Kabar Terkini

Parahyangan Heritage: Pesona, Pilu, dan Padu


Rasa merinding itu tetap bertahan setelah mendengarkan nada-nada terakhir dari lagu berjudul When David Heard karangan komponis serta pengaba paduan suara termasyhur asal Amerika Eric Whitacre. Nada-nada tersebut bagaikan daun-daun berguguran yang terhempas oleh angin sejuk dan sayapun duduk terpaku seraya mendengarkan suasana hening dengan khidmat sebelum para penonton bersorak gemuruh.

Itulah pengalaman saya menonton konser paduan suara mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (PSM Unpar) untuk yang kali pertama di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail. Paduan suara yang dipimpin oleh pengaba senior dan terpandang Ivan Yohan mempersembahkan program yang unik sekaligus elok bertajuk Parahyangan Heritage.

Credit: Nesca Alma

Credit: Nesca Alma

Konser tersebut dibagi dalam dua bagian besar. Di babak pertama konser, paduan suara ini menampilkan karya-karya komposisi dari komponis-komponis muda Indonesia alumni UNPAR yang antara lain adalah Dody Soetanto, Reza Reginaldo, Ega Azarya, Daniel Alexander, Satriya Krisna, Rainier Revireino dan Ivan Yohan.

Sejak berdirinya PSM Unpar pada tahun 1962, paduan suara ini sudah menjadi wadah pengetahuan musik dan perantara yang menggugah kreativitas komponis-komponis muda yang ingin memperkaya literatur paduan suara Indonesia. Di babak kedua, PSM Unpar membawakan beberapa lagu dari komponis-komponis luar yang namanya tidak asing, seperti Pablo Casals, Bardos Lajos, Villa Lobos dan Eric Whitacre.

Babak pertama dibuka dengan karya Dody Soetanto berjudul Ave Maria. Dody Soetanto sendiri adalah penyanyi baritone yang sedang menempuh studi seni pertunjukan vocal di Utrecht Conservatory di Belanda. Syahdu, lembut dan perlahan adalah kata-kata yang bisa merangkum karya tersebut. Dengan bantuan Ivan Yohan, paduan suara ini mampu memberikan kualitas suara yang konsisten dan berpadu dengan baik. Sopran dan alto mempunyai proyeksi suara yang cemerlang dan kuat. Sedangkan suara pria meskipun terdengar sedikit ringan dikarenakan jumlah suara wanita yang lebih banyak dapat memberikan warna yang cukup. Namun sangat jelas paduan suara ini terdengar begitu disiplin dan lagu-lagu yang dibawakannya digodok dengan sangat matang hingga hasilnya bisa dinikmati dari nada mula Ave Maria sampai konser selesai.

MOREMORE

Credit: Nesca Alma

Berikutnya adalah lagu Lux Aeterna karangan Reza Reginaldo, salah satu anggota PSM Unpar yang pernah menjuarai Sayembara Komposisi Musik Paduan Suara pada tahu 2012. Lagu yang cukup berenergi ini menampilkan keunikan penjajaran suara antara suara pria dan wanita yang dinilai cukup efektif: suara pria yang terus-menerus mengulang motif yang pendek dan lincah, dipadukan dengan suara wanita yang membawakan melodi yang membumbung tinggi dengan frase musik panjang.

Lagu-lagu berikutnya yang berjudul Domine Exaudi Orationem Meam dan Amor Vincit Omnia karya Ega Azarya, salah satu anggota Tim Artistik PSM Unpar, juga berkarakter hampir serupa. Lagu Amor memiliki motif ritmis yang penekanan nadanya tidak pada ketukan yang “benar” dikarenakan tanda birama yang kerap kali bergeser. Efeknya begitu Stravinskyian (dari nama komponis asal Rusia Igor Stravinsky) dan mengingatkan saya pada beberapa lagu sakral dan profananya seperti Symphony of Psalms dan “The Sacrificial Dance” dari The Rite of Spring yang sengaja menggunakan tanda birama yang kompleks dan bersinkopasi untuk menandakan tensi pada musik. (lih. video di bawah)

Paduan suara kemudian mengangkat lagu The Reason karangan komponis muda sekaligus pianis Daniel Alexander yang kemudian dilanjutkan dengan Lux Aeterna karangan Satriya Krisna, penyanyi tenor yang sedang berkiprah di negara kincir angin untuk melanjutkan studi magisternya di Conservatorium van Amsterdam. Lagu Lux Aeterna mempunyai daya tarik tersendiri yang berbeda dengan lagu-lagu yang dibawakan sebelumnya. Lagu ini menyerupai sebuah lament, genre lagu yang mengekspresikan kesedihan yang berasal dari rasa sesal atau duka cita. Suara bass yang bergerak perlahan-lahan ke bawah, langkah demi langkah, adalah ciri khas dari lagu lament. Dan motif suara bass tersebut diulang tanpa henti sedangkan suara-suara atas menyanyikan variasi dari melodi utama. Keserupaan ini juga mengingatkan saya pada aria “When I am laid in earth” dari opera Dido and Aeneas karya komponis barok Inggris Henry Purcell.

Ivan Yohan juga berkesempatan untuk membawakan dua karyanya yang bertajuk Negros Fantasmas dan Dies Irae. Teks dalam Negros diangkat dari puisi penyair asal Spanyol bernama Gustavo Adolfo Bécquer dan menceritakan roh hitam, bak awan gelap yang melarikan diri dari cahaya ilahi. Teknik text-painting atau penggunaan melodi dan warna suara yang menggambarkan cerita dari teks sangatlah menarik dan Ivan dengan mudah menguasai dan melagukan puisi tersebut secara efektif. Salah satu contoh adalah suara pria yang melantunkan kata-kata dengan bisikan yang terdengar menyeramkan seperti roh hitam yang geliang-geliut.

Impresi saya terhadap lagu yang berikutnya, Dies Irae, adalah lagu ini memberikan penghormatan pada komponis-komponis terdahulu yang membentuk dunia musik klasik yang kita kenal sekarang ini. Tema pertama yang dinyanyikan secara lantang oleh suara pria menyerupai gebuan nada-nada pertama dari lagu “Confutatis Maledictis” dari Requiem (yang berarti misa untuk orang-orang yang sudah meninggal) karangan W.A. Mozart. Frase “Dies Irae” sendiri berarti Hari Kemurkaan, yang dalam Alkitab menceritakan pengadilan terakhir tempat manusia diputuskan untuk masuk surga atau neraka. Lantas lagu bergenre “Dies Irae” mengandung atmosfer yang terkesan menggera dan sedikit gelisah. Ivan juga mengutip kidung Gregorian dari abad ke-13 yang juga berjudul Dies Irae, dan menjadikannya sebuah motif yang terus dinyanyikan oleh banyak suara. (lih. video di bawah)

Lagu terakhir yang menutup babak pertama adalah Jubilate Deo yang digubah oleh Rainier ‘Pepi’ Revireino. Dibawakan luar kepala oleh paduan suara, lagu ini mempunyai atmosfer keagungan dan kegembiraan yang saling berbaur, dan paduan suara ini berhasil mengeksekusikannya dengan penuh semangat dan dengan suara yang berisi dan berwarna. Ritme yang spontan, penempatan aksen nada yang sengaja tidak teratur, terus menerus berganti mode dari mayor ke minor dan sebaliknya, dan suara tepukan tangan paduan suara membuat Jubilate Deo sangat bergairah.

Babak kedua pun tidak kalah hebatnya. Lagu-lagu yang dibawakan berjumlah lebih sedikit tetapi esensi dan karakter tiap lagu sangat berbobot dan menggugah hati. Mereka adalah O Vos Omnes karya Pablo Casals (arr. Walter Ehret), Libera Me karya Bardos Lajos, Bendita Sabedoria karya Villa Lobos, dan lagu terakhir When David Heard karya Eric Whitacre.

Credit: Nesca Alma

Credit: Nesca Alma

Yang saya amati adalah kepekaan Ivan Yohan pada cara bernafas dalam lagu, lebih tepatnya antara frase melodi dan teks lagu. Banyak musisi yang sering lupa bahwa musik bukan hanya not-not balok yang tertulis di partitur, tapi juga tanda istirahat atau keheningan di antara nada-nada yang dimainkan. Keheningan itu ibarat tanda baca: ada titik, koma, titik-koma, tanda tanya, tanda perintah, dan lain sebagainya. Dengan bernafas, kita pun memberikan kesempatan pada musik untuk melantunkan ceritanya, dan Ivan betul-betul berkeinginan untuk membiarkan musik itu bercerita.

Dan lagu yang ceritanya membuat saya merinding adalah lagu terakhir dalam program, When David Heard. Lagu ini digubah dan didedikasikan kepada salah satu pengaba terkenal Ronald Staheli yang juga rekan Eric Whitacre, dan menurut Whitacre sendiri, Ronald hanya satu-satunya yang memahami lagu Whitacre. Ronald mampu mencari keindahan yang amat sangat kuasa di balik keheningan, dan oleh karena itu Whitacre menyusun lagu ini dengan menggunakan keheningan sebagai motif utama.

Yang lebih menarik lagi, ketika lagu ini dilantunkan, secara perlahan paduan suara turun dari panggung dan berjalan dengan khidmat seraya bernyanyi menuju penonton. Mereka semua berbaris di tangga di samping kursi-kursi duduk, menempati posisi masing-masing dan berputar ke arah sang pengaba yang juga memutarkan diri menghadap para penonton. Selama 10 menit, saya merasakan berada dalam musik itu sendiri. Saya merasa bagian dari paduan suara biarpun saya tidak menyanyi bersama mereka. Saya bernafas dengan mereka biarpun saya tidak tahu kapan frase musik itu bermulai dan berakhir. Adalah pengalaman yang emosional dan tidak mudah untuk diungkapkan dengan kata-kata. (lih. video di bawah) Setelah tepuk tangan yang riuh dari para penonton, kami juga disajikan dua encore, Slow Scat and Two Moves dan Joshua Fought the Battle of Jericho.

Malam ini PSM Unpar bisa membuktikan diri sebagai paduan suara yang sangat kompeten dari segi musikalitas dan teknik. Sudah lebih dari 50 tahun paduan suara ini berkarya dan itu bukanlah perjalanan yang pendek dan saya berharap paduan suara ini bisa terus mengharumkan namanya. Saya sangat bersyukur bisa menyaksikan konser ini, dan oleh karena itu, terima kasih banyak.

Hazim Suhadi

About Hazim Suhadi (12 Articles)
I'm a classical pianist, but in my spare time I'd like to do things that musicians don't normally do, like rock climbing in the highlands of Dieng or eating at kaki-lima by the dusty streets saturated with commuters. I enjoy a drink or two with good company. So hit me up!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: