Kabar Terkini

Aspek Idul Adha Dibutuhkan dalam Seni Tanah Air


Idul Adha meskipun mendapat tempat yang agak sekunder dalam kehidupan Islam Indonesia, malahan mendapat tempat yang utama dalam kehidupan Islam di banyak negara lain (Greater Eid). Dan bagi kaum muslim, Idul Qurban ini memiliki banyak aspek dan pelajaran yang dapat ditarik untuk kehidupan berkesenian.

Berangkat dari kisah niat pengurbanan anak karena perintah Tuhan, Ibrahim yang sudah menantikan anak sedemikian lama hingga di hari tuanya mengangkat belati karena taat diminta untuk mengurbankan anak satu-satunya. Tuhan pun menghentikannya dan kemudian memaklumi bahwa Ibrahim walaupun dalam cobaan telah taat dan kemudian menyediakan seekor kambing yang menggantikan posisi anaknya tersebut. Mungkin ini cerita yang kita dengar dalam kisah agama-agama Samawi.

Namun yang menarik menurut saya adalah aspek yang kemudian dibentuk sebagai sebuah perintah bagi umat Islam berbagi. Ini adalah aspek yang menjadi magnet dari perayaan ini selain ibadah Haji di Mekkah yang menjadi bagian dari 5 rukun Islam. Dalam hal ini inidividu dan keluarga setelah merasakan indahnya spiritualitas secara internal lewat shalat ied, diajak untuk kemudian lebih terbuka dan berbagi dengan sesama lewat hewan kurban yang dibagikan kepada yang berkekurangan.

Di satu sisi seni dan menikmati seni haruslah juga demikian, bahwa seni yang kita nikmati lewat pengalaman kita menonton konser, ikut dalam kegiatan bermusik bukan malah membuat kita makin merasa suci dan lebih tinggi dari yang lain. Tidak jarang mereka yang memiliki kesempatan untuk menikmati seni, lebih suka membanggakan diri dan menempatkan diri di sebuah kelas sosial yang berbeda dari mereka yang belum berkesempatan untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Alhasil seni bukan menjadi instrumen untuk manusia yang lebih tercerahkan dan terbuka, malah menjadi sebuah tembok yang memisahkan orang-orang. Seberapa banyak mereka yang merasa eksklusif karena pernah menikmati jenis seni tertentu dengan kualitas tertentu dan malah jadi tertutup karenanya. Saya rasa di kalangan menengah atas, kasus ini tidaklah sedikit.

Seharusnya mereka yang pernah merasakan dan menikmati seni secara lebih intens juga lebih mampu membuka diri sebagai pribadi yang tercerahkan, dan lebih mampu lagi untuk membagikan pengalaman dan pandangan hidupnya kepada orang lain. Malahan sebisa mungkin menjalankan bahwa seni adalah untuk semua sebagai sebuah aset bersama yang memperkaya saya dan mereka. Bersama maju. Seni tidak sepantasnya menjadi dinding penghalang antara manusia, apalagi malah sengaja dibuat menjadi indikator pembeda dari kelas-kelas masyarakat. Mereka yang sudah tercerahkan seni, haruslah keluar dan membagikan kemurahan hati kepada masyarakat.

Pada prinsipnya mereka yang menggunakan seni sebagai benteng atas status quo golongan adalah mereka yang sungguh belum bersentuhan dengan seni dan hanya menjadikan seni sebagai alat mengokohkan posisi diri. Sebagaimana agama Islam mengukuhkan diri sebagai salah satu agama dengan aspek kemasyarakatan yang kuat lewat salah satunya Idul Adha, sedemikian seni juga harus mampu memastikan aspek kemasyarakatannya yang lebih terbuka. Dan pada akhirnya negara pun bisa ikut berpartisipasi aktif dalam mewujudkan seni untuk semua.

Selamat Idul Adha bagi yang merayakan.

~arts for all, not for the few

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: