Kabar Terkini

Pertanyaan Bukan Kesimpulan


~oleh Ponco Kusumo

Kekinian? Kontemporer? Bagaimana memaknainya? Menemukan hal baru? Avant-garde? Menyesuaikan dengan zaman kita hidup? Bagaimana cara merumuskan pengertiannya?

Sebagai contoh, ilmuwan (scientist) berupaya menemukan sebuah terobosan untuk memajukan dan memudahkan kelangsungan hidup manusia. Mereka membidani kelahiran teknologi yang tidak hanya canggih semata, namun juga dengan rumusan yang ramah lingkungan dan hemat sumber daya. Lambat laun aneka teknologi ini tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia, menjadi bagian dari budaya, seperti halnya gadget. Saya selalu menyederhanakan segala hal itu dengan mengambil kesimpulan bahwa apa yang mereka lakukan bertujuan untuk keberadaban manusia. Hidup yang layak, sehat dan terdidik.

Lantas bagaimana dengan musik yang kehadirannya disematkan label “Ia ada sebagaimana sesuai dengan jaman ia hidup?”. Untuk itu, segala bentuk, pola, medium pembentuk keberadaan musik dikomposisi dengan teknik, cara yang baru. Kemudian musik tersebut akan diidentifikasi sebagai identitas komponisnya. Ciri khas. Menemukan teknik baru, jalan baru, medium instrumen baru, logika baru boleh jadi tidak hanya hasrat teguh sang komponis untuk mewujudkan musiknya namun juga upaya untuk keluar dari pattern lama. Penemuan musik baru. Sering saya mendengar teman-teman menyebutnya sebagai musik eksperimen yang kemudian ketika disajikan pada konser, beberapa audience akan menyebutnya dengan musik kontemporer. Sejujurnya saya sendiri tidak memahami pengertian musik kontemporer itu sendiri.

Well, setiap individu punya hak atas berkreasi dan tanpa batasan. Namun adakah persyaratan tertentu, justifikasi, untuk individu berkreasi keluar dari pattern musik yang sudah ada? Misalnya, kita bertanya, apakah seorang yang menciptakan musik eksperimen sudah benar-benar selesai, paham dengan musik pattern lama, classical music sebagai contoh dengan kekayaan ilmu musik dan dasar teori-teori yang membangunnya hingga menjadikan laiknya bangunan kokoh warisan Belanda di bumi Indonesia? Atau pertanyaan lain, seperti apakah individu tersebut memutuskan berjalan pada musik eksperimen karena terlalu lelah dan ‘kalah’ dalam mempelajari musik pattern lama? Seringkali saya berpikir bahwa kata anti-mainstream menjebak seseorang untuk meraih eksistensi yang barangkali jika kita menggali dirinya secara mendalam, ia belum yakin penuh dapat mempertanggungjawabkan karyanya.

Nah! Lantas apakah sebuah karya musik butuh pertanggungjawaban dari komposernya? Saya kira ini menarik, khususnya apabila kita berangkat pada dunia ilmu. Pertanggungjawaban yang saya maksud kurang lebih adalah rumusan formulasi dalam langkah dan logika kreasi sang komposer pada karyanya, Bukan sekadar pembelaan karya, seperti, “Inilah rasaku. Kutuangkan dalam musikku.” (Meski sah-sah saja jika komposer menjawab seperti ini, dan meski dalam hati saya akan berkata saya tidak butuh puisi pembelaan!). Namun benarkah karya musik butuh pertanggungjawaban secara keilmuan? Saya tidak bisa menarik kesimpulan! Barangkali Anda punya jawaban?

Jika keberadaan musik eksperimen adalah upaya para pemusik sebagaimana para Scientist untuk melahirkan penemuan baru yang berguna dan sesuai dengan jaman ia hidup, maka itu adalah upaya yang baik. Menambah kekayaan musik. Namun jika seorang mengatakan sebaiknya kita berhenti belajar dan mengkaji karya musik lama karena hal itu membuang waktu dan karya musik lama hidup pada jaman komposernya hidup, maka saya menyebut orang itu sedang bunuh diri. Bagi saya pribadi, ada kearifan dalam teori musik, harmoni musik, kontrapung dan analisa musik yang membawa manfaat sehingga musik bertahan dan tetap nikmat didengarkan. Saya meyakini sebagaimana Karina Andjani menulis dalam buku, “Apa itu Musik?” bahwa, “Seiring berjalannya waktu, setiap karya musik akan melebihi komposer dan karya itu sendiri.”

Lihat saja sedemikian banyak generasi setelah mereka melakukan analisa terhadap karyanya dan dibukukan. Sesuatu yang saya berani bertaruh bahwa jika Johann Sebastian Bach, Mozart, dan Beehoven hidup kembali, mereka akan terkejut bahwa generasi setelahnya menganalisa sedemikian jauh di luar perkiraan mereka.

~ Ponco adalah mahasiswa ISI Yogyakarta, Fakultas Seni Pertunjukan, Musik, Musikologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: