Kabar Terkini

Saat Gelar Menjadi Alat Intimidasi


Belakangan ini apabila kita melihat poster yang terpampang mengenai konser-konser di ibukota, tidak jarang kita mendapati titel-titel pendidikan menghiasi nama-nama penampil di selembar kertas tersebut.

Memang benar, kini muncul fenomena gelar-gelar akademis menghiasi panggung musik seni. Penampil kini sibuk menyematkan M.Mus, S.Sn, Dr., DMA, Prof. di antara nama mereka. Wacana yang diangkat bukanlah mengenai kelayakan mereka mengenakan gelar tersebut, karena memang gelar tersebut adalah hak mereka terutama apabila mereka telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu dan tidak jarang dengan prestasi yang luar biasa. Namun pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah pencantuman titel ini juga tergolong patut?

Gelar akademis yang disematkan setelah menyelesaikan pendidikan akademis adalah memang berlaku kuat di bidang akademis sebagai sebuah pernyataan bahwa sang pribadi tersebut telah tiba pada suatu pencapaian tertentu di bidang akademis. Dan seringkali ini adalah untuk konsumsi pribadi, bahwa ada pengakuan dari pihak universitas akan pendidikan dan karya yang telah dilakukannya.

Lucunya adalah gelar akademis ini semakin lama, semakin sibuk mewarnai panggung, ranah praktis yang sebenarnya tidak bersinggungan dengan gelar akademis. Gelar akademis akhirnya dianiaya untuk kepentingan pertunjukan yang belum tentu berkenaan langsung dengan bidang akademis yang didalami oleh oknum terebut. Tidak jarang, gelar akademis dipakai menjadi sebuah alat untuk memanipulasi maupun mengintimidasi publik bahwa dengan semakin tinggi gelar yang disemat, semakin tinggi juga kebenaran dan kevalidan suatu pertunjukan musik di atas panggung. Padahal kualitas pertunjukan dan bahkan komposisi musik tidak dapat dinilai dari tingginya titel sang pemusik yang didapat lewat membuat makalah maupun tampil di panggung dinilai oleh juri-juri ketika ujian akhir mereka.

Nyatanya, gelar akademis di sisi seni musik baru berkembang sekitar 50 tahun terakhir sejalan dengan mendunianya sistem pendidikan Amerika Serikat yang membudayakan titel strata 1, strata 2 dan strata 3. Terpaksa akhirnya penampil pun dikotakkan dalam klasifikasi ini, padahal sebelumnya pendidikan musik praktis juga dinilai secara praktis sebagai sebuah kecakapan. Diploma atau sertifikat adalah hal yang biasa diterbitkan oleh banyak perguruan tinggi musik dan konservatorium kala itu, sebuah sistem yang masih banyak dipakai di konservatorium Jerman, Italia, Prancis dan beberapa negara lainnya. Mereka yang telah lulus masuk dalam sebuah asosiasi alumni yang kemudian memberikan validitas akan kualitas pribadi tersebut. Maka dari itu praktik memberikan titel itu adalah praktik baru yang tidak dikenal oleh penampil macam Rostropovich, Sir Malcolm Sargent, Robert Schumann, Olivier Messiaen dan banyak pelaku musik yang lain yang juga menempuh pendidikan di konservatorium.

Apabila kita menilik banyak publikasi pertunjukan di barat, adalah suatu hal yang sangat jarang untuk melihat sebuah gelar akademis tercantum di poster-poster atau flyer ataupun dalam publikasi daring. Pun dari seni tradisi, kita melihat maestro-maestro seni tradisi kita dengan kualitas permainan yang luar biasa, karya yang berpengaruh dan konsisten berkarya tidak ada bergelar. Bahkan tidak sedikit yang menghidupi seninya jauh dari hingar-bingar dunia akademis. Namun baik bagi mereka di barat dan di timur, glear secara mendasar tidak mempengaruhi kualitas kerja berkesenian mereka.

Fenomena penggelaran ini sebenarnya adalah fenomena nasional yang mendarah daging di Indonesia. Titel seakan menjadi senjata penakluk masyarakat. Seberapa sering kita melihat undangan perkawinan dengan nama yang panjang dan titel bertumpuk untuk sekedar mengejutkan dan mungkin mengintimidasi para undangan? Seberapa sering juga para politisi murahan memilih jalan pintas membeli gelar kesarjanaan yang akan kemilau apabila dipasang di atas baliho saat kampanye?

Fenomena ini sayangnya juga merasuk ke dunia seni kita. Titel akhirnya diperas untuk menjadi sarana publisitas dan bahkan akuntabilitas pertunjukan musisi tersebut. Seakan kalau musisi tersebut sudah bergelar doktor, maka pastilah layak ditonton konser tersebut. Publik pun seakan tersihir untuk membeli tiket dan melihat sang musisi bergelar doktor yang ‘sudah pasti’ bagus tersebut. Titel akhirnya digunakan untuk melayani aspek komersial dibandingkan untuk melayani aspek akademis, aspek di mana titel itu pertama kali dicetuskan dan berfungsi.

Selain praktek pemasaran lewat gelar, juga ada intimidasi gelar. Tidak sedikit kita melihat bahwa apabila pribadi tersebut semakin tinggi gelarnya, berarti semakin benar juga apa yang ia klaim. Pembenaran atas karyanya bukan dinilai dari objektivitas terhadap hasil karya yang diciptakan, namun malah disandingkan dengan gelarnya terlebih dahulu. Di sini berlaku dunia terbalik. Suatu karya menjadi benar dan menarik, pertunjukan menjadi berkesan atau tidak bukan pertama-tama dilihat dari kualitas penyajian karya tersebut, melainkan melihat gelar si penampil dahulu. Kalau sudah tamat pascasarjana dan mendapat gelar magister, berarti sesalah-salahnya si penampil, ia tetap benar di mata publik, karena titelnya sudah menakut-nakuti publik terlebih dahulu. Kalau doktor, mungkin penampilan sang doktor mesti, harus dan wajib hukumnya lebih bagus dan lebih bermakna dibanding  sang magister. Titel menjadi senjata untuk membenarkan diri dan apabila tidak berhati-hati menjadi belati untuk menikam orang lain.

Pianis Aisha Pletscher pernah mengatakan, “Titel hanya berlaku di dunia akademis.” Titel memang bergerak di ruang akademis dan bahkan hanyalah untuk pengakuan institusi akan kualitas si pribadi yang menyelesaikan pendidikan dan tidak lebih. Validitasnya adalah untuk mengakui validitas akademis orang lain dalam fungsinya di juga di dunia akademis: perkuliahan, wisuda, pendidikan, dan diskusi akademis. Sebagaimana sebuah sistem kepangkatan berlaku di dalam dunia militer dan kepolisian. Apakah seorang Komisaris Jenderal lebih mampu melakukan aksi hulu sergap di lapangan? Tentu tidak karena ranahnya berbeda. Namun sayangnya gelar telah menjadi senjata manipulasi dan intimidasi publik. Apakah memang sebenarnya kecendekiaan seseorang tercermin dari gelarnya? Ataukah memang kualitas seni yang dibuahkan seseorang di atas panggung tergambar dari panjangnya gelar yang ia miliki?

Mungkin menggunakan gelar akademis tersebut untuk memenangkan hati adalah sebuah pernyataan keminderan seniman tersebut akan nilai artistik dirinya di atas panggung. Bahwa tanpa gelar yang tersandang di depan dan belakang namanya, ia bisa jadi tidak memiliki cukup kredibilitas untuk membuat pernyataan yang kuat lewat karyanya, sama seperti para politis dengan ijazah bodong tersebut. Dan mungkin tanpa panjang gelarnya, ia juga tidak mampu mengisi kursi-kursi kosong di ruang pertunjukan.

Bila tidak segera diluruskan, bisa-bisa gedung konser kita dipenuhi oleh musisi-musisi bertoga…

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: