Kabar Terkini

Musik dan Well-Being


~ditulis oleh Chris Billy Aryanto

Konservatori Musik Universitas Pelita Harapan membuat sebuah proyek musik bertajuk Musicaphoria. Acara ini merupakan hasil kolaborasi seluruh peminatan yang ada di konservatori tersebut. Pada kali ini, acara yang saya hadiri merupakan inisiasi dari peminatan musik terapi yang membuat sebuah workshop dan seminar bertema “Music and Well-Being” pada tanggal 4 September 2015 pukul 14.00. Acara tersebut dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama merupakan workshop yang dipimpin Monica Subiantoro, MA in Music Therapy. Beliau merupakan seorang terapis musik lulusan dari Anglia Ruskin University, Inggris, yang sekarang aktif mengajar dan membuka klinik terapi musik untuk anak-anak di Universitas Pelita Harapan. Sesi kedua merupakan seminar yang dilakukan dengan berbagi pengalaman psikolog dan lulusan musik terapi.

UPHTerapi0

Sesi Pertama

Workshop dimulai dengan bermain musik dengan salah satu metode terapi musik bernama improvisasi. Sebelum workshop dimulai, peserta workshop diminta untuk memilih alat musik perkusi yang disediakan. Saat sesi improvisasi dimulai, Monica memimpin peserta menggunakan djembe dan vokal untuk meminta seluruh peserta berimprovisasi memainkan alat musiknya. Terlihat kebanyakan peserta masih ragu-ragu dan bingung apa yang harus dimainkan, tetapi pada sesi improvisasi tidak ada kata benar atau salah dalam bermain musik. Peserta bebas mengekspresikan apapun dengan memainkan alat musiknya dengan ritme dan dengan cara apapun memainkan alat yang dipegangnya. Selesai sesi improvisasi, Monica bertanya kepada peserta untuk merefleksikan apa yang sudah dilakukannya tadi.UPHTerapi1

Presentasi singkat kemudian Monica berikan untuk memberikan definisi apa itu musik dan well-being. Menurut Monica, belum ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk menjelaskan apa itu well-being, karena dalam tulisan MacDonald dan Wilson tahun 2014 dinyatakan bahwa well-being adalah sesuatu yang multidimensional. Kata yang paling mendekati adalah kesejahteraan hidup dan kebahagiaan. Contoh kontribusi musik pada well-being berdasarkan penelitian Sanal dan Gosev tahun 2014 bahwa bernyanyi di sebuah paduan suara dapat menimbulkan emosi yang positif terhadap seseorang dan mengurangi anxiety (kecemasan). Penelitian lain dari Thaut dan kawan-kawan menemukan bahwa ritme musik tertentu dapat meningkatkan kecepatan penderita stroke untuk pulih dari penyakitnya.

Mengikuti sesi musik terapi berarti seseorang berperan aktif dalam bermusik, baik bermain musik, mendengarkan musik, berlatih musik, membuat komposisi, atau menari. Kegiatan tersebut dikenal dengan nama musicking. Siapapun bisa melakukan musicking dan dalam sesi musik terapi siapapun bebas mengekspresikan apapun dalam bermain musik. Kebebasan tersebut dinamakan improvisasi dan pada dasarnya semua orang adalah improviser. Melakukan improvisasi secara langsung memiliki dampak terhadap kondisi psikologis seperti mengurangi stres. Dijelaskan juga bahwa secara umum terdapat 2 teknik dalam musik terapi, reseptif / pasif dan aktif. Reseptif adalah ketika klien terapi tidak memainkan musik dan hanya mendengarkan musik saja, sedangkan aktif klien terapi terlibat langsung dalam bermain musik dan melakukan kegiatan musikal.

Monica kemudian mencoba beberapa teknik improvisasi lain setelah presentasi. Teknik pertama yang dicoba adalah vocal improvisation. Seluruh peserta dalam ruangan workshop dibagi menjadi 4 kelompok besar, kemudian tiap kelompok mendapatkan kata dengan nada dan ritme yang berbeda-beda yang harus dinyanyikan jika ditunjuk oleh Monica. Pada sesi ini masih ada rasa ragu-ragu di awal bernyanyi ketika kelompoknya ditunjuk, tetapi lama kelamaan para peserta bisa menikmatinya dan mulai berani menyanyikannya dengan keras. Pada akhir sesi, dijelaskan bahwa teknik vocal improvisation itu bisa dilakukan untuk meningkatkan rasa percaya diri dari peserta baik secara sadar maupun tidak sadar. Bila peserta masih malu-malu atau merasa insecure dalam melakukan instruksi dari terapisnya, maka teknik improvisasi dapat berjalan kurang efektif.

Teknik kedua yaitu melakukan improvisasi dengan alat musiknya masing-masing dengan mengikuti tema yang ditentukan. Pada saat itu, tema yang dipilih adalah bangun pagi. Monica menginstruksikan kepada siapapun boleh untuk memulai memainkan instrumennya. Awalnya seseorang dengan pelan-pelan memainkan alat musiknya, kemudian semua orang mulai mengikuti dengan memainkan alat musiknya masing-masing dengan nada dan ritme yang berbeda-beda. Setelah semua riuh bermain selama beberapa menit, tanpa ada yang menginstruksikan perlahan-lahan suara semakin mengecil dan akhirnya semua berhenti bermain. Monica kembali bertanya kepada peserta untuk merefleksikan apa yang sudah dilakukannya. Seorang peserta kemudian menjawab bahwa sesi tersebut merupakan dari bentuk komunikasi tanpa perlu mengatakan apa-apa. Peserta lain menjawab bahwa sesi membantu meningkatkan kreativitas karena tiap orang memiliki bayangan yang berbeda-beda terhadap tema bangun pagi.

Selesai melakukan teknik kedua tersebut, diadakan sesi tanya jawab dengan para peserta. Dua poin yang bisa diambil dari sesi tanya jawab adalah bahwa terapi musik tidak hanya dapat dilakukan kepada seseorang yang memiliki kebutuhan khusus saja, tetapi bisa juga kepada orang-orang tanpa gangguan. Poin kedua adalah bahwa musik tidak serta merta dipakai untuk memaksakan seseorang untuk meningkatkan kemampuan seseorang, misalnya mendengarkan musik untuk kecerdasan. Minat seseorang kepada musik juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan juga.

Teknik ketiga sebagai penutup sesi pertama adalah vocal improvisation tetapi kali ini dengan menyanyikan sebuah lagu. Monica bertanya lagu apa yang kira-kira semua orang tahu dan akhirnya terpilih lagu “Satu-Satu Aku Sayang Ibu”. Monica meminta semuanya menyanyikan lagu tersebut, tetapi ada instruksi tambahan. Jika Monica mengangkat tangan maka seluruh peserta bernyanyi lebih keras, sedangkan jika menurunkan tangannya seluruh peserta bernyanyi lebih pelan. Sealanjutnya jika Monica menggulung tangannya dengan cepat maka seluruh peserta bernyanyi lebih cepat, dan jika menggulung tangannya dengan lambat maka seluruh peserta bernyanyi lebih lambat. Pada teknik ini peserta tampak antusias mengikutinya dan berusaha mengikuti gestur Monica yang berubah-ubah. Setelah beberapa kali mengulang menyanyikan lagu tersebut dengan gestur yang berbeda-beda, improvisasi berakhir dan sesi pertama selesai

Sesi Kedua

Setelah rehat selama 30 menit setelah sesi pertama berakhir, acara dilanjutkan dengan seminar dengan mengundang beberapa pembicara. Para pembicara tersebut adalah:

  • Dea Mongkar, S.Sn (Lulusan musik terapi UPH yang sekarang berprofesi sebagai penyanyi)
  • Steffi Fellicia Tanawi, S.Sn (Lulusan musik terapi UPH yang bekerja sebagai terapis musik di RSAB Harapan Kita)
  • Saphira Hertha, S.Sn (Lulusan musik terapi UPH yang bekerja sebagai terapis musik di SLB Kyriakon)
  • Weny Savitry Pandia (Psikolog Pendidikan dari Universitas Atma Jaya)
  • Monica Subiantoro, MA in Music Therapy (Dosen UPH dan Terapis di klinik musik terapi UPH)

UPHTerapi1Acara dipimpin oleh seorang moderator yang adalah dosen musik terapi UPH yaitu Christabella Nanetta, S.Sn. Awalnya tanya jawab dilakukan oleh Nanetta selaku moderator kepada para pembicara, setelah itu masuk dalam sesi tanya jawab dan peserta diberikan kesempatan untuk bertanya. Tulisan ini akan merangkum seluruh pertanyaan dan jawaban yang diberikan oleh seluruh pembicara.

Pertanyaan pertama yang diberikan yaitu apa yang dipelajari di terapi musik UPH. Singkatnya yang dipelajari adalah musik dan psikologi. Tujuannya adalah menggunakan musik untuk membuat seseorang merasa lebih baik. Psikologi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan musik bisa mempengaruhi tingkah laku manusia. Contohnya adalah musik bisa memengaruhi emosi. Terdapat tipe musik tertentu yang membuat seseorang menjadi lebih semangat, ada juga musik lain yang membuat mood turun dan menjadi malas untuk melakukan apapun. Contoh lainnya musik yang memengaruhi tingkah laku adalah orang-orang yang mendengarkan musik dalam mengerjakan sesuatu sehingga orang tersebut lebih berkonsentrasi. Tidak selamanya musik memberikan dampak yang positif dalam kehidupan seseorang, tidak semua musik cocok di segala situasi. Misalnya tipe musik tertentu yang membuat seseorang over excited, energi yang dimilikinya dapat saja mengarahkan orang tersebut untuk melakukan tingkah laku agresif. Pengaruh musik sendiri juga tergantung dari pendengarnya sehingga tidak bisa digeneralisir.

Pembahasan berikutnya adalah musik terapi dalam situasi yang berbeda-beda, dalam hal ini yaitu sekolah luar biasa, rumah sakit, dan klinik. Pertama adalah musik terapi di sekolah luar biasa, khususnya SLB Kyriakon. Menurut Hertha, hal pertama yang perlu diketahui dalam penggunaan musik terapi kepada anak berkebutuhan khusus adalah asesmen keadaan dari anak itu sendiri. Beberapa anak memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap suara sehingga musik malah menyebabkan anak menjadi tantrum. Sebelum melakukan terapi musik memang ada pemeriksaan mendalam dengan orang-orang dengan bidang-bidang interdisipliner, yaitu bidang tingkah laku, kognitif, komunikasi, serta motorik. Setelah tahu apa yang dibutuhkan oleh anak berkebutuhan khusus, baru kemudian terapi musik yang dilakukan disesuaikan dengan kebutuhan anaknya. Terapi musik yang dilakukan biasanya menggunakan metode active music making, sehingga anak aktif bermain musik ketika sedang sesi terapi.

Kedua adalah musik terapi di rumah sakit, khususnya RSAB Harapan Kita. Steffi bercerita bahwa beliau adalah terapis musik yang berfokus pada ibu-ibu hamil. Orang-orang membayangkan bekerja sebagai terapis musik di rumah sakit berarti menempelkan headphone ke perut ibu hamil, tetapi bukan itu yang dilakukannya. Steffi memberikan gambaran proses terapi musik yang dilakukannya. Terdapat 3 tahap yang dilakukannya, yaitu relaksasi fisik, pernafasan, dan visualisasi. Teknik terapi yang digunakan adalah teknik reseptif, sehingga musik hanya dijadikan latar belakang selama proses terapi berlangsung. Musik yang diberikan adalah musik intrumental bertempo lambat, bisa juga suara-suara dari alam.

Tujuan terapi musik yang dilakukan adalah untuk relaksasi ibu hamil, karena biasanya ibu hamil mengalami kecemasan selama masa kehamilannya. Tujuan dari relaksasi itu sendiri untuk melancarkan proses kehamilan dan kelahiran, serta meningkatkan well-being dari ibu dan bayi di kandungannya karena bayi setelah berusia 23 minggu di dalam kandungan sudah bisa mendengar. Para ibu hamil juga diminta tanggapannya sebelum dan setelah kehamilan sebagai evaluasi program ke depannya. Terapi yang dilakukan diharapkan tidak hanya diaplikasikan selama di dalam ruangan praktek saja, tetapi bisa diaplikasikan selama kehamilan dan setelah melahirkan.

Ketiga adalah musik terapi di klinik, khususnya klinik terapi musik UPH. Klinik terapi musik UPH merupakan hasil pilot project pada bulan Maret selama 3 bulan, dan ternyata semua klien mau melanjutkan program musik terapi karena memberikan dampak yang positif. Kebanyakan klien dalam klinik tersebut adalah anak-anak dengan autisme dan manfaat yang dirasakan dari musik terapi adalah kemampuan berkomunikasi dan bersosial mereka lebih baik. Teknik yang dipakai di klinik adalah teknik aktif dengan metode yang berbeda-beda, seperti improvisasi, songwriting, dan lyric substitution.

Di Indonesia sendiri terapi musik masih belum biasa dilakukan, berbeda dengan di negara-negara maju. Berdasarkan pengalaman Monica, musik sudah banyak digunakan di rumah sakit negara maju. Misalnya terapi musik digunakan untuk mengalihkan rasa sakit dari orang yang mengalami luka bakar, klien diajak mengalihkan sakit tersebut dengan musik tertentu dan rasa sakit ‘diganti’ dengan musik lainnya yang lebih tenang. Contoh lainnya adalah penggunaan musik selama menunggu di lobi rumah sakit. Anak-anak biasanya takut atau tidak sabar jika harus menunggu di rumah sakit sehingga memberikan pengalaman kurang menyenangkan jika harus kembali ke rumah sakit. Dengan adanya musik, persepsi anak-anak terhadap rumah sakit diubah sehingga menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Pada sesi tanya jawab, muncul pertanyaan apakah terapi musik cocok untuk semua orang di segala tingkat sosial ekonomi. Dr. Weny menjawab bahwa sebenarnya tubuh manusia dari lahir sudah bermusik, contohnya adalah ritme detak jantung dan hentakan kaki secara sadar atau tidak sadar ketika mendengarkan musik. Oleh karena itu sebenarnya perlu ada kerjasama antara psikolog, dokter dan terapis musik, karena perlu dilakukan asesmen terhadap karakteristik anak sehingga terapi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan klien. Terapis musik sendiri harus mencari tahu preferensi musik dan anak berespon terhadap musik yang seperti apa, hal tersebut dapat memudahkan proses terapi. Terapi musik sendiri tidak hanya cocok untuk anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Menurut Dr. Weny, efek teraupetik dalam musik bisa dipakai bahkan oleh orang-orang non-terapis. Seperti untuk menstabilkan mood atau membantu lansia yang sulit bergerak dengan mencoba bergerak sesuai dengan irama musik.

Terdapat pertanyaan lain yang mempertanyakan usaha yang dilakukan Ikatan Musik Terapi Indonesia (IMTI) dalam dunia musik terapi Indonesia. Hertha menceritakan bahwa IMTI merupakan komunitas bentukan terapi musik UPH yang sudah berusia hampir dua tahun. Usaha yang sudah dilakukan adalah dengan memperkenalkan terapi musik kepada masyarakat melalui seminar musik terapi dan mengadakan konser dengan anak-ana berkebutuhan khusus sebagai pemainnya. IMTI juga sudah pernah melakukan sesi terapi musik ke panti werdha serta yayasan kanker.

Sebagai penyataan penutup, Monica berharap musik dapat digunakan dalam berbagai lingkup, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam terapi. Beliau berharap semua orang dapat merasakan manfaat dari musik baik secara aktif maupun pasif. Setelah pernyataan penutup tersebut, berakhir pula sesi kedua dan seminar music and well-being.

~Chris Billy Aryanto adalah sarjana psikologi Universitas Indonesia dan kini melanjutkan studi pasca sarjana ilmu psikologi musik di Sheffield University, Inggris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: