Kabar Terkini

Alunan Menawan Menanti Berlalunya Jam Sibuk


Pukul enam sore ini agak berbeda dari biasanya di daerah stasiun tersibuk London, Waterloo. Dan di sela jam bubar kerja seperti ini, London tentunya seperti kota besar lainnya menjadi padat dan ramai. Namun demikian di sisi stasiun, Gereja St. John menawarkan hal yang luar biasa bersama dengan Southbank Sinfonia: sebuah konser sore gratis sembari menanti lalu lintas terurai, sebuah oase di tengah hirup pikuk kota megapolitan yang sibuk.

Ditemani sajian anggur putih dan merah cuma-cuma, penonton menikmati permainan orkes pembibitan mahasiswa musik Southbank Sinfonia yang malam itu bermain dengan segenap jiwa. Sebagai sebuah orkes yang digawangi musisi muda temporer, orkes ini dibentuk bagi musisi muda untuk memperdalam permainan orkestra, dan kursinya tahun depan akan diisi pemain-pemain muda yang berbeda, meskipun dengan nama yang sama. Dan di penghujung tahun ini, bisa dikatakan adalah puncak kualitas permainan mereka setelah setahun berlatih dan bermain bersama secara rutin layaknya sebuah kelompok pelatihan bagi para pemagang sebelum memasuki dunia profesional.

Kali ini tema yang diambil adalah sebuah oase peristirahatan musik yang diambil dari karya-karya komponis Amerika Serikat yang ditulis medio 1940-an Aaron Copland dan Samuel Barber. Meski komponis ini berkarya di abad 20, namun karya kedua komponis ini tetap berciri tonal dan penuh dengan orkestrasi yang menyapu dan membuai penontonnya di mana orkestra muda ini memainkannya dengan bergairah dan meyakinkan di bawah arahan konduktor muda John Wilson.

Konser sendiri dibuka dengan perbincangan motivik Helen Clinton pada instrumen cor anglais, Sarah Campbell pada trompet dan orkes gesek. Kesunyian sekaligus kesendirian yang dingin terasa melingkupi sahut menyahut bagai tanya yang tiada berjawab. Musik seakan berbaur lambat seakan menunggu hari yang perlahan surut di tengah sebuah kekosongan kota yang menganga. Karya Aaron Copland ‘Quiet City’ yang ditulis tahun 1941 ini sungguh berbicara di tangan musisi-musisi muda ini. Trompet yang dimainkan dengan luar biasa oleh Sarah Campbel memanggil merdu, berbalas cor anglais yang lembut dan hangat oleh Clinton yang musikal sambil berpadu erat dengan orkestra. Kekosongan dan kesunyian dalam bunyi perlahan hadir dalam gereja ini hingga kesudahannya.

Samuel Barber kemudian dihadirkan oleh orkestra lewat karyanya ‘Knoxville: Summer of 1915’ yang ditulis 1947. Soprano Madeleine Pierard membawakan sebuah prosa puitik dari James Agee yang diangkat oleh komponis ini sebagai karya untuk karya orkes gesek dan kuartet tiup kayu. Sebagaimana diakui oleh sang komposer bahwa karya ini ditulis hanya dalam waktu 1.5 jam, Barber memang memberikan nuansa kelugasan dalam penyampaian karya ekstemporan ini sekaligus tetap mempertahankan imajinasi yang kaya lewat permainan tekstur dan klimaks yang padat. John Wilson yang kini dikenal sebagai konduktor musik-musik film legendaris abad lampau mampu membawa orkestra ini untuk berbelok dalam liku musik secara lincah namun tidak terkesan terburu-buru. Musisi pun terlihat begitu menikmati permainan musik mereka. Sayangnya tutur yang indah baik dari orkestra maupun Pierard tidak diimbangi dengan penyeimbangan proyeksi, sehingga di beberapa bagian lirik tidak dapat dicerna dengan baik karena tenggelam dalam raungan suara.

Southbank Sinfonia

Konser pun ditutup dengan musik balet dari Aaron Copland yang ternama ‘Appalachian Spring’. Untuk karya ini orkestra tampil secara penuh dengan barisan tiup logam dan perkusi ikut mengisi barisan pemain. Musik pun bergulir dengan hidup sembari tetap mempertahankan kualitasnya dalam berkisah. Harus dicatat bahwa orkestra ini memiliki energi yang luar biasa yang secara cerdik mampu dikelola dengan seksama oleh Wilson yang sigap dan mendetail dalam mengarahkan kereta besar dengan 43 kuda ini. Ia mampu menahan laju sekaligus juga melecutkan kereta untuk bermain dengan indah dan bertenaga.

Sebagai sebuah suita orkes, karya ini terbagi menjadi delapan bagian yang terhubung satu dengan yang lain dan demikian pula digarap oleh John Wilson. Akustik pun seakan menyatu dengan seluruh orkestra, memberi waktu suara untuk mekar dan melingkupi penonton. Melodi yang ekspresif dari Copland kemudian berdialog dengan irama tarian yang mengiringi balet tentang sepasang kekasih yang memilih untuk menikah dan hidup di tepian pegunungan di Amerika. Dan hingga akhir yang senyap dalam kekhusyukan, perlahan musik pun lenyap bersama dengan menghilangnya bunyi manis glockenspiel dan harpa yang ditelan waktu.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: