Kabar Terkini

Eksplorasi Michael Nyman dalam Bingkai Batas


Pembatasan akan sebuah materi agaknya tidak akan mampu membatasi kreativitas. Keindahan bukanlah hanya semata milik yang berkelimpahan, tapi juga mampu dibentuk dari yang sederhana. Namun agaknya dalam jargon kreativitas, bingkai dan batas sebagaimanapun ada dapat diretas dalam seni dan minimalisme bukan lagi berarti minim makna dan minim kualitas, namun berlimpah keindahan dan beragam rupa.

Michael Nyman, seorang komponis Inggris adalah salah satu tonggak penting musik jenis ini. Ia pula yang menelurkan istilah ‘minimalis’ untuk musik-musik sejenis ini ketika ia aktif sebagai kritikus musik di London tahun 1968-1978 sembari terus menggubah karya. Dan dengan menyaksikan pertunjukan yang jadi bagian tema besar tahun 2015 di King’s Place “Minimalism Unwrapped”, penonton diajak untuk melihat kembali arti dari musik minimalis dalam khasanah musik dunia lewat 4 nomor dari 5 karya kuartet geseknya malam Minggu itu.

Bermain di Hall One berkapasitas 420 kursi yang intim, The Smith Quartet yang menspesialisasikan diri dalam musik-musik baru termasuk musik Michael Nyman memilih untuk mempertahankan karakteristik banyak musik minimalis yang teramplifikasi. Diatur dengan volume yang cukup rendah dan kedua speaker berada tepat di belakang Ian Humphries (biola 1), Rick Koster (biola 1), Nic Pendlebury (biola alto), dan Deirdre Cooper (cello), kuartet yang telah berusia 20 tahun ini membaurkan suara akustik mereka dengan amplifikasi terukur sehingga suara membaur dalam kehangatan ruang konser namun juga mendapat sentuhan dingin dari amplifikasi elektronik.

Minimalisme seringkali identik dengan musik yang repetitif, penuh dengan motif musik berulang yang teratur terjahit satu dari yang lain. Tapi lewat pena Nyman, pola tersebut masih terjaga perulangannya, namun terkesan somplak di sana sini, sebagai akibat penggunaan birama ganjil dan perubahan tempo yang mendadak. Dalam konsep dasarnya, ia mengenakan perulangan pada birama yang berjumlah ganjil sehingga terasa semakin tergesa. Karya String Quartet No.1 yang ditulis tahun 1995 ini kemudian tidak hanya berhenti, namun terus bertransformasi. Nyman memunculkan motif dari lagu “Unchained Melody” di biola satu yang dipersembahkan untuk istrinya, juga variasi dari lagu Walsingham dari komposer barok John Bull dan segmentasi dari Quartet no.2 dari Schoenberg menjadikan karya 12 bagian ini kaya akan lapisan-lapisan musik namun tetap menampilkan warna minimalisme itu sendiri.

Michael Nyman yang juga aktif sebagai komponis berbagai musik film, memiliki talenta yang sangat kuat untuk membuat melodi yang membius. Viola di tangan Pendlebury seakan bernyanyi pilu dalam String Quartet No.3 (1990) yang dipersembahkan untuk korban gempa di Armenia tahun 1989 ditaburi rintihan dan lengking lembut harmonik biola 1 yang semakin melarutkan suasana. Sayup juga terdengar sebuah transkripsi karya paduan suaranya ‘Out of the Ruins’ yang diambil sebagai musik latar dokumenter gempa Armenia ini di BBC2.

Ketertarikan Nyman pada tarian Bharata Natyam yang enerjik dari India Selatan tergambar dalam karyanya String Quartet No.2 yang mengutamakan kekuatan ritme yang terdengar teratur meskipun sesungguhnya gegap seperti hentakan kaki tarian ini. Sebagaimana musik India yang penuh dengan poliritme yang kemudian menjadi tektur tersendiri. Biola dua memegang peranan menggarap melodi yang dibiarkan bersinar terang oleh kuartet ini. Terbagi menjadi enam bagian, setiap bagian dari karya yang ditulis tahun 1988 ini memiliki ritmenya tersendiri yang berenergi yang mengajak penonton secara tidak sadar juga mengetukkan kakinya mengikuti irama.

Konser sendiri ditutup dengan String Quartet No.5 “Let’s not  make a song and dance out of it” yang ditulis dalam 6 bagian. Dalam bentuknya yang programatik, sang komponis membuka karya ini dengan tarian yang lembut namun hidup dan seakan membaktikan diri dengan tarian-tarian dari daratan utara Britania. Sebagaimana judulnya, bagian dua dan bagian tiga, Nyman memasukkan kembali melodi-melodi yang menyejukkan telinga yang kuat di biola dua. Harmoni yang rapat menjadikan nyanyian ini terasa begitu intim di telinga. Rangkaian nada yang tenang namun di baliknya tersimpan gairah menjadi materi bagian keempat yang menurut sang komponis diambil dari irama tango. Bagian kelima dalam tempo yang cepat menjadi pendahuluan bagian keenam yang menyanyikan kembali melodi bagian kedua dan irama tarian pertama yang akhirnya menutup karya ini dengan simetris.

The Smith Quartet sendiri membawakan karya ini dengan pendekatannya tersendiri. Dalam bingkai minimalis yang obyektif, pemain seakan berada di luar bingkai motif yang berulang namun senantiasa bergerak. Hal ini terlihat dari bagaimana kuartet yang berpakaian semi formal semalam ini memandang garis melodi yang begitu indah. Mereka tidak serta merta tenggelam dalam drama melainkan melakukan pendekatan secara obyektif untuk mampu menghasilkan warna yang konsisten dalam setiap motif. Dikarenakan tingkat kesulitan yang tinggi, terutama karena komponis kelahiran tahun 1944 ini bermain timbre suara juga lewat triple stop dan double stop serta penggunaan harmonik yang memerlukan presisi, kuartet ini bermain meski tidak 100% bersih namun memiliki proyeksi yang sangat matang dalam arsitektur karya. Sekalipun riuh, rendah, konsistensi tetap terjaga di sepanjang resital ini dengan jalinan polifonik yang rumit dan menantang. Padahal sore sebelumnya mereka telah memainkan String Quartet No.4 yang berdurasi 40 menit.

Namun di hadapan keempat musisi tersebut, kita pun dapat memaklumi bahwa kreativitas itu tanpa batas dan musik minimalis, bukan berarti musiknya ditulis dan dimainkan dengan kualitas yang minimalis pula. Sekalipun terkungkung definisi minimalis, namun pengembangan dari Nyman meski ekstensialis tetap mampu menjaga karakteristik minimalisme. Dan perlahan kita pun menyadari betapa minimalisme ala komponis Michael Nyman sesungguhnya mampu menghasilkan karya yang optimal dan menggerakkan hati penontonnya.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: