuk merestorasi karya film ini menjadi satu bagian utuh yang bisa dinikmati sebagaimana divisikan oleh Fritz Lang.Babelsberg Metropolis1

Kisah romansa Freder dari kaum ekonomi atas menjalin cinta dengan Maria dari kaum buruh dibalut usaha mempertemukan kasih dan menghubungkan jurang pemisah antara pemilik modal dan buruh memberi makna sosial yang mendalam selain pengerjaan artistik yang luar biasa dengan didukung teknologi terbaik yang ada saat itu. Pertentangan antara kaum manajemen dan pekerja dijalin lewat pernyataan “Otak dan tangan haruslah dihubungkan lewat hati.” Inilah kisah perjuangan Freder menemukan jati dirinya sebagai manusia yang menjadi jembatan itu lewat konflik antar kelas yang terjadi di kota metropolis distopia futuristik dan dikisahkan dalam durasi sekitar 3 jam.

Dalam durasi itu pula, Orkestra Film Babelsberg tidak berhenti memainkan musik pengiring yang dikomposisikan secara khusus oleh Gottfried Huppertz untuk memenuhi keinginan Lang agar film ini memiliki score musik yang ditulis khusus dan disesuaikan dengan adegan-adegan dalam film. Ditulis dengan inspirasi dari karya musik Richard Wagner atas penggunaan leitmotif yang kental pada karya ini. Leitmotif sebagai pengembangan motif tema untuk menggambarkan suatu karya dan dicocokan dengan karakter ataupun situasi tertentu dalam film menjadi modal bagi  Huppertz mengembangkan karya yang dapat dimainkan oleh orkes simfoni besar ini. Sebagai contoh, kisah perlawanan buruh dipadukan Huppertz dengan varian tema “La Marseillaise”, lagu kebangsaan Prancis yang lahir dalam kisah sejarah proletariat revolusi Prancis. Tema “Dies Irae” digunakan untuk mewarnai kisah malapetaka dalam karya ini.

Pewarnaan khas romantik akhir memang menjadi terutama dalam musik film ini dan berkarakter layaknya karya Richard Strauss. Efek-efek dan nuansa tergambar dalam bagian-bagian musik dan terus merespon perubahan latar kisah. Penggunaan efek musik tertulis dengan jelas pada karya, sehingga sinkronisasi bahkan kejadian dalam film adalah krusial. Seperti pintu tertutup mendadak dan perubahan air muka yang penting dilukiskan juga lewat perubahan musiknya. Alhasil musik komponis kelahiran Koln ini menjadi musik yang hidup dan integral dalam metode berkisah Fritz Land dalam Metropolis ini. Huppertz sendiri hadir dalam proses pengambilan gambar asli untuk menyesuaikan suasananya dengan musiknya, sebuah praktek yang jarang dilakukan 90 tahun lalu.

Dunkley sebagai seorang konduktor film berpengalaman sungguh diuji stamina dan kemampuannya dalam menjaga bentuk dan keselarasan gambar dengan musik yang keduanya dilakukan dengan sangat mempesona. Walaupun ia tidak banyak berekspresi dalam pengabaan, namun ketepatannya dari segi waktu menandakan kematangannya sebagai seorang konduktor yang tahu persis musik dan tayangan gambar dari film tersebut. Tentu saja, musik selama 3 jam dengan total waktu istirahat kurang dari 3 menit ini tiada henti dari awal film hingga akhir film. Perannya memang lebih banyak bersentral sebagai penjaga pace gambar dan suara, sedang kualitas suara hampir sepenuhnya diserahkan kepada orkestra. Namun demikian, menarik bahwa orkestrasi yang dikerjakan Huppertz memungkinkan ekspresi tersampaikan dengan lebih sederhana dan menciptakan dinamika dari film tanpa banyak bermain dinamika besar karena mampu mempengaruhi stamina.

Babelsberg Filmorchester sendiri memiliki karakter yang sedemikian kuat. Memiliki tradisi sebagai orkes UFO atau pusat perfilman Jerman, Babelsberg memiliki ketebalan suara dan disiplin bermusik khas orkestra Jerman. Disiplin mengikuti arahan musik dan memiliki kerjasama ensembel yang kuat memampukan mereka untuk fleksibel mengejar maupun memperlambat langkah musik agar dapat menyesuaikan dengan film, dan disepanjang konser film ini orkes ini beberapa kali melakukan penyesuaian kecil untuk memastikan ketepatannya dan saling terkait satu sama lain. Permainan dinamik memang tidak banyak digarap juga karakter warna namun karena orkestrasi yang cerdik penonton mampu menyaksikan beragam karakter orkestra ini. Didaulat sebagai salah satu orkestra tetap musik film terbaik, walaupun beberapa kali terkendala intonasi namun musik yang mereka mainkan memiliki efek keindahan yang mampu merangkul penonton.

Perlahan namun pasti, penonton malam itu yang memadati Teater Jakarta diboyong kembali ke awal abad lalu, ketika musik hidup menjadi primadona dalam gedung-gedung bioskop. Keajaiban musik orkestra 62 orang pemain Jerman menjadi bumbu yang tidak dapat dipisahkan dari karya sinematografi yang luar biasa ini. Dan ketika not terakhir dibunyikan, sebagaimana “Hatilah yang mampu menjadi penghubung pikiran dan kerja” tertera di atas layar, penonton Teater Jakarta sontak berdiri memberi tepuk tangan riuh. Pembuka Jerman Fest yang diharapkan akan semakin mempererat manusia kedua negara ini sangat berkesan dan menjadi bukti musik dan film yang padu sungguh menggerakkan hati manusia yang menyaksikannya.

Babelsberg Metropolis2

~Metropolis dan Babelsberg Film Orchestra akan tampil di Surabaya 7 Sept (Ciputra Hall 7pm) dan Bandung 9 Sept (Aula Barat ITB 7pm)

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: