Kabar Terkini

Akankah Radio Konvensional Tergusur?


Hampir seabad sudah gelombang radio dan kehebatannya menghidupi perkembangan teknologi di dunia. Marconi dengan pengiriman pesan ajaibnya telah mengubah dunia hingga saat ini. Entah di rumah ataupun saat berkendara, radio menjadi pilihan hiburan banyak orang dan bahkan izin frekuensinya menjadi rebutan banyak pihak.

Namun dibandingkan zaman dahulu, radio kini semakin berkurang pamornya. Adalah hal biasa 50 tahun lalu, orang-orang berkumpul di depan radio untuk mendengarkan siaran bersama, baik itu siaran berita maupun siaran drama radio yang memiliki penggemar setia.

Kini mungkin saat-saat orang berkumpul di depan radio adalah saat-saat yang kini hampir tidak pernah kita temui, terutama di kota besar yang memiliki alternatif hiburan yang lebih banyak maupun aktivitas mendengarkan siaran semakin berubah menjadi kegiatan yang semakin personal.

Gelombang udara memang mungkin menjadi sarana hantar yang masih hangat, namun perannya semakin tergantikan oleh media internet yang semakin menjalar ke setiap sendi hidup, terutama di kalangan urban muda. Kini radio lebih banyak mendampingi kesibukan berkendara maupun bekerja, namun lebih bersifat personal, untuk didengarkan sendirian lewat penggunaan earphone. Seiring dengan berkembangnya bandwidth radio akhirnya banyak berubah bentuk, dengan tidak lagi menggunakan frekuensi AM/FM yang terbatas.

Lahirnya fenomena podcast satu dekade lampau memberi sedikit petunjuk bagaimana radio akan berubah. Namun demikian nyatanya podcast tidak bertahan lama dikarenakan keterbatasan materi dan durasi yang pendek-pendek. Karena dua ini, pendengar harus rajin-rajin mencari dan menyiapkan podcast apa saja yang menarik untuk didengarkan dan diputar satu persatu, sebuah usaha yang cukup melelahkan bagi pendengar. Padahal podcast secara konsep mendemokratisasi penyiaran audio.

Dikarenakan keterbatasan bandwidth dan media pemutar di Indonesia, podcast tidak pernah muncul sebagai salah satu penantang kuat dan berakhir layu sebelum berkembang. Perlahan podcaster internasional pun undur diri dan tidak lagi aktif dengan podcast, beberapa malah berpindah jalur ke media audio visual macam Youtube.

Radio daring pun menjadi pilihan. Stasiun radio daring pun bermunculan, walaupun tidak mudah untuk menyisir radio daring terlebih dengan jumlahnya yang sedemikian banyak karena secara de fakto menggabungkan hampir semua stasiun radio daring di seluruh dunia. Gelombang tidak lagi menjadi batasan seperti fenomena rentang AM dan FM yang dihuni padat.

Dari perspektif konten acara, sebenarnya tidak ada perubahan signifikan antara radio konvensional dengan radio daring. Formatnya pun hampir serupa, hanya dengan online beberapa informasi tambahan berupa teks terbatas, mungkin dikirimkan via jalur data untuk pendengar. Bentukan podcast yang memberikan kebebasan berlimpah tapi memberi pekerjaan rumah ekstra nampaknya tidak terlalu digemari di dunia penyiaran radio.

Perubahan pada medium hantar tidak mengubah banyak hal, mungkin yang berubah lebih kepada ongkos produksi yang lebih murah. Tidak perlu lagi pemancar besar, cukup koneksi internet yang berkualitas. Alhasil, banyak stasiun radio bermunculan dengan fokus yang lebih berani dan unik dibanding radio-radio konvensional, terutama radio di frekuensi FM yang membutuhkan alat-alat yang jauh lebih mahal.

Radio-radio FM ternama pun bisa menjangkau pendengarnya lebih luas. Apabila dahulu hanya terbatas di jangkauan radius 100KM, dan apabila ingin menjangkau luar daerah harus mendirikan stasiun relay, kini tidak perlu lagi. Via daring mereka bisa menjangkau pendengar di belahan dunia lain. Akibatnya banyak stasiun radio yang masuk ke jaringan daring mengadopsi pendekatan yang lebih luas untuk pendengar globalnya.

Alhasil, radio hanyalah bergeser. Perubahan medium hanyalah berpengaruh pada pendekatan dan bahkan mendemokratisasi penyiaran. Akankah radio konvensional tergusur? Apabila konvensional berarti penyiaran gelombang FM/AM, jawabnya bisa jadi ya. Namun penyiaran format radio konvensional akan tetap bertahan.

Dan mungkin sebagaimana kata “kereta” dalam bahasa Melayu melekat pada moda transportasi apapun, kata “radio” akan tetap lekat pada gaya penyiaran macam ini sekalipun tidak lagi menjalar lewat gelombang radio di udara.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: