Kabar Terkini

Talenta di Jalan Sepi


Penggemar musik klasik di Bandung telah disajikan program duo sonata yang bergizi pada malam minggu 3 Oktober 2015 di Auditorium IFI. Konser ini menampilkan pianis Hazim Suhadi dari Jakarta bersama dengan Arya Pugala Kitti dari Bandung, Neam Hidayat dan Egaputra Tweedapinta dari Yogyakarta. Talenta – talenta muda Indonesia ini memilih jalan yang jarang ditapaki dan “anti mainstream”, namun disitulah menunjukkan kemajuan dunia permusikan di tanah air.

image

Sonata untuk Biola nomor 1 di kunci G Mayor karya Johannes Brahms ditulis setelah Felix Schumann, anak bungsu dari Robert Schumann meninggal. Brahms memang mempunyai hubungan khusus dengan Robert dan Clara Schumann. Meski berasal dari kesedihan Brahms, Hazim menulis di catatan acara ini bahwa efek keseluruhan adalah kelembutan dan rasa cinta. Kelembutan inilah yang terasa dari interpretasi Arya dan Hazim. Permainan Arya bersih dan intonasi nya sangat baik – terlihat bahwa dia telah menyiapkan diri dengan serius. Namun penulis berharap bahwa semua detil dapat rangkai kembali sehingga gambaran besar perjalanan dan alur cerita nya tetap dapat dimengerti oleh penonton. Ada saat untuk memeriksa setiap pohon, tapi ada saatnya juga untuk mundur dan melihatnya sebagai satu hutan.

imageDari kehangatan Brahms, pendengar dibawa ke bahasa harmoni “si anak nakal” Soviet yakni Sergei Prokofiev. Tahun sebelum Sonata untuk Cello Opus 119 ini dipremierkan, beberapa karya Prokofiev dinyatakan tidak lolos sensor dari lembaga kebudayaan. Hal ini berdampak buruk pada kepercayaan diri dan kesehatan fisknya. Untung saja pada tahun 1950 Cello Sonata ini mendapat izin untuk dipertunjukkan. Karya ini pun dipremierkan oleh dua raksasa musik klasik Russia yakni Mstislav Rostropovich dan Sviatoslav Richter.

Di sonata ini, Neam Hidayat mendapat kesempatan untuk menunjukkan berbagai teknik permainan cello yang langka disaksikan di Bandung. Di beberapa bagian lirikal Neam terlihat berusaha menciptakan suasana dengan menyesuaikan kecepatan vibrato dengan intensitas melodi yang bersangkutan. Sayang sekali auditorium IFI kurang mendukung usaha tersebut. Di usianya yang masih belia Neam dapat terus mengembangkan tekniknya, apalagi di Indonesia masih sedikit pemain cello dengan teknik yang tinggi.

Sebagai seorang pianis Hazim dapat mengalunkan frase yang lirikal, dipadu dengan bagian virtuoso yang dieksekusi dengan bersih, ritmis, dan hemat pedal. Gaya ini cocok untuk Prokofiev, namun ketika membawakan sonata untuk biola dan piano karya César Franck, penggunaan pedal terasa terlalu irit, terutama dengan akustik ruangan yang memang sudah kering.

imageBersama dengan Egaputra Tweedapinta, Hazim terlihat dapat bermain lebih santai dan lepas meski part pianonya paling menantang. Bahasa tubuh Ega di panggung komunikatif dan berkharisma sehingga pendengar mudah terbawa suasana daripada sonata terakhir ini. Namun bagi penulis, meskipun temanya mendayu, disiplin dan presisi ritmis harus tetap dijaga – jangan sampai terlalu terbawa suasana. Sonata ini memerlukan stamina dari kedua pemain, dan terlihat bahwa Hazim dan Ega agak kelelahan di bagian akhir gerakan keempat.

Meskipun demikian penulis menyatakan kudos terhadap Hazim yang selalu menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pianis, juga terhadap Arya, Neam, dan Ega yang telah menyajikan program yang langka bagi pendengar Bandung. Usaha dan komitmen mereka sekaligus membuktikan bahwa dunia permusikan Indonesia sudah lebih berkembang lagi.

About airinefferin (8 Articles)
"exuberant and spoiled, childish and childlike, kind and cruel, enquiring but pig-headed, hardworking and generous but conceited and determined to be center stage"

2 Comments on Talenta di Jalan Sepi

  1. Tulisan yang menawan untuk sebuah konser di Bandung yang tentunya menawan juga. Ya. ini generasi baru musisi klasik Indonesia yang mungkin akan berjuang melanjutkan kesendirian generasi sebelumnya.

  2. paling tidak, dalam kesendiriannya, generasi yang kemudian menyadari bahwa paling tidak generasi sebelumnya sudah pernah menjalani jalan setapak yang sama…. Berterimakasih pada generasi yang terdahulu mas!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: