Kabar Terkini

Sunyi yang Ditakuti


Melihat kenyataan yang terjadi saat ini, ada beberapa fenomena yang tampaknya semakin merebak dewasa ini. Semakin dekat dan mudahnya akses manusia terhadap suara nyaman, percakapan orang ataupun musik, di kota besar terutama tampak semakin jelas bahwa manusia tampak semakin menghindari kesunyian.

Di kendaraan umum terutama di Jakarta, dapat kita saksikan semakin banyak penumpang lebih senang tenggelam dalam dunianya sendiri dengan telinga dibekap handphone, tidak sering mata pun menutup seakan menikmati dengan khusyuk alunan bunyi yang hanya menyentuhnya sendiri. Cenderung abai dengan sekitarnya. Hal ini penulis telah lihat di Singapura 4-5 tahun lalu dan merupakan hal yang aneh kala itu, namun nyatanya kita dengan mudah mengejar “ketertinggalan” itu.

Pusat perbelanjaan pun demikian, tidak sedikit yang sibuk mamasang musik latar untuk menemani para konsumen menghabiskan uang jajan, ataupun sekedar melancong. Terbersit dalam benak ketika hadir dalam gereja, sebelum ibadah ada kecenderungan praktik yang mungkin juga mulai terasa. Jemaat pun diputarkan musik rekaman untuk menghantar mereka lebih khusyuk dalam ibadah.

Komponis Slamet Abdul Syukur pernah mengupas dan membuat gerakan “Bebas Bising” yang didukung Akademi Jakarta yang banyak mempersoalkan kecenderungan kita yang semakin dikelilingi kebisingan atas suara apapun. Namun nyatanya dalam kesunyian pun nyatanya banyak orang mencari bentuk kebisingannya sendiri. Membanjiri diri dengan tayangan ataupun musik dan radio di saat berkendara, bekerja ataupun beristirahat. Tidak jarang orang yang kini haruslah ditemani sebuah bunyi-bunyian untuk bisa terlelap di malam hari.

Dampak pada Industri Musik

Fenomena ini sebenarnya menjadi sebuah pola tingkah laku yang semakin diberdayakan oleh industri, termasuk di dalamnya industri musik. Sadar atau tidak, manusia memiliki kebutuhan untuk menjadi bagian dalam sebuah lingkungan sosial dan juga kebutuhan untuk berada dalam lingkungan yang familiar. Selain itu, musik juga terbukti mampu memberikan efek psikologis tertentu bagi pendengarnya.

Georg Simmel dan analisinya tentang “keinginan manusia untuk terhubung” sedikit menjelaskan dari aspek psikologis bagaimana manusia ingin menjadi bagian dari sekelompok orang yang diterjemahkan dalam konektivitas dalam dunia elektronik. Tanpa tersadar keinginan manusia untuk merasa terhubung dan berelasi dengan apa yang ia mengerti menjadi pendorong mereka untuk pula berelasi dengan suara-suara yang dekat dengan mereka. Dorongan untuk kemudian mencoba mengendalikan lingkungan mereka inilah, akhirnya yang mendorong mereka lebih memilih menyumpal telinga mereka untuk suara-suara yang mampu mereka nikmati dan kendalikan.

Dengan ini industri mampu mengarahkan distribusi musik untuk menjawab kebutuhan musik ini. Iringan musik di lobi hotel dan juga permainan pemutaran musik di pusat perbelanjaan untuk sedikit banyak mempengaruhi perilaku pengunjung dalam berbelanja. Rasa senang dan santai dibangun lewat musik yang mendayu dan tempo yang cenderung lambat.

Demikian juga bahwa pengunduhan musik kini menjadi populer. Bisnis online pengunduhan maupun penyiaran secara online dan mobile pun berjamuran. Playlist pun bertebaran dari situs berbagi video maupun situs audio lain. Selain karena kemudahan, pengunduhan musik dan kemudian memutarkannya pada perangkat gadget pribadi, memungkinkan pendengarnya untuk menikmati musik secara pribadi.

Dalam dimensi yang berbeda, upaya semakin melonjaknya kebutuhan untuk mendengar apa yang sesuai dengan selera masing-masingh dan kemudian mengambil langkah untuk mengunduh dan memutar musik yang disukai sebagai sebuah perlaku modifikasi lingkungan yang dilakukan oleh manusia tersebut. Dan dari sini pemutaran musik menjadi suatu hal yang personal dan pribadi, sebagaimana pernah ditulis diblog ini. Dan ini menjadi salah satu saluran bisnis baru yang sedikit berbeda dengan pola distribusi baru yang akhirnya memakan bisnis konvensional seperti toko kaset dan rekaman.

Takut Sunyi

Dari segi kejiwaan, perilaku untuk memodifikasi lingkungan adalah sebuah langkah untuk mencari kenyamanan dan di satu pihak menandakan seberapa perilaku ini dapat menjawab kebutuhan para konsumen akan sebuah kenyamanan. Faktor kecemasan menjadi salah satu indikator kuat bagaimana seseorang berusaha mengubah apa yang dirasanya tidak sesuai dengan ideal di matanya dan kemudian mengubahnya.

Sepanjang sejarah kemanusiaan, manusia terpapar oleh berbagai suara yang ia inginkan maupun tidak. Baru beberapa dekade terakhir kita berhasil banyak mengalterasi kondisi ini dengan teknologi. Penggunaan earphone dan headphone adalah salah satunya. Dengan alat-alat ini, manusia mampu mengisolasi diri dari kondisi auditif di luar yang tidak ia senangi untuk kemudian tenggelam dalam suara yang mampu ia kendalikan.

Apakah pada realitanya, manusia kini memiliki ketakutan pada kesunyian yang melebihi sebelumnya. Tentu saja ada.

Ketakutan manusia pada kesunyian sebenarnya bersifat primordial. Adalah biasa bagi kita melihat bayi dapat terlelap lebih cepat ketika dinyanyikan dengan lembut oleh sang Ibu. Namun pada proses kembangnya manusia belajar untuk hidup dalam lingkungan auditif yang tidak kondusif ataupun dalam lingkungan sunyi sekalipun.

Ketakutan akan kesunyian dan ‘garing’ adalah nyata dan ada. Dan di satu sisi semakin banyak dari kita mencoba mengalterasinya. Menolak kesunyian ataupun suara latar itu untuk kemudian tenggelam dalam kebisingan yang kita buat sendiri.

Tapi nyatanya dengan dunia yang semakin bising dan kecenderungan untuk mencari suatu kebisingan, kesunyian mulai kehilangan tempat dalam kehidupan manusia dewasa ini. Sunyi menjadi satu hal yang dihindari dan bahkan ditakuti. Padahal bagi banyak kita, kesunyian punya makna tersendiri yang sangat sulit dicari dalam keheningan.

Manusia yang cinta bising, takut sunyi…

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Sunyi yang Ditakuti

  1. andreasarianto // 10 September 2015 pukul 11:50 am //

    Gue lumayan yakin ada hubungan yang kuat antara takut akan kesunyian dengan rendahnya kesadaran untuk mendengarkan lingkungan sekitar (dan memilih untuk sibuk sendiri), juga ada hubungannya dengan kepekaan terhadap dunia luar dan terutama dengan dunia batin pribadinya sendiri.

    Ada frase yang mengatakan bahwa kita baru bisa mendengar jika kita berhenti berucap. Dari frase ini gue pribadi mengambil kesimpulan bahwa memang kita sulit untuk memahami sesuatu yang berbeda jika kita enggan berhenti untuk mendengarkan. Kepekaan ini memang makin sulit dimiliki manusia urban abad-21 karena keterhubungan virtual menjadi sangat mudah dicapai, sementara keterhubungan spiritual sulit untuk bisa diakomodir oleh media sosial yang sarat akan citra. Ironi abad 21 ya. Larut akan dunianya sendiri, sementara suara dari dalam diri pun tertutupi oleh kebisingan yang kita ciptakan sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: