Kabar Terkini

Kerlap-kerlip Kompetisi Folklore Menjual Kemeriahan


Dalam dunia kompetisi paduan suara yang dikenal publik Indonesia, istilah folklore nampaknya menjadi sebuah tambang reputasi bagi banyak paduan suara nusantara. Bilamana tidak, folklore menjadi nama kategori kompetisi paduan suara yang hingga kini digemari banyak paduan suara mahasiswa amatir yang berlomba di manca negara dan seringkali menjadi ladang kemenangan untuk paduan suara Indonesia lengkap dengan gegap gempita lagu-lagu yang dibawakan. Lalu sejak kapan dan mengapa folklore menjadi ajang gemerlap paduan suara kita?

Folklore sebenarnya berangkat dari sebuah pandangan tentang kearifan lokal rakyat. Istilah inilah yang kemudian lekat dengan musik-musik ciri kedaerahan dalam sebuah karya-karya paduan suara. Ditelurkan sebagai sebuah istilah berkaitan dengan cabang etnomusikologi yang dibangun oleh Jaap Kunst, folklore aslinya dipandang sebagai sumber informasi musikal. Menarik bahwa dalam dunia paduan suara kini, istiah folklore kemudian lebih merujuk pada eksplorasi musikal karya-karya musik paduan suara yang dikembangkan langsung dari musik vokal tradisi dan dibentuk sebagai sebuah karya paduan suara bergaya barat. Ini adalah sebuah bukti terjadinya pergeseran makna folklore dalam konsepsi aslinya dengan pandangan paduan suara yang kini dipertandingkan.

Meski banyak ahli musik juga menolak istilah musik rakyat dan folklore karena pengkategorian yang terbatas, namun istilah ini malahan menjadi produk dari akulturasi budaya musik paduan suara Eropa dengan konsep musik vokal di berbagai belahan dunia lain. Akulturasi dan kenyataan bahwa semakin kayanya repertoar paduan suara yang dibangun oleh banyak paduan suara dunia dan para komponis menyebabkan bidang ini tumbuh subur sebagai medium showcase kebudayaan yang dilakukan oleh paduan suara dan menghiasi festival-festival. Sebagai upaya keterbukaan akan berbagai tradisi vokal kolektif dari berbagai bangsa, pengkategorian ini secara perlahan lahir dan bahkan diadopsi sebagai sebuah lapangan tanding baru dalam kontes paduan suara yang semakin marak lima puluh tahun terakhir. Kini folklore bukan lagi merujuk pada otentisitas melainkan pada pengembangan lain yang terinspirasi dari kekayaan musikal etnik namun lebih kepada pengembangan lebih lanjut kekayaan musikal tersebut.

Pemisahan kategori ini pada awalnya bisa jadi disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah semakin membanjirnya paduan suara yang memilih karya-karya musik lokal untuk dipertandingkan di skala internasional sehingga membutuhkan perhatian secara tersendiri dalam proses penjurian dan penilaian. Bagi banyak juri awal mula yang dibentuk sebagai musisi paduan suara konvensional, penilaian untuk musik yang dipengaruhi oleh elemen musik etnik/rakyat menjadi sangat berbeda. Etnomusikolog pun dilibatkan untuk menilai keindahan, keabsahan serta otentisitas musik daerah tersebut. Alhasil melahirkan sebuah kriteria yang berbeda dalam dunia paduan suara dan wajib ditangani secara terpisah.

Kriteria penilaiannya yang kerap tidak sama dan tidak sebaku penilaian musik paduan suara konvensional, menjadikan kategori ini menjadi salah satu keunggulan bagi banyak paduan suara Indonesia. Indonesia sebagai negara yang sedari awal kaya dengan musik vokal pun memiliki potensi yang besar dalam menggarap musik-musik rakyat ke dalam bentuk paduan suara yang kemudian optimalkan dalam memilih karya dan menjadi bagian strategi kemenangan paduan suara. Keunikannya budaya Indonesia juga menjadi daya tarik tersendiri lewat karya-karya yang beragam gaya.

Faktor otentisitas yang semula menjadi salah satu kunci penilaian pun membuka ruang bagi pengunaan tata gerak dan properti untuk membangun nuansa yang mencerminkan keaslian musik rakyat yang dibawakan. Citra paduan suara Eropa yang berdiri kaku pun diterabas untuk paduan suara mampu menghadirkan kepenuhan karya folklore dalam pertunjukan. Alhasil upaya menjaga otentisitas ini malah menghadirkan ruang eksplorasi yang lebih luas dan tanpa pakem yang mengikat.

Pendekatan banyak paduan suara akan karya jenis ini menjadi nyata dalam karya musik yang dibawakan. Kelonggaran atas nama otentisitas pun akhirnya digunakan untuk mengeksplorasi lebih jauh, bahkan menjauhi otentisitas yang sebenarnya. Karya-karya pun dimodifikasi secara lebih jauh agar dapat lebih meriah dan menarik hati, diikuti dengan gerakan-gerakan koreografi yang menawan. Ini dimungkinkan karena tidak semua panelis juri kompetisi paduan suara mampu mengimbangi kekayaan musik daerah para kontestan. Sepuluh juri mungkin hanya mampu menilai secara tegas dan setia pada paling banyak tiga puluh gaya musik yang berbeda. Dan tentunya akhirnya tidak tentu mampu menjadi evaluator yang berilmu cukup untuk menilai otentisitas musik. Alhasil, kebebasan ini dapat digunakan secara lebih jauh dalam menciptakan berbagai elemen baik musikal maupun ekstramusikal untuk mendukung penilaian yang lebih baik. Efek kejutan dan memancing kekaguman maju menjadi penarik utama, terlebih elemen musikal hanya dapat dinilai secara lepas, dan elemen ekstra musikal menghiasi karya dan pertunjukannya.

Elemen ekstramusikal yang membanjir pun menyebabkan bagaimana komponis maupun paduan suara menjadi permisif dengan pengembangan efek “WOW” dalam pengembangan karya musik maupun elemen penunjangnya yang lain. Otentisitas akhirnya tidak banyak mengambil porsi dalam penilaian sehingga semakin membawa kategori folklore masuk dalam kawasan abu-abu. Dan ketika elemen otentisitas musikal dan ekstramusikal tidak dapat diperjuangkan, akhirnya elemen pertunjukanlah yang banyak mengambil porsi penilaian.

Dengan penilaian otentisitas dan kepakaran para juri yang tidak tepat, banyak paduan suara Asia mampu masuk dan menjuarai kategori ini dengan mengangkat musik yang baru dengan corak kedaerahan yang juga cukup kuat walaupun tidak otentik. Banyak karya pun dikembangkan secara khusus untuk mampu menyedot perhatian lewat koreografi bercorak etnis yang mampu menarik juri secara visual. Sepengamatan penulis, lebih dari 3/4 repertoar musik folklore paduan suara yang dibawakan dalam kompetisi tidak mengangkat otentisitas musik dan koreografi maupun hanya berfokus pada efek kejut, terutama di akhir karya.

Karya dan pembawaannya pun dikarenakan iklim paduan suara amatir Indonesia banyak didorong motivasi kompetisi, akhirnya juga dibentuk untuk terkonstrasi pada efek “pukau” yang kentara. Tidak sedikit pula yang kemudian lebih terlihat sebagai musik paduan suara yang terlampau meriah dengan gerakan yang tidak kalah hebohnya. Sayangnya ini pula yang menjadi karya andalan yang memang akan dinilai baik oleh juri dan memiliki potensi kemenangan yang tinggi dan tidak ada yang mampu menyalahkan paduan suara maupun juri akan langkah strategis kemenangan yang diambil. Banyak karya yang berakhir “HURAAH!!”, “HUUHAAH!!”, “HOH!!” dan serupanya menghiasi banyak konser prakompetisi paduan suara. Dan ketika banyak karya folklore dibawakan di dalam sebuah konser, kita akan menyadari seberapa banyak di antaranya yang serupa tapi tak sama, terutama karena menekankan efek kejut dan pukau untuk menjadi daya tarik utama.

Ketika otentisitas masuk kotak, sebenarnya hilang juga nilai tambah dari sebuah kategori kompetisi folklore selain kesempatan yang lebih besar bagi sebuah paduan suara untuk memenangkan sebuah kompetisi yang kriteria penilaiannya sedikit lebih longgar dibanding banyak kategori lain. Tidak heran apabila banyak paduan suara Indonesia yang berjaya dalam kategori folklore namun hanya sedikit yang mampu bicara banyak dalam kategori kompetisi lain seperti male choir, chamber choir, polifoni, historic performance, dan female choir yang memiliki standar lebih baku.

Nyatanya kategori dan semangat folklore seperti asal musikologisnya kini tidak lagi memiliki taji sebagaimana pandangan akan World Music yang kini semakin inklusif dengan keberagaman musik di dunia. Dan problem saat ini antara terletak pada definisi kategori ini atau pada ide kompetisi beragam musik daerah yang tidak pernah bisa dikompetisikan secara riil dalam aspek penilaian yang merata dan baku serta berpegang pada aspek etnomusikologis yang kuat adalah sebuah kenyataan yang harus terus dipertanyakan.

Iklan
About mikebm (1262 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Kerlap-kerlip Kompetisi Folklore Menjual Kemeriahan

  1. Can’t agree more

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: