Kabar Terkini

Praktek Sequencer, Praktek Abu-abu


Menyaksikan sendiri penggunaan sequencer dalam mengiringi sebuah pertunjukan drama musikal, sungguh menggelitik. Dan hal ini bukan hanya terjadi sekali dua kali, tapi sudah beberapa produksi melakukan demikian. Sequencer adalah sebuah alat atau perangkat lunak yang digunakan untuk merekam dan memainkan kembali sebuah lagu yang telah disiapkan sebelumnya. Bentukannya umumnya dengan menggunakan trigger berupa click tracker, dalam format beragam, baik MIDI, CV/Gate data, maupun berkas audio yang dapat dipanggil dan dimainkan sesuai permintaan.

Penggunaan sequencer umum dalam pertunjukan teater sebagai pemberi efek suara untuk berbagai adegan. Namun di Indonesia, penggunaan sequencer ini nampaknya sudah masuk ke ranah pertunjukan musik hidup yang sedianya dapat dimainkan oleh para musisi yang kebetulan juga hadir bermain, termasuk drama musikal yang penulis saksikan. Sequencer akhirnya mengambil peranan lebih besar daripada sang musisi yang akhirnya hadir seperti sedang melakukan hand-sync dengan musik yang dimainkan di sequencer. Ya, hand-sync dalam sebuah pertunjukan musik live adalah serupa dengan lip-sync pada saat menyanyi, sebuah dosa untuk sebuah pertunjukan musik.

Yang menarik adalah salah satu informasi dari dosen musik IKJ dan STIKMI Jakarta sekaligus pendukung acara salah satu drama musikal, Bowie Djati, bahwa penggunaan teknologi macam sequencer tersebut adalah untuk mengurangi resiko permainan musik yang mungkin tidak berjalan lancar dan tidak sesuai adegan. Pertanyaan yang sebenarnya perlu dipertanyakan adalah apakah memang pemain musik tidak mampu menggunakan skillnya secara utuh untuk memainkan musik sesuai dengan keinginan sang komponis dan sesuai adegan? Pementasan drama musikal Laskar Pelangi karya Erwin Gutawa dan baru-baru ini Janji Toba karya Viky Sianipar  menggunakan metode ini, terutama di seksi gesek dan orkestra untuk menimbulkan kesan megah sekaligus menyelamatkan pertunjukan.

Menggunakan sequencer pada dasarnya adalah sebuah tindakan pencegahan yang didasari pada ketidakpercayaan pada skill si pemain. Karena pada akhirnya bukan suara yang mengikuti musisi, melainkan sebaliknya, si musisi yang mengikuti arahan bunyi pre-recorded yang dibuat sebelumnya. Pun tidak jarang bunyi yang dibuat musisi malah diperkecil dan malah bunyi rekaman lah yang mendominasi.  Alhasil, penonton sebenarnya mendengarkan rekaman, dan permainan si musisi sebagai suara pemanis saja di samping.

Penonton seringkali merasa tidak peduli dengan fenomena ini, selama mereka dapat mendengarkan musik yang enak ditelinga. Tidak mereka sadari, sebenarnya mereka telah ditipu oleh playback. Membeli tiket pertunjukan musik hidup adalah untuk menyaksikan pertunjukan musik hidup, dan bukanlah hasil rekaman. Seharusnya penonton berhak menuntut untuk mendapatkan aksi panggung yang sesungguhnya dan bukan hasil lip-sync/hand-sync apabila mereka mendapatkan pertunjukan manipulatif macam ini. Namun nampaknya di Indonesia kesadaran ini belum terbangun. Penonton kita sepertinya senang dikelabui dengan playback, padahal dalam berbagai event internasional, kita melihat bagaimana seorang artis jadi bulan-bulanan penonton dan media akibat mereka ketahuan menggunakan teknik ini. Mungkin ada di antara pembaca yang mengingat insiden group musik R&B Jerman Milli Vanilli di tahun 1990-an yang dihujat karena kedapatan tidak pernah tampil live, melainkan lip-sync dalam pertunjukan mereka dan dicaci habis-habisan.

Reality Check : Anda membeli tiket konser musik BonJovi seharga 2 juta rupiah, namun pada hari pertunjukan menyajikan 5 orang anak remaja tanggung sembari memainkan instrumen, tapi yang disiarkan lewat pengeras suara adalah musik dari album rekaman BonJovi yang memang keren, bagus dan otentik. Bagaimana pandangan Anda?

Fenomena penggunaan playback ini sebenarnya merendahkan kemampuan sang pemusik asli untuk bermain apa adanya dengan skill mereka yang sesungguhnya dan bermain sama baiknya dengan rekaman tersebut. Kenyataan bahwa direktur musik memutuskan untuk menggunakan playback sebenarnya juga merupakan pembiaran atas kualitas musisi yang naik panggung dan tampil bisa jadi tidak setaraf dengan komposisi yang dimainkan. Entah karena komposisinya terlalu sulit, ataukah memang musisinya belum memiliki kematangan untuk bermain musik dengan benar dan sesuai keinginan. Sempat terbersit, bahwa kesulitan mencari pemain memang menjadi satu tantangan tersendiri.

http://static.kvraudio.com/i/b/asl.jpg

Banyak musisi kita adalah musisi prematur, terlalu cepat dididik dan terlalu besar kebutuhannya di pasar sehingga belum matang tapi dipaksakan ditarik untuk bermain di atas panggung, demikian pernyataan yang pernah disampaikan konduktor Budi Utomo Prabowo dalam sebuah diskusi. Dan penggunaan playback ini malah memuluskan aksi ini. Tidak heran keahlian seorang musisi senior serius yang dibangun sekian lama tidak dihargai dan dianggap sampah begitu saja, karena nyatanya perannya dengan sangat mudah digantikan oleh playback dan anehnya, jarang ada yang angkat suara memprotes. Musisi cuma jadi pajangan di atas panggung untuk kebutuhan visual saja. Suara belakangan, pakai software lebih bagus. “Bayar musisi murah saja, ga tentu bisa main juga tidak mengapa. Kan suaranya pakai playback yang aman dan pasti lancar, pura-pura main saja biar meyakinkan.”  Apabila musisi bertanya, “Mengapa keahlian saya memainkan instrumen kok dihargai murah sekali, padahal sudah bertahun-tahun berlatih susah payah membangun skill?” Ya, praktek macam ini yang merendahkan martabat musisi sendiri. Sayangnya banyak musisi sendiri yang memuluskan praktek-praktek macam ini dengan dalih “murah meriah”.

Viky Sianipar lewat komentarnya di blog ini yang disampaikan lewat Bowie Djati mengatakan bahwa adanya kesulitan mencari pemain “kelas Indonesia” yang mampu memainkan komposisinya memang dapat kita kupas lebih lanjut. Sepanjang pengetahuan penulis yang juga bergerak di bidang orkestra, sebenarnya tidak sedikit pemain Indonesia dengan kualitas yang mencukupi untuk bermain. Namun memang antara masalah budget ataupun juga permasalahan kesediaan. Walaupun saya yakin 100% bahwa kita punya kualitas pemain yang mampu memainkan komposisi-komposisi kontemporer yang cukup njelimet, tapi dari sisi musisi sendiripun tidak sedikit dari mereka yang ogah-ogahan untuk mau ikut serta dalam proyek seperti ini, meskipun katakanlah budget mencukupi. Banyak dari mereka yang merasa ranah musikal seperti ini bukan ranah mereka, entah karena mereka lebih memilih untuk bermain orkes pop yang lebih sederhana, ataupun mereka terlalu puritan dan lebih memilih bermain di konser musik klasik saja. Persoalan kesediaan juga yang akhirnya membatasi dan berujung pada praktek penggunaan playback ataupun harus puas dengan musisi yang sebisanya mereka dapat.

Membandingkan pertunjukan drama musikal di Indonesia dan praktek playback dan membandingkannya dengan praktek dunia opera dan balet di Rusia sana yang menggunakan musik hidup bisa jadi hanya akan mengundang wacana yang berbeda. Pun apabila memperhatikan dengan baik, drama musikal yang ada di panggung-panggung dunia yang otentik kebanyakan adalah sajian musik hidup dan bukan playback, sebagaimana penulis amati lewat perjumpaan dengan musisi drama musikal di Jerman, dan menonton pertunjukan musikal di Inggris dan bahkan Singapura. Padahal kalau kita merunut dengan seksama, musik pertunjukan Indonesia, untuk sendratari dan banyak kesenian tradisi lainnya dimainkan dengan live, bahkan tangkas mampu memberikan bumbu-bumbu efek suara lewat permainan musik mereka yang spontan.

Penulis harus angkat topi untuk beberapa pagelaran musikal seperti Sang Kuriang yang dipimpin Avip Priatna dengan musik Dian HP dan juga drama musikal Didi Petet berjudul Lutung Kasarung dan pergelaran opera-opera Tony Prabowo yang menggunakan musik hidup. Tidak sedikit sebenarnya. Namun praktek playback ini sebenarnya perlahan merusak reputasi dunia pertunjukan kita.

Di satu sisi kita melihat bahwa Indonesia dan komponis seringkali memiliki mimpi besar, namun praktek teknologi yang tidak jujur seperti ini malah memuluskan mediokritas untuk naik ke atas panggung. Jika memang ingin musik yang berkualitas yang ditampilkan, pilihlah personel yang matang dan memang punya kualitas di atas panggung sebagai pemain musik hidup yang pada akhirnya akan memuliakan musik itu dan bukan malah mencorengnya, bahkan mencoreng profesi musisi itu sendiri. Juga dari sisi musisi, perlunya juga musisi kelas A Indonesia juga untuk mempertimbangkan pekerjaan-pekerjaan musik untuk drama musikal seperti ini.

Anti penggunaan teknologi adalah hal konyol. Tapi penyalahgunaan teknologi dan penggunaannya yang berlebihan pada akhirnya hanya akan merugikan bidang itu sendiri. Sudah saatnya seniman musik menempatkan teknologi pada tempatnya semula, bahwa musik bukan hanya kedengaran bagus di telinga dan keren dilihat, tapi sungguh dimainkan dengan jujur oleh para musisi, dan bukan dari mesin. Sedang penonton duduk termangu, melihat ranah abu-abu.

~saya mau bikin konser Mahler Symphony no.8 ah, dengan double quartet dan paduan suara ibu-ibu Darma Wanita, suaranya saya pakai rekamannya Bernstein dengan Wiener Philharmonic saja, kita playback dengan teknologi *mudah*. Saya jual tiket mahal dengan embel-embel pertama kalinya simfoni Mahler di mainkan di Indonesia. Dan bergaya di atas panggung, bagaimana? *sarkastik

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

5 Comments on Praktek Sequencer, Praktek Abu-abu

  1. Tommy Prabowo // 11 September 2015 pukul 4:43 pm //

    Sebuah perenungan. Tujuan hidupmu apa sih?

  2. Keliatan keren mungkin mas…. Hehehe

  3. Maaf mau meluruskan aja. Supaya ga ada Arranger2 yg tersinggung membaca tulisan ini.

    Fyi, yg di sequencerin sama MD di indonesia kebanyakan hanya orkes. Ethnic n combo rata2 live karena terus terang banyak musisi indo nya yg bagus2 gak kalah sama luar negeri. Selain itu yg di playback-in juga drum loops atau sound EDM yg ga mungkin dimainin live.

    Memang bagus itu relatif, tergantung standard selera MDnya. Ada MD yg cukup puas dgn toning pemain orkes indonesia, ada yg tidak. Itulah makanya hampir semua MD berselera tinggi memilih rekaman di luar negeri. Tanpa latihan panjang, lgsg sanggup memainkan score dgn baik termasuk dynamic, artikulasi, penjiwaan dll. Saya bicara orkes ya. Kalo pemain solo (string/brass) banyak yg bagus di indonesia. Tapi kl bicara ensembel string/brass diatas total 20an player yg bisa main tone yg sama dan balance yg benar terus terang saya belum nemu komposisi pemainnya yg sesuai hati. Dan saya ga mau kompromi mengenai kualitas.

    Kalau anda (penulis artikel ini) bisa kumpulin mereka, monggo kasih tau saya biar saya audisi. Kalo ok, pasti saya pake, dengan senang hati orkes main live. Itu impian saya n MD2 senior lainnya, dengan catatan musisinya yg disiplin ya kaya di luar negeri. Jangan yg jam karet dan butuh mood bagus utk main/rekaman sehingga tiap jam break dulu kopi dan Rokok.

    Sumpah, saya akan pake mereka, kalau ada di indonesia. Bila perlu nombok dikit2 ga apa2 kalo budget dari promotor mepet. Silahkan datang ke kantor saya dan rekomendasikan tim ini. Saya yakin senior2 saya mas EG, Adie MS, Dwiki Darmawan, Wong Aksan, dll juga mau pake. Dikira enak bolak balik ke luar negeri utk rekaman orkes aja. Cape tau masss 😢

    Kalo boleh milih, teater di indo ga usah pake orkes sekalian. Tp promotornya mengharuskan.

    Kita tidak pernah bicarakan ini secara umum karena etika juga. Kami masih menghargai musisi2nya dan institusi mereka belajar.

    Trus, mau nunggu sampe kapan? Ga maju2 dong para arranger Indonesia karena ketergantungan musisi Orkesnya.

    Bosen juga kan ngaransemen harus longnote2 terus spy ada kepastian bisa dimainin musisinya dgn bagus. Kita juga kepingin dong berkarya sprt musikalitas ala composer Luar.

    Sequencer penipuan? Itu solusi mas, supaya penonton happy dan ga kecewa udah beli tiket mahal-mahal ga greget nonton teaternya gara2 orkes ga bagus.

    Btw, sequencer yg di pakai itu kebanyakan hasil rekaman musisi orkes yg sama dgn dipanggung juga kok. Cuma sudah di edit2 dan autotune, tentunya. Sampai mendekati (tidak mingkin 100%) keinginan Arranger. Kita udah ngalah lho demi musik orkes indonesia.

    Nah sebagai pelaku orkes juga, kl bisa anda jgn nyalahin MDnya aja. Coba anda ikutan introspeksi diri lagi deh apa yg terjadi di dunia orkes indo ini. Dan berbuat sesuatu lah setelah tulisan yg inspiring ini.

    Dgn adanya sequencer, harusnya membuat musisinya berpikir, “kenapa saya harus main playback”. “Berarti saya harus tingkatkan kemamuan saya. Latihan lagi 8jam sehari supaya bisa tanpa sequencer.”

    Juga sekolah2 musiknya. Yuk introspeksi cara pendidikannya apa yg harus diperbaiki supaya para arranger indonesia ga perlu nyequenserin Orkes.

    Saya tidak akan balas lagi komen2 dari anda disini. Not my type. Saya lbh baik kopdar dgn anda dan teman2 lain utk mendiskusikan menyelesaikan masalah ini. jadi ada actionnya sampe beres. Kalo cuma debat di internet, ya you’re wasting my time. Enjoy the sequencer!

    Sampe ketemu di kopdar.

    PS: gambarnya ga relevan mas. Itu sampler dan beat maker. Bukan tampilan sequencer beneran yg dipake playback orkes. Kalo mau nanti saya kirimin tampilan layar Sequencer yg bener dr salah satu show saya, supaya artikel anda lebih keren dan autentik, gambarnya ga membohongi pembaca.

  4. Boleh Bang kita diskusi lebih jauh, tapi mungkin harus menunggu karena kebetulan saya sedang studi di London. Mungkin tunggu saya kembali ke Indonesia atau mungkin saat Bang Viky berkunjung ke sini kita bisa kopi darat.

    Saya hanya mengungkapkan argumen, yang bisa jadi salah dan tidak tepat dan bisa jadi juga benar tapi tidak pernah diungkap banyak pelaku sebelumnya.

    Pada akhirnya ya bergantung pada ekosistem melihatnya seperti apa. Di sini saya mencoba membuka diskusi yang lebih luas saja. Demikian Bang.

  5. bambang winandar // 21 November 2015 pukul 8:02 pm //

    saya setuju soal disiplin dan komitmen, saya mewakili area pengajar yg masih sulit menerapkan disiplin dan tanggung jawab dari siswa. budaya instan merebak ikut menyumbang cari jalan pintas dan cepat, malas eksplorasi.
    latihan sengat penting, jaman saya belajar dulu, 4 jam sehari saja sudah dimarahin habis sama guru…
    mudah2an kedepan bisa semakin profesional baik dalam balejar maupun berkarya dan bekerja…
    maju musik indonesia…salam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: