Kabar Terkini

Empat Musim di St. Martin-in-the-Fields London

Belmont Ensemble of London in Practice

Di Bandung karya bertajuk “Empat Musim” berkumandang Sabtu malam lalu, di London karya yang sama juga berkumandang 6 jam kemudian atau pukul 3 pagi waktu Jakarta. Karya komponis Antonio Vivaldi ini sepertinya memang menjadi karya andalan banyak orkes gesek, termasuk Belmont Ensemble of London di bawah pimpinan Peter G. Dyson yang mengetengahkan solois biola Helen Davies dan Pippa Harris.

Tampil di dalam gereja St. Martin-in-the Fields yang terletak di salah satu alun-alun utama kota London Trafalgar Square, Belmont Ensemble menjadi salah satu ensembel utama dari gedung gereja yang memiliki tradisi musik yang sangat hidup dengan 3-5 kali konser per minggu dan diorganisir oleh pihak gereja mengetengahkan berbagai bentuk ensembel dan resital yang kesemuanya menargetkan jemaat lokal maupun para turis yang menjejali Trafalgar Square dan National Gallery yang berada tepat di seberangnya. Belmont sendiri tampil secara rutin di gereja ini hingga 2 kali dalam sebulan sehingga menjadi salah satu ensembel yang paling rutin menggelar pertunjukan di gereja yang memiliki akustik yang sangat mendukung dan kini berusia hampir 300 tahun ini.

Belmont Ensembel sebagai sebuah ensembel gesek yang berkonsentrasi pada karya musik era barok dan klasik, dibentuk oleh Dyson sebagai arena berkarya bagi para musisi muda yang mencoba masuk ke lapangan kerja profesional selepas studi. Bermain di dalam gedung dengan arsitektur dan akustik yang sesuai dengan karya-karya memang terasa berbeda. Di tangan ensembel yang didirikan tahun 1991 ini dan 95% diperkuat personel wanita, musik barok mendapat perlakuan yang ringan menyapu permukaan. Setiap nada seakan terdengar memiliki keempukan tersendiri diuntai menyatu dengan sebuah cita rasa keriangan yang menghiasi kalimat yang disajikan.

Karya Vivaldi yang terkenal, “Empat Musim” atau “Four Seasons” adalah rangkaian empat buah konserto biola yang mewakili setiap musim dengan kesulitan yang cukup menantang bagi banyak pebiola. Helen Davies sebagai solois di sepanjang babak bermain dengan intensitas dan dorongan yang kuat dan mendorong seluruh ensembel untuk bermain dengan eksak dengan warna yang tebal sekaligus tetap mempertahankan lirisnya permainan. Kecermatan ritmis menjadikan interaksi antara pebiola dan seluruh ensemble gesek terdengar sigap dan erat dan menjadikan babak kedua sebagai puncak dari permainan malam itu.

Di babak pertama ensembel ini menyajikan musik yang beragam dari era 1670 hingga 1780. Karya G.F. Handel seperti “Arrival of The Queen of Sheba”, dua karya H. Purcell “Fairy Queen Suite” dan “Chaconne” juga karya J.S. Bach yang populer “Air on G String” serta “Canon in D” dari J. Pachelbel serta Vivaldi “Concerto for Two Violins in A Minor” disandingkan bersama karya W.A. Mozart “Salzburg Symphony No.2” dan “Church Sonata in D”.

Menyajikan karya yang beragam serta lintas zaman, Belmont Ensembel tampak banyak mengandalkan sang konduktor untuk interpretasi dan pergerakan musiknya. Dengan sedemikian banyak karya di babak pertama terlihat bahwa ensembel tidak sedemikian kokoh dalam menampilkan karakter masing-masing karya meskipun secara umum ensembel bermain dengan indah dan tertata rapih dan dimainkan dengan interpretasi umum yang tidak melenceng. Secara praktis memang terlihat bagaimana kelompok ini lebih berkonsentrasi menggarap karya Vivaldi baik konserto untuk dua biola maupun “Empat Musim” sehingga permainan karya-karya ini lebih mengena. Tampil sebagai solois bersama Helen Davies dalam konserto dua biola, pebiola Pippa Harris.

Peter G Dyson sendiri tampil dengan kecermatan yang tinggi dalam setiap arahan pada orkes gesek ini. Musik yang disajikannya seakan hidup bergeliat manis bersama dengan gerakannya yang luwes dan bebas. Arahannya mampu memacu seluruh orkes untuk ikut dengannya dan memberikan gambaran umum karya dengan baik. Namun demikian, ketelitian dalam menggarap detail karakter agar bernyala terutama untuk karya di babak pertama kurang terasa sehingga permainan walaupun tetap hidup, namun terasa kurang bergairah. Hal ini mungkin dikarenakan keterbatasan waktu latihan bersama. Adalah sebuah kenyataan di kota seperti London, waktu latihan adalah sangat langka dan mahal, sehingga waktu seringkali terlalu minimal untuk mampu mencermati setiap lekuk dan detail musik terutama di seksi register rendah.

Walau demikian, di dalam gedung gereja yang hampir penuh ini telah berkumandang musik yang indah, sebuah rutinitas yang tidak tentu dapat kita saksikan di banyak tempat lain. Tiga konser per minggu hanya karena satu gereja, penulis sendiri tidak sabar untuk menyaksikan sendiri gairah seni di kota ini.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: