Kabar Terkini

Kecerdasan Artifisial untuk Konvergensi


Kecenderungan akhir-akhir ini dalam penggunaan teknologi dalam pengolahan informasi adalah kemampuan teknis untuk memilah informasi dan menyediakan informasi yang relevan sesuai dengan tabiat sang pencari ataupun berdasarkan apa yang biasa dicari orang lain. Dan untuk melakukan itu semua, kecerdasan artifisial dalam bentuk machine learning atau pembelajaran mesin. Dan pembelajaran mesin saat ini mengarahkan pada uniformitas secara makro.

Pembelajaran mesin adalah sebuah subyek dalam ilmu komputer yang menggarap kecerdasan dalam sebuah mesin untuk melihat pola-pola yang ada dalam database, menghubungkan fenomena-fenomena yang ditangkapnya untuk kemudian menarik sebuah kesimpulan. Pembelajaran ini dilakukan secara waktu-nyata/real-time sehingga penarikan kesimpulannya dapat terus disesuaikan dengan masuknya data-data baru yang mengalir ke database. Inilah bagaimana Google dan para kerabat dapat menayangkan iklan-iklan yang sesuai dengan minat dan histori pencarian Anda serta berdasarkan minat orang-orang yang memiliki profil serupa dengan Anda.

Yang menarik dalam pembelajaran mesin ini, pengguna didorong untuk mendapatkan informasi yang secara mikro atau perorangan dapat dianggap sebagai baru. Pengguna diarahkan untuk melihat informasi contohnya iklan konser musik klasik atau sesederhana memberi saran video yang mungkin menarik untuk disaksikan berdasarkan informasi kata kunci yang ia sering cari di Youtube, atau label minatnya di Facebook. Demikian juga dengan bagimana pertemanan disarankan di jejaring ini dengan rating banyaknya persamaan pertemanan, dan juga rekomendasi pembelian di Amazon maupun iTunes berdasarkan catatan pembelian kita sebelumnya dan data orang-orang yang membeli barang yang serupa dengan kita.

Memang secara mikro banyak dari pengguna akan melihat bahwa ini adalah divergensi minat dan informasi, mereka akan menerima saran-saran baru. Namun secara gambar besar, kita akan melihat sebenarnya akan terjadi pengarahan pasar ke arah konvergensi dalam skala makro. Pengguna akan diberikan informasi akan selera besar pasar dan apa perilakunya berdasarkan data-data yang konkrit dimiliki oleh database tersebut.

Dalam artikel etnomusikology Rizaldy Siagian  untuk lokakarya “Menata Industri Kreatif dan Media Demi Martabat Bangsa” di Universitas Negeri Jakarta beberapa minggu lalu, disebutkan fenomena penggunaan mesin rekomendasi lagu yang memberikan kemudahan bagi penyiar radio yang tidak mengerti musik namun malah pada akhirnya membatasi gerak penyiar yang punya wawasan luas dan keinginan untuk bereksplorasi lebih jauh dengan playlist dikarenakan oleh pihak manajemen dipaksa untuk menggunakan mesin tersebut.

Harus disadari bahwa rekomendasi ini yang dibina lewat pembelajaran mesin adalah bekerja dalam logika komputasi yang terdefinisi dalam set pilihan objek yang terbatas. Yang dimaksud adalah logika komputasi ini tidak akan menemukan sebuah item yang benar-benar baru apabila katakanlah item ini tidak pernah terakses sebelumnya dan akses tersebut terekam di dalam basisdata.

Seperti halnya dalam matematika, semua variabel haruslah diberi label x, y, dan z. Tidak ada fungsi x, y, dan z dalam rumus matematika yang kemudian menanyakan apakah nilai variabel a.

x + y – 2z = 4
2x + 3y + z = 6
2x + y + 4z = 9

Berapakah a?

Dalam ilmu pembelajar mesin, segala aksi dalam basis data harus didefinisikan terlebih dahulu agar bisa masuk dalam basis data tersebut dan akhirnya memperkaya dimensi pengambilan kesimpulan sang mesin. Mesin pun tidak mengakui adanya dunia lain di luar dunianya yang memiliki set informasi yang berbeda.

Waze sebagai aplikasi pencari jalan adalah contohnya. Ia tidak akan memberi masukan untuk membabat hutan padahal bisa jadi jalan membabat hutan untukmerekomendasikan jalan tembus bisa jadi menghemat 20 menit perjalanan dibanding dengan memutar, hanya karena jalanan memutar tersebut adalah yang dirasanya paling hemat. Ia hanya akan mendefinisikan saran via jalan yang sudah pernah dilalui sebelumnya.

Kenakalan manusialah yang memperkayanya. Katakan sebuah aplikasi GPS menuntun kita untuk belok kanan melalui jalan raya yang tidak macet, banyak dari kita menurut, tapi ada beberapa dari kita mungkin lebih yakin dengan jalan tikus yang biasa kita ambil yang sangat mungkin tidak dikenal aplikasi GPS kita. Hanya setelah kita melalui jalan tersebut dan aplikasi ini merekamnya dalam database, barulah ia akan mulai merekomendasikan jalan sempit ini sebagai jalan alternatif.

Kecerdasan buatan dalam bentuk pembelajaran mesin secara mikro mampu memperluas khasanah kita. Kita pun dimudahkan untuk mengambil keputusan berdasarkan banyaknya informasi dan alternatif yang kita miliki. Namun demikian, secara makro sebenarnya ia tidak memperluas khasanah apapun malahan mengarahkan pengguna pada sebuah konvergensi atas dasar keserupaan data dan profil si pengguna.

Di dunia marketing hal ini memang berguna untuk menyortir dan mengenali pengguna, pasar ataupun pelanggan di antara berbagai kelas yang ada. Namun yang mampu dilakukan sebuah mesin adalah pengerucutan pilihan yang telah terdefinisi dahulu sebelumnya dalam database mereka. Proses kreatif tidak pernah ada di dalamnya.

Mungkin sekitar 5 tahun lalu, orang-orang terkesima dengan sebuah mesin yang didirikan IBM bernama Watson yang seakan serba tahu dan punya kemampuan menebak dan bisa mengikuti sebuah kuis pengetahuan umum “Jeopardy” di AS. Namun pada dasarnya ia bergerak dalam basis data dan kalkulasi statistik yang ada di dalamnya. Ia tidak akan mengambil keputusan untuk menjawab pertanyaan yang tidak ia tahu jawabannya atau mengecek dengan bereksperimen.

Kengototan manusia dan proses kreatifnya yang saat ini menjadi pembeda proses belajar kita dari mesin-mesin canggih dan algoritma yang ada saat ini. Untuk menyerahkan keputusan-keputusan artistik dalam seni dan mengorbankannya untuk sebuah kenyamanan bak mesin rekomenasi musik, hanya akan mematikan kemanusiaan sebagai entitas organik yang multikultural dan multi identitas. Mesin hanya akan belajar dan bertambah pintar apabila kita sebagai manusia baik sadar atau tidak menambahkan data padanya.

Untuk sementara, jadikan mesin itu sebagai instrumen saja, dan bukan sebagai pembentuk identitas Anda. Proses kreatif dan pengambilan keputusan bisa saja dibantu oleh mesin, namun bukanlah sebagai penentu keputusan hidup Anda. Beruntung manusia punya sisi pemberontak dalam dirinya yang akan terus meretas batas, jangan sampai itu hilang.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Kecerdasan Artifisial untuk Konvergensi

  1. andreasarianto // 10 September 2015 pukul 11:29 am //

    Gokil, ini salah satu tulisan terkuat lo men, terutama dgn latar belakang ilmu komputer yang lo punya, bikin tulisan ini sekaligus simpel dan kritis.

    Tadi gue sedikit kepikir ttg kemungkinan mengenali data baru (misalnya video baru dalam Youtube), memang selama ini penggunaan kata kunci gak terlalu punya pengaruh terhadap meningkatnya kemungkinan orang mengakses data tsb kecuali kalo ada jumlah pengunjung yang cukup signifikan supaya sistem mengenali data itu sebagai data yg oke untuk diperkenalkan ke calon audiens yang lebih luas ya. Lalu setelah baca poin2 lo berikutnya, memang ada topik besar ttg bahayanya manusia yg terlalu bergantung pada kecerdasan artifisial ini. Kecerdasan artifisialnya sendiri nggak berbahaya, tapi kita harus terus mengupdate kecerdasan kita sendiri juga walau dengan kecepatan dan daya tampung yang seakan kalah jauh dibanding komputer.

    Mungkin gak sih, yang membuat kita lebih unggul dan bisa mengarahkan kecerdasan buatan itu adalah sesuatu yang disebut dgn kesadaran? Kesadaran tentang di mana posisi dan peran yang kita miliki di tengah masyarakat, juga tentang posisi kita dalam rentang sejarah perkembangan peradaban (termasuk pengetahuan sains, teknologi, budaya dsb) dan bagaimana kesadaran tersebut menggerakkan kita dalam mengambil keputusan2? Mirip seperti pengolahan data dalam kecerdasan artifisial, namun yang membedakan adalah keinginan kita untuk bukan sekadar menjadi lebih efektif dan efisien (yang mana kecerdasan artifisial pun dibuat untuk kebutuhan ini), tapi untuk menjadi berbeda, berbeda dari apa yang menjadi arus utama, unik dibandingkan orang-orang lain, dsb.

    Ini selalu menjadi topik yang seru untuk dibahas. Makasi Mike!

  2. andreasarianto // 10 September 2015 pukul 11:31 am //

    Ah, kelupaan, juga kesadaran tentang ke arah mana kita mau melangkah lewat pengambilan keputusan2 itu tadi.

  3. Di satu sisi kesadaran memang membuat kita berbeda, tapi kesadaran itu menurut gw harus juga diikuti dengan kemauan untuk keluar dari pakem seperti yang lo bilang. Fungsi analytic dan kecerdasan buatan hingga saat ini belum terlalu banyak menjelajah faktor curiosity and being an out-lier dalam kreativitas. Jadi mesin hingga saat ini menurut pendapat gw hingga pada tahap asimilasi known knowledge and information (alhasil jadinya gabungan ilmu dan informasi kolektif), and not to invent. Tapi hingga berapa lama, nah itu kita juga ga tau hingga kapan mesin akan mengejar kita. _ketika mesin bisa berinovasi dan punya kehendak, mendadak inget film Terminator_ hehehe

  4. andreasarianto // 10 September 2015 pukul 4:28 pm //

    Iya, Skynet yg bisa terus berinovasi dan mempertahankan diri. Tp ini jadi topik lain yang juga menarik. Apakah keinginan untuk hidup berdampingan dengan yang berbeda dengan kita itu bertentangan dengan keinginan untuk bisa terus hidup? Co-existence dan survival, apakah saling bertolak belakang? Ini bisa diaplikasikan ke dalam cara berpikir lainnya, termasuk dalam hal kreatif dan berbisnis seharusnya ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: