Kabar Terkini

Sentuhan Empat Musim Ngayogstringkarta


~oleh Edward John

Musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin menebarkan pesonanya di aula Wave di GKI Anugerah, Bandung, semalam. Lewat orkes gesek asal Yogya, Ngayogstringkarta, karya komposer besar jaman Barok, Antonio Vivaldi, yang berjudul “Empat Musim” itu hadir dengan cukup mantap. Selain “Empat Musim”, kelompok ini juga menyuguhkan suita “Brook Green” karya Gustav Holst dan “Serenada dalam E Minor” karya Edward Elgar, keduanya komposer asal Inggris.

Hanya sebagian saja dari Ngayogstringkarta yang memainkan karya pertama, “Empat Musim”. Vivaldi menulis karya ini sebagai musik program yang pertama di dunia musik. (Musik program adalah musik yang mengambil inspirasi dan menggambarkan hal-hal di luar musik red.). Soneta (puisi) yang mengisi bagian-bagian tertentu dari naskah musik karya ini diperlihatkan pula kepada para penonton lewat sebuah layar. Tiap-tiap soneta berisi deskripisi suasana yang hendak dicapai oleh musik yang ditulis sang penggubah. Bersama-sama dengan solis biola Gabrielle Tiffany S, orkes ini memulai penampilan “Musim Semi” RV 269 dalam E Mayor dengan sedikit tertatih. Namun demikian, komunikasi yang terjalin antara pemimpin biola 1 dan 2 serta solis ketika mengimitasi burung-burung yang bernyanyi-nyanyi di musim semi cukup rapi. Hal ini mengundang decak kagum penulis: bagian ini menuntut kemampuan teknis yang sempurna. Tanya-jawab terjadi dengan lancar dan cukup musikal. Tampil dengan berdiri—kecuali celo—orkes yang dipimpin oleh pengaba Budi Utomo Prabowo ini selalu menyanyi dengan ekspresif. Nampak bahwa concertmaster mampu memimpin dengan begitu yakin. Terlihat pula bahwa kendati pengaba memberikan arahan yang efektif dan efisien, para pemain tetap mempunyai ruang untuk berekspresi dengan leluasa. Sang solis belia—delapanbelas tahun—pun mampu menunjukkan kebisaannya. Namun sayang, solis di bagian Largo terkesan seperti mengeksekusi not-notnya saja. Hal ini dibayar di bagian berikutnya Allegro yang jauh lebih hidup, berwarna dan berenergi.

Ketenangan yang memulai “Musim Panas” RV 315 dalam G Minor bernasib nyaris sama seperti Largo di karya sebelumnya. Namun kali ini, solis Amanda Verena tampil fasih menyanyikan keluhan akan teriknya sinar matahari. Ketika passage yang cepat kembali mengemuka, keseluruhan orkes dan tentunya solis lagi-lagi menunjukkan teknik yang mengundang kekaguman. Di bagian Adagio solis nampak tampil lebih percaya diri dan ini berimplikasi langsung pada permainan orkes yang mengiringinya. Dinamika lembut di bagian ini jelas terdengar lebih terisi. Pada Presto, bokong penulis serasa tertanam di kursi yang didudukinya dengan bulu kuduk meremang. Orkes dan solis sudah lebih panas di bagian ini, dan mereka, singkatnya, sungguh memesona. Badai yang diindikasikan pada soneta yang ditayangkan di layar pada musim sebelumnya, datang menghantam seluruh indera perasa penulis di bagian ini. Komunikasi seluruh pemain yang bisa terlihat dari bahasa tubuh yang bergerak bersamaan sungguh seperti sajian yang tak hanya lezat di telinga dan jiwa, namun juga membuai secara visual.

Ngayog TommyPada “Musim Gugur” RV 293 dalam F Mayor, pujian sungguh sangat pantas diberikan kepada sang solis, Egaputra Tweedapinta. Mahasiswa ISI Yogyakarta ini tampil memukau. Sejak not pertama, ia tampil yakin. Ia menyatu baik dengan orkes, dan tampil memimpin dengan yakin, hidup dan terkontrol pada saat yang bersamaan. Bagian-bagian yang menuntut virtuositas tinggi berhasil dinyanyikannya dengan lancar. Pada bagian di mana digambarkan bahwa para petani mulai mabuk karena anggur, solis agak terbawa suasana. Kontinuo yang dimainkan oleh gitaris Hery Budiawan memberi warna tersendiri di keseluruhan bagian Adagio. Dinamika lembut yang mendominasi bagian ini dieksekusi dengan energi yang bisa lebih tebal lagi. Di sini, penulis agak terhibur karena Tweedapinta mampu berbunyi lirih namun sedikit lebih bernas di bagian lembutnya. Catatan tersendiri juga harus diberikan bagi orkes yang sungguh-sungguh menjadi ‘lawan main’ yang tak kalah mengagumkan. Nyata terlihat bahwa solis mendapat energi dari orkes, yang, mendapatkan energinya dari solis. Sebuah simbiosis yang amat menyenangkan untuk disaksikan ketika itu terjadi di atas panggung.

Penulis sempat merasakan suasana dingin yang tiba-tiba muncul dan disuguhkan oleh orkes pada bagian pertama “Musim Dingin” RV 297 dalam F Minor, dan nyaris di keseluruhan bagian Largo. Tidak konsisten, betul, namun terjadi. Solis biola yang juga menyanyi dan bermain piano, Lidya Evania Lukito, tampil amat memuaskan. Seperti juga solis di bagian sebelumnya, Lukito patut diberi angkatan topi. Bagian-bagian yang membutuhkan konsentrasi dan virtuositas prima ia mainkan dengan yakin. Gambaran badan yang mengigil karena dingin yang menusuk di awal ia bawakan dengan cukup fasih. Kalimat-kalimat berikutnya dimana dituntut perbedaan dinamika keras-lembut yang susul menyusul dan harus terjadi dengan transisi yang subtil pun terbilang cukup berhasil. Orkes lagi-lagi tampak percaya diri dan cukup menonjol, bukan hanya sekedar mengiringi. Di bagian Largo, dimana orkes bermain dengan pizzicato, rintikan hujan amat terasa. Walaupun di awal bagian ini terdengar agak kurang kompak, para pemain bisa dengan segera menyatukan ritme. Akhirnya, solis dan orkes pun terserap dalam permainan yang betul-betul menggambarkan deskripsi pusaran angin yang bertiup dari berbagai penjuru pada Allegro yang tegas dan final.

Tweedapinta solois Empat Musim

Tweedapinta solois Empat Musim

Ngayogstringkarta tampil secara komplit di dua karya berikutnya. Pada suita “Brook Green”, orkes ini menunjukkan kesolidannya walau masih tergolong muda. Di bawah arahan sang pengaba, orkes ini menunjukkan struktur yang jelas dan saling berkomunikasi dengan intens. Hal ini berefek pada suara yang dihasilkan secara keseluruhan: bulat, dengan resonansi yang cukup. Sang penggubah, Holst, banyak menggali kekayaan melodi rakyat tradisional negerinya, yang langsung terlihat di awal. Balans yang baik juga tercipta sejak awal. Orkes mampu berbunyi penuh namun pada saat yang bersamaan masih tetap menjaga kebeningan sehingga bagian-bagian yang mengambil melodi tetap dapat terdengar muncul dengan anggun. Nuansa feminin yang keluar dari karya yang ditulis untuk orkes gesek di sebuah sekolah menengah pertama khusus wanita ini begitu terasa. Seluruh orkes tampil dengan sangat baik khususya di bagian akhir karya ini, “Dance”, dalam ritme 6/8. Karya yang terdengar sederhana ini dimainkan dengan keseriusan—dan kegembiraan—yang jauh dari sederhana.

Puncak musik yang sungguh mencengangkan sekaligus amat menghirup emosi ada di bar-bar pertama karya yang ditampilkan terakhir, “Serenada dalam E Minor” Op. 20 karya Edward Elgar. Perhatian dan jiwa penulis sempat terhisap masuk dalam pusaran emosi yang dihantarkan lewat eksekusi dinamika crescendo-decrescendo yang sangat amat mengesankan. Penulis sempat menjadi agak emosional dan sempat menitikkan air mata semata-mata mendengar keekspresifan yang tulus di detik-detik awal karya ini dimainkan. Elgar memang menuliskan karya ini dengan arahan ekspresi yang mendetil. Tak diragukan lagi, menurut hemat penulis, orkes sukses mengeksekusi nyaris semuanya. Eksekusi aspek teknis nyaris tak tercatat oleh penulis karena permainan orkes begitu membius. Segala seksi bermain dengan dedikasi yang sempurna. Hal inilah kelihatannya yang membuat pengaba malam itu sangat leluasa mengarahkan dan membentuk segala kalimat dengan luwes. Bagian Larghetto yang sungguh intens juga dilancarkan dengan sempurna. Karya ini berakhir dengan sebuah Allegretto yang dimainkan dengan begitu mengalir.

Secara umum, Ngayogstringkarta & friends Sabtu malam lalu tampil dengan prima. Intonasi yang bisa lebih baik lagi, sayangnya, mengurangi keindahan yang disajikan di sana-sini. Biarpun demikian, jelas, kelompok ini sudah mencuri perhatian, dan, potensi yang dimiliki musisi-musisi yang tergabung di dalamnya menjanjikan sesuatu yang layak ditunggu di masa depan yang kelihatan di depan mata. Kelompok yang mulai bermusik bersama sejak 5 Februari 2012 ini mengusung semangat juang dalam bermusik dan bercita-cita membawa kota kelahiran mereka, Yogyakarta, menjadi kota wisata musik yang berkualitas. Penulis secara pribadi berharap sungguh cita-cita tersebut tercapai.

Setelah tepukan meriah yang dihadiahkan oleh penonton, orkes menutup malam itu dengan karya segar dan jenaka, “Plink, Plank, Plunk”. Seusainya, penonton kontan merespon dengan tepuk tangan yang lebih meriah lagi, dan konser malam itu usailah sudah.

~Edward John adalah seorang konduktor muda yang aktif melatih berbagai paduan suara di Jakarta.

1 Comment on Sentuhan Empat Musim Ngayogstringkarta

  1. terimakasih John.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: